Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Kecewa


__ADS_3

"Ouwh,,, kau memang pemberani nona, emh,, kalian juga pemberani dan hebat!" Tunjuk Bagas pada Toni dan Panca.


"Tapi aku ingin melihat, apa kalian masih sehebat dan se pemberani ini jika aku perlihatkan sesuatu pada kalian?" ujarnya seraya memperlihatkan layar ponselnya.


"Apa mau kalian?" Wajah Toni menegang saat di layar ponsel itu memperlihatkan sosok Raya yang duduk bersebelahan dengan Arsan, tak terikat atau mulut di sumpal memang, hanya saja wajah Raya menunjukan raut terintimidasi dan sangat ketakutan.


Sekuat tenaga Toni menyembunyikan amarah dan rasa keterkejutanya, banyak pertanyaan muncul dalam benaknya, bagaimana bisa mereka menemukan keberadaan Raya, dan bukankah Raya di jaga dengan begitu ketatnya di rumah itu.


Toni mulai mencurigai adanya penghianat dari dalam, karena dia sangat yakin kalau Arsan tak mungkin mengetahui keberadaan Raya.


Toni berusaha tetap bersikap tenang meski dalam dadanya bergemuruh, nyawa istrinya kini taruhannya jika dia bersikap gegabah diaa berisaha bernegosiasi di tengah ketegangan yang tengah di rasakannya.


"Kalian cukup serahkan senjata milik Rolan pada kami, lalu istri mu akan kami kembalikan!" tawar Bagas.


"Apa jaminannya kalau istri ku akan baik-baik saja bersama kalian, aku ingin melihat keadaan istriku dengan mata kepala ku sendiri?" tantang Toni.


Bagaimanapun Arsan itu manusia paling licik sedunia, bukan tidak mungkin kalau dia mencelakai Raya bahkan dia tak akan peduli meski itu anaknya sendiri, jadi Toni tak bisa oercaya begitu saja dengan iblis beserta antek-anteknya itu, salah salah dia bisa saja malah akan melakukan kesalahan yang dapat mencelakai istrinya yang katanya berada di tangan mereka kini.


"Kau tidak dalam posisi berhak untuk tawar menawar dengan kami, berikan senjatanya dan kau bertemu dengan istri mu!" tahan Bagas bergeming, dia tetap tak mau mempertemukan Toni dengan istrinya.


"Bro, berikan saja, apa kau lebih memilih senjata-senjata itu di banding istri mu?" bisik Panca, merasa sangat khawatir dengan istri dari sahabatnya itu, lagi pula menurutnya mereka tak akan merasa rugi apapun jika memberika semua senjata itu, karena semua itu milim Rolan yaang mereka curi, kalau ada istilah makanan setan di makana iblis, ya seperti itulah contohnya.


"Aku merasa ada yang ganjil di sini, tenanglah, aku juga tak mungkin membiarkan Raya dalam bahaya," lirih Toni, otaknya di tuntut untuk berpikir keras dan cepat saat ini, Toni juga tak boleh salah dalam mengambil keputusan, bukan masalah senjata yang berat dia lepaskan atau bukan juga dia yang tak memperdulikan keselamatan istrinya dengan terkesan lamban dalam memutuskan, hanya saja dia butuh benar-benar yakin dengan keputusan yang akan di ambilnya, meski Bagas tak memberinya banyak waktu untuk berpikir, namun setidaknya seharusnya dia bisa mengulur waktu untuk menyusun strategi untuk melakukan pertukaran antara senjata-senjata itu dengan istrinya, sementara hati kecilnya merasa ini tak masuk di akal.


"Aku beri waktu sampai tengah malam, berikan senjata-senjata itu pada kami, dan kau bisa membawa istri mu pergi dengan selamat tak kurang suatu apa pun." Bagas mengultimatum.

__ADS_1


"Kalian tau kemana kalian harus menemui kami, ingat, nyawa istri mu di tangan kami, kalau sampai kalian macam-macam, kalian tentu tau kami bisa melakukan hal-hal yang di luar dugaan." Ancam Bagas lagi dengan seringai menjijikannya lalu meninggalkan Toni Cs yang sejak tadi terdiam seperti tak berkutik dengan intimidasi Bagas yang dilakukan pada mereka saat ini.


