Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Bukan Malaikat


__ADS_3

"Aku tak ingin membicarakan apapun dengan mu, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, jika kau ingin semua sejata mu kembali, aku akan mengembalikannya, tapi tolong menjauhlah dari sekitar ku dan orang-orang ku, jangan karena kau merasa pernah menolong kami kemarin lalu kau merasa semua kejahatan mu telah impas, kejahatan mu masih membekas dan masih terasa sakit oleh kami khususnya orang-orang yang kau sakiti secara langsung ataupun tidak langsung. Harap untuk kau ingat, aku tak pernah memaafkan mu, jadi jangan merasa kita bisa menjadi kembali akrab seperti dulu!" ucap Toni panjang lebar mengeluarkan unek-uneknya yang dia simpan lama dalam hatinya, mungkin itu semua juga bisa mewakili perasaan Karina yang juga merasakan kekesalan dan kemarahan yang sama.


"Dan kau Sabrina, jika kau masih mengijinkan orang ini untuk datang ke sini, mungkin saat ini akan menjadi untuk terakhir kalinya aku datang ke rumah mu!" Tunjuk Toni pada Sabrina yang kini berada di antara mereka dan menjadi sasara kemarahan Toni.


"A-aku tak akan pernah lagi untuk mengijinkan nya datang ke sini, tadi dia tau-tau sudah ada di depan dan meminta ku untuk bertemu Arsan, namun setelah melihat mobil mu, dia jadi ingin bertemu dengan mu," beber Sabrina berusaha menjelaskan kalau dirinya tak tahu menahu tentang kedatangan Rolan malam itu ke rumahnya, dia juga saat ini menjadi sangat tak enak hati pada Toni yang bisa saja mengira kalau dirinya memang sengaja mengijinkan atau bahkan mengundang Rolan untuk datang ke rumahnya, lebih jauh lagi Sabrina juga tak ingi jika sampai Toni mengira dirinya bersekongkol dengan Rolan.


"Aku rasa ini bukan suatu kebetulan, aku yakin ini sudah kau rencanakan dari sebelumnya, aku tau kau, dan aku yakin kau mempunyai niat lain di balik semua ini!" tuduh Toni, yang sungguh sangat tau tabiat Rolan.


Rolan terpaku, sungguh dia lupa, kalau yang di hadapinya kini adalah Lion, pria yang sangat dia tau sekali bagaimana dia tumbuh dan berkembang, bagaimana dirinya mengajari pria itu banyak hal dulu, karena berharap suatu saat nanti kehebatannya bisa di gunakannya sebgai senjata dalam bisnis hitamnya, namun kini keadaan berbalik, senjata yang sekian lama di asahnya seakan menjadi bumerang yang siap menyerang dirinya sendiri.


"Insting mu cukup kuat juga rupanya, aku memang sangat menunggu dimana hari aku bisa berbincang dengan mu, seperti yang aku bicarakan pada mu di waktu lalu, ada hal serius yang ingin aku sampaikan pada mu!" Rolan pada akhirnya menyerah, dan memilih untuk mengatakan maksud dari tujuannya dimana benar kata intuisi Toni kalau Rolan sebenarnya datang ke tempat itu bukan semata untuk melihat keadaan Arsan, namun ada maksud lain di balik itu.


"Bukankah aku sudah katakan pada mu, kalau aku tak ingin berurusan apapun lagi dengan mu." Toni bergeming.


"Tapi ini tentang Cila, bagaimana pun dia pernah menjadi tunangan mu, dia sekarang---" ucapan Rolan menggatung saat Toni secepat kilat menyambar ucapannya.


"Cukup! Jangan keteraluan, aku bertunangan dengan nya hanya sebagai syarat agar kau bisa membantuku menemukan Arsan, dan kau tau kalau semua itu itu aku lakukan terpaksa dan semua karena demi kebahagiaan istri ku yang dulu masih sangat mengharap bertemu ayahnya," potong Toni tak terima jika dirinya masih saja di sangkut pautkan dengan Cila.


Kalau ada keputusan yang harus di sesali di sepanjang hidupnya itu adalah pertunangannya dengan Cila, betapa dia merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia ini, alih-alih berniat membahagiakan kekasih tercintanya, namun yang terjadi malah sebaliknya, hal itu menjadi petaka dalam hubungannya, karena ternyata dirinya hanya di manfaatkan demi kepentingan orang-orang jahat itu.


