
Sepasang suami istri yang di pisahkan oleh takdir itu kini bertemu kembali, tak lagi terpisah oleh jarak dan waktu, tak hanya angan yang yang bisa menyapa, kini raganya telah bebas saling meraba.
"Sayang, apa kamu yang menyiapkan semua ini" tanya Toni yang kini terbaring di atas kasur dengan taburan ribuan kelopak bunga mawar segar berwarna merah.
"Hem, aku yang menyiapkannya, karena aku tau kamu tak mungkin bisa memberi kejutan se romantis ini padaku, jadi---mending aku saja yang membuatnya, toh aku juga ikut menikmatinya, kan?" Ucap Raya tersenyum manja.
"Wah, kamu terlalu menyepelekan ku, sayang. Siapa bilang aku tidak bisa memberi kejutan yang romantis, sekarang kamu siap-siap terkejut untuk menerima kejutan dari ku!" Toni tersenyum miring dengan tubuhnya yang kini sudah pelan-pelan bergeser mendekati tubuh istrinya.
Toni yang kini tepat berada di samping tubuh Raya itu memandangi wajah istrinya, "Lama sekai ku merindukan wajah cantik ini, wajah yang tak pernah bisa hilang dari pelupuk mata ku, ku mohon, tolong jangan pernah pergi lagi, jangan meninggalkan ku lagi, berjanjilah untuk tetap di sisiku," pinta Toni dengan tatapan yang terkunci ke wajah sang istri.
Tangan Toni membelai pipi sang istri yang juga sedang menatapnya intens, sejurus kemudian tangan Toni mulai merayap membuka satu persatu kancing blouse yang di kenakan Raya, sementara Raya hanya terdiam melihat aksi sang suami.
Jantung Raya terasa dag dig dug tak karuan saat semua kancing blousenya sudah terbuka sempurna dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang kini hanya tertutup pakaian dalam bagian atasnya saja.
Ini pengalaman pertama bagi Raya tubuhnya terekspose di hadapan pria, itu membuatnya malu sekaligus grogi.
Tanpa membuang waktu lagi, dengan cekatan dan secepat kilat entah bagaimana ceritanya kini tubuh Raya sudah tak tertutup sehelai benang pun.
Wajah Raya terlihat memerah,
"Kamu sakit?" tanya Toni ketakutan, dia sungguh paranoid dengan perubahan pada diri Raya,
Pengalamannya di tinggal saat di pelaminan oleh Raya meninggalkan trauma yang lumayan membuat Toni lebih waspada dengan kesehatan sang istri.
"Aku baik-baik saja, aku hanya malu," jawab Raya sembari berusaha menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangannya.
Toni pun bisa bernafas lega, dia bisa leluasa melanjutkan aksinya unboxing sang istri, ini benar-benar malam pertama yang tertunda.
__ADS_1
Toni bisa maklum dengan sikap sang istri yang terlihat kaku dan grogi, karena ini merupakan penalaman pertama untuknya.
***
Sementara di tempat lain,
Di kediaman Rolan, dia dan istrinya juga seluruh isi rumah itu sedang merasa kebingungan karena Cila tak juga pulang ke rumah, padahal waktu sudah menunjukan hampir pukul 2 dini hari.
Semenjak sore tadi dia pamit untuk keluar menemui temannya, dia tak pulang lagi ke rumah.
Sebetulnya kalau dalam keadan Cila baik-baik saja kondisi nya Rolan tak pernah hawatir, bahkan Cila juga kadang tak pulang karena menginap di rumah temannya, atau pulang subuh karena putrinya itu senang nongkrong di tempat hiburan malam.
Namun saat ini lain cerita, kondisi Cila sedang tidak baik-baik saja, beberapa anak buahnya juga sudah dia kerahkan untuk mencari keberadaan piutri kesayangannya itu, baik di rumah teman-temannya, di klub, atau di tempat tempat biasa dia nongkrong, namun nihil, Cila seperti di telan bumi, dia tak di temukan di mana pun.
Apalagi Cila juga tak membawa kendaraannya saat pergi, jadi Rolan tak bisa melacak gps yang terpasang di mobil milik putrinya itu.
Semalaman Rolan bahkan tak bisa tidur karena
terus memikirkan dimana keberadaan sang putri.
Tring,,,
Sebuah pesan masuk di ponselnya, hanya sebuh gambar namun gambar itu bisa membuat seluruh darahnya seakan naik ke kepalanya, untuk beberapa saat bahkan dia merasa pusing dengan pandangan mata yang berkunang-kunang.
"Mas, ada apa?" Tanya Friska sang istri yang juga sejak semalam menemani suaminya begadang menunggu berita baik tentang putri mereka.
