
"Lantas kesepakatan apa yang Rolan minta untuk dia bisa menolong mu?" lanjut Toni.
Menurut apa yang di alaminya selama ini, Rolan bukan masusia yang sangat baik dan bisa menolong orang lain apalagi dalam hal ini Raya adalah putri dari musuhnya yang pernah dia gunakan untuk menekan Arsan, dengan cuma-cuma, Toni yakin kalau ada kesepakatan antara Raya dan Rolan yang tak dia ketahui.
Dia tak mau kejadian saat dirinya di jebak oleh Rolan dulu terulang lagi pada Raya, pengalaman bagaimana dirinya pernah terpaksa menyetujui pertunangan dengan Cila demi membantu Raya jangan sampai terjadi lagi, karena kalau sampai itu terjadi, dia tak akan memaafkan Rolan sampai kapan pun, secara kesalahannya yang kemarin-kemarin saja belum bisa dia maafkan, lantas kalau harus di tambah lagi dengan kesalahan yang baru, sepertinya tak ada toleransi lagi untuk Rolan.
"Tidak ada," jawab Raya langsung menjawabnya dengan tegas dan lugas tanpa membiarkan suaminya menunggu jawabannya barang sedetik pun, karena itu memang jawaban ter jujurnya, fia juga sempat merasa aneh saat Rolan tiba-tiba menerima permintaannya begitu saja.
Toni menerutkan keningnya,mungkinkah itu? Seorang Rolan yang selalu menghitung untung rugi di setiap langkahnya dan dia memberikan bantuan secara cuma-cuma begitu saja? Rasanya itu tak masuk dalam logikanya.
Namun saat ini juga bukan waktu yang tepat untuknya memperdebatkan masalah itu dengan istrinya.
dia tak ingin membahas masalah ini sekarang, dan akan membiarkan Raya merasa kalau dirinya percaya dengan apa yang dia katakan padanya.
"Baiklah, dua jam lagi aku akan datang ke tempat ayah mu," Toni menunjuk jauh ke arah tengah hutan dimana Arsan kini tinggal.
"Mungkin dia akan habis malam ini, entah itu di tangan Sabrina yang menyimpan banyak dendam dan kesakitan karenanya, atau bahkan dia selesai di tangan ku," ucapan Toni lagi-lagi terjeda, dia membuang nafasnya dengan kasar dan terdiam sejenak, ada rasa yang sulit untuk di gambarkan dan dia artikan yang kini di rasakannya itu sangat sulit untuk di ungkapkan olehnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Raya seolah-olah dia seperti tau kalau suaminya berada dalam suatu kebimbangan dan sangatbingin berbagi dengan nya namun tak bisa mengungkapkannya.
"Apa kamu siap menghabiskan waktu seumur hidupmu dengan orang yang mungkin telah membunuh ayah mu?" ucapan Toni terdengar ragu-ragu seperti tak ingin menimbulkan kesalah pahaman di antara mereka, tapi pertanyaan itu lumayan mengganggu di hatinya, sehingga seburuk dan sesakit apapun itu sepertinya memang harus dia ungkapkan pada Raya.
"Jika kamu atau Sabrina tak membunuhnya, mungkin aku yang akan menghilangkan nyawanya untuk selamanya dari dunia ini." Tegas Raya membuat Toni sedikit terhenyak dengan pernyataan istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang!" Tatap Toni, dia sungguh tak bermaksud membuat istrinya itu menjadi sangat emosional seperti itu, dia menjadi agak merasa
bersalah dengan pertanyaannya tadi, bagaimanapun yang sedang mereka bicarakan dan mereka bicarakan tentang kematiannya itu adalah ayah kandung dari istrinya, atau bisa dalam kata lain bisa di sebut mertuanya, namun sayangnya pria yang seharusnya menjadi mertua yang di hormatinya itu lebih pantas mati dari pada untuk di hormati.