"Apa yang terjadi dengan Cila?" Tiba-tiba Raya menginterupsi perdebatan suaminya dengan Rolan.

__ADS_1


"Sayang!" protes Toni merasa keberatan jika istrinya harus menngikuti alur yang di buat oleh Rolan.


Namun Raya menggenggam tangan Toni seraya mengatakan kalau dia ingin tau, karena bagaimana pun, Cila pernah menjadi sahabatnya.


Membuat Toni akhirnya mengalah dan membiarkan Raya menanyakan apa yang dia ingin ketahui dari Rolan tentang sahabatnya itu.


"Cila di rumah sakit jiwa saat ini, dia depresi berat atas semua yang terjadi pada hidupnya, di tambah lagi dengan kejadian penculikan yang dilakukan oleh Arsan," Rolan menjeda ucapannya, tenggorokannya terasa tercekat, mengingat keadaan putri kesayangannya saat ini membuat dirinya seperti berada di keterpurukan yang paling dalam sehingga membuat dirinya terkadang protes terhadap sang pencipta denga apa yng terjadi pada putrinya.


Sungguh semua ini salahnya sepenuhnya, semua kejahatan yang di perbuatnya berbalik menyerang sang putri tercinta, mulai dari penculikan, lantas depresi yang juga sempat Raya alami semuanya akibat dari ulah jahatnya seolah seperti hanya sejarah yang terulang kembali dan terjadi pada Cila bahkan lebih parah, karena Cila sampai di perkosa dan depresi berkepanjangan.


Memang terkadang suka lupa kalau segala sesuatu yang dialaakukan di dunia ini ada perhitungnnya, jika pembalasannya tak terjadi pada dirinya sendiri, hal yang lebih menyakitkan jika pembalasan itu datang pada orang-orang yang paling di sayangi.


Andai semua itu bisa dia gantikan, Rolan bahkan bersedia menukarkan nyawanya demi untuk kesembuhan Cila, andai semua kekayaan yang di milikinya bisa di tukar dengan keceriaan sang putri, dia pasti akan dengan senang hati menyerahkan semua kekyaannya untuk menebu semua itu, namun sayangnya semua itu hanya 'andai' yang tak mungkin terwujud dengan begitu mudahnya dan sesederhana itu.


"Apa kau tau kalau istri ku juga mengalami depresi dan harus sampai di rawat di rumah sakit dalam waktu yang tak sebentar akibat perbuatan mu saat menculiknya? Seharusnya sampai sini kau sadar, kenapa anak mu mengalami semua hal itu!" Ucap Toni dengan sinisnya.


Ingatan Toni juga terpaksa jadi harus mengingat kembali masa-masa sulit dimana istrinya mengalmi depresi itu, untunglah semuanya cepat teratasi dan tak berkepanjangan, namun tak pelak jika harus kembali mengingat hal itu membuat dirinya sangat marah dan tak pernah ingin memaafkan Rolan dan Arsan apapun alasannya, bahkan jika dia harus membawa rasa benci dan marahnya sampai ke liang kubur sekali pun.


"Aku minta maaf, aku mengakui semua kesalahan ku, silahkan hukum aku namun jangan hukum dan benci anak ku!" mohon Rolan mengiba.


"Ada hal-hal yang tak bisa selesai hanya dengan kata maaf, dan ada hal-hal yang tidak akan kembali mejadi baik-baik saja hanya dengan sekedar pengakuan kesalahan. Dalam hal ini tak satu pun di antara kami semua yang membenci dan berniat menghukum putri mu, semua terjadi karena karma buruk mu!" Tolak Toni.

__ADS_1


"Cila selalu memanggil nama mu di setiap harinya, Lion. Aku mohon, temui dia sekali saja, aku rela melakukan apapun untuk mu, bahkan aku rela bersujud atau menyerahkan nyawa ku sekalipun asal kau mu menemui putri ku di rumah sakit jiwa, tolonglah, aku mohon!"


Rolan menjatuhkan diri dari kursi rodanya dan luruh di lantai memohon di kaki Toni meminta simpati dari pria yang hatinya kini telah membatu itu.


