Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Dua Tiga


__ADS_3

"Me-ni-kah ?" sampai tersedak Toni, saat mendengarnya dan langsung terbatuk batuk karena minuman yang sedang di seruputnya tiba tiba masuk ke hidung, dan itu rasanya tak nyaman dan perih, sama seperti apa yang di rasakan hatinya saat ini.


Mood Toni untuk menikmati malam dengan alkohol pun hilang seketika, tiba tiba dia merasakan drop dari mabuknya, singa jantan nan gagah berani itu seketika bak anak ayam kehilangan induknya, kebingungan dan isi kepalanya pun tiba tiba blank.


Beruntunglah itu hanya terjadi beberapa saat saja, karena beberapa saat kemudian singa jantan itu sudah bisa menguasai goncangan jiwanya dengan baik, setelah dia berada di luar ruangan menghirup udara malam yang bebas, tanpa sesak asap dan bising suara musik.


"Ah,,, persetan,, aku tak peduli, itu bukan urusan ku !" umpat Toni menepis ke khawatirannya pada Raya.


Bagaimana tidak, dia sangat tahu kalau Raya kini sedang berada di lingkaran musuh yang bisa saja mencelakainya sewaktu waktu.


Takut, cemas dan khawatir bercampur menjadi satu namun semua itu berhasil dia tepis oleh rasa marah dan kecewa yang etah apa sebabnya, bukankah hal yang wajar bila Raya memutuskan menikah dengan Martin, toh mereka sudah lama bertunangan, siapa dirinya, dan apa hak nya merasa marah dan kecewa, kalaupun Raya tidak jadi menikah dengan Martin, dirinya tidak sepadan dalam hal apapun dengan gadis itu.


"Berengsek !!!" teriak Toni mengumpat dirinya sendiri yang mulai lemah karen sebuah rasa yang tak mungkin, sebuah perasaan yang patut di namakan cinta bertepuk sebelah tangan atau malah terdengar seperti si pungguk yang merindukan bulan.


Mengendarai motor RX-King antik kesayangannya yang dia beli beberapa tahun yang lalu dari hasilnya mengadu tinju di atas ring, Toni membelah jalanan ibukota yang mulai terlihat lengang karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, membiarkan tubuhnya terkena angin malam agar kepalanya bisa sedikit adem dan pikirannya kembali jernih.


Suara kuda besi Toni meraung raung di jalanan yang sepi, tak pernah terbayangkan olehnya akan mengalami perasaan se aneh ini, benar apa yang selama ini di yakininya, jangan pernah bermain hati, karena itu hanya akan mempersulit diri sendiri, segala urusan yang melibatkan perasaan akan menjadi rumit, jadi jangan pernah bermain hati dan perasaan jika tak ingin menjadi lemah, setidaknya itu yang selama ini Toni yakini.


Buummm !


Suara suatu benda bertubrukan sangat nyaring terdengar di malam yang sunyi itu.


Toni mengurangi kecepatan laju motornya, matanya mencari asal suara kencang yang terdengar tidak jauh dari tempatnya.


"Oh, shiiiittttt !" Toni menepikan motornya dan berlari seperti kesetanan saat melihat mobil yang dia tau biasa Raya pakai menabrak sebuah mobil box, asap dari kap mobil sedan sport yang sudah tak berbentuk dan mengaga itu terlihat mengepul ke udara.

__ADS_1


"Raya,,,, Raya,,,,!" teriak Toni memanggil manggil nama gadis yang beberapa menit yang lalu sempat membuatnya marah dan kecewa itu.


"Tolong !" terdengar suara lirih perempuan dari dalam mobil sport berwarna kuning terang itu, wajahnya tenggelam dalam airbag yang mengembang sempurna menghalangi wajah dan tubuhnya dari benturan setir dan dashboard mobil.


"Raya, bertahan lah,!" teriak Toni membuka pintu mobil dengan paksa karena bentuknya sudah sedikit bengkok dan penyok.


"Raya,,, katakan sesuatu pada ku, tolong tetap sadar dan bicaralah !" ucap Toni yang verhasil membuka pintu yang sedikit macet itu, dan sekarang sedang membuka seatbelt yang masih terpasang erat menyelamatkan tubuh gadis yang saat ini terlihat sangat syok.


Toni menggendongnya keluar, menghindari kemungkinan mobil itu akan meledak.


