
Waktu sudah menunjukkan pukul Sepuluh malam saat Toni dan Raya tiba di rumah kediaman keluarga Arsan, dimana kini akan menjadi tempat tinggal Toni juga.
Karina terlihat sumringah saat melihat Raya pulang membawa serta sang bodyguard tampan yang terlihat masih gagah bak model ternama meski sudah seharian menemani Raya bekerja kesana kemari.
"Kalian pasti lapar, ayo sini makan malam dulu, kamu juga tampan, ayo ikut makan malam dengan kami, jangan pulang dulu !" ajak Karina bersemangat dengan mata berbinar dan senyuman menggoda.
"Tentu saja dia akan ikut makan malam dengan kita bun, dan dia juga tak mungkin pulang, karena mulai hari ini dia tinggal di sini," jawab Raya.
"Di-- di sini ? Di rumah ini ?" mata Karina membulat sempurna, mulutnya pun menganga tak percaya, betapa hari harinya akan sangat menyenangkan karena di suguhi pemandangan indah dan menarik setiap harinya.
"Hem,,, tentu saja !" angguk Raya.
"Di----?" ucapan Karina menggantung.
"Di kamar tamu sebelah kamar ku, bun. Dia pengawal ku, tugasnya menjaga ku, tentu saja harus dekat dengan ku !" kata Raya seakan mengerti apa yang akan di tanyakan Karina padanya.
"Tidak bisa begitu ! Aku calon suami mu saja tidak tinggal di sini, kenapa orang asing justru dengan bebasnya tinggal di rumah ini, yang jelas jelas di sini hanya berisi para wanita saja !" sambar Martin yang tiba tiba masuk dari pintu utama.
"Ah, sayang, apa akhir akhir ini pekerjaan mu sedang begitu longgar, kamu menjadi banyak waktu luang untuk bertemu dengan ku," sindir Raya yang merasa kini Martin jadi di rasa lebih sering menemuinya.
"Dimana kamar ku ? Aku ingin mandi, ruangan ini terasa sangat panas !" tanya Toni pada Raya mengabaikan kedatangan Martin dengan segala protes tentang dirinya.
"Naiklah, kamar ke tiga sebelah kiri setelah tangga," jawab Raya.
"Aku akan mengantar mu ke sana, siapa tau kamu tersesat dan malah masuk kamar ku !" goda Karina dengan genitnya, membuat Martin merasa jengah mendengarnya.
Bagaimana tidak, pria baru itu telah merebut perhatian kedua wanita nya yang harusnya hanya tertuju padanya, sebagai calon penerus usaha raksasa Lubis corp.
__ADS_1
Tentu saja dia yang akan menjadi penerusnya, secara dia pria satu satunya di sana yang lebih pantas menyandang gelar ceo perusahaan itu, rasanya kurang pas jika posisi empuk itu di tempati oleh Raya, bahkan oleh Karina sekali pun, 'wanita bisa apa ?!' pikirnya.
Dua hari berlalu, tak ada kejadian yang mengancam jiwa dan keselamatan Raya lagi selama itu, semua aman terkendali, hanya Martin saja yang semakin gencar menemui Raya untuk mengajak tunangannya itu segera menikah dengan berbagai cara dan alasan.
Namun Raya selalu mempunyai cara untuk mengulur waktu tanpa menolaknya ataupun membuatnya curiga bahwa dia sudah mengetahui kebusukan tunangannya itu, Raya hanya ingin membuktikan kalau semua yang terjadi adalah berasal dari ulah Martin dan ibu tirinya, dan dia ingin menjebloskan mereka ke dalam penjara atas semua yang mereka perbuat, apalagi dirinya masih merasa janggal dan penasaran atas apa yang menyebabkan ayahnya koma sampai sekarang di rumah sakit, karena hati kecilnya mengatakan kalau ini ada kaitannya dengan kedua mahluk titisan iblis bermuka dua itu.
"Siang ini aku akan pulang ke kost dulu, membawa beberapa baju dan juga aku harus menemui Panca, ada hal yang ingin dia bicarakan dengan ku, katanya." Pria dingin itu tiba tiba bersikap layaknya manusia pada umumnya, berpamitan dengan benar saat dirinya akan pergi, biasanya hanya sepatah dua patah kata saja yang keluar dari mulutnya seakan kata kata itu terasa sangat mahal untuknya.
Kalau boleh jujur sih, sebenarnya Toni agak sedikit ragu meninggalkan Raya tanpa pengawasannya, bagaimana pun, keselamatan dan nyawanya adalah tanggung jawabnya, namun selain dia harus membawa beberapa baju bajunya yang masih ada di kost, dia juga harus menemui Panca guna mengungkap apa yang terjadi malam itu pada saat kecelakaan Raya, karena Panca mengatakan kalau dia baru saja punya info penting tentang kecelakaan itu.
