
Semoga saja keputusan Toni untuk menemui Cila di sana itu adalah keputusan yang benar-benar memberi kebaikan untuk semua pihak, dimana Cila menjadi lebih baik keadaannya, dan Friska juga bisa merasa tenang.
Dan semoga saja kebaikan Raya ini tak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri kelak di hari-hari berikutnya, karena terkadang niat baik atau perbuatan baik tidak selalu mendapatkan balasan yang baik juga.
Berharap dengan kematian 3 orang yang membuat kehidupanmereka berdua seakan berada di neraka itu mengakhiri semua penderitaan dan mengakhiri semua permasalahan yang terjadi, meski terkadang terbersit pertanyaan konyol baik di hati Raya maupun di benak Toni
''Apakah semua ini benar-benar sudah berakhir?'
Tentu saja masalah itu akan selalu datang tak akan pernah ada usainya, bagi mereka orang yang hidup di bumi, karena sepanjang perjalanan hidup di dunia ini adalah tentang belajar, belajar bagaimana menghadapi masalah, bagaimana menghadapi kesedihan, kepahitan, kebahagiaan.
Karena kebahagiaan pun terkadang akan menjadi sebuah masalah jika kita tak mengeri bagaimana cara menyikapinya dengan sewajarnya.
Berangkatlah siang itu mereka ke rumah sakit jiwa tempat Cila di rawat saat ini.
Wajah Friska terlahat langsung sumringah saat mendapati Toni akhirnya memenuhi permintaannya untuk menemui sang putri yang menurut dokter sedang dalam kedaaan "Kritis" itu.
Kata kritis untuk pasien seperti Cila memang tak bisa di samakan denga keadan kritis pasien yang sedang sakit fisiknya, dalam hal ini depresi Cila semakin memburuk.
"Bagaimana bisa jadi seperti ini, tante?" Tanya Raya.
"Ini semua salah tante, saat tante curhat padanya tentang kematian ayahnya, Cila langsung ngamuk dan histeris, Tante tak punya siapapun untuk mencurahkan kesedihan yang tante rasakan, tante tak punya siapa siapa lagi saat ini!" Friska terisak di pelukan Raya.
Tak ingin ikut terhanyut dalam cerita sedih Friska, Toni menginterupsi perbincangan 2 wanita yang jarang sekali berinteraksi sebelumnya, namun kini tiba-tiba seakan sangat akrab.
"Waktu ku tak banyak, di mana aku dan Raya harus menemui Cila?" tanya Toni datar.
"Mari saya antar," ajak seorang perawat mempersilakan.
"Kamu ke sana sendiri ya, aku mau nemenin tante Friska dulu di sini, pliss!" Mohon Raya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Meskipun sebenarnya Toni agak sedikit kesal dan malas saat ternyata dirinya harus menemui Cila sendirian tanpa di temani istrinya, ini di luar kesepakatan tadi saat mereka di rumah, rasa-rasanya dirinya seperti di jebak.
Toni di bawa ke sebuah lorong di mana di sana ada ruangan-ruangan bersekat khusus untuk mengisolasi pasien yang tidak bisa di satukan dengan pasien lainnya dengan berbagai alasan, bisa karena cenderung bisa melukai pasien lain, atau bahkan bisa saja melukai dirinya sendiri.
"Silahkan, pak!" Kata perawat itu membuka pintu ruangan khusus itu.
__ADS_1
Terlihat Cila sedang berada di ranjang nya memejamkan mata dengan tangan dan kaki yang diikat di satukan dengan ranjang karena sejak semalam dia mengamuk, membanting semua barang yang ada di dekatnya, sehingga pihak rumah sakit mengambil keputusan untuk mengikat tangan dan kakinya seperti itu, agar tak melukai orang lain dan juga dirinya sendiri.
Toni mendekat ke sisi ranjang di mana di sana ada sebuah kursi menghadap ke Ranjang pasien, mungkin tempat para perawat saat memberi obat dan lain sebagainya.
Toni mendudukan diri di kursi itu, sementara dua orang perawat pria berjaga di depan pintu, menjaga jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan di sana, maka mereka akan dengan sigap memberi pertolongan.
"Cila!" Panggil Toni, menyerukan nama gadis yang dulu pernah di anggapnya sebagai adik saat sebelum kejadian demi kejadian yang membuat mereka terjebak dalam pertunangan yang salah itu terjadi.
Perlahan Cila membuka matanya saat dia mendengar suara yang tak asing di telinganya, dan sangat di rindukannya itu.
"Bang Lion!" Lirihnya.
Airmatanya mengalir dari sudut matanya tanpa di komando, pandangannya terus mengarah ke wajah Toni yang kini hadir nyata di hadapannya tak hanya dalam angannya saja.
"Bang, apa kamu benar-benar ada di sini, ini bukan mimpi, kan?" Cicit Cila lirih.
Andai kedua tangan dan kakinya tidak terikat seperti itu mungkin saat ini dia sudah berhambur berlari ke pelukan pria yang di rindukannya itu.
"Ya, aku di sini," singkat Toni menimpali ocehan lirih Cila yang terus saja memandanginya seperti enggan berpaling bahkan hanya untuk berkedip sekali pun.
