Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Empat Satu


__ADS_3

"Paman, apa paman tau tentang rumah yang juga sudah di sita ini ? Lalu, tentang perusahaan yang hampir pailit, seharusnya paman yang lebih tau setelah ayah, kenapa paman dan ayah merahasiakan semuanya dari ku ?" lirih Raya memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong.


"Maaf nona, tuan memang sengaja ingin merahasiakan ini semua dari nona dan nyonya, takut menjadi beban pikiran bagi anda berdua," urai Bagas.


Raya terdiam lagi, sambil membereskan bungkusan nasi yang sudah selesai di makannya, dia harus tetap mengisi perutnya meski tidak lapar, demi tetap menjaga kewarasannya.


Betapa ironisnya hidup ini untuk Raya, sehari yang lalu dia sorang anak pengusaha ternama yang tak pernah kekurangan uang, bahkan dirinya baru beberapa hari saja menjabat sebagai ceo perusahaan, menggantikan ayahnya.


Sekarang dia hanya seorang Raya yang tak punya harta dan juga tempat tinggal, bahkan dinya terancam menjadi seorang pengangguran karena perusahaannya pun terlilit hutang dan mungkin dinyatakan pailit lalu di jual untuk menutupi hutang perusahaan yang besar.


Bagas pamit untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Lubis seperti biasanya.


Tiba tiba Raya tersenyum lebar namun dengan pandangan yang masih tetap kosong selepas kepergian Bagas dari rumah itu.


"Akhirnya semuanya pergi meninggalkan ku, orang orang, harta, jabatan,,, lengkap sudah penderitaan ku aku sendirian dan menjadi gembel yang tak punya uang dan pekerjaan !" ratapnya dengan seringai tawa pilu.


"Toni, kamu pun sudah bisa pergi meninggalkan ku sekarang, aku tak bisa membayar gaji mu, sepuluh juta perbulan sekarang jumlah yang sangat besar bagi ku, aku tak akan mampu membayar mu, bahkan untuk makan ku sendiri saja sepertinya aku tak tau harus mendapatkannya dari mana," kata Raya melirik sekilas Toni yang kini duduk santai di sampingnya tanpa berkomentar apapun atas racauan Raya yang meratap iba semenjak tadi.


"Hey,,, apa kau dengar ? Kau boleh pergi sekarang, kau ku berhentikan !" bentak Raya saat melihat Toni yang malah membuka bungkusan makanannya dan makan dengan cueknya.


"Aku tak melakukan kesalahan dalam bekerja, kau tak bisa memecat ku seenaknya," ucap Toni di sela suapan makanannya.


"Tapi aku sudah tak mampu membayar mu !"


"Dan aku sudah meminta Bagas untuk membayar gaji ku tiga bulan ke depan, saat di awal dia meminta ku, dan dia sudah membayar ku," terang Toni santai.


"Benarkah ?Tapi----"


"Tak usah banyak protes dan banyak drama, aku masih akan menjaga mu seperti janji ku, hidup harus tetap di jalani, masalah hadir untuk di hadapi, dan musuh yang datang itu untuk di lawan, itu pun kalau kau masih merasa sebagi manusia, kalau tidak, ya,,, lebih baik kau menyerah dan mati saja sebagai pecundang !" ucap Toni, terkesan kasar dan seperti tak ber empati pada gadis yang tenah terpuruk itu, namun it harus Toni lakukan, mental Raya yang harus pertama kali Toni selamat kan, dia harus kuat.


"Sialan, aku tak selemah itu, aku terlahir sebagai pejuang, bukan pecundang !" kesalnya.


Toni tersenyum dalam hatinya, dia lega ternyata di balik sikap cengeng dan manja Raya, jauh di dalam hati gadis itu tersimpan jiwa juang yang tinggi dan berkobar, hanya perlu pendampingan dan pengarahan saja, sebab kalau tidak, Toni tak yakin Raya akan bertahan.


Siang itu Raya mengajak Toni untuk menemaninya ke aparteen Martin, dia yakin kalau sang ibu tiri pasti sedang bersama tunangannya itu.


Setelah sekitar lima menit Raya berdiri di depan pintu apartemen mewah itu, akhirnya pintu terbuka dari dalam, seorang wanita muda membukakan pintu dan terlihat keheranan dengan kedatangan Raya yang membawa ransel besar di punggungnya berisi baju baju dan sebagian kecil barang pribadinya yang dia bawa dari rumah yang sudah harus di kosongkan itu.

__ADS_1


"Maaf, anda mencari siapa ?" tanya perempuan itu.


"Martin !" ucap Raya singkat.


"Dia sudah pergi ke kantor pagi pagi sekali," jawabnya.


"Apa Karina ada di sini ?" tanya Raya lagi dengan ragu.


"Karina ?" wanita itu mengernyit sambil menggelengkan kepalanya.


"Kami hanya tinggal berdua di sini," jawabnya.


Raya lantas segera berpamitan, dia tak ingin terlibat perbincangan lebih jauh dengan wanita yang mengaku tinggal berdua dengan Martin sang tunangan di apartemen itu.


Tak ada waktu untuknya memikirkan hal hal hal tak penting seperti itu, banyak hal lain yang harus dia selesaikan, baginya Martin sudah lama menghilang dari hatinya semenjak terungkapnya perselingkuhan ria itu dengan ibu tirinya.


"Aaaahhh,,, kenapa masalah demi masalah datang seperti keroyokan pada ku !" teriak Raya di depan loby apartemen martin saat dia baru saja keluar dari bangunan itu dan menuju parkiran motor, dia tak peduli beberapa orang bahkan menatap aneh padanya atas aksi teriakannya itu.