"Ya, pulang kantor aku akan langsung ke rumah sakit melihat perkembangan ayah ku, kamu langsung ke rumah sakit saja menyusul ku," jawab Raya, meskipun agak berat melepas pria yang biasa menemaninya kemana pun itu, namun dirinya harus mengijinkan pria itu pergi, bukankah kepergiannya menyangkut tentang pengungkapan kecelakaannya tempo hari, karena sejujurnya dia pun merasa penasaran siapa dalang di balik kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya itu, meski hatinya yakin Martin dan Karina ada andil dalam hal itu, tapi dia tidak punya bukti atas semua prasangkanya itu, bukankah itu hanya akan menjadi fitnah saja bila tuduhan tanpa di sertai bukti ?
***
Di kost,
Toni memasukan beberapa potong bajunya ke dalam ransel, dia sengaja masih menyisakan beberapa baju di kamar kost yang sudah di bayarnya selama setahun ke depan itu.
"Oh, oke !" ucap Toni singkat.
Dalam hatinya bertanya tanya, untuk apa Rolan mencarinya, apa dia ingin mengajak ku mendampinginya lagi saat bertransaksi barang haram ? gumamnya dalam hati.
Namun Toni tak begitu mengambil pusing, lagi pula dia sudah tak tertarik mengikuti pekerjaan kotor Rolan, nanti kalau masih ada waktu setelah dia bertemu dengan Panca, dia akan menemui bos mafia itu.
Tiba di bengkel besar ternama milik Panca, Toni langsung mencari pria bermata sipit khas negeri tirai bambu itu di ruangan rahasia, benar saja tebakan Toni, pria itu sedang mengotak atik mobil sport berwarna kuning menyala milik Raya yang sebagian bodinya sudah dia perbaiki, body mobil itu rusak parah,mungkin akan memakan waktu lama dalam pengerjaan membetulkannya, dan lagi mungkin hasil nya tak akan sama seperti sebelum kejadian.
"Berita buruk bro !" wajah Panca terlihat serius saat menghampiri Toni yang baru saja datang.
__ADS_1
"Ada apa ?" tanya Toni tak mengerti, dia juga baru pernah lagi melihat pria yang suka bercanda itu nampak begitu serius, terakhir Toni melihat wajah Panca se serius itu saat dia bermasalah dengan sindikat pencuri kendaraan yang hendak mengeroyoknya beberapa tahun yang lalu.
"Kamera dashboard pacar mu menangkap ini !" Panca menyodorkan ponselnya yang berisi potongan video yang dia ambil dari kamera dashboard mobil Raya.
Nampak dua orang dengan tato ular di pergelangan tangannya sedang melongok lewat kaca depan mobil Raya yang sudah pecah berserakan, lalu salah seorang dari mereka terlihat menghubungi seseorang lewat ponselnya setelah memastikan kalau Raya benar benar terluka, namun mereka segera kabur setelah melihat Toni berlari mendekat ke arahobil Raya.
"Sial,,, anak buah cobra, apa mungkin dua orang yang di katakan Raya mengikutinya itu mereka ?" gumam Toni mengingat ingat kembali perkataan Raya yang menyebutkan kalau dirinya di ikuti oleh dua pria semenjak dari rumah sakit.
Cobra adalah ketua geng mafia saingan Rolan, mereka musuh bebuyutan sudah berpuluh puluh tahun lamanya.
"Oke terimakasih infonya bro,!" Toni segera berpamitan, dirinya tak tenang meninggalkan Raya sendirian, Cobra bukan orang sembarangan, meskipun dirinya bertanya tanya kenapa cobra menargetkan Raya.
Di luar bengkel saat dirinya hendak buru buru pergi mengendarai motornya, langkahnya terhenti saat tiba tiba Rolan memanggilnya.
"Lion !" seru Rolan.
Toni menghentikan langkahnya, dan urung pergi.
"Kau ada masalah apa dengan cobra,? anak buahnya mengacak ngacak sasana mencari mu," tanya Rolan.
"Aku tak pernah punya masalah apa apa dengan mereka, tapi kalau mereka ingin mencari masalah dengan ku, aku tak akan gentar !" ucap Toni sambil kembali membalikan badannya dan berlalu meninggalkan Rolan dengan segala penasaran di hatinya.
Toni semakin berpikir keras, bahkan Cobra kini mencari dirinya, apa yang sebenarnya sedang terjadi, kenapa sekuanya menjadi se rumit ini, kenapa tiba tiba ada Cobra ikut serta dalam masalah ini ? tanya Toni dalam batinnya.
**
Halo semuanya, othor mau mengucapkan :
__ADS_1
Minal aidin wal faidzin
Mohon maaf lahir batin buat semuanya,,,,,