Sungguh perkataan Cila barusan, telah berhasil mengusik batinnya, ada sedikit rasa iba menyeruak dalam batinnya, betapa wanita yang kini terbaring di hadapannya itu terlihat sangat menyedihkan dengan tubuh yang sangat kurus, mata cekung dengan bawah matanya yang menghitam, sungguh sangat berbeda dengan Cila yang sebelumnya dia kenal.
"Sembuhlah dulu, nanti kau boleh pulang,"
"Tapi aku tidak sakit, aku baik-baik saja, aku hanya ingin pulang, aku tak sakit apa-apa, kenapa aku di ikat seperti ini, ini sakit sekali!" Rengek Cila mengadu dan meminta bantuan pada Toni yang dirasanya pasti akan bisa membantunya.
Toni seakan kehabisan kata-kata, rasanya dia tak mampu menjawab rengekan Cila itu, sungguh sebenarnya dia merasa iba dengan keadaan Cila, namun untuk memutuskan wanita itu keluar dari sana atau tetap tinggal di sana tentu saja itu semua bukan kapasitasnya untuk memutuskan semua itu.
"Aku akan datang lagi ke sini dan berharap kamu sudah lebih baik dari sekarang ini, tolong ikuti semua anjuran dokter, dan patuhlah pada para perawat yang mengurus mu, jangan buat ibu mu bersedih, dia sangat menyayangi mu!" Kata Toni menyampaikan petuahnya.
Toni yakin bagaimana pun keadaan psikis Cila saat ini, wanita itu pasti akan bisa mendengar dan memahami semua yang di sampaikan nya pada Cila. Terbukti dari sepanjang obrolaqn mereka di sini tak ada yanda-tanda Cila mengamuk atau berteriak seperti yang di ceritakan Friska padanya di telpon.
Pembicaraan anatara dirinya dan Cila terjalin normal dan dua arah, Toni tak merasa sedang berbicara dengan Cila sebagai pasien rumah sakit jiwa, namun seperti obrolan mereka biasanya yang sering di lakukan dulu saat hubungan mereka masih baik-baik saja.
Tak terlihat sedikit pun depresi di wajah Cila saat ini, hanya terlihat perubahan fisik yang begitu sangat kentara saja, selainnya terlihat dan terasa biasa saja.
__ADS_1
Toni memanggil dua perawat yang berdiri di depan pintu itu.
"Apa aku boleh meminta kalian untuk membuka ikatan di tangan dan kakinya?" Tanya Toni.
Kedua perawat itu saling melempar pandangan,
"Aku menjamin tak akan ada apa-apa, aku bertanggung jawab jika sampai dia mengamuk atau menyakiti diri sendiri dan orang lain," terang Toni.
"Tapi kami ---"
"Aku akan bertanggung jawab!" kata Toni yakin.
"Baiklah," kedua perawat itu akhirnya menuruti permintaan Toni, di mulai dari membuka ikatan tangannya, lalu membuka ikatan di kedua kakinya.
Benar saja Cila langsung berhambur memeluk Toni saat ikatan di tangan dan kakinya baru saja terlepas.
"Terimakasih bang, Cila sedih berada di sini, tolong katakan pada ayah dan ibu kalau Cila ingin pulang dan Cila tak akan nakal lagi," bujuknya.
"Ya, nanti aku sampaikan pada mereka." jawab Toni hanya bisa pasrah saat Cila memeluknya dengan erat, dia hanya membiarkan Cila memeluknya tanpa membalas pelukannya sama sekali.
Toni mulai berpikir kalau tak ada salahnya jika dia membantu kesembuhan Cila, demi kemanusiaan.
Entahlah rasa benci dan marah itu terbang begitu saja saat melihat keadaan Cila yang begitu menyedihkan itu di hadapannya.
"Bagaimana?" Tanya Raya dan Friska hampir bersamaan, saat Toni terlihat kembali ke tempat mereka di lobi rumah sakit.
"Dia sudah mulai kembali tenang sekarang, tak ada perlawanan, bahkan saat tadi aku menyuruhnya untuk makan dan meminum obatnya, dia menurut," terang Toni yang meninggalkan Cila setelah wanita itu makan dan meminum obatnya, lalu tertidur akibat efek obat yang di minumnya.
"Tolong untuk kalian datang ke sini lagi beberapa kali di lain waktu agar Cila dapat kembali sembuh dan pulang, tante benar-benar kesepian di rumah setelah ayahnya Cila tiada." Friska mengiba.
"Tenang saja, kami akan mengunjungi Cila lagi, Tante." Raya mengambil keputusannya sendiri tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pada Toni.
"Iya kan, sayang?" Raya ,menoleh ke arah Toni yang hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.
Sungguh ini merupakan dilema berat baginya. Bukan tentang tak mau menolong sesama atau tak ingin meringankan beban Friska, atau bukan juga tak sudi menjalankan amanat yang di berikan Rolan padanya, ini lebih ke Toni takut kalau di suatu hari nanti keputusannya akan menjadi bomerang buat dirinya sendiri, sungguh dia takut jika harus menyesali keputusannya hari ini di lain waktu.
__ADS_1
Namun jika dirinya tidak menyanggupi permintaan Friska, sepertinya dia tak hanya akan membuat kecewa ibu dari Cila itu, namun sepertinya dia juga akan membuat istrinya yang begitu antusias menjadi kecewa juga.