"Tenang saja, aku berkata seperti ini bukan bermaksud untuk bersikap satir dalam menyikapi pertanyaan mu, tapi ini benar-benar tentang apa yang aku rasakan dan apa yang aku pikirkan.Hidup pria itu hanya menimbulkan petaka dan kesakitan untuk orang lain, bahkan untuk aku, anaknya sendiri, dan mungkin juga ibu ku semasa dia hidup, aku rasa aku tak akan merasa keberatan dan kehilangan jika dia harus selesai malam ini, karena dalam hidup ku dia sudah mati semenjak aku mengetahui semua kebenaran tentang semua ini." urainya tanpa ada keraguan sama sekali dalam menggambarkan bagaimana posisi ayahnya itu dalam hidupnya kini.
"Hmmh, baiklah. Kini aku merasa tenang dan tak akan ragu lagi jika harus menghbisinya malam ini." Senyum Toni mengembang, lalu dia mencium kening istrinya sekilas.
"Aku akan selalu mendukung setiap langkah mu, setiap pilihan mu, karena selain diri mu, aku tak punya siapapun lagi, aku hanya minta satu hal, tolong untuk tetap hidup dan baik-baik saja, karena aku membutuhkan kehadiran mu, hidup mu berarti buat ku." Tatapan intens Raya membuat Toni luluh dan semakin mendekat ke arah istri yang sebenarnya sangat di rindukannya itu.
"Aku akan baik-baik saja selama aku mempunyai istri se hebat mu, aku merindukan mu, sungguh sangat merindukan mu, akusangat ketakutan saat aku di beri tahu Bagas kalau kamu tertangkap oleh mereka, rasanya aku mau mati saat itu juga," kata Toni sesaat sebelum bibirnya kini tak bisa berkata-kata lagi karena sudah bertaut dengan bibir Raya yang berada tepat di hadapannya, kedua orang yang saling merindukan itu melampiaskan dan melepaskan rasa rindunya dengan ciuman yang membuat hawa dingin malam itu menjadi terasa panas.
"Hmmmm, upsss sorry ganggu!" dehaman Sabrina membuat dua sejoli yang tengah melepas rindu itu melepas tautan bibirnya seketika.
"Cih, melepas rindu! Apa kau tak ada pekerjaan lain selain bermesraan di sini, sementara yang lain sibuk mempersiapkan penyerangan tengah malam nanti?" Sewot Sabrina tak kalah ketus dan kesalnya.
"Kau pikir yang punya pasangan itu cuma kau saja, kau pikir pasangan di sini cuma kalian?" gerutunya terus memutahkan kekesalannya yang tak habis-habis untuk pasangan yang membuatnya iri itu.
Bagaimana tidak, sebelumnya dia pernah menggoda Toni habis-habisan, namun sampai dia hampir tak berbisana pria itu tak bergeming sedikit pun untuk 'mencicipinya' sampai dia mengira kalau Toni adalah seorang pria gay, namun ternyata dia tertipu, pria itu hanya tertarik dengan Raya, padahal menurutnya kalau di lihat-lihat dironya pun tak kalah cantik dan tak kalah seksinya dengan Raya, namun sialnya Toni tak berminat padanya, membuat dirinya menjadi keki sendiri dan merasa iri pada Raya saat ini.
"Stop! ocehan mu membuat kepala ku pusing. Ada apa kau mencari ku? Awas saja kalau tak penting!" ancam Toni.
"Rolan yang mencari mu, katanya dia ingin kau menemuinya untuk membiacarakan sesuatu," Sabrina menyampaikan pesan Rolan yang tadi di katakan padanya untuk di sampaikan pada pria temprament itu.
__ADS_1
"Ah bangsat! Berani-beraninya pria tua itu memerintah ku!" pekik Toni kesal, selain kesal karena masa kesenangannya dengan Raya terganggu, dia juga kesal karena Rolan berani memberinya perintah setelah semua ketegangan yang terjadi di antara mereka.
