
Flash back on
Beberapa jam yang lalu, Toni di telepon Rolan, pria itu memanggilnya ke sebuah kafe ternama yang berada di sebuah Mall, katanya dia punya informasi mengenai Karina dan butuh berbicara dengannya.
Mendengar Rolan mempunyai informasi penting seperti itu, tanpa pikir panjang dia langsung pergi menemui Rolan di tempat itu, Toni tak ingin membuang waktu lagi.
Sampai di Kafe, Rolan sudah menunggunya, hanya saja ternyata dia bersama Cila, untuk apa Rolan melibatkan Cila dalam masalah ini, pikirnya.
"Sorry Lion, sepertinya kita belum bisa berbicara masalah itu sekarang, kau temani Cila saja dulu, setelah ini kita bicara !" ucap Rolan lirih seraya melirik ke arah Cila seakan memberi Toni kode bahwa mereka tak bisa berbicara masalah Karina di depan Cila.
Dengan berat hati Toni hanya mengangguk pasrah, meski jujur saja hatinya sangat kesal.
Rolan berpamitan pergi meninggalkan sepasang manusia itu berduaan di tempat yang seharusnya di jadikan tempat dirinya dan Toni membahas masalah Karina, namun itu rupanya hanya akal akalan Rolan dan Cila saja sebagai pancingan agar Toni mau menemani Cila makan dan berjalan jalan di Mall itu.
Flash back off.
"Hai Cila,,, Hai Lion,,, boleh kami ikut bergabung bersama kalian di meja ini ?" sapa Raya.
Cila yang melihat Raya yang sedang berdiri di hadapannya dengan senyum yang di buat semanis mungkin itu langsung di buat terbelalak kaget dengan keberanian Raya menghampiri dirinya yang sedang berdua bersama Toni, susah payah dirinya mengajak pergi tunangannya itu sampai sampai dia harus meminta bantuan ayahnya untuk bekerja sama agar Toni mau menemaninya di Mall, tapi ketika dirinya berhasil makan berdua dengan Toni, tiba tiba Raya seenaknya datang mengganggu kebersamaan mereka, lalu dengan santai nya Raya mengatakan ingin duduk dan bergabung di meja yang sama ?
Ah,,, sungguh Raya sepertinya mulai mencari cari masalah dengannya dan mengajaknya berperang secara terang terangan.
__ADS_1
"Silahkan, apa perlu makanan kalian aku bayari juga, mengingat kau kini sudah--- gembel,! upssss maaf, terkadang aku suka keceplosan !" hina Cila dengan sengan sengaja mengejek Raya.
"Terimakasih , aku akan sangat dengan senang menerimanya jika memang kau memaksa," jawab Raya dan sengaja memilih duduk di samping kiri Toni yang kini sedang berusaha untuk tak terpancing dengan perdebatan dua wanita yang mempunyai kedekatan khusus dengannya itu, belum lagi Toni juga merasa sedikit terkejut dengan sikap Raya yang tiba tiba berubah seperti terkesan menantang.
'Apa sebenarnya yang sedang Raya rencanakan,? gadis bodoh ini,,,, apa dia tak tau sekarang sedang berhadapan dengan siapa, bagaimana kalau sikapnya ini malah membuat dirinya justru berada dalam bahaya besar,' gumam Toni dalam hatinya.
Toni berusaha tetap tenang dan fokus dengan makanan yang berada di hadapannya.
"Aku tidak mengganggu kalian, kan ?" tanya Raya berbasa basi, padahal tanpa perlu di tanya pun sudah jelas nampak wajah kesal Cila karena merasa terganggu dengan kehadiran dirinya.
"Bukan kah ku sudah biasa menjadi pengganggu, buat apa sok bersikap sungkan segala," Ketus Cila, namun hnya di tanggapi santai oleh Raya yang seakan memasang muka temboknya sore ini.
Entahlah, Raya tiba tiba merasa ingin membuktikan pada Cila bahwa dirinya tak mudah untuk dia tindas sesuka hatinya, Raya juga tiba tiba ingin sesekali memperjuangkan perasaannya,
Gesture Toni sudah mulai terlihat tak nyaman, beberapa kali dia melirik tajam ke arah Cila, mengingatkan dengan sorot tajam matanya untuk tidak membuat kerbutan di tempat se ramai ini.
Namun Cila sepertinya tak mengindahkan peringatan Toni, jiwa persaingan nya mulai tak ingin di lemahkan begitu saja oleh Raya, sementara dia adalah pemilik sah akan di Toni.
"Kau tak tau diri, tak tau malu, menggoda tunangan teman mu sendiri, apa kau se frustrasi itu sampai harus menggoda pria yang sudah bertunangan, huh ?!" Cila sengaja meninggikan suaranya, dengan tujuan menarik atensi para pengnjung kafe yang kebetulan sore itu sedang penuh.
"Cila !" bentak Toni mencoba menghetikan aksi gila tunangannya untuk mempermalukan Raya di sana.
__ADS_1
Namun satu hal yang tak di duga duga oleh Toni, saat dirinya terbakar emosi dan hampir tak dapat mengendalikan dirinya sendiri, di balik meja tangan kanan Raya justru menggenggam tangan kiri Toni dengan begitu berani nya dn tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.
