Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Tolong Bangunlah,


__ADS_3

Memang lumayan logis juga pemikiran Panca, saat ini mereka memang masih harus bersama sama menyisir hutan, selain sama sama tak tau medan yang kini sedang di jelajahi mereka, mereka juga harus tetap berjaga jaga jika ternyata segerombolan penjahat atau bahkan hewan buas ternyata sedang mengintai mereka, bukankan akan lebih mudah jika mereka melawannya bersama sama daripada harus berpencar.


"Oke, aku ikut saran mu!" ucap Toni.


Toni yang memimpin perjalanan mereka menyisir hutan berjalan di depan, sementara yang lainnya mengekor di belakangnya.


Toni mengacungkan kepalan tangannya ke udara, memberi tanda pada ke tiga orang yang mengekornya untuk menghentikan langkahnya dan diam.


Ketiga orang di belakangnya itu serempak berhenti. Toni menempelkan jari telunjuknya di depan mulut lalu menunjuk ke arah depan sekitar lima sampai enam meter dari tempat mereka bersembunyi di balik pepohonan yang tinggi menjulang, terlihat beberapa orang pria berdiri sambil menenteng senjata laras panjang di tangan mereka.


Ada bangunan yang terlihat lebih seperti sebuah bangunan gudang yang mereka jaga oleh sekitar lima belas orang pria bertubuh tegap dengan masing masing menggenggam senjata lengkap.


"Bangunan apa itu? sangat mencurigakan, ada bangunan di tengah hutan belantara seperti ini," bisik Panca.


"Entahlah, tapi entah mengapa aku merasa yakin kalau Raya berada di sana," jawab Toni dengan berbisik juga.


Panca menurunkan ranselnya dari gendongan punggungnya, lalu membukanya dengan sangat pelan agar tak mengundang perhatian para penjaga itu.


Panca menyodorkan sepucuk senjata dengan moncong yang sudah di pakaikan peredam suara, dia juga memberikan senjata yang sama pada dua anak buahnya.


"Kau?!" Pekik Toni tertahan saat menyadari jika senjata yang kini di bagikan Panca adalah senjata jarahan milik Rolan.


"Aku hanya meminjamnya, untuk berjaga jaga, dan terbukti sekarang berguna, kan ?" Bisik Panca dengan cengir kudanya.

__ADS_1


Toni hanya melengos, sungguh sahabatnya itu selalu berbuat hal yang di luar dugaannya, senang sekali bereksperimen dengan pikirannya sendiri yang kadang bertentangan dengan pemiikiran Toni, tapi sungguh saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan sahabatnya itu.


Toni memberi kode untuk ketiga orang yang bersama dengannya menyebar, membentuk formasi dengan Toni membidik para penjaga yang berada di depan, sementara Panca dan dua anak buahnya masing-masing membidik penjaga di kiri dan kanan karena belakang tidak memungkinkan untuk mereka menggapainya.


Tiga jari toni mengacung ke udara pertanda mereka bertempat harus segera menembaki secara serempak para penjaga dari tempat oersembunyian mereka yang gelap.


Jangan tanya kemampuan Toni dan Panca dalam menembak mereka berdua bahkan pernah latihan menembak di sekolah yang sama dengan kemampuan di atas rata rata, begitu pun kedua anak buah Panca yang kini ikut bersama mereka, meski tak terbilang jago, namun lumayan lah, tembakaannya tidak terlalu melenceng jauh, terbukti dari beberapa penjaga yang tergeletak karena mendapat serangan timah panas tanpa suara ada yang yang di area kepala, jantung, bahkan ada juga yang di perut.


Para penjaga itu kelimpungan mendapat serangan yang tak terlihat dari mana asalnya, belum lagi semuanya terjadi nyaris tanpa gerakan mencurigakan dan suara tembakan, namun beberapa rekan mereka kini sudah tergeletak di tanah.


"Hai, siapa itu? Tunjukan siapa kalian, jangan jadi pengecut yang hanya berani menyerang secara sembunyi sembunyi !" ucap salah satu dari penjaga yang selamat dari amukan hujan peluru Toni Cs, kini para penjaga itu sudah bersiap dan mengokang senjata laras panjangnya di dada, bersiap memuntahkan timah panas di setiap tempat yang di anggap mencurigakan.


Namun Toni dan ketiga rekannya itu tidak terpancing, mereka tetap berada di balik pohon pohon besar menyembunyikan tubuh mereka dari sapuaan pandangan para penjaga yang mulai melihat secara jeli ke segala penjuru, mereka juga akan langsung menembakan pelurunya setiap ada gerakan baik itu hanya karena semak atau daun yang yang terkena angin atau pun hewan malam yang kebetulan lewat.


