Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Ada Hantu


__ADS_3

"Kenapa ayah tak bilang padaku kalau ayah punya rumah di sana, apa yang ayah sembunyikan di sana, apa ayah menyembunyikan perempuan di rumah itu ?" perkataan Toni lumayan memengaruhi pikiran Sabrina, sehingga satu tuduhan telak pun dia layangkan pada Cobra sang ayah, saat mempertanyakan tentang keberadaan rumah yang tak di ketahuinya itu.


"Perempuan apa, perempuan yang mana ?" elak Cobra yang tak merasa melakukan apa yang di tuduhkan Sabrina padanya.


"Kalau tidak menyembunyikan wanita, untuk apa merahasiakannya dari ku !" cebik Sabrina.


Akhirnya Cobra menceritakan kalu rumah itu memang sengaja di belinya setahun yang lalu untuk persiapan tempat tinggal Yama anak bungsunya, makanya di jaga ketat, karena rumah tersebut waktu itu memang sempat di pakai untuk menyekap Arsan dan Karina beberapa saat, takutnya masih ada yang penasaran datang ke sana seperti halnya yang di lakukan Toni saat ini, masih saja mengunjungi rumah itu karena penasaran, kalau Arsan dia yakin tak akan penasaran dengan rumah itu, secara sengaja dia membeli rumah sederhana dan tak tidak terlalu luas, selain agar pemantauan jadi lebih gampang, juga agar tak menjadi sorotan musuh musuhnya jika kelak dia benar benar memindahkan anak lelakinya ke sana.


Yama atau anak bungsu lelaki Cobra memang terkesan di sembunyikan dari orang orang, selain kondisi kesehatannya yang agak berbeda dari anak anak seumurannya, keberadaan nya juga akan sangat membahayakan jika sampai ada musuh yang tau tempat di mana dia menyembunyikannya.


"Ayah kenapa tak memberi tah ku kalau Arsan sempat ayah sekap di sana ?" tanya Sabrina lagi dengan nada sedikit kesal,


"Kalau kau sampai tau, dia akan mati di tangan mu tak sampai 5 menit, dan rencana akan buyar semua, ita tidak akan mendapatkan kembali hak kita," jawab Cobra.


"Apa saat penjualan saham itu Arsan dalam keadaan sadar ?" Sabrina terus bertanya tentang bagaimana cara ayahnya mendapatkan saham itu, dia sampai lupa tak menanyakannya karena diapikir ayahnya mendapatkan nya dengan cara licik dan memalsukan surat suratnya.


"Tentu saja dia dalam keadan sehat dan sadar, bahkan aku mempunyai rekaman saat dia menanda tangani surat perjanjian jual beli itu, dan semua itu di lakukan di depan notaris juga saksi, aku jelas tak mau gegabah menghadapi setan licik itu." ucap Cobra.


"Tapi ayah, bagaimana bisa dia setuju begitu saja menjual sahamnya dengan harga yang ayah tentukan sendiri tanpa penolakan atau tanpa dia menawarnya sama sekali ?" Sabrina merasa janggal.


"Entahlah, mungkin karena dia kepepet, bukankah rumah nya di sita bank, belum lagi aku juga sedikit menekannya, dia hanya meminta kebebasannya, dan meminta ku jangan berurusan lagi dengannya," jawab Cobra.


"Pantas saja ayah selalu di curangi dan di jaati orang, sifat polos dan naif seperti ini yang seolah ayah memberikan peluang pada orang lain untuk berbuat curang pada keluarga kita !" protes Sabrina.


"Polos bagaimana, buktinya saham itu sudah kembali keluarga kita miliki." keukeuh Cobra.


"Entahlah, aku tetap merasa kalau ada yang janggal dengan semua ini, seorang iblis pemuja uang seperti Arsan tak mungkin menyerahkan begitu saja hartanya," ucap Sabrina.

__ADS_1


***


Hari itu sepulang kantor, Raya mengajak Dila iseng melewati rumah lamanya yang sepengetahuannya sudah di sita oleh pihak bank, dia hanya ingin mengenang hal hal manis yang pernah dia alami bersama ayahnya.


Kebetulan sekali mobil milik Raya sedang di service Panca, jadi dia memakai mobil panca sebagai gantinya hari itu, mobil sedan hitam itu berhenti tak jauh dari gerbang, dia hanya ingi melihat rumah lamanya dari jarak dekat, dia rindu suasana rumah itu.


Namun saat dirinya asik menatap rumah lamanya dari dalam mobil, seorang securiti mengetuk kaca jendela mobilnya yang tertutup rapat, Raya terlonjak kaget, bukan karena ketukan kaca itu, tapi karena siapa yang mengetuk kaca jendela itu.


"Pak Maman ?" pekik Raya saat dirinya membuka jendela mobilnya.


Maman yang juga kaget melihat Raya menjadi pucat dan bertingkah serba salah, kaca film jendela mobil itu terlalu gelap, sehingga Maman tak bisa melihat sosok Raya dari luar mobil.


"Ah,,,Eh,,, non Raya !" ucapnya guup.


"Pak Maman kerja di sini lagi ?" taya Raya yang sepertinya sangat senang bertemu dengan penjaga rumahnya yang lama itu.


