Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Bad News is Good News


__ADS_3

"Raya! Kamu bukan malaikat, kamu tak harus selalu berbuat baik pada orang-orang yang menjahati mu, berhenti bersikap konyol!" kesal Toni mengakhiri pembicarannya dengan sang istri karena tak ingin pembicaraan mereka berakhir menjadi pertengkaran hanya karena membicarakan hal yang tak penting.


Raya tertunduk lesu, sungguh hatinya masih ingin berdebat dan menyangkal semua perkataan suaminya itu, namun sekali lagi apa yang di katakan suaminya itu semuanya adalah fakta dan tak bisa dia sangkal lagi kebenarannya.


Sebesar apapun keinginan dirinya untuk melihat keadaan sahabatnya itu, dia yakin sang suami tak akan mungkin mau menuruti keinginaannya itu, sepertinya untuk saat ini diam dan menuruti sang suami adalah yang terbaik, sambil memilirkan bagaimana cara dia agar bisa menengok sahabatnya itu suatu hari nanti.


"Tolong jangan meminta hal-hal aneh lagi, mengantar mu menemui Arsan tadi saja buat ku sangat berat, jika setelah nya kamu malah berniat melihat keadaan Cila juga, maaf aku tak bisa mengabulkan keinginan mu yang satu itu, itu terlalu berat buat ku, tolong mengerti perasaan ku," lirih Toni memberikan penjelasan dengan cara yang begitu pelan pada istrinya, agar istrinya dapat mengerti betapa dirinya sudah tak ingin lagi berurusan dengan Rolan maupun orang-orang di sekitarnya.


Toni ingin memulai hidup yang nyaman dan tentram setelah Bagas dapat mereka tangkap tentu saja, karena kalau Bagas masih di biarkan berkeliaran, bisa saja dia akan mencelakakan dan mengancam nyawa istri tercinta nya itu.


***


Pagi ini berita buruk datang dari Sabrina, yang baru saja dia menelpon Toni dan memberi kabar yang sulit untuk di katakan kalau ini berita buruk atau bahkan berita baik baginya.


Mungkin ini yang di sebut 'bad news is good news'.


Sabrina memberi nya kabar kalau Arsan kini di rawat di rumah sakit karena pria tua itu di temukan tak sadarkaan diri tadi di tempat penyekapannya, Sabrina sudah mencoba mendatangkan dokter keluarganya yang biasa di panggil ke rumahnya jika ada anggota keluarganya atau penghuni rumahnya sakit, apalagi fokter itu juga biass memantau kesehatan Yama, jadi sangat bisa di percaya.


Namun dokter tersebut mengatakaan kalau Arsan butuh perawatan yang lebih intensif di rumah sakit karena Arsan butuh tindakan dengan alat yang lebih memadai.


Toni mengakhiri pembicarannya dengan Sabrina di telpon, lantas dia menemui istrinya yang tengah membereskan sisa makanan di atas meja makan bekas mereka sarapan tadi.


"Emhh, Arsan di rawat di rumah sakit, apa kamu mau menengoknya?" tanya Toni, dia masih memberi Raya kelonggaran jika saja istrinya itu ingin bertemu dengan ayahnya, Toni hanya berjaga-jaga takut kalau ini saat-saat terakhir Arsan, sehingga dirinya akan memberi Raya kesempatan untuk bertemu dengan ayahnya itu.

__ADS_1


Namun jawaban tak terduga justru di dapat Toni dati istrinya pagi itu.


"Kalau kamu mau ke sana , pergi lah. Tapi aku tak ikut bersama mu, percayalah, Arsan tak akan mati se mudah itu!" ucap Raya santai.


Jika kemarin istrinya itu sampai nangis-nangis ingin bertemu dan berbicara dengan ayahnya padahal kondisi Arsan sehat wal afiat, sementara sekarang di saat konfisi Arsan sedang kritis tak sadarkan diri di rumah sakit, istrinya itu malah terkesan cuek dan seperti tak peduli dan tak ada keinginan sedikit pun untuk melihat kondisi pria tua itu.


