Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Empat Enam


__ADS_3

Mang Dasep membukakan pintu saat waktu sudah menjelang malam, Raya dan Toni sampai di rumah yang lebih mirip villa kuno itu.


Pria itu tak banyak bertanya pada nona nya, meski di lihatnya Toni menurunkan dua buah ransel besar dari bagasi mobil.


"Siapkan kamar untuk Toni mang, mungkin kami akan tinggal agak lama di sini," titah Raya.


Meski agak sedikit kebingungan, mang Dasep mengangguk dan patuh.


Sesuai perintah dan petunjuk Raya, Toni menempati kamar yang bersebelahan dengan kamar yang di tempatinya, seperti saat dulu di rumah lamanya, itu akan lebih memudahkan jika Toni ataupun raya ada ada suatu hal yang perlu di diskusikan, lagi pula baik Raya maupun Toni masing masing merasa dirinya akan lbih tenang jika mereka tak berjauhan.


Malam semakin larut, setelah menyantap makan malam yang di siapkan oleh ang Dasep, terlihat kini Raya masih asik mengobrol dengan pria yang selama puluhan tahun mengurus aset aset warisan yang di tinggalkan almarhum ibunya untuk dirinya itu.


Sepertinya Raya sedang menceritakan apa yang tengah terjadi padanya dan juga keluarganya pada mang Dasep yang sudah di anggapnya sebagai keluarga itu, Raya percaya kalau mang Dasep adalah orang yang bisa di percaya dan tak mungkin menghianatinya, terbukti sampai kini dia masih setia mengabdi dan menjalankan wasiat ibunya untuk mengelola semua perkebunan dan peternakan, tanpa sedikitpun niata mencuranginya.


"Yang sabar ya neng, karena hidup terkadang tak melulu tentang apa yang kita harapkan, tapi biasanya tentang apa yang kita butuhkan, kalau semuamasalah ini tidak datang pada neng, mana mungkin neng Raya akan tau mereka yang terlihat baik dan manis di hadapan neng ternyata menyimpan niat busuk, jalani saja semua dengan ikhlas, mamang yakin ujian ini akan membawa neng Raya menjadi wanita kuat dan hebat,!" ucap mang Dasep merasa ikut prihatin dengan apa yang di alami putri dari nyonya nya itu.


"Tapi ini terlalu tiba tiba dan semua masalah seakan datang langsung begitu banyaknya menghampiri, jujur saja aku hampir menyerah," adu Raya pada pria yang seharusnya seumuran dengan ibunya jika kini Maria sang ibu masih hidup, karena Maria dan Dasep dulu adalah sahabat saat mereka bsekolah di kampung itu.


"Haha,,, masalah memang biasanya tak datang sendirian neng, selalu ngajak kawan kawannya,,!" canda mang Dasep.


"Tapi percayalah, di perlukan masalah yang banyak dan rumit untuk menjadi hebat dan kuat, semangat, neng !" mang Dasep menepuk nepuk pundak Raya sebagai ungkapan bahwa dia memberinya kekuatan dan dukungan penuh atas apapun yang Raya lakukan.


"Terimakasih mang,!" ucap Raya yang terlihat lebih tenang setelah berbicara banyak dengan mang Dasep.


Toni yang sejak tadi memperhatikan interaksi Raya dengan mang Dasep terlihat mendekat setelah mang Dasep meninggalkan Raya duduk sendirian di teras rumah.


"Buatkan aku kopi !" titah Toni yang tiba tiba saja duduk dikursi yang tadi bekas di duduki Dasep.


"Ishhh, kamu bikin kaget saja, lagian aku yang bayar kamu tapi malah aku yang harus meladeni mu,!" sewot Raya yang merasa terkejut dengan kedatangan Toni yang tiba tiba duduk di dekatnya.


Jujur saja hatinya masih selalu berdetak sangat kencang jika harus berdekatan dengan pria galak itu setelah kejadian Toni mencium pipinya, padahal Toni sepertinya terlihat tenang tenang saja seperti tak pernah terjadi apapun dengan mereka.


'Apa aku yang ke geeran sendiri ya ? Kenapa sepertinya dia tak merasa canggung atau grogi setelah kejaian itu seperti yang aku rasakan sekarang ini ?' batinnya, di tengah kegiatannya mengaduk kopi untuk Toni di dapur.

__ADS_1


"Bagaimana tangan mu ? Sudah baikan ?" tanya Toni saat Raya menyodorkan satu cangkir kopi ke hadapannya.


"Emhh,,, sudah baikan, gak terasa sakit lagi, paling kadang kadang terasa sedikit sakit kalau tak sengaja tersenggol," terang raya sambil memperlihatkan luka di lengannya dengan menyingkap lengan bajunya.


Toni hanya manggut manggut,


"Bagus, berarti mulai besok kau siap berlatih dengan ku !"


"Berlatih apa ?" Raya terkesiap.


"Bela diri, kau terlalu lemah, sehingga dengan mudah di kalahkan dan di perdaya lawan, aku tidak selamanya di sini menjaga mu," jawab Toni.


Hati Raya seperti sedang mengendarai mobil di sebuah tanjakan, mencelo hebat, "Apa maksud mu tiak akan selamanya menjagaku ? bukan kah kamu berjanji akan menemani ku? apa itu berarti kamu akan meninggalkan ku juga, seperti yng lainnya ?" cecar Raya yang matanya sudah mulai berkaca kaca, membayangkan dirinya akan benar benar sendirianmenghadapi semua masalah dan musuh musuhnya, karena ternyata Toni pun akan meninggalkan dirinya


"Aku harus ke Jakarta dulu melihat situasi dan kondisi di sana, kau tinggal di sini dulu, hanya satu atau dua hari saja aku kembali," ucap Toni yang memmutuskan untuk mencari tahu tentang ketrlibatan Cobra dalam masalah ini, dan dia tak ingin membahayakan Raya jika gadis itu ikut bersamanya.