"Syukurlah, ngomong ngomong, bagaimana pemilik baru rumah ini, apa mereka baik ?" tanya Raya polos, tak tau saja kalau pemilik rumah ini dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah.


"Ba- baik, Non. Maaf saya harus kembali bekerja !" pamit Maman yang tak ingin salah bicara dan tak ingin kena tegur Arsan atau Karina jika drinya sampai keceplosan atau salah bicara, terlebih sekarang ini Arsan perangainya berubah dari sikapnya yang dulu, kini Arsan menjadi bos yang sangat kejam, dan tak segan menghajar atau menyiksa para pekerjanya kalau ada yang berbuat salah, bahkan kini rumah ini juga sudah seperti markas mafia, karena menjadi tempat berkumpulnya para anak buah Arsan yang dandanannya seperti dandanan para gangster di film film.


Raya hanya mengangguk tanda mempersilahkan, meski terbersit sedikit heran dengan sikap kaku dan gugup Maman yang entah mengapa seperti sangat ketakutan ketika melihat dirinya.


"Siapa ?" tanya Dila.


"Dia securiti yang bekerja dengan keluarga ku dulu, di rumah ini juga," jawab Raya sambil menyetarter mobilnya lalu melajukan kembali kendarannya meninggalkan pelataran depan rumah mewah yang pernah menjadi tempat tinggalnya itu.


Dila membulatkan mulutnya seraya membentuk huruf O, kepalanya di putar ke arah rumah besaritu karena merasa penasaran dengan tempat tinggal sahabatnya dulu, karena dia memang belum pernah sempat berkunjung ke sana, namun matanya tak sengaja menangkap sosok perempuan yang ternyata Karina sedang memperhatikannya dari balkon yang menghadap langsung ke jalan raya, wajahnya sungguh sangat memelas dan sangat ingin berteriak minta tolong pada siapa saja yang berada di sekitar rumah mewah itu.

__ADS_1


"Astaga,,, apa sore sore begini kuntilanak sudah bergentayangan ?" teriak Dila sambil menutupi wajahnya karena mersa ketakutan, dia tak mengenal sosok Karina, jadi saat melihat Karina di balkon dengan wajah yang bonyok dan penuh lebam dikiranya sebagai hantu yang muncul di sore hari.


"Apa sih Dil ?" heran Raya melihat polah aneh sahabatnya itu.


"Aku melihat kuntilanak di balkon rumah lama mu itu !" ucap Dila sambil terus menutupi wajahnya ketakutan, bayangan wajah menyeramkan Karina benar benar terbayang bayang di ingatannya.


"Ihhh,,, mana ada, bertahun tahun aku tinggal di sana tak pernah sekali pun mengalami hal aneh apapun !" tepis Raya, yang sebenarnya dia juga merasa ketakutan, secara dia juga penakut, hanya pura pura berani saja.


"Sumpah, aku tak bohong, aku benar benar melihat hantu perempuan menyeramkan di rumah itu, tadi." Dila keukeuh dengan keyakinan yang di lihatnya.


"Ya,, mungkin saja sih, secara rumah itu kan lama kosong, jadi masuk akal jika para setan betah tinggal di sana," pungkas Raya mengakhiri perdebatannya dengan Dila yang tak mungkin ada ujungnya jika saling mempertahankan argumennya sendiri sendiri.


Lagi pula pendapat Raya itu ada benarnya juga, meang yang meninggali rumah itu sekarang adalah para setan, hanya saja setan dalam perwujudan manusia yang serakah, kejam, dan menghalalkan segara cara demi uang dan kekuasaannya, sampai melupakan anak, istri dan saudara. Bahkan setan yang asli saja kalah seram di bandingkan dengan manusia manusia modelan begitu.


Untuk menghilangkan rasa ketakutan yang mereka rasakan tadi, Raya mengajak Dila untukpergi ke sebuah kafe, dia juga merasa jenuh dan lelah dengan pekerjaan nya seharian ini.


Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah Kafe ternama yang berada di sebuah Mall, secara bagi sebagian besar para wanita, pergi Mall itu merupakan hibran tersendiri yang bisa menghilangkan lelah dan penat, bahkan bagi Raya dan Dila, hal itu bisa sebagai obat penghilang rasa trauma karena baru saja melihat hantu.


Masuklah mereka ke kafe itu, namun Dila spontan menarik lengan Raya dan menahannya agar tak jadi masuk ke sana saat mereka baru saja masuk melewati pintu beberapa langkah.


"Ada apa ?" tanya Raya.


"Ada penampakan yang lebih menyeramkan di banding hantu,!" bisik Dila, sambil memajukan dagunya seraya menunjuk sepasang pria dan wanita yang sedang menikmati makanan mereka.


"Ah,,, aku pikir siapa," ucap Raya santai, dia bahkan berjalan menuju meja tempat dua orang yang di kenalnya itu berada.


"Raya,,, jangan gila,,, Raya,,, ayo pergi saja, jangan cari gara gara !" Dila menarik narik lengan Raya berusaha mencegah sahabatnya untuk mendatangi meja itu, dia akan sangat malu jika Raya sampai ribut di tempat itu.

__ADS_1


"Hai Cila,,, Hai Lion,,, boleh kami ikut bergabung bersama kalian di meja ini ?" sapa Raya.


__ADS_2