
Raya Tak mengeluarkan sepatah kata pun saat Toni duduk di sampingnya, tepatnya di antara dirinya dan Cila, tak seharusnya dia mempunyai perasaan cemburu pada Cila seperti yang di rasakannya saat ini, hampir saja tadi Raya berlari dan memeluk Toni saat suara Toni terdengar di luar ruangan, namun saat melihat Cila yang akhirnya berdiri dan berlari memeluk bodyguardnya itu, hati Raya hanya bisa menahan perih, hanya bisa menatap dengan tatapan yang mungkin terlihat menyedihkan bagi Toni yang juga tadi sempat menatapnya di sela pelukan hangatnya dengan Cila, lebih tepatnya saaat Toni di peluk Cila.
Sungguh saat ini dia satu satunya orang yang terlihat menyedihkan di tempat itu, di rampok, hampir di bunuh dan hampir di perkosa, lalu masih harus menahan perihnya hati karena pria yang biasanya menjadi sandaran saat dirinya bersedih harus kembali ke pelukan pemilik aslinya, pikirnya.
Sialnya, Toni juga tak melirik atau bahkan bertanya keadaan Raya sedikit pun, meski dia berada tepat di sampingnya saat ini, sungguh situasi ini mebuatnya hanya bisa menangis sambil memandangi ubin, membiarkan air matanya langsung jatuh ke ubin agar tak ada jejak air mata di pipinya.
Beruntung situasi canggung itu tak berlangsung lama, karena Rolan dan beberapa anak buah nya sampai di tempat itu.
"Cila,,, sayang,,, kamu baik baik saja, kan nak ?" tana Rolan sambil membolak balik kan tubuh Cila melihat apa ada luka di tubuh putri kesayangannya itu.
"Cila baik baik saja ayah, tapi Raya terluka, mereka mau membunuh dan memperkosa kami ayah !"adu Cila pada ayahnya.
Blush,,,
Tubuh Toni meremang dan memanas seketika mendengar aduan Cila, tak dapat dia bayangkan jika hal it terjadi pada kedua gadis itu, dimana yang satu sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, dan satunya lagi gadis yang diam diam dia sukai.
"Bajingan mana yang berani menyentuh putri ku dan temannya, kalian, cari tau segera, bawa cecunguk cecunguk itu ke hadapan ku dalam keadaan hidup, ingat,,, dalam keadaan hisup meski tangan atau kakinya bahkan kepalanya tak utuh lagi, tapi nyawanya harus masih ada, karena aku ingin menghabisinya dengan tangan tangan ku sendiri !" titah Rolan pada para anak buahnya, membuat siapa pun yang ada di sana merinding mendengarnya.
"Terimakasih Lion, atas informasi nya," ucap Rolan lagi menepuk bahu Toni.
"Semua ini tak gratis !" ucap Toni, membuat kening Rolan sedikit berkerut dengan sebelah alisya terangkat, seraya berkata 'Apa maksud mu ?'
"Aku ingin kau membayar semua ini dengan memberikan para bajingan itu padaku ketika nanti mereka tertangkap, aku akan menggantungnya di sasana, bukankah kita sudah lama tidak latihan bersama, sepertinya akan menyenangkan menjadikan mereka samsak hidup !" ucap Toni tenang namun tegas dan penuh penekanan.
__ADS_1
Tawa Rolan pun pecah seketika, "Tenang saja, sepertinya tak akan lama lagi kita akan berlatih bersama !" ucap Rolan terkekeh.
"Aku sudah menghubungi keluarganya untuk menjemputnya, kalian pulanglah, bir aku menungguiny sampai keluarganya datang mejemput !" tunjuk Toni pada Raya yang masih tertunduk di tempat yang sama.
"Tapi,,, kenapa gak pulang bareng kita aja,?" protes Cila yang merasa aneh, sejak kapan Toni tau nomor telepon keluarga Raya? Kenapa pria itu mengatakan sudah mnghubungi keluarga Raya untuk datang menjemput ? pikirnya.
Namun Rolan meyakinkan putrinya itu untuk segera pulang bersamanya, karena malam juga semakin larut, dan ibunya Cila di rumah sudah sangat menghawatirkannya,
***
"Ayo pulang !" ajak Toni pada Raya yang masih terduduk sambil menangis, suara pria itu seperti menahan marah, tak ada uvapan lembut atau senyuman yang keluar dari bibir pria arogant itu.
