
Sakit sekali rasanya hati Toni membayangkan bagaimana takutnya Raya saat itu, menghadapi puluhan pria yang ingin berbuat jahat padanya sendirian.
"Bagaimana nasib gadis itu sekarang? Lantas apa para penjaga mem---" bibir Toni tak sampai hati menanyakan hal itu, dadanya terasa seperti di tusuk tusuk duri.
"Di perkosa, maksud mu?" tanya pria itu.
Toni tak menjawabnya, bahkan hanya untuk mengangguk pun tak dia lakukan.
"Aku tak tau, para penjaga gudang yang saat itu berjaga tewas semua, aku hanya mendengar gosip dan katanya gadis itu menghilang, bahkan sampai saat ini bos masih mencari nya, masih misteri entah siapa yang melakukan semua itu, pasti yang melakukan semua itu nyalinya sangat besar, aku tak bisa membayangkan jika sampai orag itu terangkap oleh bos, habislah sudah!" gumamnya sambil mengepulkan asap putih ke udara.
"Lantas preman yang mencoba memperkosa gadis itu, di mana mereka?"
"Kenapa kau jadi banyak bertanya tentang itu?" ujar pria itu merasa bosan karena Toni terus bertanya masalah itu.
"Aku hanya penasaran, bagaimana dengan nasib preman yang tak melaksanakan tugas dari Rolan itu, harusnya kan semua ini salah dia, dia yang menyebabkan gadis itu kabur," Toni berusaha mengecoh pria lawan bicaranya agar tak erasa curiga dengan dirinya yang terus mencari tahu dan bertanya tentang kejadian itu.
"Oh, kalau dua preman pelabuhan itu sudah langsung di bantai saat itu juga, bahkan aku ikut membantainya saat itu dan mayatnya jadi makanan si ali," urainya, membuat Toni sedikit kurang senang mendengarnya,karena seharusnya dirinyalah yang menghabisi preman preman yang telah lancang berani mencoba memperkosa istrinya itu.
Toni jadi berpikir, pantas saja Raya sangat depresi karena penculikan itu, ternyata apa yang di alami istrinya itu sangat berat dan menyakitkan.
***
Toni menyesap kopi sambil menikmati lintingan tembakau di teras kostnya, dia baru saja selesai berbicara dengan mang Dasep yang menunggui Raya di rumah sakit nun jauh di sana, seperti biasa, setiap hari mereka memang membicarakan perkembangan kesehatan Raya, menurut mang Dasep, kondisi Raya kini sudah lumayan membaik, stabil, hanya saja memang masih di tidurkan dalam beberapa hari ke depan karena jika sadar, Raya pasti akan merasa sangat kesakitan, jadi untuk mengantisipasi hal itu, Raya di tidurkan oleh dokter, namun dokter di sana mengatakan kalau kondisi Raya semakin hari semakin membaik.
Hati Toni sebenarnya agak tenang mendengar semua penjelasan dari mang Dasep, hanya saja berada jauh dari sang istri membuat pikirannya sering tak karuan, terkadang rasa rindu itu datang dan menyiksanya seperti hari ini, batinnya di siksa rasa rindu yang teramat besar pada istrinya itu.
Namun dia harus cukup puas hanya dengan menatap foto terbaru yang di kirimkan mang Dasep padanya, terlihat gambar Raya sang istri yang seperti sedang tertidur pulas dan tenang di atas ranjang rumah sakit, nyaris tak nampak seperti orang sedang sakit, jika tak melihat selang dan alat alat yang menempel ke tubuhnya.
Dan yang jelas Raya sangat terlihat cantik di foto itu. Membuat Toni jadi tersenyum sendiri dalam sakitnya rasa rindu yang di rasakannya.
__ADS_1
"Aku merindukan mu, apa kamu juga merindukan ku?" gumam Toni lirih, bak orang yang kehilangan kewarasannya karena dia berbicara dengan layar ponselnya.
"Aku juga merindukan mu!" Suara seorang wanita yang di kenalinya sebagai suara Cila membuatnya menghentikan kegiatan rutinnya yang selalu dia lakukan setiap hari, yaitu menatap foto sang istri sambil mengucapkan kata kata cinta dan rindu untuknya.
"Kau!" ucap Toni datar.