"Bagaimana?" Tanya Sabrina yang baru membuka pembicaraan setelah sejak tadi terdiam menganalisa apa yang sedang terjadi.


Pikiran Sabrina tak kalah kacau dari Toni, jika Raya berhasil di tangkap Arsan, lalu bagaimana dengan nasib Yama? Lagi pula bukankah di sana juga ada Karina, wanita itu tak mungkin di loloskan begitu saja oleh Arsan tentunya, tapi mengapa hanya ada Rayang mereka sebutkan dan jadikan alat tebusan, lalu bagaimana dengan yang lainnya, bagaimana dengan adin kesayangannya? Pikirannya benar-benar kacau, membuat wanita itu menjadi di landa emosi karena tak bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan dalam hatinya.


"Arrrggghhh,,,, sial! Arsan bajingan!" teriak Sabrina meraup wajahnya denga kasar saat beberapa kali dia hendak mencoba menelpon anak buahnya, namun sama sekali tak ada sinyal di hutan itu.


"Tempat apa ini, bahkan hanya untuk menelpon saja tak bisa,!" Pekik Sabrina masih dalam marahnya, dia memukul ponselnya berulang-ulang, padahal jelas-jelas dia tau dari sebelumnya kalau di tempat itu memang tak ada sinyal bahkan semenjak awal mereka datang, mereka sudah mengetahui nya, tapi tiba-tiba saja hal itu menjadi sebuah masalah besar yang dapat menyulut amarah tak jelas Sabrina.


"Tak ada gunanya kau marah-marah seperti ini, toh tidak akan merubah keadaan, lebih baik kita mencari solusi," Tegur Toni,dia merasa sangat terganggu dengan sikap arogan Sabrina saat ini, jujur saja, sikap absur Sabrina sudah mengganggu ketenangannya dalam berpikir.


"Tak perlu lagi mencari solusi, karena solusinya sudah jelas, serahkan semua senjata itu pada mereka, dan masalah selesai!" Sambar Panca seraya menyerahkan sebuahkunci dari saku celananya yang ternyata itu merupakan kunci kontainer tempat menyimpan senjata jarahan mereka yang berada di pelabuhan, Panca tak ingin terjadi apa-apa dengan siapapun orang yang di kenalnya saat ini, baginya senjata-senjata itu tak ada artinya jika dia haris kehilangan salah satu sahabatnya.


"Percayalah, aku yakin Arsan tidak se simpel itu! Aku sama sekali tak percaya dengan bajingan tua itu," mata Toni mentap nanar entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini, sepertinya dia sedang mencari kebenaran di balik semua ini, mencari-cari jawaban apakah Arsan benar-benar menculik dan menyekap istrinya saat ini.


"Stop! Jangan membuat kita jadi bertengkar, lebih baik kita pulang ke rumah sewaan, masih ada waktu untuk kita berpikirsampai tengah malam!" lerai Sabrinaketika melihat kedua rekannya akan terlibat pertengkaran, jika mereka berdua di biarkan terus beradu argumen tak menutup kemungkinan jikaa mereka berdua akan berakhir saling beradu fisik bahkan lebih parahnya bisa saling melukai satu sama lain, sementara tujuan mereka ke sini adalah untuk memburu arsan dan para anak buahnya.


Busa di bayangkan bagaimana bahagianya si Arsan jika tau dia berhasil membuat konflik di antara mereka.


Berburu dengan waktu mereka bergegas kembali ke rumah sewaan, sungguh saat ini mreka bertiga butuh berpikir jernih.


Kurang dari satu jam mereka sudah kembali ke rumah itu, hari sudah mulai gelap, karena waktu sudah menunjukan pukul 8 malam saat ini, tersisa sekitar 4 jam batas waktu yang di berikan Bagas pada mereka untuk memutuskan apa yang harus di lakukan.


Namun saat baru sampai di rumah itu, mereka lumayan cukup terkejut, karena seperti terdegar ada orang di dalam rumah itu.

__ADS_1


Dengan sigap mereka bertiga lantas mengeluarkan senjata mereka masing-masing, memasuki rumah dengan langkah nyaris tanpa suara dan memasang kewaspadaan penuh.


