
Tiga hari setelah kematian Cobra, suasana rumah dan kondisi psikis Sabrina kini sudah berangsur normal kembali, semua berjalan kembali seperti sebelumnya saat Cobra masih ada, yang membedakan kini hanya pada kendali penuh seluruh bisnis dan anak buahnya berada di tangan Sabrina.
Tentu saja jika di tanya tentang siap atau tidak siapnya kehilangan seseorang apalagi itu orang yang paling di cintainya, jawabannya itu tak akan pernah siap.
Begitupun apa yang kini di rasakan Sabrina, dia memang belum siap menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tiada, hanya saja hidup tetap harus terus berjalan, balas dendam harus tetap di laksanakan, sehingga para iblis itu tidak terus-terusan menertawai kekalahannya.
Apa lagi dalam hal ini juga Sabrina masih punya tanggung jawab yang cukup besar, yaitu menjaga dan melindungi Yama sang adik yang masih sangat membutuhkaan dirinya, sehingga Sabrina tak bisa berlama-lama terpuruk dalam kesedihan. Hidup harus tetap berjalan.
"Bagaimana, apa sudah ada titik terang tentang di mana keberadaan Arsan?" Tanya Sabrina saat Toni baru saja masuk ke dalam rumah itu.
Tapi saat Sabrina menyadari kalau Toni tak datang sendirian, namun dia datang membawa serta Raya sang istri, raut wajah Sabrina langsung terlihat berubah.
Hatinya masih sangat sakit dan marah atas kematian ayahnya yang di sebabkan oleh Arsan, bahkan luka di hatinya itu seakan terasa masih basah dan menganga, namun mengapa dengan santai dan beraninya Toni malah membawa anak Arsan ke hadapannya, ke rumahnya, membuat rasa sakit di dadanya kembali terasa perih, karena harus mengingat kembali bagaimana ayahnya tewas dalam penyerangan kemarin.
"Kenapa kau membawanya ke rumah ini?" bentak Sabrina, dwngan telunjuk tangannya yang mengarah tepat ke dada Raya.
"Apa kau lupa, kalau aku sekarang menjadi kakak laki-laki mu, berarti otomatis dia kakak ipar mu, tolong kau lebih menghormatinya!" Toni merangkul bahu sang istri, memberi wanita itu kekuatan, dia tak ingin mental istrinya down karena ke keras kepalaan Sabrina yang tak mau menerima kehadiraran nya di rumah itu.
"Aku turut berduka cita, dan aku juga meminta maaf atas semua yang di lakukan oleh ayah ku, jujur saja aku pun malu mengakuinya sebagai ayah, setelah mendengar semua kelakuan kejinya terhadap keluarga mu, di tambah lagi sekarang ayah mu juga harus---" Raya tak kuasa meneruskan kata-kata nya, airmatanya kini bahkan telah menganak sungai di pipinya.
"Sayang, itu semua bukan salah mu, kamu tak perlu meminta maaf untuk semua kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan," Toni membawa tubuh Raya ke dalam pelukannya, Toni tau kalau Raya sungguh merasa bersalah dan serba salah dalam menghadapi sabrina saat ini.
__ADS_1
"Aku tak mungkin memaafkan kelakuaan bejat ayah mu itu, sampai kapan pun, dan mumpung ada kau di sini, jadi jangan berkata kalau aku tak minta ijin pada mu, karena dimanapun dan kapan pun aku bertemu ayah mu, aku pastikan kalau aku akan membunuhnya!" geram Sabrina.
"Aku mengerti, dan mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi mu, dan mungkin aku juga tak akan se sabar diri mu jika itu terjadi pada ku," Raya mengangguk paham.
Raya sungguh mengerti dengan apa yang di rasakan Sabrina, dan setelah Toni menceritakan semua penderitaan Sabrina yang di akibatkan oleh Arsan, membuat Raya merasa semua kesakitan yang di rasakannya akibatkan oleh ayahnya itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang di rasakan oleh Sabrina.
"Aku tak yakin kalau kau bisa mengerti dengan apa yang aku rasakan," raut wajah kesalnya masih terlihat jelas saat dia menimpali ucapan Raya padanya.
Namun ucapan ayahnya terlintas kembali di ingatannya, saat itu, saat sebelum peristiwa menyedihkan itu terjadi, Cobra sempat memintanya untuk berbaikan dengan Raya, dan kini Sabrina merasa kalau semua itu mungkin permintaan terakhir ayahnya, bisa saja ayahnya akan sangat bersedih jika dirinya tidak melaksanakan salah satu wasiat terakhir ayahnya itu.
Untuk beberrapa saat Sabrina terdiam, tenggelam dalam lamunannya tentang ucapan Cobra padanya. Sampai pada akhirnya,
"Maafkan aku, mungkin emosi ku masih belum stabil saat ini, tapi aku sudah memutuskan kalau aku ingin berbaikan dengan mu, dan ini semua bukan berarti aku memaafkan apa yang di lakukan oleh ayah mu, dan semua ini juga tak akan mempengaruhi niat ku untuk tetap membunuh ayah mu ketika ku bertemu dengannya," ucap Sabrina akhirnya dengan susah payah dan lumayan cukup berat.