Pria itu lantas memasukan ponselnya ke saku celana panjangnya, dia tak ingin Cila melihat
ponselnya yang semua galerinya berisi gambar Raya.
"Ya, aku! Memangnya siapa yang kamu harapkan untuk datang ke sini dan mengatakan kata kata rindu?" todong Cila.
"Tak ada!"ucap Toni Cuek.
"Bang, apa kamu selingkuh? dengan siapa kamu tadi berbicara?" tanya Cila yang mengira kalau Toni tadi sedang melakukan video call dengan seseorang, tepatnyaa seorang wanita.
"Tak ada!" ulang Toni dengan ucapan dan nada yang sama seperti tadi.
Beruntungnya Cila tidak ada di sana saat Toni sedang membicarakan Raya dengan mang Dasep tadi, jika sampai dia tau, akan repot dan gagal semua urusan.
"Bisa saja kau salah lihat!" ucap Toni sambil tersenyum miring.
"Jangan menipuku, aku bukan anak kecil yang gampang kamu tipu, bang. Jelas jelas tadi aku lihat kamu sedang telponan dengan selingkuhan mu, siapa dia bang, jawab!" rengek Cila semakin menjadi.
"Sabrina, yang menelpon ku tadi Sabrina," ucap Toni, entah ide dari mana tiba tiba dia membawa bawa nama Sabrina sebagai tamengnya.
Sungguh kasihan nasib Sabrina bahkan dia tak tahu apa apa, tapi terbawa bawa dalam masalah mereka, dan bisa di pastikan kalau bahaya sepertinya akan mengincar Sabrina karena Cila mengira kalau Sabrina adalah benar benar selingkuhannya Toni, yang berhubungan secara diam diam tanpa sepengetahuan dirinya.
"Bang, kenapa kamu berbuat seperti itu, apa salah dan kurang ku di mata mu? Bahkan kamu tak pernah bersikap romantis pada ku, apa aku se tidak menggairahkan itu?" Cila mendekat dan duduk di samping Toni berusaha menempel kan tubuhnya di tubuh Toni yang justru terlihat risih dengan tingkah tunangannya itu.
__ADS_1
"Cila, kita sedang berada di luar kamar, banyak orang berlalu lalang di sini, jangan seperti ini!" Toni menjauh kan tubuh Cila yang menempel ke tubuhnya, lalu dia beringsut bergeser agak menjauh dari tempat duduk Cila.
"Ya sudah, ayo masuk kamar kalau abang malu di liat orang, yuk,,, yuk,,,!" ajak Cila sambil menarik narik tangan Toni.
"Cila cukup! jangan keterlaluan!" bentak Toni sambil menarik tangannya agar terlepas dari tangan Cila.
"Selalu seperti itu, selalu menghindar, selalu menolak, aneh !" ketus Cila yang menghentak hentakan kakinya ke ubin, terlihat jelas sepertinya dia sangat merasa kesal selalu di perlakukan seperti itu oleh Toni.
"Terserah lah, apa maksud mu datang ke sini?" tanya Toni seakan tak suka dengan kedatangan Cila ke tempat kostnya, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Apa ada larangan aku datang ke sini? Barangkali kamu lupa, aku ini masih tunangan mu lho!"
"Lantas?" Toni menaikan sebelah alisnya.
"Aku ada berita tentang Raya untuk mu," cengir Cila.
"Hemh? Raya?!" tanya Toni.
"Sudah ku duga, kamu pasti tertarik jika itu tentang Raya, bagaimana jika kita barter?" Cila memberi penawaran.
"Barter? Maksudnya?" kini Toni mengerutkan alisnya.
"Aku memberi mu informasi tentang Raya, tapi anterin aku belanja dan nonton, gimana?" Cila menaik turunkan alisnya.
"Tergantung!" Toni mengangkat kedua bahunya, sok cuek.
Sebetulnya dia agak penasaran dengan informasi apa yang akan di sampaikan Cila tentang informasi istrinya.
"Apanya yang tergantung, dan apa maksud dari kata tergantung itu?" selidik Cila.
__ADS_1
"Ya,,, tergantung informasi yang kamu berikan, kalo menarik hayu kita belanja bahkan nonton, tapi kalau tidak menarik,,, ya maaf!" cuek Toni.