Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Apa Kami Terlambat ?


__ADS_3

Tak terlalu sulit bagi mereka memanjat jendela yang tingginya tak mencapai satu setengah meter itu, mereka semua cukup cekatan dan ahli dalam bidang itu, maka dalam sekejap saja mereka bertiga sudah berada di dalam ruang gudang yang sangat gelap, bahkan mereka tak dapat melihat telunjuknya sendiri di ruangan itu karena saking gelapnya.


Kratakkkk!


Terdengar suara seperti sesuatu terinjak, tapi baik Toni maupun ke 4 orang yang lainnya tak merasa menginjak apapun.


"Eemmmhhh,,,,emhhhh,,,,,!" Suara teriakan tertahan akibat mulut yang tertutup samar-samar terdengar.


Toni mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter dari ponsel pintarnya itu.


Nampaklah Panca yang terikat pada sebuah tiang kayu besar, entah apa yang ingin di sampaikan nya, mulutnya tertutup lakban sehingga tak jelas apq yang tengah di katakannya sekarang ini, yang pasti sejak tadi Panca terus saja berteriak dalam ketidak berdayaannya itu.


"Cepat pergi dari sini, selamatkan Dila, mereka membawa Dila!" Kata Panca sesaat setelah Toni membuka lakban dari mulutnya.


"Ya, tenang saja, kita pasti menyelamatkan kekasih mu, tapi aku juga harus menyelamatkan mu dulu," ujar Toni tenang.


"Tidak ada waktu lagi mereka akan----" ucapan Panca terhenti saat anak buah Sabrina berteriak panik.


"Asap,,,,asap,,, di sini banyak asap!" Teriak salah seorang yang masih berada di dekat jendela.


"Di sini tercium bau bahan bakar menyengat!" Timpal yang lainnya.


"Sial, mereka membakar tempat ini dari luar, cepat kita keluar lewat jendela tempat tadi kita masuk!" Perintah Toni

__ADS_1


"Di kunci, jendela nya tak bisa terbuka lagi seperti tertahan dari luar!" Teriak salah seorang yang berada di dekat jendela itu berteriak panik.


"Bukankah aku menyuruh 2 orang untuk berjaga di luar jendela? Kemana mereka ?" Ucap Toni yang tadi sudah mengatur, menginsteruksikan dan membagi tugas sedemikian rupa agar semuanya terencana, namun ternyata masih saja ada hal-hal yang di luar dugaan terjadi.


"Aku sudah memanggil nya berulang kali tapi tetap saja tak menyahut!" Jawabnya sambil terus meneriakan nama 2 temannya yang berada di luar jendela, namun sialnya tetap tak ada jawaban dari luar.


"Keluarkan ponsel kalian, nyalakan senter, kita cari jalan keluar lain!" Ajak Toni.


Namun baru saja mereka hendak menyalakan senter dari ponsel mereka masing-masing, ruangan tiba-tiba menjadi terang, bukan berasal dari nyala lampu, melainkan dari api yang menyala nyala di sekeliling bangunan.


Entah bahan bakar apa yang di gunakan Bara sehingga api langsung terlihat membesar tanpa aba-aba tak menyisakan celah sedikit pun untuk di lewati mereka, sehingga kini mereka seperti terjebak di lingkaran api yang siap menghanguskan apa saja yang berada di sekitarnya.


Sementara di luar ruangan Sabrina dan Raya langsung tampak panik saat asap putih kehitaman membumbung ke udara, Sabrina yang mempunyai trauma tersendiri akibat kematian ayahnya dalam suasana yang hampir sama seperti itu membuat lututnya lemas seketika.


Raya yang tadinya hanya tergugu melihat bangunan gudang yang terbakar itu terkesiap dan dengan sigap membantu Sabrina agar berdiri kembali.


Melihat keadaan yang tak kondusif, Cila justru menjadikan itu sebuah peluang untuk melarikan diri, jika hanya tangannya yang terikat dia masih bisa berlari, apa lagi Sabrina sedang lemah dan yang lainnya sibuk terpusat pada bangunan gedung yang terbakar.


Setelah memastikan semua aman, Cila langsung berlari meninggalkan Raya yang sibuk mengurusi Sabrina dan juga memperhatikan gudang dimana suaminya berada.


"iblis, iblis betina itu melarikan diri," susah payah Sabrina menunjuk ke arah Cila yang kini semakin menjauh dari mereka.


"Sudahlah, tak perlu memikirkan dia, yang penting keselamatan kita semua, berdoa saja semua orang dalam bangunan itu selamat." Ucap Raya.

__ADS_1


Brugh,,,,


Satu persatu tiang penyangga bangunan gudang itu runtuh, kini Toni, panca dan lainnya berada tengah-tengah bangunan di kepung oleh api, nafas mereka semakin sesak akibat asap yang memenuhi ruangan, rasa panas juga terasa sangat menyiksa di badan mereka, tubuh mereka kini memerah dan bercucuran keringat akibat kepanasan


"Sialan kau Bara, kenapa kau bakar gudang ini? Lion ada di dalam, bajingan!" Umpat Cila yang ternyata dapat menemukan dengan mudah tempat persembunyian Bara dan kawan-kawannya, yaitu di bangunan tak jauh dari gudang yang terbakar itu.


"Aku mau si pebinor itu musnah dan tak mendekati istri ku lagi, sesuai perjanjian kita aku ambil bagian ku dengan cara ku dan kau ambil bagian mu dangan cara mu!" Ujar Bara dengan santai dan tak tau malu masih mengaku-ngaku kalau Dila adalah istrinya.


"Tapi bagaimana aku bisa mengambil bagian ku jika bagian ku kau bakar dan musnahkan juga, bang sat!" Maki Cila sangat marah.


"Apa yang kau harapkan, bukan kah lebih baik dia mati dari pada dia tak bisa kau miliki? Biar saja dia mati bersama si Panca pebinor sialan itu," seloroh Bara seakan dia paling benar.


"Sialan kau, aku tak peduli jika si Panca yang mati, namun aku tak akan rela jika Lion ku yang mati, kau bere ngsek!" Cila berontak saat Bara melepaskan ikatan di tangannya.


"Sudahlah sayang, pria di dunia ini bukan hanya dia saja, kau juga bisa jadi istri kedua ku jika kau mau, aku akan menikahi mu setelah aku dan Dila rujuk, akan seru jika istri ku Dila dan Cila," Bara terbahak membayangkan jika benar dirinya menikahi dua wanita itu.


"Cih, tak sudi aku menikah dengan pria seperti mu, maimpi pun aku tak sudi!" Tolak Cila dengan keras, yang lalu di sambut tawa dari mulut Bara yang seperti tak merasa sakit hati sedikit pun dengan penolakan dan cibiran Cila untuknya.


Namun sayangnya tawa Bara dan kawan-kawannya tak berlangsung lama, karena pintu depan rumah yang menjadi tempat persembunyiaanya yang terletak tak jauh dari gudang yang terbakar itu di dobral paksa.


Setelah pintu itu roboh, maka tampaklah sosok Toni dan Panca yang berdiri berjajaran di sana.


"Apa kami terlambat mengikuti party kalian?" Tanya Toni dengan seringai liciknya.

__ADS_1


__ADS_2