
"Mas, kenapa bisa seperti ini? Mas, selamatkan Cila, selamatkan anak kita, ini semua salah mu, apa masalah mu dengan teman mu itu sampai-sampai dia menculik dan memperlakukan anak kita seperti itu? Semua karma buruk mu menimpa anak kita, baru kemarin di selamat dari over dosis obat terlarang, itu semua salah mu, aku sudah sering bilang pada mu untuk hidup di jalan yang benar, tapi kamu tak pernah mendengarnya, lihat,,, lihat sekarang, kamu mencelakai putrimu sendiri, aku tak mau tahu, bawa Cila kembali dalam keadaan sehat dan selamat, karena kalau tidak, aku tak akan memaafkan mu sampai kapan pun!" Istri dari Rolan itu pun meluapkan semua kekesalannya pada sang suami yang selama ini di pendamnya.
Bukannya Rolan tak bisa meminta bantuan dari kelompok lain atau mendatangkan bala bantuan dari kota lain, hanya saja itu akan memakan waktu, sementara keselamatan anaknya kini sedang di pertaruhkan di sana, dia benar-benar harus berburu dengan waktu.
Cobra menyeringai saat dirinya baru saja mencapai sebuah kesepakatan dengan Rolan yang menelponnya, untuk meminta bantuan dalam rangka penyelamatan anak gadisnya dari tangan Arsan.
Bagi Cobra, dia bak sedang mendapatkan durian runtuh, dimana dia akan mendapat banyak keuntungan dan bayaran dari Rolan jika dirinya bersedia membantunya.
Tentu saja tidak ada alasan untuk Cobra menolak permintaan Rolan yang di sertai iming-iming keuntungan yang sangat menggiurkan untuknya, di antaranya, pegalihan proyek kasino, penyerahan kepemilikan dua klub malam milik Rolan di Jakarta, serta beberapa wilayah 'jualan' yang juga di minta khusus oleh Cobra.
"Cobra sengaja memberi banyak syarat untuk agar dirinya mau memenuhi permintaan Rolan itu, Cobra tau kalau Rolan saat ini sedang dalam posisi terjepit, apapun syarat yang di ajukannya pasti akan di iyakannya.
Selain itu, hal ini juga merupakan kesempatan bagi Cobra untuk menyerang Arsan, pria yang telah memporak porandakan rumah tangga dan keluarganya, sehingga sampai saat ini dirinya seolah hidup dalam belenggu api dendam kesumat yang seakan tak pernah padam.
Meskipun sebenarnya dia ingin menyaksikan karma hidup apa yang akan di terima oleh Arsan, tapi sepertinya mempercepat karma itu datang akan menyenangkan bagi Cobra.
***
Kemarin saat Cila baru kembali dari tempat kost Toni dengan perasaan yang hancur berkeping-keping karena tak sanggup menerima kenyataan kalau ternyata pria yang sangat dia cintai yang merupakan tunangannya itu ternyata sudah meniakah dengan perempuan lain, membuatnya menjadi sedikit agak limbung dan linglung, gadis malang itu berjalan tanpa tentu arah.
Salah satu anak buah Arsan yang memang di tugaskan untuk mengikuti kemanapun putri kesayangan Rolan itu pergi pun segera menghubungi Arsan sang bos.
"Tangkap dan bawa dia ke rumah utama!" titah Arsan dari ujung sambungan telepon sana.
Anak buahnya pun mengangguk patuh, meski anggukannya tak mungkin dapat Arsan lihat.
Tanpa membuang waktu lagi pria itu dapat membujuk Cila yang seperti sedang depresi berat itu hampir tanpa perlawanan berati, gadis itu bahkan hanya menurut saja saat pria yang asing baginya itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sang juragan.
Tentu saja hasil kerja anak buahnya itu membuat Arsan tersenyum bangga dan bahagia, akhirnya misi pembalasan dendamnya pada Rolan yang telah membuat dirinya mengalami kerugian materi yang sangat banyak itu, sebenarnya bukan hanya masalah kerugian yang begitu membekas dan melukai harga dirinya, namun penghianatan Rolan itu terlalu menyakitkan untuk Arsan, sehingga dia memendam amarah yang teramat besar untuk teman lamanya yang dulu sering bekerja sama dengannya itu.
Tak lupa Arsan juga meminta bala bantuan agar segera datang untuk mendukungnya, sungguh itu semua sudah Arsan rencanakan dengan matang, hanya saja, tadinya dia pikir akan kesulitan menculik Cila, namun ternyata semua seakan di beri jalan yang mudah untuknya mewujudkan semua rencana busuknya.
***
Di tempat lain, Toni yang masih menikmati hari nya dengan sang istri terpaksa harus menghentikan kesenanganya karena Panca mengganggu kebersamaan mereka,
__ADS_1
"Bro, aku mendengar info, katanya akan terjadi peperangan antara Rolan dan Arsan," Kata Panca.
"Lalu, apa hubungannya dengan kita?" tanya Toni dingin.
"Masalahnya ini juga menyangkut tentang senjata Rolan yang kita jarah itu, kalau sampai mereka tau ternyata senjata mereka ada di tangan kita, bagaimana?" tanya Panca lagi yang mulai was-was takut teeseret dalam amukan Rolan.
"Senjatanya ada di kontainer mu, gak ada hubungannya dengan ku, hadapi sendiri lah!" goda Toni malah ikut menambah kecemasan yang di rasakan Panca.
