
Kemarahan Arsan semakin membuncah setelah mendengar omong kosong yang di ceritakan Toni pada Ompong, pria tua itu sangat percaya dengan apa yang di dengarnya dan menelan semuanya mentah mentah tanpa berkeinginan mencari tahu lagi tentang kebenarannya.
Sebuah rencana busuk pun Arsan siapkan untuk membalas semua perbuatan Rolan yang di anggap sudah mencurangi dan menghianatinya itu.
"Sudah saatnya aku bertindak dan membalas semua perbuatan curang bajiangan tua itu, tunggu saja Rolan, aku pasti akan membuat perhitungan dengan mu, segera." gumamnya, entah rencana bsuk seperti apa yang sedang dia rencanakan, yang jelas terlihat sepertinya itu akan sangat membahayakan bagi Rolan.
Sementara di tempat lain, Rolan yang baru saja merasa lega karena Cila sang putri sudah bisa pulang kembali ke rumah, meski terus menagih janji padanya untuk di pertemukan dengan Toni, kini harus kembli menegang otaknya akibat laporan dari anak buahnya.
"Kau yakin orang itu mendapatkannya dari si Ompong, orang kepercayaan Arsan jahanam itu?"tanya Rolan memastikan lagi pada anak buahnya.
"Sangat yakin tuan, saya berani menjaminnya," ucap anak buahnya sangat yakin dengan perkataannya, bahkan dia berani menjaminkan dirinya kalau apa yang di ucapkannya itu adalah benar.
Rolan membolak balikan senjta yang dia dapat dari anak buahnya itu, menelitinya secara seksama, tak dapat di pungkiri lagi kalau itu salah satu jenis senjata pesanannya yang hilang di pelabuhan dan sampai sekarng belum ada itik terang tentang keberaan senjata-senjata itu.
Senjata itu anak buah Rolan dapatkan dari temannya yang baru saja membeli senjata dari Ompong, konon menurut cerita si pembeli senjata itu, Ompong menemukan senjata itu di tasnya, karena ketakutan dan tak ingin terseret masalahjika dirinya tetap menyimpannya, tadinya si Ompong memutuskan untuk membuang senjata itu, namun ketika salah satu teman nya mengetahui dan tertarik untuk membelina akhirnya Ompong tergoda juga dan akhirnya menjual senjata yang sengaja di simpan di tas nya oleh Toni itu pada temnnya.
Dan lagi-lagi 'BOOM!' semua tepat seperti yang Toni harapkan, itu seperti menjadi sebuah serangan sangat cerdik dari buah pemikiran Toni, dimana Toni seolah hanya menyimpan berapa bom waktu dan tinggal menunggu semua bom itu meledak dengan sendirinya.
"Fix, sudah tak dapat di ragukan lagi, berarti benar kecurigaan ku selama ini, kalau Arsan si tua bangka sialan itu lah yang mencuri semua senjata ku, dari mana lagi anak buahnya mendapatkan senjata itu kalau bukan dari tuannya." gumamnya dengan perasaan yang sangat kesal bukan main.
"Apa saya perlu menyusup ke sana untuk mencari tahu, bos? Atau langsung serang saja,kami semua siap!" ucap sang anak buah berapi api.
__ADS_1
"Tunggu dulu, sangat mudah menyerang dia, hanya saja bila kita langsung menghabisinya tanpa tau di mana dia menyembunyikan senjata-senjata ku, aku yang akan merugi karena kehilangan uang-uang ku." Rolan tampak berpikir, memikirkan cara menyerang Arsan namun juga tak kehilangan senjata-senjata miliknya yang memang tak berada di tangan Arsan.
***
Toni merenung sendiri di depan kamar kostnya seperti biasa, menikmati secangkir kopi hitam dan menghisap rokoknya dalam dalam, seharian ini tak ada kabar dari mang Dasep mengenai kondisi terkini sang istri, berulang kali dia mencoba menghubungi mang Dasep dan Dila, namun tak juga di angkat.
Tentu saja Toni di selimuti rasa cemas yang teramat sangat memenuhi kepalanya.
Seperti sedang mengalami dejavu, karena di saat dia sedang duduk sendiri seperti itu di depan kamar kostnya, Cila datang kembali tanpa tau malu. Toni bahkan saat ini sudah mulai bangkit dari tempat duduknya dan bersiap masuk ke dalam kamarnya meninggalkan wanita yang sangat tak ingin di lihatnya itu.
"Apa kau mau melarikan diri dariku? Kau pikir aku akan menyerah se mudah itu?" sindir Cila menghentikan langkah Toni yang mengurungkan niatnya untuk masuk dan menghindari wanita itu, benar apa yang di katakan Cila, kalau sikapnya sekarang ini tak akan bisa membuat Cila mundur atau menyerah semudah itu untuk tetap mengejarnya.
