Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Beban !


__ADS_3

"Sial, bahkan aku lupa tak membawa senjata ku!" Gumamnya.


Bukannya Toni takut atau tak percaya diri dengan kemampuan bertarungnya dan hanya mengandalkan senjata saja, namun dia tak tau berapa banyak dan orang seperti apa yang akan dia hadapi, dia harus pulang dengan selamat, karena Raya sedang menunggunya pulang.


Toni semakin menahan nafasnya saat sosok itu malah semakin mendekat padanya, dengan kuda-kuda yang selalu siap, Toni langsung melayangkan pukulan ke arah sosok yang mendekat itu, namun ternyata orang itu dapat mengelak dengan sempurna sehingga tinju Toni hanya menghantam udara.


"Apa kau sudah gila, ingin menyerang adik mu sendiri!" pekik orang itu yang ternyata sdalah Sabrina.


"Hufffttt!" Toni langsung membuang nafasnya dengan panjang, dia begitu lega saat menetahui yang datang mendekat padanya adalah Sabrina bukan orang-orang Arsan seperti yang dia duga,


"Kenapa kau mengikuti ku kesini?" Tanya Toni setelah dia meredakan rasa kagetnya, bahkan tangannya masih mengelus-elus dadanya sendiri.


"Aku terbangun saat kau berbicara dengan Martin tadi, lalu aku mengikuti mu kesini, kau bilang belum waktunya menyerang, tapi kau datang ke sini sendirian!" Protes Sabrina, seperti tak ingin ketinggalan moment dimana Arsan di habisi.


"Emh, aku hanya mengikuti sosok mencurigakan tadi, tapi tau-tau aku jadi sampai ke sini." Jujur Toni yang memang dirinya tadi seperti hanya berputar-putar saja di tempat yang sama.


"Haha, akhirnya aku bisa menemukan kelemahan mu, ternyata kau bodoh dalam hal mencari arah," ledek Sabrina dengan senyum nyinyirnya.


"Sialan kau, aku hanya sedang banyak pikiran saja sehingga tadi agak sulit mengingat jalan," kelitnya tak ingin Sabrina terus meledeknya.


Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah yang mereka sewa, keputusan awal yang sudah mereka sepakati bersama tetap akan mereka pegang teguh, mereka memang belum saatnya mendatangi persembunyian Arsan, ini terlalu terburu-buru.


Tak banyak yang Toni dan Sabrina perbincangkan di sepanjang perjalanan mereka pulang, sampai pada akhirnya, ketika mereka sampai di rumah, Panca langsng menyambut mereka dengan berondongan pertanyaan yang seakan tak berjeda, "Bagaimana, apa kalian baik-baik saja? Lalu bagaimana pria yang kalian kejar tadi, apa kalian sudah tau siapa dia, kemana dia pergi?" pertanyaan itu meluncur bagai air terjun yang deras dari mulut Panca yang kepo maksimal namun tak memberi kesempatan bagi Toni maupun Sabrina untuk menjawab pertanyaannya.


"Apa mulut mu itu tak bisa lebih banyak lagi mengeluarkan pertanyaan buat kami?" Sarkas Sabirna dengan nada ketus karena kesal dengan berondongan pertanyaan Panca.

__ADS_1


"Aku sangat menghawatirkan kalian, aku bahkan harus menahan rasa kepenasaran dan keemasanku sendirian karena memikirkan keselamatan kalian bertiga sejak tadi," adu Panca sambil mengetuk-ngetukan ujung jari tangannya ke atas meja pertanda dia sedang menunjukkan perasaan tak tenang saat ini.


"Tunggu, apa maksud perkataan mu sendirian dan kalian bertiga tadi?" Potong Toni, karena merasa ada yang janggal dengan apa yang di tanyakan Panca padanya tadi.


"Iya, aku sendirian dari tadi menunggu kalian bertiga, kau pikir aku menunggu kalian bertiga dengan siapa, dengan setan?" Panca tak kalah kesalnya dengan Sabrina saat dia menjawab pertanyaan Toni.


"Apa itu berarti Martin ikut pergi?" sambar Sabrina mengernyit.


"Iya, beberapa menit setelah kau pergi, dia ikut menyusul mu, katanya takut terjadi apa-apa dengan mu, dan aku di suruh untuk tetap di sini." urai Panca.


"Ckk, tunangan mu itu ada-ada saja, bagaimana bisa dia seceroboh itu, kalau begini kejadiannya malah kita yang jadi menghawatirkan keselamatannya!" Decak Toni bertambah kesal, baru saja dia bernafas lega karena mereka sudah berkumpul kembali di rumah itu, namun kenyataan lain harus terjadi, Kejadian demi kejadian di luar prediksinyavterus saja terjadi membuatnya menjadi harus mengeluarkan pemikiran ekstra dalam menghadapinya.


"Apa itu artinya kalian tak bertemu dengan Martin, tadi? Kalian tak bersamanya?" Kaget Panca dengan wajah polosnya.


"Kalau kami bersamanya dia pasti ada di sini sekarang, ah,,, aku memang sudah mengambil keputusan yang salah dengan mengajak dia dalam misi ini, Martin benar-benar BEBAN!" Teriak Sabrina yang kini malah menjadi terlihat seperti setengah emosi dengan tindakan ceroboh tunangannya itu.


