Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Tiga Tujuh


__ADS_3

Untuk beberapa detik mata Toni dan Raya saling bertatapan,sampai akhirnya Cila mengurai pelukannya dan menariknya untuk ikut duduk bersamanya di sofa, tepatnya Toni duduk di tengah di antara Cila dan Raya, kecanggungan pun menyelimuti diri Toni yang seakan serba salah untuk bertindak.


Kata hati Toni sungguh ingin memeluk Raya dan beertanya apa dia baik baik saja, gadis manja itu pasti sangat sedih, takut, dan kesakitan.


Biasanya dirinya lah yang akan menjadi pelampiasan kesedihan nya, namun kini gadisitu bahkan menoleh padanya pun tidak, Raya hanya menunduk menatap ubin, da membiarkan airmatanya menetes dan langsung terjun ke ubin dingin yang sedingin hatinya saat ini, tanpa harus melewati pipinya terlebih dahulu.


***


Flash back


Beberapa jam yang lalu,


Siang itu Martin mengajaknya makan di sebuah mall, namun baru saja hendak masuk ke sebuah restoran ternama yang ada di mall itu, tepukan Cila di pundak Raya mengagetkannya.


"Hai kalian,,, pacaran terus, kapan kawinnya ?" seloroh Cila.


"Sayang,,, aku baru ingat sekarang, bukankah pengawal mu itu, pacarnya dia yang bertemu di klub itu ya ?" Martin mengernyitkan keningnya, mengingat ingat wajah pria yang di kenalkan Cila sebagai kekasihnya waktu itu, pantas saja dari awal bertemu pengawal Raya itu, dia merasa tak asing dan rasanya seperti pernah melihat pria dingin itu di suatu tempat.


Namun namanya di klub, wajah kekasih Cila tak terlalu jelas karena temaram lampu, apalagi saat itu Toni memang mengenakan topi, sehingga Martin agak susah untuk mengenali wajahnya.


"Apa sih, jangan ngaco kamu, sudah lah,, maaf, sepertinya kita makan siang bersama lain waktu saja, karena aku ada urusan penting dengan Cila," Raya buru buru menepis pikiran Martin yang memang kenyataan itu, dia tak ingin Cila tahu kalau kekasihnya kini lebih sering menghabiskan waktu dengan dirinya di banding Cila, yaa,,, walaupun konteksnya Toni hanya bekerja.


"Lho,,, kenapa bisa begitu ? Dan ada kepentingan apa ? Kenapa begitu medadak ?" Martin merasa tak


terima, acaranya harus batal begitu saja hanya karena dia bertemu salah satu temannnya.


"Biasa,,, belaja !" ucap Raya dan Cila bersamaan sambil cekikikan.


Raya yakin kalau Martin tak akan mau mengikuti nafsu setan dua gadis itu apabila sedang berbelanja.


Sesuai dengan yang Raya duga, Martin beralasan akan ada tamu penting yang datang ke kantornya, sehingga tak bisa menemani tunangannya itu berbelanja, dan membiarkan Raya pergi bersama sahabatnya, dia paling tak tahan mememani wanita berbelanja, apalagi kalau ujung ujungnya dia yang harus membayar belanjaannya, dia langsung memutuskan lebih baik kabur dan mencari alasan untuk pergi.


Hati Raya pun sedikit lega, hampir saja Martin keceplosan dan mengatakan didepan Cila kalau Toni kini menjadi bodyguardnya, untnglah idenya untuk mengusir Martin pergi dari dekatnya benar benar berhasil, lagi pula, dia juga sebenarnya sudah jengah dengan sikap sok over protektive Martin yang baginya terkesan sangat lebay itu.


Entahlah, mungkin ini salah satu pertolongan Tuhan untuknya agar dirinya bisa terlepas dari Martin hari itu.

__ADS_1


"Lo gila, Raya,,, lo malah ngusir cowok lo pergi," sungut Cila merasa tak enak hati pada Martin, karena telah mengacaukan acara makan siang pasangan itu.