"Pria tua itu cacat! Mana bisa dia datang ke sini naik tangga, apa kau lupa?" Ingin sekali rasanya Sabrina mencopot sepatu bootnya dan melemparkannya ke arah kepala kakak angkatnya itu.
Namun Sabrina memilih meninggalkan Toni yang akan membuat tekanan darahnya terus naik jika terus meladeni pria yang sifatnya bisa di katakan hampir sama dengan dirinya itu.
Raya melirik suaminya memberi kode padanya agar sang suami bersedia menemui Rolan, dia yakin kalau Rolan pasti ingin membicarakan hal yang serius dengan suaminya, dan Raya akan memilih untuk berdiam di balkon sambil menikmati udara malam yang dingin namun menyegarkan itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku? Kau mengganggu waktu kebersamaan ku dengan istri ku!" sinis Toni saat mendatagi Rolan yang sedang menunggunya sendirian di ruang tamu rumah itu, sepertinya semua orang seakan menyingkir dari ruangan itu karena akan di pakai untuk dua orang yang di kenal sangat di takuti itu untuk berbicara.
"Oh ayolah Lion, kenapa kau masih saja marah pada ku? Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." ujar Rolan santai.
"Hey pria tua, ku pikir hanya kaki mu saja yang cacat dan terluka, ternyata otak mu cacat juga? Apa kau pikir aku bisa dengan mudah melupakan dan memaafkan atas apa yang kau lakukan pada ku selama ini?" emosi Toni mulai terbakar, dia tak dapat menahan amarahnya pad Rolan yang seolah bersikap santai dan seolah tak pernah berbuat salah sedikit pun padanya, tentu saja itu membuat Toni belum apa-apa sudah murka padanya.
"Oke, oke! Aku tidak mengatakan atau meminta agar kau memaafkan ku, hanya saja, khusus untuk masalah Arsan ini sebaiknya kita singkirkan masalah pribadi antara kita terlebih dahulu." Nada bicara Rolan masih santai seperti sebelumnya, tak sedikit pun dia terprovokasi dengan amarah Toni yang meledak-ledak padanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan lagi, bukankah aku sudah bilang tugas mu hanya menempatkan para anak buah mu untuk berjaga di tepi hutan dan memastikan Arsan juga para antek-anteknya tidak dapat melarikan diri, untuk selebihnya biar aku, Panca dan Sabrina yang mengurusnya." pungkas Toni seperti tak ingin memperpanjang obrolannya dengan pria yang hampir saja mencelakakan istrinya itu.
Sungguh Toni tak bisa memaafkan apa yang sudah di perbuat oleh Rolan pada Raya, penculikan itu baginya terlalu menyakiti hatinya yang pernah percaya dengan sikap palsu pria tua yang hampir saja menjadi mertuanya itu.
"Itu sudah aku perintahkan, dan mereka kini sudah berjaga di tepi hutan, dan aku pastikan mereka tak akan membiarkan Arsan ataupun para anak buahnya lolos. Hanya saja ijinkan aku untuk ikut bergabung bersama kalian menyerang ke rumah persembunyian Arsan, aku hars membunuhnya, dia sudah menculik putri ku dan membuat keadaannya menjadi sangat menghawatirkan sekarang ini," Rolan mengiba.
"Akhirnya, kau bisa merasakannya. Itu lah yang aku rasakan saat kau menculik istri ku saat itu, dan itu juga yang aku rasakan, sama persis seperti yang kau rasakan saat ini, aku juga sangat ingin membunuh mu!" Toni tersenyum iblis, mengingatkan pada Rolan dan secara gamblang menegaskan kalau apa yang di alaminya sekarang ini merupakan buah dari perlakuannya kepada Raya, atau bisa di katakan itu adalah karma untuk dirinya.
__ADS_1