Raya tersenyum, sungguh tak menyangka jika Sabrina bisa berlapang dada menerima kehadiraran dirinya, setelah banyaknya kejahatan yang di lakukan ayahnya padanya.
"Terimakasih, sudah besedia berteman dengan ku, aku sangat bahagia mendengarnya," sambut Raya penuh haru.
"Sudahlah, bukankah kita masih saudara? Lagi pula kita ini sama-sama kakaknya Yama, sudah sepantasnya kita kompak untuk mengurusnya, mungkin aku juga tak akan punya banyak waktu untuk mengurus Yama, karena aku ingin menyelesaikan masalah ku dengan ayah mu, jadi aku titipkan Yama pada mu dan Karina." Ucap Sabrina yang kini sikapnya sudah semakin tenang saat berbicara dengan Raya.
"Terimakasih, aku pasti menjaga adik kita, kau bisa tenang menuntaskan masalah mu dengan Arsan, aku tak akan keberatan apalagi menghalangi mu, dia bukan lagi ayah ku, aku hanya bernasib sial karena mewarisi darahnya yang mengalir di tubuh ku ini, andai saja bisa ku buang,,," keluh Raya.
__ADS_1
"Sayang, sudah lah, yang terpenting kalian sekarang sudah baikan, jangan ungkit lagi masalah yang tak penting!" Sela Toni menatap istrinya dalam.
"Guys, ada informasi penting, nih!" Seru Panca yang datang bersama Martin.
Martin sempat melirik sekilas ke arah Raya yang merupakan mantan kekasihnya itu, dia cukup heran karena Raya bisa berada di rumah Sabrina yang dia ketahui kalau tunangannya itu sangat membencinya.
"Kenapa kau melirik-lirik istri ku seperti itu?" tegur Toni yang merasa risih dan kesal karena Martin dengan lancangnya melirik sang istri, membuat Martin langsung memalingkan pandangannya ke arah tunangannya saking takutnya pada tatapan galak Toni.
"Akan ku buat mata mu buta kalau kau masih berani menggoda kakak ipar ku!" kini giliran Sabrina yang menyemprot tunangannya.
Martin yang dulu hanya di percaya Sabrina untuk mengurus masalah perusahaan, kini ikut terlibat dalam misi pencarian Arsan atas permintaan Martin karena ingin mendampingi tunangannya itu dalam kondisi apapun, meski dia tak punya pengalaman di dunia bisnis hitam, tapi dia sudah mulai ingin belajar dan terjun langsung dalam membantu Sabrina.
"Aku mendapat kabar kalau Arsan berada di sebuah kota kecil di daerah Jawa barat, menurut pemantauan orang orang kepercayaan ku, dia kini tinggal di sebuah rumah bersama asisten kepercayaannya," urai Panca.
"Bagas? Apa dia bersama Bagas? kampung halaman Bagas memang di daerah Jawa barat." cicit Raya yang sedikit banyak tau tentang Bagas karena ptia itu sudah lama bekerja pada ayahnya.
"Baik, secepatnya kita datangi tempat persembunyiannya, hanya saja kita perlu mematangkan rencana, ingat, Arsan sangat licin dan licik, jangan sampai ada korban lagi yang jatuh dalam penyerangan ini." Ucap Toni, sungguh dirinya tak ingin kehilangan satu trman pun lagi, karena dia kini sebenarnya sudah merasa senang dengan keluarga barunya dan merasa nyaman dengan mereka, sehingga dia tak ingin kehilangan salah satu di antara mereka.
"Ah iya, aku sampai lupa, karena Martin akan ikut dalam misi kita, mulai besok, kamu kembali ke Lubis corp dan menempati posisi Martin yang dulu di tempati mu, sebenarnya saham 70 persen Lubis corp itu sudah ayah ku hibahkan dan aluh namakan menjadi nama Yama, ayah sudah mempersiapkan semuanya sebelum dia pergi," lirih Sabrina, mengingat kembali ayahnya yang seakan sudah mempersiapkan kepergiannya dengan sempurna, bahkan dalam sikapnya yang terkesan acuh pada Yama pun, dia masih memikirkan masa depan anak dari istrinya,meski bukan darah dagingnya itu.
"Aku akan menjalankannya, nanti aku juga ingin mengalihkan saham ku untuk Yama juga, hanya saja masih terkendala ternyata saham ku masih di kuasai Arsan dan aku hanya di jadikan atas nama saja olehnya untuk mengecoh kalian," beber Raya.
__ADS_1
"Tenan saja, itu bisa di atur setelah Arsan benar-benar mati!" seloroh Sabrina cuek.