"Kamu tak ikut dengan ku, sayang?" tanya Toni lagi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Gak, kamu ke sana aja sendirian, liat bagaimana keadaannya, tapi aku beri tahu sesuatu,biasanya kalau orang jahat itu susah matinya!" oceh Raya lagi tanpa beban Sedikit pun, membuat Toni menggeleng pelan sambil berdecak.


Sungguh pria itu tak bisa menyangka jika istrinya bisa bersikap se absurd itu, dimana mood wanita itu bisa berubah-ubah dalam waktu yang relatif singkat seperti itu.


Sebenarnya Toni sendiri merasa malas dan ogah-ogahan jika dirinya harus mendatangi rumah sakit dan melihat keadaan Arsan yang di rasanya tak peduli jikapun pria itu harus hidup atau pun mati, namun dia tetap harus mendatangi rumah sakit karena Sabrina memintanya untuk datang ke sana, bukan untuk mengurus Arsan, namun lebih ke mengajaknya diskusi atau berembug tentang bagaimana cara mereka menjaga Arsan, mengingat jika di biarkan di rawat di rumah sakit terlalu lama, di khawatirkan akan rawan kabur, apalagi Bagas sampai saat ini belum tertangkap, bisa saja hal itu di jadikan kesempatan untuk Bagas menyerang secara secara diam-diam.


Sepertinya Raya memang tak bisa Toni paksa, dia tetap bergeming untuk tak ikut menemui ayahnya di rumah sakit, membuat To i benar-benar harus berangkat sendiri, meski selain dirinya agak malas pergi sendirian, dia juga khawatir karena harus meninggalkan istrinya sendirian di rumah, namun Raya memastikaan kalau dia akan baik-baik saja, apalagi dia juga memastikan kalau Dila akan dia panggil untuk menemaninya selama Toni pergi, karena Panca juga akan pergi bersama Toni ke rumah sakit.


"Mertua mu sepertinya tak sadarkan diri akibat tendangan mu di dadanya kemarin, kata dokter ada luka dalam di dadanya, selain itu terdapat juga pendarahan di sana." Terang Sabrina menjelaskan hasil pemeriksaan tentang apa yang terjadi pada Arsan.


"Aku tak peduli, bahkan bila dia harus mati sekali pun, juga tentang serangan ku kemarin, aku kira itu bukan hal yang besar bila di bandingkan dengan kejahatan yang sudah dia perbuat, beruntung dia di sekap di tempat mu, kau masih berbaik hati untuk mengobatinya dan membawanya ke sini, andai dia berada di bawah pengawasan ku, sudah dapat di pastikan dia akan ku biarkan mati membusuk tanpa ku obati sama sekali." ujar Toni santai dan cuek, membuat Sabrina dan Panca sama-sama mengendikan bahu hampir secara bersamaan mendengar perkataan salah satu temannya itu.


Tanpa ingin membuang banyak waktu di tempat itu, mereka langsung berdiskusi dan saling mengeluarkan ide mereka dalam penyusunan rencana sampai akhirnya mereka menyepakati sebuah rencana besar yang mungkin akan membuat semua polemik ini berakhir dengan cepat.


Sementara di lain tempat, Raya menggunakan kesempatan moment kepergian Toni ke rumah sakit untuk dirinya pergi menemui Cila di rumah sakit jiwa, meski Dila sudah melarangnya dengan keras karena tak ingin di persalahkan oleh Toni dan juga Panca jika sampai terjadi sesuatu, namun Raya tetap bergeming dan memaksa untuk tetap pergi ke tempat di mana Cila di rawat,

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat keadaannya saja, aku berjanji itu tak akan membahayakan, aku juga tak akan lama. Kamu boleh tinggal di sini dan tak ikut bersama ku jika kamu berkeberatan untuk pergi bersama ku." Keukeuh Raya.


