Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Robot


__ADS_3

"Sabrina," tegur Raya memberi kode pada nya untuk tak terus-trusan mengintimidasi Cila.


"Bela teroos, sekarang sih iya masih bersayap kaya malaikat, liat saja sebentar lagi juga paling keluar tanduknya berubah menjadi ib---" ucapan Sabrina tak sempat di selesaikannya karena Cila langsung terbangun dari duduknya dengan wajah yang juga sama marahnya dengan wajah Sabrina.


"Cukup! Sejak tadi kau menghina dan menuduh ku tanpa alasan, apa masalah mu dengan ku? Jika kau tak suka aku berada di sini, aku akan pergi sekarang juga, permisi!" ketus Cila yang tak tahan mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Sabrina yang terkenal selalu ceplas-ceplos dan menyakitkan lawan bicaranya itu.


"Bagus kalau kau tau diri, tak ada yang mengharapkan kehadiran mu di sini!" Sarkas Sabrina.


"Sayang, tolong kejar Cila, aku takut terjadi apa-apa dengannya," titah Raya.


"Dih, dia datang sendiri, ya pulang sendiri lah, udah tua juga!" Kini Panca pun tak tahan untuk tak ikut berkomentar.


Karena tatapan Raya yang begitu memohon padanya, akhirnya lagi-lagi Toni mengalah, dia membuntuti Cila yang pergi meninggalkan rumahnya dengan membawa rasa kesal dan marah.


"Kenapa kamu begitu baiknya pada wanita licik itu, aku yakin kalau dia tidak sepolos itu, kau jangan terlalu bodoh jadi orang!"


Karena Cila kini sudah tak ada di ruangan itu, sekarang giliran Raya yang menjadi bulan-bulanan Sabrina, ocehannya terus saja tak berhenti dia tujukan pada Raya.


"Sabar dulu, aku tau apa yang aku lakukan, kalian tak perlu hawatir!" Ucap Raya tenang.


"Apa kau lupa kalau wanita itu tergila-gila pada suami mu, dan sekarang kau biarkan dia berdekatan seperti itu? Cari penyakit itu namanya!" Dila pun ikut berkomentar.


"Aku tau bagaimana suami ku, aku yakin dia tak akan tergoda oleh dia," Raya masih saja keukeuh dengan apa yang di yakininya.


"Terserahlah, tapi kalau sampai ada apa-apa atau wanita itu berbuat macam-macam lagi, jangan larang atau salahkan kami jika kami akan bertindak sangat keras padanya," timpal Panca.


"Kalianmemang saudara ku yang terbaik, aku bangga dan bahagia berada di tengah-tengah kalian yang sangat menyayangi ku!" cicit Raya yang tiba-tiba menjadi sangat emosional mendengar perhatian orang-orang yang kini menjadi seperti saudara nya sendiri itu, hubungannya dengan Sabrina pun terbilang sangat dekat akhir-akhir ini setelah selama bertahun tahun Sabrina membencinya atas kesalahan yang di perbuat oleh ayahnya.

__ADS_1


"Kami hanya tak ingin kalian berada dalam masalah, itu saja, walaupun masalah itu pasti datang dari mana pun, aku hanya merasa kalau sudah saat nya kita semua hidup tenang, menjalani hidup normal, dan menghindari masalah-masalah yang akan menyulitkan kita nantinya." Panca menambahkan apa yang di sampaikannya tadi, memberi kan wejangan pada Raya yang sudah di anggapnya sebagai adik sendiri untuk agar berhati-hati dalam mengambil keputusan..


Sementara di luar rumah Cila merasa besar kepala karena menyadari kalau Toni kini tengah mengejar dirinya.


"Abang tak usah peduli dengan ku," ucap Cila menghentikan langkahnyamencoba bermain drama di halaman rumah itu.


"Kau mau kemana?" Tanya Toni.


"Aku mau pulang, teman-teman abang tak suka pada ku, padahal aku hanya ingin mencoba untuk berbaur dan menunjukkan pada mereka kalau aku sudah berubah, apa aku salah kalau aku ingin berusaha menjadi lebih baik? Mereka itu tak suka pada ku, apalagi si Sabrina itu, dia terus saja berbicara sinis pada ku." rajuk Cila, berharap dirinya akan mendapatkan pembelaan dari Toni yang dia anggap kini semakin berpihak padanya.


"Mereka bukan hanya sekedar teman buat ku, tapi mereka sudah seperti saudara buat ku, meraka melakukan itu semua jelas karena tak ingin aku maupun Raya terluka atau berada dalam bahaya," tegas Toni seakan lebih menegaskan kalau sahabat-sahabatnya yang berada di dalam rumahnya itu lebih berharga dan berarti di bandingkan dengan Cila.


