
Seakan tak ada puasnya Toni terus menghajar ke empat pria yang sudah tak berdaya dan mungkin hampir tak bernyawa itu, sungguh hatinya terus di selimuti amarah yang tak kunjung reda, namun malah semakin memuncah.
Sampai akhirnya Toni menghentikan aksinya karena merasa sudah cukup lama meninggalkan Raya di tempat kostnya, dia tak ingin kecolongan lagi dengan membiarkan Raya sendirian dan membuat gadis itu berada dalam situasi yang berbahaya.
"Apa kau sudah lelah, Lion ?" cengir Rolan yang melihat Toni kini membuka lilitan hand wrap nya, Rolan memberikan sebotol minuman kaleng dingin untuk meredakan amarah sang singa.
"Aku masih kuat menghajarnya tiga hari tiga malam sekali pun, hanya saja aku sedang ada urusan penting, berikan sajamereka berempat pada Ali dan Ale biar mereka ikut berpesta malam ini," ucapnya yang lalu di sambut seringai tawa Rolan.
"Kau memang baik hati, mau berbagi dengan si Ali dan Ale,"
Ali dan Ale adalah dua ekor buaya piaraan Rolan yang sekarang tubuhnya sudah sangat gendut dan besar karena sering di beri makan tubuh tubuh manusia yang sengaja di hilangkan nyawanya oleh Rolan agar tak meninggalkan jejak dan terendus pihak kepolisian.
"Apa kau tak penasaran siapa yang membayar mereka untuk melakukan ini semua ?" tanya Rolan dengan tatapan serius, entah mengapa pria setengah baya itu selalu nyaman jika berbincang dan berdiskusi dengan Toni dalam hal apapun, baginya meski Toni terkesan cuek dan tak pernah menghormatinya seperti orang lain yang tunduk, patuh dan hormat padanya, Toni seakan punya tempat tersendiri di hatinya, selalu dia bisa memaklumi apapun yang di lakukan Toni padanya.
"Aku hanya ingin menghajar ke empat bajingan itu terlebih dahulu, bagi ku kelakuan mereka sudah lebih dari seekor binatang, menjijikan ! Ada pun tentang siapa yang menyuruh atau membayar mereka untuk melakukan semua ini, aku pasti akan memberi pelajaran lebih dari ini," ucapnya masih sih sibuk dengan minuman kaleg di tangannya.
"Kenapa kau melakukan semua ini, apa ini karena putriku ? Apa karena yang menjadi korban adalah Cila ? Atau---- ini semua karena gadis yang kini kau jaga itu ?"
Deg,,
Jantung Toni mencelos saat Rolan tiba tiba menyebut nama Raya, tidak begitu mengejutkan memang jika pria setengah baya itu mengetahui tentang dirinya yang kini menjadi bodyguard Raya, secara pria itu seakan mempunyai mata di mana mana, bukan hal yang sulit untuk mendapat informasi sekecil itu, hanya saja Toni tidak menyangka kalau ternyata Rolan mencari tau tentang dirinya.
"Aku tak harus melaporkan apa pun yang tengah terjadi dan tengah aku rasakan pada mu, bukan ? Kau bukan bos ku atau pun ayah ku !" ketus Toni.
Alih alih marahmurka dengan jawaban sinis Toni, Rolan justru malah terkekeh mendengar jawaban pria yang tak pernah mengenal rasa takut itu.
"Kenapa kau tak pernah mencintai putri ku, padahal aku sangat mengharapkan kau menjadi menantu ku, untuk meneruskan bisnis bisnis ku!" oceh Rolan.
"Aku tak pernah tertarik dengan bisnis hitam mu !"
"Aku akan selalu menunggu mu datang bergabung dengan dunia ku !" ujar Rolan sama keukeuhnya dengan Toni yang bersikukuh tak pernah akan terlibat dengan dunia haram Rolan.
Toni bergegas merapikan diri dan bersiap meninggalkan sasana, hatinya merasa tak tenang jika harus berlama lama meninggalkan Raya sendirian.
__ADS_1
"LIon !" panggil Rolan saat Toni baru saja melangkah keluar melewati pintu utama sasana.
Toni menghentikan langkahnya dan memutar tumitnya menghadap Rolan yang ada di belakangnya.
"Martin,,,, orang yang menyuruh mereka itu Martin, namun sepertinya kau akan membutuhkan kelompok ku untuk melawan Martin, karena kini dia di lindungi Cobra !" beber Rolan.
Toni terdiam sejenak, mencerna apa yang di ucapkan Rolan padanya,
"Aku bisa membunuhnya dengan tangan ku sendiri !" ucap Toni dengan segala kepercayaan dirinya yang selalu tinggi.
Toni memacu moternya menuju tempat kostnya, tak lupa dia membelikan dua bungkus nasi warteg untuk dirinya dan Raya makan, perutnya terasa lapar, menghajar empat orang suruhan Martin membuatnya membuang banyak energi dan membuat perutnya kini keroncongan.
Baru saja dia memarkirkan motornya di depan pintu kamar kostnya, tiba tiba,
"Abang,,,! Cila tadi nyusul abang ke sasana, kata ayah abang sudah pulang, ternyata benar tebakan Cila, abang ada di sini," entah kapan dan dari mana datangnya, karena tiba tiba Cila sudah berada di hadapannya kini.
