
Toni menghentikan laju motornya tepat di depan gerbang rumah mewah yang dulu di tempati Raya bersama keluarganya, matanya menatap rumah itu dari luar gerbang dengan penuh sesak, dia seperti dapat merasakan apa yang akan Raya rasakan jika gadis itu ikut berdiri bersamanya di tempat itu.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" seorang pria berpakaian serba hitam menghampiri Toni yang baru saja hendak memencet bel yang berada di pilar sebelah gerbang tinggi yang menutupi pandangannya untuk melihat halaman rumah mewah itu.
"Aku mencari Maman, penjaga rumah ini," ucap Toni membalas sapaan pria itu dengan mimik wajah yang tidak galak, namun juga tidak terlihat ramah, hanya datar.
Pria lawan bicara Toni tampak seperti mengerutkan keningnya, "Maman? tak ada penjaga rumah bernama Maman di sini, aku penjaga rumah ini, dan nama ku bukan Maman," jawab pria itu seraa menunjukkan nama yang tertempel di seragamnya di bagian dada atas sebelah kirinya.
Kini giliran Toni yang mengerutkan kening, tak mungkin jika Raya berbohong atau saah mengenali orang, karena jelas jelas menurut Raya, dia sempat sedikit mengobrol dengan Maman, sehingga dan dari mulut Maman sendiri lah yang meng iyakan kalau dia bekerja sebagai penjaga rumah itu.
"Baiklah, mungkin aku salah alamat!" ujar Toni tak ingin memperpanjang percakapannya dengan pria asing itu, jelas ada yang berbohong di antara Raya atau pria itu.
Kalau ada yang bertanya ucapan siapa yang lebih dia percaya, tentu saja ucapan Raya yang lebih dia percaya, meski Raya berbohong sekali pun Toni akan tetap memilih untuk percaya pada ucapan Raya (dasar bucin!).
Toni segera menghampiri motornya dan segera menjauh dari tepat itu, mata Toni melirik ke spion motornya memastikan pria tadi yang berbicara dengan nya sudah kembali masuk ke dalam rumah mewah itu, terulas senyum dari balik helm full face nya, motornya pun di putar balik menuju ke arah rumah itu lagi, tapi dia sengaja memarkir motornya di sebuah mini market yang letaknya lumayan agak jauh dari rumah itu.
Toni sudah cukup hafal seluk beluk daerah itu, sebelumnya, saat dia awal awal menjadi bodyguard Raya dia segaja mempelajari tentang denah kawasan rumah Raya, termasuk jalan mana saja yang memungkinkan bisa masuk ke area rumah yang super luas itu tanpa tersorot kamera cctv, dia masih ingat ada akses mesuk ke rumah itu melalui taman belakang yang temboknya berbatasan dengan rumah kosong yang berada di belakang rumah itu.
__ADS_1
Kini langkah kaki Toni menuju rumah kosong yang berada tepat di belakang rumah mewah itu, beruntungnya rumah itu masih belum ada yang mengisinya, sehingga Toni bisa dengan leluasa memasuki rumah yang terlihat sudah lama kosong dan tak terawat itu.
Dengan hanya sekali lompatan saja, pagar setinggi satu setengah meter itu dengan mudahnya Toni lewati, dengan santai namun tetap waspada Toni merangsuk ke halaman dalam rumah kosong itu lalu menyelinap ke halaman belakang lewat pintu samping rumah itu yang kebetulan tak terkunci, entahlah, seakan semua jalannya di permudah seperti itu.
Tibalah Toni di halaman belakang rumah kosong itu, matanya memandang ke tembok pembatas yang tingginya hampir lebih dari tiga meter itu, dia harus melewati tembok tinggi itu agar dirinya bisa menuju ke belakang rumah milik Arsan.
Tak ada tangga atau pun alat yang bisa dia gunakan untuk menaiki tembok itu, sementara dia juga tak mungkin memanjatnya, entah pertolonganTuhan yang keberapa yang membuatnya mendapatkan kemudahan, di ujung tembok yang tak tertupi atap karena atapnya sudah ambruk, ternyata sebagian temboknya juga ikut ambruk dan hanya menyisakan separuh temboknya saja setinggi kurang dari dua meter, Toni kembali tersenyum, setelah dua kali percobaan melompatnya yang gagal karena licinnya tembok yang sudah di penuhi lumut, akhirnya Toni bisa melewatinya, di sinilah dia, di celah sempit antara rumah Arsan dan rumah kosong itu, sehingga memudahkan dirinya memanjat tanpa harus memakai bantuan tangga.
Persis seperti dugaan Toni, taman belakang yang memang jarang di jamah penghuni rumah itu membuat Toni lebih leluasa menyelinap dan memantau keadaan sekitar.
Hal pertama yang Toni lihat dan datangi adalah gudang yang berada di halaman belakang rumah itu, karena dari lantai dua gudang itu, dia bisa lebih leluasa memantau keadaan rumah itu tanpa menimbulkan kecurigaan.
Nampak Rolan yang sedang menghajar Maman dengan membabi buta, tangan maman yang terikat ke belakang membuat pria itu semakin terlihat mengenaskan karena tak dapat berbuat apa apa selain menerima pukulan dan tendangan Rolan yang sepertinya sangat murka padanya itu.
