Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Adik?


__ADS_3

"Bu Karin...Bu Karin...!" panggil Yama dari dalam kamar, sepertinya suara tangisan Karina membuat bocah yang mulai menyangi Karina itu merasa cemas dengan keadaan wanita yang selalu setia merawat dan menamani hari-harinya itu.


"Bunda, siapa itu yang memanggil,?" tanya Raya.


Mulut Karina seperti terkunci seketika, dia memang sudah tau cerita se detail-detailnya tentang Yama, hanya saja bukan kapasitas dia untuk menceritakan itu semua pada Raya, terlalu sensitif untuk di ceritakan, karena ini bukan masalah yang sepele, namun merupakan hal yang besar dan menyangkut banyak pihak.


"Maaf, Bunda harus masuk dulu!" pamit Karina, sungguh dia tak ingin terlibat lagi dengan masah ruwet Arsan, sehingga wanita itu lebih memilih untuk pergi meninggalkan Raya dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


"Toni, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian semua seolah menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Raya memelas pada suaminya.


"Tenanglah, aku memang membawa mu ke sini untuk mengatakan tentang sesuatu yang memang penting untuk kamu ketahui, tapi sebelumnya sebaiknya kamu tenangkan diri mu dulu, aku tak mau terjadi apa-apa dengan mu," Toni membawa Raya untuk duduk dulu di sofa, agar dia lebih relax.


"Aku baik-baik saja, bukan kah sudah ratusan kali aku katakan kalau aku baik-baik saja!" Raya mulai terpancing emosinya, karena semua orang yang ada di rumah itu seakan menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Raya merasa dirinya satu satunya orang yang paling bodoh di rumah itu, karena rasanya hanya dia yang tak tau apapun yang terjadi.


"Baik, tenangkan dirimu, aku akan mempertemukan mu dengan seseorang, tapikamu harus janji untuk tak berpikir terlalu banyak, jika kamu merasa tak sanggup atau merasa sakit, kamu bilang pada ku, jangan paksakan diri mu, oke?!" ucap Toni memberikan beberapa syaratnya.


"Oke, aku mengerti, dan aku janji!" jawab Raya yang sepertinya sudah tak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan siap yang ingin Toni pertemukan dengannya itu.


Toni menuntun istrinya itu menuju ke sebuah kamar dimana tempat Yama berbaring dan menghabiskan harinya.


Perlahan handle pintu kamar itu di putar dan di dorongnya dengan hati-hati, Raya yang kini mengekor di belakang Toni merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, saat dia baru saja melihat ranjang yang biasanya dia temui di ruang rawat rumah sakit untuk tidur pasien.


Saat tubuh Toni sudah tak menghalangi pandanganya, kini matanya tiba-tiba beradu pandang dengan sosok remaja pria yang sedang tergolek di ranjang itu, pandangan antara adik kakak yang tak pernah berjumpa bahkan tak pernah mengenal dan tak pernah tau kalau di tubuh mereka mengalir darah ayah yang sama itu saling megunci.

__ADS_1


Terlebih Raya yang lang langsung seperti melihat sosok ayahnya versi remaja itu sangat terlihat kebingungan, banhkan matanya takdapat berpaling dari wajah Yama, begitu pun sebaliknya.


"Kenapa kakak melihat ku seperti itu?" tegur Yama kemudian, karena lama kelamaan dia merasa risih di perhatikan begitu intens oleh Raya dengan sebegitu lekatnya seakan tak ada satu inci pun dari wajah Yama yang uput dari perhatiannya.


"Ah, maafkan, ini istri ku, dia ingin berkenalan dengan mu!" jawab Toni akhirnya mewakili Raya yang tk menjawab pertanyaan Yama.


OH, dia istri abang? Sungguh abang pintar mencari istri, dia wanita yang sangat cantik!" puji Yama, yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Sabrina sang kakak.


"Ish, Yama, kamu baru melihatnya sudah memujinya, aku yang bertahun-tahun selalu bersama mu, tapi kamu tak pernah memuji kakak cantik!" protes Sbrina pada adik kesayangannya itu.


"Kakak selalu cantik, aku sudah tak perlu lagi mengatakannya dan memberi tahu mu.Pokoknya di mataku kakak selalu cantik,meski aku tak pernah mngatakannya."Rayu Yama yang menyadari kalau kakaknya sedang iri atau cemburu karena dirinya malah memuji wanita lain yang bahkan baru pernah di temuinya.