"Tapi---" protes Raya.


"Tiga hari lagi aku baru akan pergi, jadi selama tiga hari itu kau akan berlatih dasar dasar bela diri dengan ku, sekarang istirahat lah, besok pagi sekali kita harus sudah berlatih, tak ada waktu lagi untuk bersantai," perintah Toni seperti biasa seakan titah kaisar yang tak menerima bantahan.


Tiga hari lagi Ton dan Paca sudah menyusun strategi untuk mengungkap tabir di balik keterlibatan Cobra, dua orang anak buah Panca bahkan sudah menyusup ke lingkunga kelompok mafia Cobra untuk mencari informasi yang di butuhkan.


***


Pagi pagi sekali Toni menggedor kamar Raya dengan rusuhnya, karena beberapa kali di ketuk tak ada sahutan dari dalam kamar gadis manja itu.


"Ya Tuhan ! Berisik sekali, aku masih sangat ngantuk !" protes Raya sembari membuka pintu kamarnya dari dalam.


"Apa kau tak dengar semalam aku berbicara ? Kita akan berlatih pagi ini, ?!" kesal Toni yang melihat Raya masih saja bermalas malasan dan merebahkan tubuhnya kembali di kasur setelah membukakan pintu kamarnya.


"Tapi ini masih jam 5 subuh, Toni, bahkan pemetik teh saja belum pada berangkat, udara di luar masih dingin karna kabut tebal, !" pekik Raya menunjuk jam yang tergantung di dinding kamarnya.


"Aku beri waktu sepuluh menit untuk mu bersiap, kalau tidak, aku akan menyiram mu, cepat, aku tunggu di luar !"

__ADS_1


Suara berat dan tegas Toni ternyata berhasil membuat rasa kantuknya pergi jauh entah kemana, Raya lansung bersiap diri.


Benar saja, saat mereka berjalan keluar, kabut tebal dan udara dingin langsung menyambut mereka pagi itu, bahkan matahari saja belum menampakan dirinya, padahal waktu dudah hampir menunjukkan pukul 6 pagi.


"katanya mau latihan bela diri, kenapa dari tadi kita hanya berlari lari kecil saja ? ini sih namanya latihan joging !" protes Raya ketika dirinya hanya di ajak berlari lari kecil semenjak meeka keluar rumah.


Nafas Raya tersenggal senggal karena kelelahan, dia bahkan tak ingat kapan terakhir kali dirinya berolah raga, mungin itu terjadi beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih menjadi murid sekolah menengah atas saat jam pelajaran olah raga yang jarang dia ikuti karena dia sangat tak suka berkeringat dan lengket.


"Bagaimana kau mau belajar bela diri, baru berlari sedikit saja sudah kepayahan, fisik mu lemah !" ejek Toni membakar semangat Raya.


"Aku kuat, sangat kuat akan ku buktikan !" ucap Raya yang merasa tertantang atas ucapan Toni yang mengejek dirinya.


Ini hari ke tiga Raya berlatih bela diri, dan itu berarti besok Toni harus kembali ke Jakarta sendirian.


"Ingat, semua anggota tubh mu adalah senjata, tangan, kaki, kepala, bhkan gigi mu bisa kau gunakan untuk menggigit lawan mu, gunakan semua benda yang ada di dekat mu sebagai benteng pertahanan dan perlawanan mu, kau paham ?" terang Toni yang di jawab anggukan kepala Raya yang sebenarnya menyimpan kegalauan karena tak ingin berpisah dengan bodyguardnya itu.


"Sekarang pukul Aku !,,, Lebih keras !,,, Pukulan mu tak bertenaga !" ucap Toni mengomentari tinju Raya yang di layangkan padanya berulang kali.


"Toni,,, bisakah aku ikut dengan mu besok ? Aku tak mau sendirian di sini, ayolah,,,!" rajuk Raya


Namun tiba tiba,


"Raya,,,,,!" panggil seorang wanita manis sebayanya yang berlarian ke arahnya lalu berhambur memeluk tubuh Raya yang sampai mundur beberapa langkah akibat bertubrukan dengan tubuh Raya.


Tapi saking bersemangatnya, wanita itu justru malah terpelesat dan hampir saja jatuh ke parit jika Toni tak sigap menangkap pinggang gadis manis itu.


Sesaat gadis itu terpesona menatap wajah tampan Toni yang saat itu bercucuran keringt karena dari tadi melakukan sesi latihan bersama Raya,


Hingga Toni melepaskan pegangannya di pinggang gadis itu karena dehaman Raya,"Eheemmm,,,!"


"Maaf, kang,,,!" ucap wanita itu malu malu.


"Dila? Kapan datang ? katanya kamu bekerja di kota ?" pekik Raya lalu memeluk wanita yang bernama Dila yang ternyata anak mang Dasep yang bekerja di Bandung kota sebagai akuntan sebuah perusahaan textile.

__ADS_1


"Iya, kemarin Bapak mengabari ku untuk pulang karena katanya kamu sedang ada di sini, kemarin saat kamu kesini kita tak sempat ketemu, akhirnya kita ketemu juga,,!" ucap Dila yang ternyata sudah akrab dan bersahabat sejak mereka kecil, meski jarang bertemu, tapi ketika dulu ibunya sering membawanya ke Bandung, dia akan selalu menangis tak ingin pulang karena betah bermain bersama Dila.


__ADS_2