"Gak punya skill apapun tapi malah sok-sokan gaya, berengsek tuh orang, nyusahin aja!" Oceh Sabrina sambil terus mengumpat tunangannya yang jelas-jelas tak ada di sana, namun kekesalannya membuatnya tak ingin berhenti mengumpat Martin, andai saja Martin berada di sana saat ini, sepertinya Sabrina sudah menyiksanya sampai hancur berkeping-keping saking marahnya dia pada pria yang berstatus tunangannya itu.


"Lebih baik kau diam, kau membuat ku tak bisa berpikir! Sekarang kita tunggu saja dia satu jam, sambil mengistirahatkan tubuh kita, apabila dia tak kembali juga, terpaksa kita harus kembali ke hutan mencarinya." Putus Toni, memberikan perintah sekaligus idenya pada kedua rekannya yang terus saja ribut.


Sebenarnya Toni juga merasa agak sedikit bersalah, karena secara tidak langsung akibat dirinya yang memutuskan untuk keluar mengikuti sosok itu, Martin kini jadi menghilang, walaupun belum bisa di pastikan benar-benar menghilang, karena mereka masih harus menunggunya satu jam ke depan, semoga saja Martin hanya tersesat seperti dirinya dan segera menemukan jalan pulang, harap Toni, sehingga mereka tak perlu bersusah payah mencarinya dannkembali ke dalam hutan itu.


"Hilang ya hilang lah, tak usah di cari, merepotkan saja!" oceh Sabrina seraya menjatuhkan dirinya ke atas sofa ruang tamu yang tadi di jadikan tempat tidur tunangan nya.


Toni dan Panca hanya menggelengkan kepalanya, mereka tak punya energi lagi untuk menanggapi ocehan Sabrina yang sepertinya juga merasakan lelah yang sama seperti mereka, namun khusus dia di tambah rasa kesal di dalam hatinya atas kelakuan tunangannya itu.

__ADS_1


Satu jam lebih di nanti, namun Martin yang mereka tunggu tak kunjung pulang, tentu saja Toni dan Panca tak akan setega itu mengikuti apa yang di usulkan Sabrina untuk membiarkan kehilangan Martin itu, namun bagaimana pun juga, Martin datang bersama mereka ke sana, tak mungkin jika mereka akan membiarkan Martin hilang begitu saja di hutan ini.


"Ayo kita cari dia, sebelum hal buruk terjadi padanya,!" Ajak Toni.


"Lantas bagaimana jika dia kembali ke sini?" Tanya Panca.


"Aku ingin kita tak tak terpisah, kasih saja catatan kecil untuk Martin jika dia pulang suruh menunggu, aku merasa rumah ini tak aman lagi untuk kita," beber Toni mengutarakan ganjalan dalam hatinya yang sejak tadi merasakan perasaan yang tak enak hati entah mengapa.


"Oke, aku akan membuat catatan kecil untuk dia," balas Sabrina.


Setelah semua di rasa cukup siap dan persenjataanpun sudah lengkap mereka bawa, mereka mulai berjalan kembali memasuki hutan karet itu.


Hari sudah menunjukan pukul 3 pagi saat mereka mulai memasuki kawasan hutan itu, udara dingin bahkan seakan menembus jaket tebal yang mereka gunakan.


Saat ini mereka harus benar-benar bergerak cepat, karena mereka juga berpacu dengan waktu, namun tentu saja itu bukan suatu hal yang mudah dimana mereka harus mencari satu orang di tengan hutan yang begitu besarnya dan dalam keadaan gelap gulita di malam hari.


Tentu saja sangat tak mungkin bagi mereka berkeliaran dan mencari keberadaan Martin saat waktu sudah terang, karena bisa saja Arsan atau Bagas melihat keberadaan mereka dan mengacaukan semua rencana karena kemungkinan besar mereka untuk tertangkap akan lebih besar, danvtenti saja itu sangat membahayakan nyawa mereka.


Tiga puluh menit sudah mereka berjalan menyusuri tepian hutan, namun Martin belum juga dapat mereka ketemukan, sampai mereka merasa putus asa dengan semua yang mereka lakukan saat ini dalam pencarian Martin yang tak kunjung mendapatkan hasil.


"Mau tidak mau kita harus merapat ke rumah persembunyian arsan, apa kalian sudah siap?" Putus Toni lalu menanyakan kesiapan dua orang yang bersamanya.


"Apa ini berarti kita akan langsung tempur dengan mereka?" Tanya Sabrina dengan mata yang berkilat penuh semangat.


"Kita bisa menundanya jika kau belum siap sekarang," lanjut Toni, setengah meledek.

__ADS_1


"Aku siap, sangat siap malah, ayo!" Sabrina dengan semngat 45 langsung berjalan di depan memimpin langkah Toni dan Panca yang sudah di anggap sebagai kakak laki-lakinya itu, seakan tak sabar untuk sampai ke rumah persembunyian Arsan dan menghabisi semua penghuni yang ada di dalam rumah itu.


__ADS_2