Namun entah mengapa dirinya seperti sudah merasa dekat dengan wanita asing yang di akui Toni sebagai istrinya itu.


"Hai kak Raya, nama ku Yama, salam kenal! Tpi maaf aku tidak bisa menghampiri kakak ke sana kaarena aku tidak bisa berjalan, ah,,, tidak--tidak, maksud ku akumasih berlatih agar aku bisa berjalan, aku yakin kalau aku berjalan!"oceh Yama, membuat Raya kembali tersadar dari lamunan nya dan menghampiri Yama yang ranjangnya berada tak jauh dari tempatnya kini berdiri.


Rya lantas melirik ke arah Karina yang sedang menyuapi Yama makan.


"Bunda, dia siapa?" Tanya Raya pada Karina yang tentu saja tak mungkin memberi tahu Raya kalau remaja pria yng sedang dia suapi itu adalah adiknya.


"Bunda? Jadi kak Raya ini petri dari bu Karin?" Tanya Yama dengan mata yang membelalak seolah tak percaya, namun karina mengangguk seraya meng iya kan apa yang menjadi rasa kepenasaran Yama.


"Tapi antara bu Karin dan kakak ini seperti kakak beradik.


"Raya ini anak sambung ibu!" jawa Karina menerangkan sehinggayama mengangguk anggukan kepalanya taanda mengerti dan tak menanyakan hal itu lebih lanjut karena tak ingin menyinggung perasan Karina maupun Raya.

__ADS_1


Tangan Raya terulur dan menyentuk lembut pipi Yama, dia tak mengerti kenapa wajah Yama sangat mirip sekali dengan wajah ayyahnya, padahal sejauh yang dia tangkap dari percakapan tadi kalau bocah pria remaja ini merupakan adik dari Sabrina.


"Kenapa wajah mu ini mengingatkan ku pada seseorang yang sangat aku benci di dunia ini, namun aku berharap sifat mu tak mirip denganya, dan jangan sampai pernah itu terjadi," gumam Raya agak lirih.


Sementara Yama hanya diam saja karen atak mengerti dengan apa yang sedang di gumamkan Raya yang tiba-tiba mengelus pipinya tanpa sebab.


"Apa dia benar- benar adik mu?" Raya kini memutar tubuhnya agar bisa behadapan dengan Sabrina untukmendapatkan jawaban dari rasa kepenasarannya itu.


"Tentu saja dia adik ku, adik kandung ku! Kenapa, ada masalah?" tantang Sabrina merasa kesal di tanya seperti itu oleh Raya.


"Sabrina, jaga ucapan mu!" tegur Toni, dan Sabrina pun mentup kembali mulutnya tak meneruskan kesinisannya pada Raya, karena tak ingin terlibat adu debat lagi dengan toni.


Toni mendekati istrinya, lalu merangkul kembali bahu sang istri, "Yama, aku dan istri ku pamit pulang dulu, besok atau lusa aku dan Raya akan kembali ke sini untuk menjenguk mu, berjanjilah untuk lebih baik ketika kami kembali ke sini," Pamit Toni.


Untuk sekarang Toni hanya akan mempertemukan dulu Raya dan adiknya, nanti di rumah dia akan menceritakan apa yang terjadi, dan siapa Yama sebenarnya, bukannya dia tak ingin menceritakan kebenaran itu di sana, hanya saja mengingat kesehatan Yama yang juga tidak memungkinkan, Toni lebih memilih untuk mempertemukan mereka saja dulu.


Belum lagi tadi Sabrina juga sudah mewanti-wanti agar dia tak menceritakan apapun pada Yama karena akan mempengaruhi kesehatannya.


Setelah di sepanjang perjalanan pulang Raya lebih banyak diam, akhirnya saat mereka sudah berada di kamarnya dan berbaring bersampingan dengan mata yang tak dapat terpejam karena banyaknya pertanyaan yang menghuni kepala Raya,


"Sayang, bisa kamu ceritakan pada ku, siapa Yama sebenarnya?" tanya Raya akhirnya tak dapat lagi menahan rasa keingin tahuannya.


"Mungkin jawabannya akan sangat mengagetkan mu, namun ini kenyataannya, kalau Yama adalah adik mu!"Toni berusaha menerangkannya dengan sangat pelan agar pikiran dan mental sang istri tidak begitu down.


"Adik? Aku punya adik?" beo Raya sampai terbangun dari posisi tidurannya, saking dia kagetnya.

__ADS_1


__ADS_2