"Aku lelah, kau tau tadi aku baru saja berlatih di sasana, aku ingin istirahat sekarang !" ucap Toni seakan mengusir Cila secara tidak langsung.
***
Tiga puluh menit yang lalu,
Tok,,, Tok,,, Tok,,,!
Pintu kamar kost Toni di ketuk dari luar, Raya yang sedang asik melihat lihat akun sosial media Karina mencri informasi tntang keberadaannya merasa kaget dengan suara ketukan pintu itu.
Raya terdiam, dia ingat pesan Toni tadi sebelum dia pergi untuk tak membukakan pintu untuk siapa pun juga.
"Bang,,, Bang Lion,,,ini Cila !" suara sahabatnya terdengar jelas dari luar, membuar Raya menutup mulut dengan kedua tangannya.
hampir sepuluh menit Raya menunggu Toni yang dia susul ke kost setelah tak berhasil menemuinya di sasana tadi,
"Eh, non Cila,,,!" sapa ibu pemilik kost yang tinggal tak jauh dari bangunan kost miliknya.
__ADS_1
Cila menghampiri ibu kost cerewet dan tukag gosip itu, dia ingin mencari tahu kali saja ibu ibu bertubh gempal itu mempunyai info menarik tentang Toni dan mencari tau kemana saja Toni selama beberapa hari terakhir tak pernah terlihat di sasana maupun di kost.
"Mencari Lion, Ya?" tanya ibu itu menyelidik, Cila menjawabnya dengan anggukan,
"Maaf nih, bukannya mau manas manasin atau membuat masalah dalam hubungan non Cila dan Lion, tapi----" wanita itu mulai menggosip dengan menggantung kalimatnya melihat respon Cila yang dia ketahui sebagai kekasih Toni.
"Tapi apa ?" tanya Cila menatap galak ibu itu yang langsung ketakutan, bukn karena tatapan Cila, tapi ketakutan jika harus bermasalah dengan bapaknya Cila alias Rolan jika dia menyinggung putri kesayangan satu satunya itu.
"Ta- tadi saya melihat Lion membawa seorang wanita ke dalam kamarnya, dan kalau tidak salah, sebelumnya juga wanita itu pernah datang berkunjung ke sini beberapa kali," urai ibu kost penggosip itu.
"Wanita ?" beo Cila tak percaya,
Mana mungkin pria yang di cintai nya itu membawa seorang perempuan ke kamar kostnya, sementara dirinya yang sudah lama mengenal dan cukup akrab dengannya saja tak pernah sekali pun di ijinkan apalagi di ajak masuk kamar kostnya itu.
'Apa dia sudah punya pacar tanpa aku tahu ya ? Tapi siapa ?' tanya Cila dalam hatinya.
"Iya, wanitanya bahkan sekarang sepertinya masih berada di dalam, karena tadi Toni meninggalkannya di dalam kamar," beber ibu kost itu lagi, sambil matanya sesekali melirikke arah jendela kamar Toni yang tertutup rapat oleh gorden tebal dari dalam.
"Ibu kenal, siapa wanita itu ? saudaranya mungkin ?" telisik Cila menepis pikiran jelek yang membuat hatinya kini bergemuruh seketika, mencoba menyankal dengan mencoba berpikiran positif meski dia tahu Toni tak punya siapa siapa, tak ada satu pun saudara yang dia punya di kota ini.
"Tidak,, sepertinya bukan orang sini, tapi,,, maaf, gadis itu sangat cantik !" cengir ibu kost itu terasa sekan sedang membandingakan dirinya dan wanita yang di sebutsebut berada di dalam kamar kost itu.
Namun baru saja Cila ingin mengorek informasi pada ibu kost bian gosip itu, suara motor Toni yang berhenti di depan kamar kostnya membuatnya mengurungkan niat itu dan memilih untuk menghampiri Toni yang beberapa hari ini tak pernah bisa dia temui di mana pun.
Pandangan Cila langsung tertuju pada dua bungkusan nasi yang Toni tenteng di dalam kantung plastik transparan itu, menguatkan pernyataan si ibu kost kalau memang ada orang lain d dalam kamar Toni.
Namun Cila tak ingin membahasnya sekarang, bagaimana pun dia sadar diri kalau perasaan nya pada Toni hanya perasaan sepihaknya saja alias cinta bertepuk sebelah tangan, dia tak ingin Toni semakin menjauh darinya hanya kana dirinya yang terlalu banyak bertanya hal hal pribadinya.
Namun sebelum dia pergi, Cila memberanikan diri mencium pipi Toni saat ujung matanya melihat bayangan seseorang dari balik tirai jendela yang tertutup rapat itu, Cila yakin orang yang di dalam itu pasti melihat dirinya yang sedang mencium pipi Toni sebelm dirinya pergi.
Sementara dari dalam kamar kost, Raya menahan nafasnya dan merasakan seperti terbakar di hatinya saat melihat Cila mencium pipi Toni dari balik gorden.
Meski menurutnya Cila memang berhak melakukan itu karena Cila merupakan kekasih Toni , tapi hatinya tetap tak bisa terima dengan itu semua dan konyolnya dia merasa sangat cemburu.
__ADS_1