"Ya gak bisa begitu dong, itu kau yang mencurinya , aku hanya menyimpannya saja," protes Panca merasa kesal karena Toni seperti sengaja mempermainkannya.
"Tak ada yang bisa membuktikan kalau aku yang mencurinya." kata Toni sambil terkekeh karena merasa lucu melihat wajah Panca yang yang sudah pucat pasi.
"Apa yang kau takutkan sebenarnya?" sambung Toni.
Namun Panca tak menjawabnya, rasa rasanya dia sudah kehabisan kata-kata karena memikirkan bagaimana nasibnya nanti kalau sampai Rolan bahkan mungkin Arsan menyerang dirinya.
"Kau percayalah, tak akan terjadi apa-apa, saat ini yang bisa kita lakukan hanya menonton pertempuran mereka, sukur-sukur mati keduanya, " oceh Toni dengan entengna.
"Kalau gak?" tanya Panca lagi.
"Kita tonton aja dulu, aku yakin di antara mereka berdua pasti ada yang mati, kalau pun tak mati keduanya setidaknya ngeringanin kerjaan kita lah!" selorohnya lagi.
Prang....!
Toni dan Panca di kagetkan oleh suara benda yang pecah tak jauh dari tempat mereka mengobrol yaitu di ruang tamu.
Ternyata suara itu berasal dari gelas berisi minuman yang di bawa Raya untuk di berikan pada Toni dan Panca, sehingga semua pecahan kaca itu telah berserakan di lantai.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Toni sangat kaget karena tiba-tiba sang istri sudah berada di sana, dia pasti mendengar obrolan suaminya dan Panca.
Toni membolak balikkan tubuh istrinya, memeriksa setiap bagian tubuh istrinya, memastikan kalau wanita yang di cintainya itu tak terluka.
"Aku baik-baik saja," jawab Raya, namun wajahnya seakan memberikan jawaban yang bertolak belakang dari apa yang di ucapkannya.
"Kenapa? Maafkan aku jika aku menginginkan kematin ayah mu, aku tak bisa membiarkan orang yang telah menyakiti mu tetap hidup," sesal Toni,mersa tak enak hati karena bisa saja mungkin Raya merasa sedih karena mendengar kalau dirinya sangat mengharapkan kematian dari ayahnya.
__ADS_1
"Bukan itu yang aku pikirkan, aku bahkan tak peduli apapun yang terjadi dengan pria itu," lirih Raya menyangkal apa yang di katakan oleh suaminya itu.
"Lantas kenapa kamu seperti ini, kamu terlihat sangat bersedih," selidik Toni sambil membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai, agar tak mengenai dan melukai kaki istrinya.
"Aku hanya tak mau kamu terluka apalagi kalau sampai---" tangis Raya pun pecah tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
toni kini mengerti apa yang sedang ada di dalam pikiran istrinya, dia segera memeluknya dan berusaha menenangkannya.
"Oh ayolah, kamu tau bagaimana kemampuan ku, suami mu ini tak akan mudah di kalahkan dan tak akan mudah mati begitu saja sebelum memastikan orang-orang yang menyakiti mu itu tak ada lagi di dunia ini," kata Toni menenangkan sang istri.
Toni sedikit termenung, memastikan kalau tadi dia tak lah dengar ketika Raya mengatakan kalau dia tak peduli lagi dengan ayahnya, apa itu berarti?
"Raya, apa kamu yakin kalau kamu benar-benar sudah tak peduli lagi dengan ayah mu?" tanya Toni hati-hati.
"Aku bahkan telah menganggapnya mati!" jawab Raya yakin.
"Baiklah, nanti malam aku akan mengajak mu ke suatu tempat,"kata Toni pada istrinya yang berencana ingin mempertemukan Raya dengan seseorang malam ini, sebelum semuanya terlambat.
"Seseorang?" beo raya, dan lalu di angguki oleh sang suami yang bersikap seolah sok misterius dan tak ingin mengatakan nya pada sang istri sekarang ini.
***
"Di mana kita?" tanya Raya saat Toni membawanya ke sebuah rumah sederhana.
"Ayo,masuklah dulu!" Ajak Toni, seraya menuntun tangan istrinya agar mengikuti langkahnya memasuki rumah itu.
Sabrina terlihat kebingungan saat menyambut kedatangan Toni yang katanya akan datang bersama pasangannya, wajahnya bahkan terlihat sangat tak suka saat melihat Raya datang bersama Toni ke sana.
"Lion, apa maksudnya ini? Kenapa kau membawanya datang ke tempat ini? Apa kau tau betapa muaknya aku melihat wajahnya, wajah anak iblis itu," ketus Sabrina.
"Jangan kurang ajar pada istri ku, kalau kau masih ingin bernafas di dunia ini." Toni tak kalah ketusnya saat menjawab pertanyaan Sabrina, rahangnya bahkan terlihat mengeras karena marah mendengar semua yang di ucapkan oleh Sabrina barusan.
"Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba dia yang jadi istrimu, bukan kah kau homo?" Tuduh Sabrina tanpa tedeng aling-aling mengatakan semua itu di hadapan Raya yang langsung melirik tajam ke arah suaminya.
Dengan spontan Raya langsung menatap wajah Toni dengan dalam, sungguh dia benar-benar kaget mendengar apa yang di ucapkan Sabrina, seolah dia sedang meminta penjelasan pada suaminya yang terlihat gelagapan dan melotot ke arah Sabrina.
__ADS_1
"Sayang?!" Nada bicara Raya datar namun terdengar sangat tegas dan lumayan membuat Toni takut sekaligus ciut mendengarnya.