"Gak usah banyak protes, kangen belanja bareng nih,,,!" seloroh Raya seraya menggandeng Cila dan membawanya agar cepat cepat pergi dari dekat Martin.


Seharian menghabiskan waktu bersama Cila, berbelanja, makan makan, dan bersenang senang seperti biasanya membat suasana hati Raya membaik, melupakan sejenak segala masalah yang ada, tentang ayahnya yang tak kunjung ada kemajuan dalam kesehatannya, perselingkuhan Martin dan Karina, semua masalah itu seakan menguap seketika dari kepalanya,


Yaa,,, begitulah wanita pada umumnya, kalau sudah bicara shopping, seakan lupa semua urusan di dunia.


Raya memutuskan untuk mengantar Cila pulang, karena dia tak membawa kendaraan, saat di jalan menuju rumah Cila, Raya merasa ada dua motor yang masing masing dintumpangi dua orang di atasnya di rasa terus membuntutinya, hati Raya sudah terasa dagdigdug tak karuan, sedikit banyak dia merasa trauma dengan kejadian kecelakaan beberapa waktu yang lalu yang juga di awali dengan dia di buntuti oleh dua orang bermotor.


"Ada apa, kenapa lo kelihatannya tegang banget ?" tanya Cila yang melihat sepertinya Raya tidak fokus dalam berkendara.


"Gue ngerasa dua motor di belakang sedang ngikutin kita sedari tadi kita keluar parkiran mall," ucap Raya dengan matanya yag sesekali melihat spion memperhatikan dua motor yang teus menempel di belakang mobilnya di sisi kiri dan kanannya.


"Parno lo ! Bisa aja mereka cuma kebetulan punya arah yang sama dengan kita !"


Raya berusaha mempercayai perkataan Cila dan mengusir jauh jauh pikiran jeleknya, namun tepat di jalan yang terbilang cukup sepi, pengendara motor yang berada di sisi sebelah kiri menyalip dan memotong laju mobil Raya dan menghentikan motornya melintang tepat di moncong depan mobil Raya,


"Tabrak aja Ray, tabrak,,, jangan berhenti !" teriak Cila.


Mau tak mau akhirnya Raya menginjak pedal rem dalam dalam, wajahnya terlihat sangat pucat.


Kini sisi kanan dan kiri mobil sudah di todong oleh dua orang penumapang motor yang turun dan berjalan mendekati kaca jendela, menmpelkan ujng senapan di kaca, seolah mengatakan peluru ini akan menembus jendela jika kedua gadis itu tetap berdiam di dalam mobilnya.


Dengan tangan dan kaki yang sedikit gemetaran, Raya dan Cila turun dari mobil secara bersamaan, sungguh saat ini mereka berharap ada siapa saja melewati jalan itu dan menolong mereka, namun harapan tinggalah harapan, meski malam belum begitu larut, sepertinya tak ada satu orang pun yang melintasi jalanan sepi itu.


Ke dua orang lainnya yang tadi masih duduk di atas motor kini turun dengan masing masing membawa tali di tangannya, dengan cekatan dan secepat kilat mereka masing masing sudah berhasil mengikat tangan Raya dan Cila ke belakang.


"Jangan berteriak atau melawan, kalau kalian masih ingin merasakan shopping esok hari !" ancam salah satu dari mereka yang lalu menggiring Raya dan Cila masuk ke kursi belakang mobil, lalu membawa mereka entah kemana.


Rasanya sudah sekitar dua jam mereka berkendara, namun tak ada tanda tanda mobil akan berhenti, sampai ponsel salah satu dari mereka berbunyi,


"Siap bos, kebetulan ini di daerah hutan, oke siap laksanakan, segera kami habisi mereka !" ucapnya membuat bulu kuduk Raya dan Cila merinding karena ketakutan, memikirkan nyawanya akan berakhir tragis di hutan yang sepi seperti itu, membuat jiwa Raya berontak, masih ada ayahnya yang perlu dia perhatikan, masih ada perusahaan yang harus dia selamatkan dari tangan tangan serakah Karina dan Martin, dia tak bisa menyerah pada keadaan begitu saja.