Seketika hati Toni yang tadi terasa panas itu bagai di siram air es, diam membeku, Toni tak mengira kalau Raya bisa berbuat se nekat dan sejauh itu.
"Kenapa,,, tak terima dengan apa yang aku katakan barusan ? Abang mau belain dia ? Ingat bang, kita sudah bertunangan, dan mungkin sebentar lagi kita juga akan menikah, jadi jangan coba berbuat macam macam, karena aku atau pun ayah ku tak akan tinggal diam !" nafas Cila terdengar terburu karena emosi yang meledak ledak yang tengah dia rasakan kini, atas ulah Raya yang seakan terang terangan menantangnya, di tambah lagi Toni sang tunangan juga terkesan membela rivalnya tersebut.
"Kenapa ? Kenapa diam bang ? abang merasa bersalah, kan ? Cila pernah liat abang menciumnya di tempat kos abang, dia juga menginap di tempat abang, kenapa Cila yang jelas jelas tunangan abang malah selalu abang larang untuk kesana, apa kurangnya Cila bang ?" drama pasangan yang di selingkuhi dan ter aniyaya sukses di perankan Cila sore itu, sehingga mendapatkan banyak simpati dari para pengunjung kafe yang sibuk berbisik bisik dan sebagian merekam kejadian itu, bahkan tak sedikit dari mereka yang menggunjing dan menatap sinis ke arah Raya yang masih memasan wajah tenangnya, dengann tangan yang masih bertaut dengan tangan Toni di bawah meja.
"Seharusnya dari semua yang kau tau itu kau bisa menyimpulkan, kenapa aku yang di perbolehkan untuk menginap di tempatnya, sementara kau yang katanya tunanganya tidak pernah di perbolehkan, kau pernah menyaksikan dia mencium ku namun mengapa kau dan ayah mu justru memaksanya untuk melakukan pertunangan dengan memanfaatkan kelemahannya, bahkan kau tau dia tak pernah mencintai mu, tapi kau memaksakan semua keinginan dan kehendak mu tanpa kau peduli dengan perasaannya, kau sakit jiwa !" ucap Raya dengan tanpa rasa takut sedikit pun.
Tentu saja Toni maupun Cila terperanjat kaget dengan pernyataan Raya barusan, mengapa dia tau tentang cerita pertunangan paksa antara dirinya dan Cila,?
Jawabannya, tentu saja Raya tau, kemarin saat Toni baru pulang dari Kalimantan dan datang ke rumah Panca untuk menemui Raya di pagi buta itu, hati Panca dan Dila merasa terenyuh dengan kisah cinta sahabatnya yang terpaksa harus merasa tersiksa hanya karena perasaan saling cinta yang seolah terhalang dinding yang tinggi, berulang kali menjadi saksi mata betapa mereka saling menyayangi, akhirnya Panca dan Dila yang sebelumnya sudah di ceritakan terlebih dahulu tentang pertunangan paksa antara Toni dan Cila itu, memutuskan untuk memberi tahu cerita yang sebenarnya terjadi pada Raya, sesaat setelah Toni meninggalkan rumah itu.
Syok, tentu saja itu yang pertama kali Raya rasakan saat di beri tahu tentang kebenaran itu, ada rasa marah juga, mengapa Toni sampai berkorban sejauh itu hanya untuk dirinya, namun ada juga rasa haru, sungguh rasa cinta Toni padanya tak perlu di ragukan lagi, mengingat sebesar itu pengorbanan yang Toni lakukan hanya demi dirinya, hanya demi mengurai semua masalahnya.
Sebetulnya dia sudah berjanji pada Panca dan Dila untuk tak menyinggung masalah ini sampai Toni sendiri yang mengatakan juju semuanya pada Raya, namun provokasi Cila membuatnya gelap mata dan mengeluarkan semua kata kata yang di tahannya selama dua hari ini.
Melihat Toni duduk bersebelahan dengan Cila, membuat hatinya mendidih dan memberanikan diri untuk memperjuangkan rasa cinta nya dan rasa cinta Toni padanya, biar saja dunia tahu kalau mereka saling mencintai, biar saja seluruh dunia tahu kalau pertunangan Toni dan Cila hanyalah sebuah paksaan dan tanpa di dasari cinta sama sekali.
Raya tak peduli lagi apa katakan dunia tentangnya, apa yang di katakan semua orang tentang dirinya, mulai saat ini dia hanya ingin mendengar apa yang di katakan hatinya.
__ADS_1
Hatinya berkata kalau dia mencintai Toni dan harus memperjuangkan cintanya, maka itu yang akan dia dengarkan dan lakukan, tak adil rasanya jika hanya Toni saja yang berkorban dalam perasaan sama sama mereka rasakan.
Raya hanya ingin menyampaikan pada Toni, jika memang harus berjuang, Raya siap berjuang bersama sama, tak perlu dia berkorban sendirian, dia akan membuktikan kalau dia cukup kuat dan tangguh untuk berjuang bersama Toni, terlebih semua masalah ini bersumber dari dirinya, dari keluarganya, Raya merasa, jika ada yang harus berkorban, maka dirinya lah yang paling pantas melakukan itu, bukan Toni.