Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
SAH !!!


__ADS_3

"Nak,lepaskan, jangan kotori tangan mu di hari pernikahan mu ini, biar mamang yang berbicara dengan mantan menatu tak tau diri ini," ucap mang Dasep


"Apa, MANTAN MENANTU?" pekik Panca yang tak tau kalau Bara adalah mantan menantu Mang Dasep yang berarti mantan suami Dila, karena Dila tak punya saudari lain.


"Apa Dila tak pernah bercerita pada mu kalau dia pernah menikah?" tanya Toni yang kini sama terkejutnya dengan Panca, hanya saja keterkejutn Toni karena mendapti Panca yang seperti kaget mendengar pernyatan kalau ternyata Bara mantan suami Dila, atau dengan kata lain, Panc terlihat kaget saat mendengar kalau ternyata Dila pernah menikah sebelumya.


Panca menggeleng,


"Sudah lah jangan terlalu di pikirkan, mereka sudah resmi bercerai, yang penting kau bukan pebinor!" goda Toni yang hnya di balas dengan senyuman kecut Panca.


Tak ada yang salah dengan status jandanya Dila, toh Panca juga sudah menerima Dila apa adanya, hanya saja,mengapa selama ini Dil tak pernah membicarakan hal itu padanya, itu membuat dirinya menjadi berpikiran kalau dirinya tak di anggap penting dalam kehidupan Dila, karena untuk halse besar itu saja Dila tak menceritakannya.


Tapi ya sudahlah, dia tak ingin memperpanjang masalah ini, apa lagi hari ini adalah hari bahagia untuk sahabatnya, tak baik jika dirinya merusak moment bahagia ini, untuk masalahnya dengan Dila, nanti akan mereka bahas kalau acara sudah selesai atau kalau ada waktu senggang, yang penting bukan sekarang.


Sore itu cuaca sangat cerah, langit seakan ikut berbahagia mengantarkn Toni dan Raya ke gerbang kehidupan yang baru, yaitu sebuah kehidupan rumah tangga, dimana semua yang tadinya ada aku dan kamu kini berubah menjadi kita, menjalani hidup bergandengan tangan bersama sama melewati semua bahagia, kecewa, tangis dan tawa, saling menguatkan saat terpuruk sehingga semua bisa lebih ringan karea di lalui berdua.


Raya keluar dari pintu rumahnya menuju halaman yang akan menjadi saksi pengucapan sumpah setia di hadapan Tuhan dan di hadapan semua orang yang hadir di sana.


Mata Toni tak dapat berkedip sedikit pun melihat kecantikan Raya yang paripurna dengan kebaya putih panjang dan kain berwarna coklat senada dengan jas yang di kenakannya, membuat aura kecantikannya begitu memancar dan bersinar meskipun makeup yang di aplikasikan ke wajahnya hanya riasan natural.


Didampingi Dila dan mang Dasep Raya di antar menuju ke halaman rumah dimana Toni sekarang sudah berdiri dari duduknya menyambut kedatangan bidadari nya yang datang mendekat ke arahnya.


Senyuman itu kini tak lepas dari bibir Raya, hari ini dia seolah melupakn semua kejadian pahit yang di alaminya, tak ada lagi keraguan dalam dirinya untuk segera menikah dengan Toni meski ayahnya tak hadir untuk sekedar memberinya restu.

__ADS_1


Restunya kini tak lagi di harapkan oleh Raya, akan Raya tanamkan dalam dirinya kalau dirinya adalah anak yatim piatu, dia hanya mempunyai Toni tang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya, dan juga sahabat sahabatnya di dunia ini.


Toni menarik kursi kosong di samping tempat duduknya, mempersilahkan calon isterinya untuk duduk bersebelahan dengan dirinya. Jantungnya kin berdebar sangat kencang, mana kala detik detik pengucapan ijab kabul yang notabene adalah sebuah janji yang dia ucapkan kepada Tuhan untuk mencintai, menyayangi, menjaga, dan melindungi istrinya sampai akhir hayatnya.


"SAH,,,!!!"


Teriak semua orang yang hadir, ikut tersenyum bahagia mana kala Toni berhasil mengucapkan janji setianya dengan lancar dan lantang tanpa hambatan sama sekali.


Resmi sudah mereka sekarang sebagai pasangan suami istri, tak ada lagi keraguan di antara mereka, takada lagi yang bisa memisahkan cinta mereka kecuali maut yang memisahkannya.


Toni menggenggam tangan Raya yang terasa dingin, nampaknya istrinya itu tak kalah gugupnya dengan dirinya, tangannya terasa bagai es batu.


"Tangan mu dingin sekali, sayang, apa kamu sakit?" bisik Toni.