"Apa kau seputus asa itu mengetahui ada wanita lain di apartemen tunangan mu ?" cibir Toni yang ternyata mensalah artikan sikap Raya kini yang dikiranya dia frustrasi karena bertemu wanita tadi di unit Martin.


"Sangat menyedihkan !" jawab Toni ketus.


"Aku hanya kesal, menemukan Karina saja aku tak bisa, aku ingin bertanya padanya, apa dia tau tentang hilangnya ayah,hanya itu saja,,, selebihnya aku tak ingin mengurusi," beber Raya, menyandarkan bokongnya pada motor Toni yang sejak semalam menjadi satu satunya kendaraan yang mengantarnya k mana mana, mobil di garasi rumahnya sudah menghilang semua, entah ulah Karina atau dari pihak Bank yang juga menyitanya.


Ponsel Toni berdering, tertera nama Rolan di layar, bibir Toni terangkat membentuk seulas senyum,


benar apa yang di tebaknya, pria itu mengabari kalau pelaku perampokan pada Raya dan Cila sudah tertangkap.


'Cepat juga kerja pria tua itu !' batin Toni.


"Ayo cepat, aku harus berolah raga ?" ajaknya lalu bergegas menaiki motornya.


"Kau tinggal di sini sebentar, kunci pintunya dan jangan di buka siapapun yang datang !" titah Toni yang ternyata membawa Raya ke tempat kostnya.


"Tapi, kamu mau kemana ?" rengek Raya tak ingin di tinggal sendirian di tempat itu.


"Aku harus ke sasana, Rolan mengabari ku kalau penjahat yang mencoba merampok mu semalam sudah tertangkap," jelasnya jujur.

__ADS_1


Sejenak Raya menimbang nimbang, apa dia harus ikut dengan Toni dengan resiko bertemu Cila yang mungkin saja berada di sana, atau menunggunya di kamar kost Toni.


"Emhh,,, aku di sini saja, tapi kamu jangan lama lama, ingat kamu berjanji akan selalu menjaga ku !" putusnya, dia memilih untuk tinggal, karena di tak punya alasan untuk dia katakan pada Cila jika sampai sahabatnya itu meminta penjelasan tentang kebersamaan dirinya dengan pacar sahabatnya itu.


"Toni,,,,!" panggil Raya saat Toni baru saja menstarter motornya,


Toni menoleh ke arah pintu kamar kostnya dimana kini Raya berdiri di ambang pintu menatapnya dalam.


"Hati hati,,, dan cepat pulang ! Ingat, ku menunggu mu !" ucap Raya.


Pemandangan langka pun terpampang di hadapan Raya, Toni si pria ketus, sinis dan dingin itu menyunggingkan senyuman hangatnya, manis sekali, sesaat sebelum dia berlalu dan menghilang dari pandangannya tanpa sepatah kata pun.


"Cih,,, senya senyum,,, bahagia pasti dia, mau ketmu pacarnya, oh Cila,,,, aku cemburu !" pekiknya tertahan, berusaha menyangkal kalau senyuman manis itu Toni tujukan padanya.


***


"Dimana mereka ?" tanya Toni saat dia baru saja sampai di sasana dengan Rolan yang sudah menunggunya di depan.


Wajah Toni terlihat sangar, tatapan matanya seakan ingin menelan siapa saja yang ada di sana, hatinya terasa sangat panas bahkan mendidih ketika kembali mengingat ringis kesakitan Raya karena luka robek di lengan atasnya, dan tangis ketakutan saat menceritakan dia hampir di perkosa dan di bunuh oleh para penjahat itu.


"Apa mereka anak buah Cobra ?" tanya Toni lagi.


Namun Rolan menggeleng, "Bukan, tadinya ku pikir juga mereka anak buah Cobra, tapi setelah di pikir lagi, anak buah Cobra tak akan seceroboh itu menculik putri ku, mereka cukup tau siapa Rolan dan apa yang kan ku lakukan jika ada yang berani mengusik anak ku,"


Toni masuk ke dalam sasana yang sengaja sudah di tutup untuk umum itu dengan tergesa, hanya ada dirinya, Rolan dan empat orang yang tengah tergantung bak daging sapi yang di jajakan di pasar.


Wajah ke empat orang itu hampir tak dapat di kenli akibat bonyok dan luka di wajah dan sekujur tubuh mereka.


"Mereka hanya preman kampung bayaran, dan mereka bekerja atas perintah---" belum selesai Rolan berbicara, Toni menyelanya.


"Simpan dulu cerita mu, ayo olah raga, tangan ku sudah terasa gatal" ucap Toni melilitkan hand wrap atau kain panjang yang biasa di gunakan untuk melindungi jari dan tangannya saat bertarung.


Toni berjalan mengelilingi ke empat orang itu, memperhatikan wajah tak berbentuk mereka satu persatu, lalu tanpa basa basi lagi melayangkan tinjuannya membabi buta pada tubuh mereka benar benar menjadikan mereka samsak hidup.


Tak ada yang bisa menghentikan amukan singa jantan saat dia sedang memangsa buruannya, kecuali dirinya sendiri yang ingin berhenti.


Rolan yang terkenal kejam dan bengis pun sampai bergidik ngeri melihat aksi Toni yang seakan kesetanan itu, pria tua yang masih terlihat kekar dan sehat itu hanya menonton Toni denan decak kagum di pinggiran.

__ADS_1


__ADS_2