Tubuh gadis yang kini lemah itu di rebahkan di rerumputan pinggir jalan, tangan Toni menepuk nepuk pelan pipi Raya yang tidak pingsan tapi juga tidak dapat di ajak komunikasi, matanya masih menatap kosong, dengan nafas yang tersenggal senggal.


"Raya, jangan seperti ini, katakan bagian tubuh mana yang sakit ?" Toni kehilangan kesabarannya, di guncangnya tubuh gadis itu agar segera sadar dari lamunannya.


"Siapa yang mengikuti mu ?" Toni memutar kepalanya ke segala arah mencari kalau kalau si penguntit yang Raya ceritakan masih ada di sekitar sana.


"Kau tunggu sebentar," Toni mengurai pelukan erat Raya di tubuhnya, dia baru teringat dengan mobil box yang bagian belakangnya tertabrak Raya, seperti tak ada suara atau orang di dalamnya, Toni akan memeriksa barangkali ternyata ada korban yang butuh pertolongannya.


"Tidak, jangan tinggalkan aku, aku takut !" cegah Raya yang kini menarik lengannya agar tetap berada di samping gadis itu.


"Aku hanya ingin memastikan kalau yang di dalam mobil yang kau tabrak itu tak ada korban luka atau bahkan mati !" ucap Toni.


Tapi Raya seakan tak ingin melepaskan lengan Toni, dia akhirnya ikut bersama Toni melihat apa yang terjadi di mobil box itu.


Anehnya mobil itu kosong, tak ada pengemudi atau siapapun di sana.

__ADS_1


"Aku tidak menabraknya, tadi saat di turunan tajam itu, tiba tiba mobil itu yang tadi berada di depan ku berhenti mendadak, dan aku tak bisa mengerem mobil ku, lalu terjadilah, dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.


'Ini terlalu janggal dan terlalu di rencanakan, tapi siapa yang berniat membunuh Raya ? selain Martin dan Karina tentu saja.


Toni mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, lalu berbicara serius dengan orang yang berada di ujung saluran sana,


"Pokoknya aku minta periksa secara teliti, dan derek segera mobilnya di sini, iya warna kuning !" perintah Toni seraya mengakhiri pembicaraannya.


"Mobil mu biar teman ku yang urus !" kata Toni.


Ternyata dia menelpon Panca, penadah kendaraan curian dan memiliki bengkel besar di ibu kota, dia sudah terbiasa membongkar barang barang curian, dan sangat pintar dalam hal otomotif, mobil Raya pun akan aman di sembunyikan di bengkel tempat Panca, pria muda keturunan tiong hoa yang memiliki keterikatan khusus dengan klan mafia yang di pimpin Rolan, kerja sama mereka bisa di bilang simbiosis mutualisme, karena kedua velah pihak sama sama di untungkan, apa lagi mereka sama sama bergerak di jalur bisnis hitam, bila Panca memerlukan Rolan untuk membekingi usaha ilegalnya itu, maka Rolan akan mendapat keuntungan karena akan di pasok mobil mobil tempur terbaik yang sudah di modifikasi sedemikian rupa untuk kelancaran bisnis haramnya, puluhan mobil dengan kecepatan tinggi dan seluruh bodi dan kaca anti peluru itu Panca berikan dengan cuma cuma pada Rolan, dengan imbalan tak ada yang berani mengusik bisnis Panca karena pria muda itu berada di bawah naungan Rolan.


"Aku bisa membelinya lagi, biar saja bagian asuransi yang mengurus, lagi pula tak mungkin aku memakainya lagi, sudah rusak parah !" ucap Raya.


"Aku tau, kau pasti mampu membeli sepuluh mobil seperti ini detik ini juga, namun aku perlu kepastian ini kecelakaan atau ada orang yang sengaja ingin melihat kau celaka." skeukeuh Toni tak bergeming.


"Ta-tapi,,,"


"Tapi apa lagi ? Semua aman, kau tenang saja, tak akan ada yang tau keberadaan mobil mu, percayakan semuanya pada ku !" pinta Toni.


"Bukan itu makasud ku, aku hanya merasa tak enak mengganggu tidur orang lain di dini hari seperti ini.


Lalu aku pulang naik apa ?" ratap Raya yang mulai memikirkan bagaimana caranya dia pulang.


"Naik kuda besi ku, itu pun kalau kau mau duduk dan di bonceng oleh motor butut ku," ucap Toni cuek,

__ADS_1


__ADS_2