Raya menjawabnya dengan gelengan kepala, dia tak ingin membuat Toni cemas, karena kenyataannya dirinya kini sedang merasakan kepalanya pusing seperti berputar putar, badannya juga terasa lemas, semenjak kejadian penculikan dan penyekapan dirinya itu, dia memang sering merasakan kondisi seperti itu, hnya saja dia tak pernah menceritakan hal itu pada siapapun, dia hanya menahannya dan menyimpannya untuk diri sendiri, dia tak ingin membuat Toni dan yang lainnya menjadi khawatir, terlebih dirinya juga tak ingin di perlakukan sebagai pasien.


"Oh, ini hanya efek make up saja, aku tak apa, aku baik baik saja," elaknya sambil berusaha untuk tetap tersenyum, apaplagi beberapa tamu juga datang untuk menyalami dan memberinya selamat, sehingga dia harus tetap tersenyum di hadapan semua orang.


Sementara di dalam Rumah, Dila yang tak tau menahu tentang kejadian Bara yang tadi membat keributan dan sempat terlibat perkelahian dengan Panca karena dirnya yang sibuk merias Raya di kamar pengantin merasa bingung dengan sikap Panca yang sejk tadi berubah menjadi seolah terkesan dingin padanya, saat di dekatipun dia selalu menghindar seperti tak menginginkan untuk berdekatan dengan dirinya padahal biasanya dia selalu menempel padanya.


Beberapa jam yang lalu juga rasanya Panca masih terasa baik baik saja, beberapa kali dia mengintip dirinya yang sedang merias Raya hanya sekedar untuk mencium pipinya atau menyapanya sambil memberinya senyuman, maka ketika sikapnya berubah menjadi dingin itu sangat kentara sekali.


Awalnya Dila kira kekasihnya itu hana sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan ini, lalu ketika semua acara sudah selesai, Panca masih tetap menghindarinya.

__ADS_1


"Koh, apa kamu lelah? istirahatlah, nanti kamu sakit, atau mau makan dulu, aku siapin ya!?" ujar Dila berusaha mencoba mencairkan suasana dengan memberi perhatian kecil pada Panca yang sedang duduk sendirian di ruang tengah, sebagian besar tamu sudah bubar, hanya tingga tersisa kerabat kerabat dekat mang Dasep saja yang membantu beres beres di rumah itu.


"Kalau kamu mau beristirahat, sana istirahatlah, aku belum ngantuk," jawab Panca datar terkesan dingin.


"Makan ya!?" tawar Dila.


"Tidak, aku tak lapar dan aku juga sedang tak ingin di ganggu," Panca agak nge gas.


Tak seperti biasanya, bahkan biasanya Panca tak pernah mninggikan surana meskipun dia sedang sangat marah padanya, tapi ini--- hanya di tawari makan saja mengapa dia jadi nge gas begitu, pikir Dila.


Dila langsung menangkap kalau pasti ada hal yang tidak beres pada panca, tapi apa, dia tak bisa mengingatnya, apakah dia tanpa sengaja melakukan kesalahan, atau menyinggungnya.


"Koh, apa aku ada salah sama kamu? Apa ada perkataan ku atau perkataan saudara atau bapak ku yang menyinggung perasaan mu?" Dilamulai tak enak hati, dia paling tak tahan jika harus memendam rasa kepenasarannya, jadi apapun hasilnya dia harus menyelesaikannya saat itu juga.


Berbeda dengan Panca yang kuat menyimpan dan memendam rasa kesal atau kekecewaannya, dia tak bisa langsung membahas masalah pada saat itu juga, karen abisa di pastikan dengan kepalanya yang masih panas bukan penyelesaian masalah yang di dapat, namun akan timbul masalah baru, karena pasti ujung ujungnya akan terjadui pertengkaran.


Panca biasanyaakan menyesuaikan diri dulu dengan permasalahan, lalu baru di bicarakan setelah perasaannya benar benar sudah adem dan bisa di kendalikan, sehinga bias membahas masalah denga kepala dingin dan tenang.


Sungguh dua manusia yang bertolak belakang cara pemikirannya.


"Kamu membentak ku? Aku salah apa, kenapa kamu tiba tiba bersikap dingin dan marah padaku?" kesal Dila.


Namun baru saja Panca hendak membuka mulutnya untuk membalas kemarahan Dila, Toni dengan wajah tegang dan menggendong Raya memanggil dirinya dengan sangat panik.

__ADS_1


"Panca antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga, Raya tiba tiba pingsan!" teriak Toni yang langsung membuat seisi rumah ikut panik.


Saat berbincang bincang dengan Toni di halaman sambil menyapa beberapa tamu yang belum pulang, tiba tiba Raya tak sadarkan diri di bahu Toni, membuatnya panik setengah mati dan langsung mengendongnya untuk di bawa masuk, namun dia merubah pikirannya, hatinya berkata dia harus segera membawa istrinya itu ke rumah sakit


__ADS_2