Tak terdengar apapun dari tempatnya bersembunyi, dia hanya bisa melihat adegan penyiksaan itu tanpa terdengar sedikit pun perkataan Rolan, meski terlihat bibirnya seperti sedang berkata kata, sayangnya Toni tak pandai membaca gerakan bibir, saat ini Toni hanya bisa pasrah dan mengalah dengan rasa penasarannya, dia akan segera mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Namun untuk menyelamatkan Maman ddari tempat itu juga seprtinya cukup mustahil, meski dirinya percaya diri dengan kemampuan beladiri nya, tapi saat menghitung berapa banyak anak buah Rolan yang berjaga di sana, membuat dirinya sedikit bergidik juga, dirinya bukan si Rambo yang dengan mudah menghabiskan ratusan musuh hanya bermodalkan senjata dan maju sendirian, kalau dirinya nekat berbuat itu, yang ada dirinya yang di habisi musuh dalam sekejap saja, beberapa anak buah Rolan di sana juga terlihat di lengkapi dengan senjata.
__ADS_1
Pertanyaan dan kecurigaannya semakin mengucut ke arah Rolan, terlalu banyak kejanggalan terjadi di hadapannya, kenapa Rolan menghajar Maman seperti itu, dan dapat di pastikan kalau Rolan pasti mengetahui kedatangan dirinya ke rumah itu, karena mereka dengan sengaja menyembnyikan keberaddaan Maman daridirinya dengan mengatakan kalau seolah olah tak ada orang yang bernama Maman bekerja di ruamah itu.
Toni terus memperhaikan gerak gerik yang d lakukan Rolan yang seperti sudah tidak canggung berada di rumah ini, sehingga membuat Rolan menyimpulkan kalau rumah ini kini tlah menjadi milik Rolan, tapi bagaimana bisa?
Pertanyaan demi pertanyaan malah semakin membat dirinya semakin kebingunan sendiri, namun setidaknya ada sedikit titik terang yang memperkuat keyakinannya bahwa Rolan berada di balik semua masalah yang terjadi pada keluarga Raya.
Namun sayangnya, keyakinannya akan hal itu kembali di patahkan oleh kenyataan yang kini kembali muncul di hadapannya, kembali tertangkap oleh ke dua netranya, sungguh pemandangan yng kembali membuatnya syok luar biasa, sosok Arsan yag selama ini dia cari cari, bahkan dia sampai rela menerima syarat pertunangan yang di ajukan Rolan demi agar dia mendapat info tentang keberadaan Arsan yang menghilang tiba tiba itu ternyata hanya sebuah persekongkolan yang di lakukan Rolan dan Arsan hanya untuk menipu drinya.
Betapa saat ini terlihat jelas Rolan dan Arsan sedang bercengkerama hangat bak sahabat karib yang sangat akrab.
Tangan Toni mengepal erat, ah bisa bisanya dia di bodohi oleh dua pria tua itu, sungguh dia tak dapat memafkan apa yang di lakukan dedua orang itu pada dirinya, Toni membayangkan betapa mereka tertawa terbahak bahak saat behasil memperdayai dirinya dengan sangat bodohnya.
Namun ternyata masaah tak hanya sampai di situ saja, Toni juga kini di bingungkan dengan bagai mana dia harus menceritakan tentang Arsan pada Raya, bagaimana mungkin dia tega menghancurkan hati gadis yang di sayanginya dengan memberinya kenyataan pahit bahwa ayahnya sehat dan baik baik saja, bahkan masih tinggal di rumah lama mereka yang beberapa bulan lalu harus dia tinggalkan dengan terpaksa.
Toni bahkan tak habis pikir bagaimana seorang ayah bisa tega mempermainkan perasaan putri kandungnya sendiri, padahal selama ini Raya sangat menghwatirkan keadaan Arsan, ah,,,rasanya Toni tak sampai hati untuk menyampaikan apa yang di lihatnya kini.
Tak menyia nyia kan kesempatan, Toni juga merekam semua yang di lihatnya dengan ponselnya, termasuk adegan di mana Arsan dengan kejamnya mencekik lalu menusuk perut Maman beberapa kali menggunakan pisau sampai pria itu terkulai lemas. Toni yakin, suatu hari rekaman itu akan sangat berguna dan akan sangat di butuhkan.
__ADS_1
Langkah Toni gontai dan lesu saat berhasil keuar dari rumah kosong itu menuju mini market tempatnya memarkirkan motornya.
Sebelumnya dia pikir, jika dirinya bisa menemukan Arsan maka hatinya akan terasa ringan, karena dapat mengembalikan kebahagiaan Raya, yaitu berkumpul kembali dengan ayahnya, keluarganya satu satunya. Tapi nyatanya, setelah dia bisa menemukan keberadaan Arsan, justru beban hatinya terasa semakin berat, bagaimana mungkin dia mampu mengatakan tentang keberadaan Arsan, jika berita itu bukannya membuat Raya bahagia, namun kemungkinan membuat bertambah hancur perasaanya.