
"Aku siap, sangat siap malah, ayo!" Sabrina dengan semangat 45 langsung berjalan di depan memimpin langkah Toni dan Panca yang sudah di anggap sebagai kakak laki-lakinya itu, seakan tak sabar untuk sampai ke rumah persembunyian Arsan dan menghabisi semua penghuni yang ada di dalam rumah itu.
Perjalanan mereka semakin terarah ke dalam hutan, dengan langkah pasti mereka bertiga berjalan penuh waspada dan kehati-hatian, tujuan mereka sama, selain mencari Martin,mereka juga sudah siap menyerang dalam diam, jika sampai Martin tak juga di ketemukan, karena kemungkinan besar sepertinya Martin tertangkap oleh kawanan Arsan dan anak buahnya.
Berbagai pikiran memenuhi pikiran mereka bertiga saat berjalan menyusuri jalan setapak menembus dingin dan gelap hutan yang hanya menyuguhkan pemandangan hitam kelam dan suara binatang malam yang kadang membuat bulu kuduk merinding mendengarnya.
Tak banyak yang mereka bicarakan satu sama lain, mereka lebih memilih menyibukan diri dengan pikran mereka masing-masing, dimana penyerangan ini bukan hal yang sepele, mungkin saja hari hari ini adalah hari terakhir mereka melihat dunia ini, hari terakhir melihat teman mereka satu sama lain, meski mereka tetap berdoa dan dan berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup dan selamat dalam misi ini demi orang-orang yang mereka sayangi dan juga berharap tak ada satu pun di antara mereka yang harus menjadi korban jika pun penyerangan ini harus terjadi malam ini.
Toni memberi kode pada Sabrina dan Panca untuk menghentikan langkah mereka saat jarak antara tempat mereka sekarang berdiri ke rumah target mereka hanya tersisa beberapa meter saja.
Toni meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya pertanda memberi perintah pada Sabrina dan Panca untuk tak bersuara.
Toni lantas menunjuk dua orang yang yang sedang berjaga sambil mengobrol di depan rumah target mereka.
Sungguh Arsan memang orang yang sangat prepare dan hati-hati, bahkan ditengah persembunyiannya di tengah hutan sekalipun dia masih menyiapkan dan mengunakan penjaga untuk memastikan kemanannya tetap terjaga.
Ya, terkadang memang seperti itulah tabiat orang jahat atau licik, mereka tak akan merasa tenang kapanpun dan dimana pun, karena selalu di hantui rasa ketakutan oleh semua orang yang pernah di jahatinya, takut mereka akan menuntut balas, atau malah takut mendapatkan kejahatan yang sama dari orang lain karena menganggap semua orang sama jahatnya dengan dirinya.
"Aku bisa mengatasinya," bisik Sabrina sambil terus memperhatikan kedua penjaga yang sepertinya tengah asik mengobrol itu, sampai tak sadar tiga pasang mata memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Kita atasi bersama, ingat, jangan berpisah dan jangan gegabah, dan yang paling peting saling bantu," bisik Toni mengingatkan lagi kedua rekannya itu.
Lantas dalam hitungan ke tiga dan langkah yang mengendap-endap Sabrina dan Toni berhasil menjatuhkan dua penjaga yang tak menyadari kedatangan mereka bertiga yang mendekat ke arahnya itu, sementara Panca berjaga di sekitar mereka memastikan tak ada lagi penjaga lain di sekitar rumah itu.
Masih dengan langkah yang minim suara agar tak membuat orang-orang di dalam rumah menyadari kehadiran mereka, Toni mengintip suasana di dalam rumah dari balik celah jendela yang tirainya tak tertutup sempurna.
Ujung jari telunjuk dan ibu jari tangan Toni menyatu membentuk huruf O, yang berarti keadaan di dalam rumah aman terkendali, dan berarti rumah itu aman untuk di invasi oleh mereka, karena tak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan di dalam.
Sabrina dan Panca mulai bersiap dengan senjatanya yang sudah dia acungkan ke depan, saat Toni mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu depan rumah itu, hanya dengan satu tendangan saja Toni dapat langsung membuat pintu itu terbuka dan copot dari engselnya.
Ketiga orang itu merangsek masuk dengan kewaspadaan penuh Tiba-tiba empat orang keluar dari salah satu kamar yang ada di rumah itu, "Lindungi dan selamatkan bos!" teriaknya memberitahu temannya yang lain.
Toni, Sabrina dan Panca saling bertatapan, entah tombol apa yang orang itu tekan, dan apa fungsinya, hanya saja mereka cukup yakin jika hanya harus menghadapi pejaga yang jumlahnya kurang dari 10 orang itu rasanya itu bisa di atasi mereka hanya dengan sebelah tangan saja, kasarnya.