Toni memberi kode lagi untuk menyerang mereka kembali untuk ke dua kalinya setelah di pastikan para penjaga mulai panik dan ketakutan, selain jumlah mereka yang kini berkurang banyak dan tersisa hanya beberapa orang saja, ketiga orang itu mengangguk lalu melakukan penyerangan lagi.


Toni terlebih dahulu berlari mendekat ke arah gudang itu dengan Panca dan dua orang lainnya menjaga dan melindunginya dari kejauhan sambil tetap merapatkan diri di batang pohon, hal hal seperti itu memang sudah di pahami oleh merekaa yang berada di lingkaran dunia hitam yang sering berjibaku dengan senjata dan sergap menyergap.


Hanya satu orang yang akan maju, sementara yang lain melindunginya, sehingga jika terjadi apa apa, tidak banyak korban yang jatuh.


Lambaian tangan Toni dari dekat pintu bagunan itu pertanda keadaan aman dan mereka sudah boleh menyusul ke arahnya, maka ke tiga orang itu mendekati Toni sambil terus waspada dan dalam keadaan siap perang.


Dalam hitungan ke tiga Toni dan Panca menendang pintu yang setelah di coba di buka berulang kali dengan cara baik-baik tak berhasil terbuka, akhirnya mereka memakai cara kekerasan, yaitu dengan menendangnya.

__ADS_1


Terbuka sudah ruangan tidak terlalu besar hanya ruangan kotak berukuran sekitar 8x8 meter itu berisi tumpukaan kardus yang entah berisi apa, lima orang yang berada di dalam ruangan di antara tumpakan kardus itu langsung terjingkat saat mendengar suara pintu yang di dobrak dari luar, dan mereka yakin kalau itu bukan kerjaan teman temannya sesama penjaga bangunan itu.


"Siapa kalian?!" teriak salah satu penjaga dari lima orang yang kini sudah memasang kuda kuda dan siap menyerang Toni dan ketiga orang lainnya itu.


"Kalian mau tau siapa kami? Maju sini biar ku bisikan di telinga mu pake ini!" Panca mengacungkan pistolnya dan siap menembak.


Namun tiba tiba Panca berteriak dan melempar pistolnya ke arah penjaga yang memundurkan kakinya beberapa langkah karena Panca menodongkan senjata ke arahnya.


"Akh, sial! Pistol tak berguna, giliran di perlukan udah gaya gaya malah pelurunya habis!" Gerutu Panca kesal, dengan setengah berteriak.


Menyadari lawannya kehabisan peluru, sambil tertawa mengejek para penjaga itu langsung menyerang secara bersama sama, mereka tak ada yang membawa senjata, sementara senjata Toni dan kawan kawan juga sedah kehabisan peluru, jadilah mereka berduel dengan tangan kosong, dan sudah busa di pastikan hasil akhirnya seperti apa, hanya 5 lawan 4 dengan kemampuan berkelahi Toni jelas dia lawan sendirian saja para penjaga itu pasti akan kalah, apalagi ini di lawan 4 orang, meski Panca tak begitu jago dalam hal berkelahi, namun hanya dalam waktu kurang dari 10 menit saja para penjaga itu sudah berhasil mereka lumpuhkan dan tumbang bergelimpangan di ubin.


"Periksa dengan teliti tempat ini, aku yakin Raya ada di sini!" titah Toni pada ke tiga orang rekannya itu.


"Lion, di sini!" Teriak Panca histeris di balik tumpukan kardus yang menggunung, di ujung bangunan.


Toni bergegas menghampiri Panca, ah,,, betapa hati Toni kini mencelos hebat, kakinya pun seakan lemas seperti jeli yang tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.


Tubuh tegapnya seketika luruh ke lantai dimana Raya tergeletak tak sadarkan diri di atas ubin yang dingin itu.


Tangan dan kaki kekasihnya itu terikat tali, dengan mulut yang di tutupi lakban hitam, terasa hancur dunia Toni menyaksikan keadaan menyedihkan Raya di hadapan matanya kini.


Tangan Toni yang juga terasa lemas itu terulur menepuk pelan pipi sang kekasih, berharap hal paling terburuk tak terjadi pada kekasih tercintanya, tak terbayangkan betapa dia akan sangat hancur jika Raya sampai meninggalkan dirinya dalam kejadian tragis ini, dan yang pasti Toni tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai benar itu terjadi.

__ADS_1


"Raya, sayang, bangun lah!" Suara Toni terdengar sangat gemetar, apalagi saat telapak tangannya yang menyapu di pipi Raya, kulit mulus kekasihnya itu terasa dingin.


"Raya, tolong bangunlah! jangan seperti ini!" lirihnya lagi mengiba.


__ADS_2