"Hah ? Bukankah ku sudah menelpon keluarga ku untuk menjemput ku ?" Raya mengangkat wajahnya dan bertanya dengan polosna.
"Memangnya kau punya keluarga ?" sinis Toni, tentu saja ucapan pria itu berhasil memukul telak persaannya.
"Aku memang gak punya keluarga atau pacar yang bisa menjemput ku seperti halnya Cila yang di jemput ayahnya dan kamu pacarnya, tapi ya,,, gak usah bilang gitu juga kali !" cicit Raya dengan mulut yang mengerucut, menggoda iman Toni yang sejak tadi sangat ingin memeluk gadis itu dan menenggelamkan kepala Raya membiarkan gadis itu menumpahkan airmata di dadanya seperti biasa.
"Auwhh,,, ringis Raya saat toni menyampirkan jaketnya di punggung Raya agar gadis itu memakainya, namun sepertinya jaket kulit itu mengenai luka di lengan Raya sehingga gadis itu meringis kesakitan.
Akhirnya dengan hati hati Toni membantu Raya memakaikan jaket, dan setelah berpamitan dan berterima kasih pada warga yang menyelamatkan, mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu dengan mengendarai motor.
Hati Toni terasa di cubit ketika merasakan kepala Raya bersandar di bahunya, beberapa saat kemudian bahunya terasa basah, sepertinya Raya sedang menangis di balik tubuhnya yang serius berkendara itu.
__ADS_1
Ada rasa menyesal telah membiarkan raya pergi denngan Martin siang Tadi, andai saja tadi dia dapat melarangnya, mungkin tangan dan hati gadis itu tak akan terluka seperti sekarang ini.
Sungguh membayangkan Raya menjerit ketakutan dan kesakitan karena ulah para penjahat tadi membuat darah Toni lagi lagikembali mendidih, dia bersumpah akan membunuh para penjahat itu dengan cara yang tidak mudah, mereka harus tersiksa terlebih dahulu sebelumnya.
Sampai di rumah sakit, Raya segera di tanganidi ruang igd, saat di rumah warga dia hanya mendapat pertolongan seadanya, ternyata lukanya cukup lebar dan dalam, dokter harus menjahitnya, Raya yang ketakutan meminta Toni untuk menemaninya di dalam ruangan, tangan Raya meremas erat jari Toni saat dokter membersihkan lukanya lalu menjahitnya setelah sebelumnya di beri suntikan anastesi.
Tangan Toni terulur dan mengelus kepala Raya seolah ingin mengatakan 'Tenanglah, aku ada di sini' pada adis itu agar dia merasa tenang walaupun dengan wajah yang tetap datar tanpa ekspresi sama sekali.
"Ini sakit sekali !" ucap Raya setelah selesai di jahit.
"Tak usah mengada ada, tangan mu sudah di bius sebelum di jahit, tak akan terasa apa apa !" ucap Toni.
Entah mengapa tiba tiba Raya teringat dengan ayahnya, karena kebetulan sedang di rumah sakit yag sama, Raya memutuskan untuk mampir menjenguk ayahnya, seharian ini di memang belum melihat ayahnya.
Namun betapa terkejutnya Raya ketika mendapati ruangan yang biasanya ayahnya tempati sudah kosong.
Raya berlari mencari perawat dan menanyakan keberadaan ayahnya.
"Maaf, tuan Arsan sudah dipindahkan oleh keluarganya untuk berobat ke luar negeri tadi pagi." ucap perawat itu.
"Apa ? Ta- tapi saya anaknya, satu satunya keluarganya yang bertanggung jawab, siapa yang memindahkan ayah saya ?"teriak Raya histeris.
Perawat itu kemudian mengajaknya ke ruang informasi dan ke ruang dokter yang bertanggung jawab dalam penyembuhan Arsan.
__ADS_1
Dari sana Raya mendapati surat surat kepindahan perawatan ayahnya yang di tanda tangani olehnya, padahal Raya tidak pernah merasa menanda tangani surat itu, namun tanda tangannya benar benar terlihat asli dan tak di palsukan.
Tubuh Raya meluruh di lantai, kakinya serasa tak bertulang, sungguh cobaan tak pernah berhenti datang padanya, baru saja dia lolos dari bahaya yang mengancam nyawanya, kini harus mendapati kenyataan kalau ayahnya hilang entah kemana.