Mereka saling menatap membagi posisi, Toni masuk paling duluan disusul Sabrina lalu Panca berikutnya, mata mereka penuh selidik mencari tau siapa orang yang berada di rumah yang seharusnya dalam keadaan kosong itu, karena sampai saat ini keberadaan Martin belum di ketahui kemana rimbanya.


Terdengar suara tawa dan sayup sayup suara orang mengobrol dari arah dapur, mereka bertiga langsung menuju ke arah sana, hampir saja Toni menghantamkan senjata yang di genggamnya dan Sabrina juga hampir saja memuntahkan timah panas dari pistolnya, jika saja Martin tak berbalik badan menghadap ke arahnya.


"Sayang, apa kamu mau membunuh ku?" Teriak Martin dengan kedua tangan yang terangkat ke atas, pertanda menyerah.


Toni tak kalah terkejutnya, karena di sana juga terlihat Raya yang sedang membuat secangkir kopi untuk di minumnya.


"R-Raya, kenapa kalian berada di sini dan sejak kapan kalian berduaan di tempat ini?" fokus Toni ternyata pada hal lain, alih-alih seharusnya dia merasa bahagia karena ternyata Raya tak berada dalam kungkungan Arsan, namun si pria pencemburu itu malah merasa kesal karena mendapati sang istri sedang berduaan dengan Martin yang notabene adalah mantan kekasihnya itu.


Pikiran buruk tentang mereka yang tengah berduaan tanpa dirinya tau, tertawa berduaan dan entah apa lagi yang mereka lakukan, Toni tak sanggup memikirkannya lebih jauh lagi, karena itu hanya akan menyiksanya dan menimbulkan rasa kesal yang semakin besar terhadap istrinya.


"Sayang, kenapa lama sekali? Aku nunggu kamu dari subuh tadi!" Raya menghampiri Toni tanpa ada beban berusaha memeluk suaminya yang justru malah mundur beberapa langkah saat Raya mendekat padanya.


Raya menghentikan langkahnya, saat menyadari kalau sang suami menghindar saat didekati olehnya, hatinya terasa begitu getir mendapati suaminya menjauh tanpa dia tau kesalahan apa yang sudah dia perbuat padanya.


Panca merangkul bahu Toni, ketika dia tak sengaja melihat wajah murung Raya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sungguh dia tak tega melihatnya.


"Bro, istri mu selamat, Raya baik-baik saja, bukankah seharusnya kau merasa senang saat ini?" Panca berusaha menyadarkan sahabatnya, kalau Raya yang beberapa saat lalu mereka khawatirkannya keadaannya ternyata dalam keadaan sehat dan selamat di hadapannya, dan tidak di dalam sekapan Arsan, bukankah itu suatu hal yang menggembirakan?


Panca cukup tau dan mengerti jika saat ini sepertinya Toni sedang merasa kacau, setelah sebelumnya dia harus di kejutkan dan di buat merasa sangat cemas karena Bagas mengatakan kalau istrinya berada dalam sekapan mereka, namun kenyataan lain yang kini dia dapati, hal yang seharusnya membuat dia merasa lega sekali gus bahagia karena sang istri ternyata ada di hadapnnya dengan keadaan sehat selamat tak kurang suatu papun, justru harus di warnai drama rasa kecewa dan kecurigaannya akibat rasa cemburukarena mendapati sang istri berduaan dengan mantan kekasihnya di rumah ini tanpa sepengetahuannya.


Banyak tanya tak terjawab dalam kepalanya, seperti bagaimana bisa istrinya berada di sana, dengan siapa istrinya ke tempat itu, untuk apa dia kesana? Membuat pria berbadan gagah dan tegap itu menelan kekecewaan yang teramat sangat besar di dadanya.

__ADS_1


Terlebih rasa kecewa saatdirinya harus melihat kebersamaan sang istri bersama mantan kekasihhnya di saat dirinyasedang di landa rasa cemas karena memikirkan keselamatannya.


Peduli setan orang akan menganggapnya drama atau lebay atau apalah terserah, yang jelas saat ini dia merasa kecewa, dan hanya dia yang bisa tau seperti apa kecewa yang tengah di rasakannya saat ini, dia hanya merasa kecewa.


__ADS_2