"Kumpulkan semua anak buah, kita akan serang dan habiskan Arsan saat ini juga!" geram Rolan pada beberpa anak buahnya yang berada di ruangan itu bersamanya.
__ADS_1
"Mas, ada apa ini? Anak kita sedang hilang, kenapa masih mengurusi hal lain?" Tanya Fiska.
Rolan menyodorkan ponselnya, "Cila ada di tangan Arsan, entah apa yang di inginkan bajingan itu, tapi apapun yang di inginkan oleh bajingan tua itu, aku akan pastikan yang akan dia dapatkan hanyalah kematiannya yang sangat menyakitkan!" Rolan bersumpah serapah sembari memperlihatkan foto Cila yang sedang duduk menyedihkan di pojok ruangan.
"Mas, kenapa bisa seperti ini? Mas, selamatkan Cila, selamatkan anak kita, ini semua salah mu, apa masalah mu dengan teman mu itu sampai-sampai dia menculik dan memperlakukan anak kita seperti itu? Semua karma buruk mu menimpa anak kita, baru kemarin di selamat dari over dosis obat terlarang, itu semua salah mu, aku sudah sering bilang pada mu untuk hidup di jalan yang benar, tapi kamu tak pernah mendengarnya, lihat,,, lihat sekarang, kamu mencelakai putrimu sendiri, aku tak mau tahu, bawa Cila kembali dalam keadaan sehat dan selamat, karena kalau tidak, aku tak akan memaafkan mu sampai kapan pun!" Istri dari Rolan itu pun meluapkan semua kekesalannya pada sang suami yang selama ini di pendamnya.
Namun saat ini ketika putrinya harus menjadi korban dari bisnis hitam sang suami, wanita yang selama ini terkesan selalu hanya diam dengan segala hal yang di lakukan suaminya itu, kini tak ingin dan tak bisa lagi berdiam diri membiarkan semua akibat atas pekerjaan suaminya itu.
"Apa kau bisa tak menambah beban di kepala ku ini? Kau pikir aku menginginkan hal ini semua? Kau pikir hanya diri mu saja yang menyanyangi anak kita, kau pikir aku bahagia dengan semua ini Kau pikir aku tak khawatir dan ketakutan memikirkan kondisi anak kita? Jika ka tak bisa menenangkan ku, sebaiknya kau diam!" bentak Rolan pada istrinya yang dia anggap hanya menambah beban pikirannya saja, dengan hanya menyalahkan dan menuntutnya saja.
"Maaf tuan, sepertinya kita akan kalah jumlah jika harus menyerang ke sana," lapor salah satu anak buah Rolan menyela pembicaraan tuannya,
"Apa maksud mu? Bukankah anggota kita lebih banyak? Si Arsan hanya memiliki anak buah beberapa saja," protes Rolan.
"Tapi tuan, tadi saya baru saja mendapat informasi kalau di kediaman tuan Arsan juga sudah banyak orang berjaga, sepertinya dia sudah dengan matang merencanaan ini, dia sudah mendapat bala bantuan dari preman dan orang-orang tambangnya yang dia datangkan dari Kalimantan dan juga mendapatkan tambahan bantuan dari kelompok ormas luar daerah yang berjaga di depan rumahnya," terang anak buahnya tersebut menerangkan, dia tak ingin kalau penyerangannya ini menjadi sia-sia hanya karena kalah jumlah dan strategi.
"Arrggghh,,, bajingan itu benar benar sudah bosan hidup rupanya, ia sengaja mencari kelengahan ku dan menyerang di titik terlemah ku, baik, kita harus atus strategi ulang, kau ajak beberapa orang untuk memantau keadaan di sana, an aku akan mencari bantuan untuk menambah jumlah personil dalam penyerangan ke sana." Titah Rolan mulai menata kembali strategi perangnya.
Anak buahnya itu latas mengangguk dan lantas segera pergi untuk melaksanakan perintah bosnya itu.
Dengan menyingkirkan rasa gengsi, malu dan semuanya, Rolan memutuskan untuk menghubungi Cobra, dia ingin memita bantuan pada pria yang sejak dulu menjadi musuh bebuyutannya itu.
Tak ada cara lain, hanya Cobra yang kini dia harap kan untuk dapat membantunya, selain mereka berada di kota yang sama, anak buah Cobra juga lumayan banyak dengan skill yang hampir setara denngan kemampuan anak buahnya.
Bukannya Rolan tak bisa meminta bantuan dari kelompok lain atau mendatangkan bala bantuan dari kota lain, hanya saja itu akan memakan waktu, sementara keselamatan anaknya kini sedang di pertaruhkan di sana, dia benar-benar harus berburu dengan waktu.
(Maaf,, semalem ga jadi up, karena othor ketiduran, hehe!)
__ADS_1