"Apa mau mu?" sinis Toni, tampak jelas raut wajah yang sangat merasa terganggu dan malas berbicara dengan wanita yang jelas jelas sudah dia tolak berkali kali itu.
"Tunangan mu? Apa kau mulai sakit jiwa? Aku sudah bilang pada mu, kalau aku hanya terpaksa bertunangan dengan mu, karena ayah mu menjebak ku!" ketus Toni.
"Aku tak peduli dengan bagaimana cara nya, yang aku peduliin hanya hasilnya, yang terpenting sekarang kamu adalah tunangan ku," lagi-lagi Cila berbicara dengan tak tau diri dan tak tau malunya.
"Sebaiknya kau cepat pergi dari hadapan ku, jangan sampai aku berbuat kasar lagi pada mu, aku sungguh muak melihat mu!" Toni mulai tak sabaran berbicara dengan Cila, wanita itu seakan sengaja terus memancing emosinya, di saat dirinya sedang menghawatirkan keadaan Raya sang istri yang tak ada kabar beritanya seharian ini.
"Abang, aku tak peduli, pokoknya abang harus memenuhi janji abang untuk menikahi ku!" Rengek Cila.
__ADS_1
"Siapa yang kau bilang harus menikahimu itu?" suara perempuan menginterupsi perdebatan antara Cila dan Toni.
"Sayang!" Mata Toni terbelalak melihat istrinya kini tiba-tiba berada di hadapannya, nyata dan terlihat sehat, berkali-kali bahkan Toni mengucek matanya sendiri karena tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang ini.
Cila pun tak kalah kagetnya dengan Toni, hanya saja jika Toni kaget karena tiba tiba istrinya sudah kembali tanpa dirinya tau, lain halnya dengan Cila yang merasa kaget karena sebelumnya dia benar benar merasa yakin kalau Raya sudah meninggal karena terjun ke jurang.
"Apa, sayang?! Abang memanggil wanita lain dengan sebutan sayang di hadapan tunangan mu sendiri, ini keterlaluan, abang tak punya perasaan!" marah Cila memandang Toni dan Raya secara bergantian.
"Dan kau,! Bukan kah kau sudah mati? Kenapa kau tak mati saja, jallang!" teriak Cila histeris menunjuk ke arah Raya.
"Kenapa, kau kaget aku masih hidup? Ayah mu tak akan semudah itu mengambil nyawa ku, dan asal kau tau, wanita yang kau sebut jallangg ini adalah istrinya, istri sah nya, jadi wajar- wajar saja, kan, kalau dia memanggil ku sayang, cinta, baby, kenapa, ngiri? Pengen? Ngimpi!" ejek Raya yang terlihat sudah semakin sehat dan tak terlihat sedikit pun seperti orang yang habis sakit.
"Sayang, lebih baik kamu masuk dulu, biar aku yang menyelesaikan urusan ku dengan nya," Toni menghampiri istri yang sangat di rindukannya itu, yang selama beberapa minggu ini hanya bisa dia lihat lewat layar ponsel saja.
Namun Raya bergeming, dia keukeuh ingin menemani suaminya, "Tidak, mulai sekarang, kita harus menghadapi segala sesuatunya berdua." Tegas Raya menolak perintah suaminya.
"Apa maksudnya ini, bang katakan kalau itu semua tidak benar, katakan kalau wanita ini sedang berbohong,!" Mata Cila berkaca-kaca, ucapan Raya yang sengaja mengejeknya itu justru terasa bagai hantaman palu thor yang langsung sukses menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping bahkan terbang berhamburan seperti abu tertiup angin, menyisakan jiwa yang kini terasa kosong dan hampa.
"Raya memang istri ku, dan hanya dia yang aku cintai, aku rela bertunangan dengan mu pun semua hanya demi Raya, hanya karena aku sangat mencintainya, namun ayah mu memanfaat kan itu semua dari ku, sekarang aku tak ingin menutup-nutupinya karena semua sudah terlanjur kau ketahui," beber Toni dengan lugasnya.
"Tidak, ini tidak benar, ini bohong, kalian berbohong, bang Lion milik ku, hanya milik ku, tak boleh ada orang lain yang memilikinya, sebentar lagi aku akan menikah dengan tunangan ku itu, kenapa,,, kenapa Tuhan? Aku bahkan mencintai nya lebih besar dari wanita manapun juga, aku mencintainya dari semenjak aku remaja dan mengenal cinta, dia cinta pertama ku, ini tak boleh terjadi---!" teriak Cila sambil berlari meninggalkan kost Toni dengan kedua orang yang kini saling tatap, dengan rasa rindu yang sama besarnya.
__ADS_1
"Kamu nakal sekali sayang, kamu jahat meninggalkan ku di hari pernikahan kita, dan sekarang kamu datang tanpa memberi tahu ku, kamu tak tau bagaimana aku hampir gila karena tak bisa menghubungi mang Dasep dan Dila untuk menanyakan keadaanmu seharian ini," Protes Toni.