"Aku tak perlu sujud mu di kaki ku, aku juga tak pernah menginginkan nyawa mu, aku justru ingin kau hidup lebih lama lagi di dunia ini agar kau bisa terus menyaksikan akibat dari kejahatan mu, dan menyaksikan orang-orang tercinta mu menanggung semua nya sementara kau tak dapat berbuat apa-apauntuk membantu mereka, dan itu hukuman yang paling adil buat mu!" Toni menyingkirkan kakinya agar menjauh dari tubuh tak berdaya Rolan yang kini sedang bersimpuh setengah bersujud di kakinya dengan berlinang air mata.


Betapa semua kata-kata Toni yang ditujukan padanya itu seakan lebih tajam dari hujaman pisau dan lebih menyakitkan dari pada panasnya peluru, perkataan Toni itu bahkan mampu mencabik batinnya hingga terasa hancur berkeping-keping.


"Ayo pulang, kita sudah tak ada kepentingan apa-apa lagi disini!" Ajak Toni menarik tangan sang istri dan beranjak dari kursi untuk segera meninggalkan rumah Sabrina yang terasa pengap di rasa Toni akibat emosi nya yang terus di buat naik turun.


Tanpa protes atau membatah sedikit pun Raya hanya mengekor patuh pada perkataan suaminya, meski dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal, bukan karena Rolan yang bersujud di kaki Toni yang membuatnya iba, namun mendengar kondisi Cila yang terdengar begitu memprihatinkan itu membuat hatinya pilu, bagaimana pun mereka pernah bersahabat, apalagi dirinya juga sedikit bayak merasa bersalah karena secara tidak langsung telah merebut pria yang di cintai sahabatnya itu meski Toni tak pernah mencintai Cila sedikit pun selama ini.


"Kenapa lagi, kamu menjadi pendiam lagi, apa kamu masih memikirkan ucapan Arsan?" Tegur Toni yang mendapati istrinya terus melamun di sepanjang perjalanan pulang, membuat dirinya yang sedang mengemudi itu tak dapat berkonsentrasi dalam melajukan kendaraan yang mereka tumpangi itu, sehingga Toni berinisiatif untuk menghentikan laju kendarannnya, dan mearkirkan kendaraannya di tepi jalan.


"Aku sudah tak memikirkan hal itu, namun jujur aku kepikiran keadaan Cila, kasian dia!" cicit Raya lirih dan sangat hati-hati.


Raya tau, apa yang di ucapkannya barusan pasti akan mematik api perdebatan di antara mereka, dimana Toni sama sekali sudah tak ingin lagi berurusan tentang apapun dengan Rolan dan segala sesuatu tentang dia termasuk Cila di dalamnya, namun Raya juga tak bisa membohongi hati kecilnya, dia iba dengan keadaan Cila saat ini, mengingat dirinya pun pernah berada di posisi yang saat ini tengah Cila alami dan itu rasanya sangat berat.


"Cila? Kasihan, kamu bilang? Sayang ayolah berhenti bersikap naif dan sok baik. Mereka menjahati mu sedemikian kejamnya, bahkan Cila yang kau kasihani itu tak pernah merasa ragu atau kasihan saat dia menyuruh anak buah ayahnya untuk memperkosa mu, beruntung hal itu tidak terjadi pada mu, kalau sekarang dia mengalaminya, bukankah itu buah dari kelakuannya sendiri? untuk apa di kasihani?"


Tepat seperti dugaan Raya, Toni langsung marah, bahkan terlihat sangat marah. Meskipun itu seharusnya wajar karena suami mana yang bisa terima jika istri tercintanya di perlakukan jahat seperti itu oleh sahabat dan keluarganya, namun masih saja istrinya itu mengasihani nasib buruk orang-orang yang menjahatinya itu.

__ADS_1


"Tapi--"


"Raya! Kamu bukan malaikat, kamu tak harus selalu berbuat baik pada orang-orang yang menjahati mu, berhenti bersikap konyol!" kesal Toni mengakhiri pembicarannya dengan sang istri karena tak ingin pembicaraan mereka berakhir menjadi pertengkaran hanya karena membicarakan hal yang tak penting.


__ADS_2