Saat ke empat orang pria yang berperawakan besar itu menyeretnya keluar dari mobil, Raya menendang pangkal paha salah satu pria yang berada di depannya dengan menggunakan lututnya, sontak saja pria kekar itu menjerit kesakitan sambil memegang senjata kelelakiannya, sementara perhatian ketiga orang lainnya tertuju pada temannya yang tiba tiba menjerit kesakitan, Raya berteriak "Cila lari, ikuti aku !" serunya sambil berlari sekencang mungkin meski kedua tangannya masih terikat kencang.

__ADS_1


Cila yang meliht ada kesempatan untuk melarikan diri itu pun langsung melesat mengikuti langkah seribu Raya yang sudah berada agak jauh di depannya, "Raya, tungguin gue !" teriaknya.


Raya dan Cila kini sudah berada di dalam hutan gelap, tak tau kemana lagi mereka harus menentukan jalan yang harus di lalui, sepanjang penglihatanny kini hanya pohon pohon besar.


"Apa kalian tersesat ?" suara seorang pria di sambut gelak tawa pria lainnya membuat Raya dan Cila terkesiap.


Raya dan Cila saling membelakangi berusaha saling membuka simpul ikatan di tangan mereka,


"Yes,, berhasil !" pekik Raya yang ikatan tangannya berhasil di lepas Cila.


"Eh, sialan lo, tangan gue masih ke iket ini !" protes Cila.


"Berisik lo, gue buka nih !" ujar Raya, sambil membalikkan badannya menghadap punggung Raya dan berusaha membuka ikatan di pergelangan tangan sahabatnya it.


Berbarengan dengan terlepasnya ikatan di tangan Cila, seorang pria menodongnya dengan sebilah pisau, "Kau mungkin butuh iniuntuk melepaskan tali itu, baby !" ucap pria itu menempelkan pisaunya di leher Raya.


"Apa yang kalian mau, aku bisa memberi kalian uang, berapa yang kalian inginkan ?" kata Raya berusaha berpura pura tegar di tengah ketakutannya.


"Bagaimana kalau kita menginginkan tubuh kalian, baby ? Sayang sekali kalau tubuh kalian yang aduhai ini harus langsung di lenyapkan tanpa kami cicipi terlebih dahulu !" pria itu menyeringai, di susul oleh tatapan lapar ketiga temannya yang lain yang mulai mendekat ke arah mangasa buruannya yang sepertinya sudah terpojok.


"Jangan macam macam, ayah ku akan membunuh mu jika kalian berani menyentuh ku !" ancam Cila.


Namun ancaman Cila hanya di balas dengan gelak tawa mereka ber empat, saat salah satu pria berusaha merobek baju Raya, gadis itu berontak sehingga pisau yang tadi di todongkan di lehernya menggores lengan atasnya.


Tak pelak darah pun merembes pada blouse putih yang di kenakannya.


"auwh !" ringis Raya merasakan perih di tangannya.


"Hey,,, siapa di sana !" teriakan beberapa orang pria yang membawa obor menghentikan aksi bejat ke empat pria itu, mereka saling berpandangan, tak menyangka akan ada orang lain di tenah hutan seperti itu.


"Tolong,,, tolong kami,,,, kami mau di perkosa,,, !" teriak Raya dan Cila yang merasa ada secercah harapan untuk mereka.


Beberapa warga yang ternyata penjaga hutan itu memang sedang berpatroli di sana, dan kebetulan mereka mendengar jeritan Raya dan Cila sejak mereka lari ke dalam hutan tadi.


Ke empat pria yang merasa kalah jumlah dengan warga akhirnya memilih melarikan diri dari tempat itu, apalagi beberapa warga juga menenteng senapan angin dan yang lainnya membawa senjata tajam seperti parang dan celurit, membuat mereka pontang panting melarikan diri.

__ADS_1


Flash back off


__ADS_2