Cila pun tak bisa menahan ke keras kepalaan Raya yang tak bisa dia cegah selain pasrah dan mengikuti semua keinginannya, meski dirinya benar-benar takut jika sampai terjadi sesuatu saat mereka pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Toni dan Panca.


Dua wanita itu kini sampai di rumah sakit jiwa yang berada di pinggiran kota, tempat yang cukup luas dan tenang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, suasana alam yang tenang dan masih asri itu sangat cocok untuk mereka yang mengalami tekanan mental dan mengalami depresi yang dalam.


Raya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat luas itu, setelah verbincang dengan bagian resepsionis dan pihak rumah sakit mengijinkannya bertemu dengan pasien yang di minta, yaitu Cila, dua orang perawat menemani Raya dan Dila berjalan menyusuri lorong demi lorong bangsal menuju taman yang cukup luas di area tengah rumah sakit yang di buat menyerupai taman kota yang cukup rindang dan pandangan pepohonan juga rumput yang hijau sejauh mata memandang.


Beberapa pasien terlihat asik dengan dunia mereka sendiri, ada yang sudah bisa di lepas sendiri, banyak juga yang masih di dampingi oleh perawat karena takut membahayakan pasien lain atau bahkan bisa membahayakan dirinya sendiri.


Tangan Dila terus memegangi lengan Raya yang terlihat cukup tenang, sementara dirinya terlihat sangat gugup dan ketakutan, entah apa yang Dila takutkan, bayangan dirinya tentang rumah sakit jiwa yang menakutkan dan menyeramkan sepwrti di film-film yang di tonton nya tidak terbukti, karena keadaan di sana jauh dari kata menyeramkan, namun tetap saja itu tak membuat Dila menghilangkan rasa takutnya.


"Raya, apa tak sebaiknya kita pulang saja, lebih baik urungkan niat mu untuk menemui perempuan itu, bagaimana kalau dia nanti menyakiti mu," cicit Dila dengan tetap menautkan tangannya erat di lengan Raya.


"Oh ayolah, kita sudah sejauh ini, tak mungkin kita kembali begitu saja. Lagi pula banyak perawat yang berjaga kita tak mungkin di lukai, tapi jika kamu takut kamu boleh menunggu di luar, tak usah ikut dengan ku ke dalam." Tolak Raya yang jelas saja Dila tak mungkin membiarkan Raya masuk seorang diri ke tempat itu, meski ada banyak perawat dan dua di antaranya menemani mereka, tapi tetap saja Dila tidak merasa tenang jika membiarkan Raya sendirian.


Dila akan mendapat masalah besar dari Toni dan Panca jika sampai membiarkan itu semua terjadi, sehingga setakut apapun yang di rasakannya dia tetap harus menemani sahabatnya itu.


"Nona Cila berada di sana, dia baru saja meminum obatnya, dan aman untuk di temui," ucap salah satu perawat itu menunjuk seorang wanita yang tengah terduduk di kursi taman di bawah pohon akasia yang cukup besar dan rindang.


"Kami akan menemani dan menjaga anda berdua, jangan takut!" Timpal perawat yang satunya lagi saat melihat cengkeraman tangan Dila semakin mengerat di lengan Raya, di tambah lagi dengan wajahnya yang terlihat memucat.


"Terimakasih, sus," Raya mengangguk dan tersenyum ke arah dua orang perawat ramah itu.

__ADS_1


Tanpa ragu dan rasa takut Raya berjalan mendekat ke tempat di mana Cila kini sedang duduk bersandar menikmati indahnya pemandangan alam di sana, tak terlihat tanda-tanda kalau dirinya tengah mengalami tekanan mental atau depresi berat, dia terlihat sangat sehat dan baik-baik saja.


"Selamat siang, Cila!" sapa Raya menegur dengan ramah sahabatnya yang lama tak di jumpainya itu.


__ADS_2