"Baiklah bang, kalau menurut abang Cila tak pantas untuk menjadi saudara abang, dan hanya mereka saja yang pantas untuk menjadi saudara abang. Cila memang banyak salah sama abang dan Raya, memang Cila akui itu semua, tapi Cila hanya ingin berubah menjadi lebih baik lagi, apa orang salah itu tak punya kesempatan untuk memperbaiki diri?" Cila mengiba.


"Tentu saja boleh, dan kamu juga berhak untuk mendapat kesempatan itu, ayo masuk dan makan bersama kami," ajak Raya yang menyusul mereka ke luar.


"Tenanglah, mereka tak akan bersikap seperti itu lagi, aku bisa menjaminnya, aku sudah berbicara dengan mereka semua, mereka mau menerima mu, kok!" ujar Raya sangat yakin dengan apa yang di katakanya itu.


Toni menatap istrinya penuh tanya, dia sama sekali tak yakin dengan apa yang di katakan oleh istrinya itu,


"Ayo!" Raya kembali mengajak Cila dan juga sang suami untuk masuk kembali ke dalam rumah.


Setelah bermain peran seolah olah tak mau masuk kembali ke dalam rumah, Cila akhirnya mau juga ikut masuk lagi ke dalam rumah, sekalian ingin membuktikan ucapan Raya kalau orang-orang yang berada di dalam rumah itu sudah dapat menerimanya.


Tak ada reaksi apa-apa dari semua orang yang kini sedang berkumpul di ruang makan rumah itu bersiap untuk menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh Raya dan Toni untuk para tamu istimewanya.


Tidak tiba-tiba menjadi ramah, namun juga tidak sinis dan menunjukkan ketidak sukaannya pada Cila seperti tadi saat Cila baru datang ke tempat itu.

__ADS_1


Jujur saja Toni merasa sangat penasaran dengan apa yang sudah istrinya katakan atau lakukan pada mereka semua sehingga dalam waktu sekejap saja mereka bisa berubah drastis seperti itu, apalagi Sabrina yang di kenalnya paling keras kepala itul dengan hanya waktu yang sekejap saja bisa terdiam tak mengeluarkan kata-kata beracunnya, padahal sedari tadi dialah yang paling vokal dalam menyindir dan bersikap bar bar pada Cla.


"Silakan duduk Cila, maaf jika hidangannya seadanya,"ucap Raya berbasa basi.


Toni mengedarkan pandanganya pada para sahabatnya itu secara bergantian satu persatu, semuanya seakan tak ada yang bereaksi sama sekali meski Cila kini duduk di meja yang sama dengan mereka semua.


"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Toni pada para sahabatnya dengan wajah penuh heran dan kebingungan.


"Hmmmh!" Jawab mereka serempak sambil menganggukan kepalanya juga secara bersamaan.


Hanya itu saja jawaban dari mereka tak ada kata-kata sinis atau hinaan seperti yang tadi bertubi-tubi terlontar dari mulut para sahabatnya itu.


Kini mereka lebih memilih untuk menyumpal mulut mereka dengan makanan sampai penuh dari pada mengeluarkan suara.


"Sabrina, maafkan aku jika tadi aku menyinggung


mu, aku benar-benar ingin berubah, dan aku tak punya niat buruk sama sekali pada siapapun, aku harap kita juga bisa masuk dan di terima dalam pertemanan kalian semua, aku hanya ingin menjadi lebih baik lagi," Cila membuka pembicraannya mencob mengambil simpati dari orang-orang yang berada di sana, terutama Toni.


"Hemmh!" Ucapan panjang lebar Cila lagi-lagi hanya di tanggapi dengan dehaman dan anggukan oleh Sabrina, tanpa protes dan penyangkalan sama sekali.


'Sungguh itu bukan Sabrina,' gumam Toni dalam batinnya.


Sedikit banyak dia mengenal karakter Sabrina dengan baik, tak mungkin dia dan juga para sahabatnya yang lain tiba-tiba berubah menjadi tak ubahnya seperti roobot penurut yang hanya di program untuk berdeham dan menganggukan kepala saja.


Jelas ada yang tidak beres dengan semua ini, namun Toni masih mencari penyebab ke 4 sahabatnya itu berubah menjadi sangat kompak dan penurut itu.


Begitu pun apa yang di pikirkan oleh Cila, radar bahaya dalam dirinya seakan memberikan sinyal kalau ini tak normal, seperti ada ssuatu yang sedang mereka sembunyikan atau maalah mereka rencanakan, sehingga dirinya harus lebih waspada dan hati-hati dalam bertindak.

__ADS_1


__ADS_2