Baku hantam tak dapat di hindari, karena ke empat orang penjaga itu langsung menyerang tanpa basa-basi dan tanpa membuang waktu, namun di luar dugaan, kemampuan bertarung ke 4 penjaga itu ternyata di atas rata-rata, meski mereka tetap bisa di lumpuhkan oleh Toni Cs, hanya saja semua itu lumayan membuat tenaga mereka sedikit terkuras dalam melawan mereka.
"Hahaha,,, aku akui nyali kalian cukup besar juga, datang ke tempat ini hanya bertiga, sayangnya kepercayaan diri kalian terlalu tinggi, hanya menghadapi 6 penjaga ku saja kalian sudah terlihat kewalahan!" Arsan keluar dari sebuah ruangan dengan di jaga ketat oleh puluhan penjaga yang mengelilinginya dengan sangat protektif.
"Hahaha, apa sebegitu takutnya kau mati sampai kau harus di jaga se ketat itu?" ejek Toni membalas cibiran Arsan yang terlebih dahulu menghina mereka.
__ADS_1
"Ah, mulut menantu ku ini memang terlalu lancang pada mertuanya, apa kau datang ke sini untuk meminta restu dari ku karena ingin menikahi putri ku? Tapi kau harus menyerahkan senjata-senjata milik Rolan yang kau curi itu sebagai maharnya, baru aku restui pernikahan kalian," oceh Arsan dengan nada mengejek.
Entah darimana pria tua itu mengetahui kalau senjata milik Rolan berada di tangan mereka, tapi Toni sedang tak ingin peduli dari mana Arsan mengetahui tentang info senjata itu, yang lebih penting baginya adalah mengetahui keberadaan Martin yang menghilang, karena itu lebih penting saat ini.
Hanya saja sejak tadi Baik Toni maupun kedua temannya yang lain belum menemukan tanda-tanda keberadaan Martin, di sana.
Selain itu Arsan juga tak sekali pun mengungkit tentang keberadaan Martin, sehingga dapat Toni Cs simpulkan kalau Martin memang tak berada di sana, entahlah saat ini mereka harus merasa lega atau malah mereka merasa menyesal karena terasa bagai di jebak oleh pikiran mereka sendiri yang meyakini kalau Martin berada di sana, sehingga mereka terpaksa harus melakukan penyerangan sebelum waktunya dan lebih cepat dari yang di rencanakan sebelumnya, meskipun sepat atau lambat, pqdaakhirnya memang tujuan akhir dari kedatangan mereka ke kota itu adalah penyerangan terhadap Arsan, hanya saja penyerangan ini di rasa terlalu prematur dan terburu-buru.
"Cih, hayalan mu terlalu tinggi jika untuk menikahi kekasih ku saja aku harus meminta restu mu, asal kau tau, aku dan Raya sudah menikah dan kami tak memerlukan restu mu, karena istri ku yatim piatu, kau tau artinya yatim piatu? Ibu dari istri ku telah lama tiada dan ayahnya pun sudah mati!" Toni menyeringai dengan tatapan sinis dan merendahkan.
"Bangsat, rupanya kalian memang ke sini sengaja untuk mencari mati, kau pikir akan semudah itu aku mati? Semenjak kalian datang ke tempat ini tadi aku sudah melihat kedatangan kalian dari cctv, hanya saja aku memberi sedikit kalian kesenangan sebelum kalian mati di sini." Ungkap Arsan yang ternyata tadi sudah mengetahui kedatangan Toni Cs ke tempat persembunyiannya itu.
"Baiklah kalau kau ternyata sama-sama menginginkan kematian ku juga, kita mati bersama sepertinya ide yang bagus, aku tak pernah takut mati, dan akan ku pastikan kalau aku akan meludahi wajah mu di neraka!" geram Toni lantas megacungkan senjatanya dan mulai mengokang tepat ke arah kepala Arsan.
"Tak usah terburu-buru, karena sepertinya kalian lah yang akan pergi keneraka terlebih dahulu," ucap Arsan santai sambil bertepuk tangan beberapa kali.
Seiring dengan tepukan tangan Arsan, maka Bagas dan para pengawal lain yang di panggil tadi lewat tombol darurat sudah mengacungkan senjata mereka di kepala Toni, Sabrina dan Panca.
Kini ketiga orang itu benar-benar berada dalam situasi yang sangat menyulitkan bagi mereka bertiga, sungguh situasi mereka saat ini sangat terjepit, istilahnya maju kena mundur kena, jika mereka nekat terus menyerang, bisa di pastikan itu akan sia-sia dan mereka bertiga akan mati konyol, sementara untuk mundur pun mereka sepertinya tak ada celah lagi untuk mereka kabur dari tempat itu.
__ADS_1
Sungguh dalam tekanan yang mengintimidasi, terkadang otak memang biasanya susah untuk di ajak kompromi dan berpikir untuk mencari jalan keluar dari rumah itu, sehingga dalam beberapa saat mereka bertiga hanya bisa mematung dengan hanya tatapan mata mereka yang saling berkomunikasi.