
Lama sekali Toni mematut diri di depan cermin, dia memandangi pantulan dirinya di sana, memantapkan kembali pada hatinya, akan keputusan yang telah di ambilnya sekarang ini, garis mata nya menghitam karena beberapa hari terakhir ini tak beristirahat dengan baik bahkan tiga hari terakhir ini dia tak tidur akibat perjalanan bolak baliknya ke Bandung yang di lakukannya tiga malam berturut turut.
Ingin rasa dirinya meninju cermin di hadapannya sampai hancur, di mana dia melihat pantulan dirinya yang seperti sedang menertawakan perihnya hati yang kini terus di rasakannya semenjak perpisahan dengan Raya semalam, namun kepalan tangannya seolah tertahan saat sebuah gelang rantai perak tertangkap oleh matanya.
Toni mengusap wajahnya kasar, lalu menyugar rambutnya ke belakang dengan jari jari tangannya,
'Ini semua demi Raya, kehidupannya masih panjang dan berhak bahagia, sementara aku memang tak punya tujuan hidup semenjak dari awal, selain membuat dia bahagia,' gumamnya dalam hati seraya membangkitkan kembali semangatnya dan menyalakan tekadnya, mengingatkan kembali pada dirinya kalau semua ini demi kebahagiaan Raya.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh menit pagi, kurang dari satu jam lagi acara lamaran yang di adakan di sebuah hotel berbintang pada jam sepuluh pagi itu akan segera di mulai.
Saat dirinya sampai di kost dini hari tadi, setelan jas yang yang harus dipakainya pada acara tunangan hari ini sudah tergantung rapi di cantelan pintu, lengkap dengan catatan kecil 'Pakailah ini di hari pertunangan kita,' tentu saja,,,, siapa lagi kalau bukan Cila yang mempersiapkan itu semua untuknya, wanita itu jelas sangat tahu kalau Toni akan datang dengan jaket kulit kesayangannya dan celana jins robek jika dia tak mempersiapkan semua pakaian itu untuknya.
Sedikit ragu, Toni mengenakan pakaian yang terlihat rapi dan wangi dalam gantungan berbungkus plastik transparan itu, ponselnya berbunyi, Rolan sepanjang malam sampai tadi pagi terus menghubunginya, bahkan beberapa pesan yang sama pria tua itu kirimkan sekedar mengingatkan kalau Toni harus menepati janjinya dan tak boleh mengecewakan dan mempermalukan Cila dan juga dirinya.
Toni hanya melihat layar ponselnya sekilas, lalu mengabaikannya seperti semalam, lebih parah, bahkan kini dia me non aktifkan ponselnya itu.
Di sebuah ballroom hotel berbintang, yang di dekor dengan tema serba merah muda seperti permintaan Cila, tampak suasana sudah ramai di datangi para tamu undangan yang merupakan kolega bisnis Rolan dan juga teman teman geng sosialita Cila, tentu saja.
Cila sudah nampak cantik dengan gaun merah muda bak puteri raja, dia tak berhenti menengok ke arah pintu utama, menunggu kehadiran sang pujaan hati yang belum juga datang sampai detik detik waktu akan di mulainya acara.
Sementara pria setengah baya dengan pakaian jas lengkap terlihat gusar dan mondar mandir dengan ponsel di tangannya.
"Sial,,, sekarang dia malah mematikan ponselnya ! Awas saja, akan ku bunuh dia kalau sampai dia tak datang !" umpat Rolan dengan wajah yang memerah menahan kesal dan marahnya.
"Siapa yang akan kau bunuh itu ?" suara seorang pria yang yang dinantikan hampir semua orang yang berada di ruangan itu sontak saja membuat bibir Raya, Rolan dan Diana serempak menyunggingkan senyum kelegaan.
Toni sang mempelai pria akhirnya datang, dengan setelan jas hitam rapi membuat semua mata wanita yang ada di sana terpana dengan ketampanan sang petarung andalan di sasana milik Rolan itu.
"Kau hampir membuat ku jantungan, aku pikir kau akan melarikan diri, aku sudah menyiapkan ratusan anak buah ku untuk menangkap mu hidup atau mati !" ucap Rolan.
Namun Toni tetaplah Toni, di kata seperti itu dia hanya tersenyum miring, dia terlalu malas berbasa basi, baginya acara hari ini ingin segera dimulai dan berakhir, agar dia akan dengan cepat mulai melaksanakan rencana yang sudah di susunnya untuk menyerang Cobra.
"Abang,,, kamu tampan sekali, aku bahagia sekali abang akhirnya datang,!" Cila mendekati calon tunangannya dan bergelayut manja di tangan kekar Toni yang terlihat dingin dan cuek saja dengan kelakuan manja Cila padanya, dia sudah pasrah, ini sudah merupakan akhir dari perjalanan cintanya, tak ada kata lain selain, JALANI SAJA.
__ADS_1
"Andai ada pilihan lain selain harus datang, aku tentu akan memilihnya !" ketus Toni.
"Cepatlah acaranya di mulai, aku tak nyaman berada di acara seperti ini !" sambung Toni.
"Kau tak sabaran sekali, menantu,,,! baiklah acara akan segera ku mulai," ucap Rolan debgan seringai puasnya.
Acara demi acara pun berlangsung sukses, bahkan acara tukar cincin pun sudah selesai di laksanakan, kini hanya tinggal acara santai, dimana Rolan memamerkan calon menantunya itu pada kolega kolega bisnisnya dengan bangga, seakan memberi sebuah ancaman pada mereka, kalau klan mafianya akan semakin kuat dengan hadir nya Toni di kelompok nya.
Toni merasa sangat muak dengan semua rangkaian acara yang hanya tentang pamer kebahagiaan Cila dan keluarganya saja, membuat pria itu memutuskan untuk keluar ruangan, dia memilih untuk membakar rokoknya di ruang taman terbuka hotel, yang berada tak jauh dari ballroom itu.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah menuju ke taman itu, dirinya di kagetkan dengan sosok cantik yang kini berdiri di hadapannya, sungguh jantungnya terasa bagai berhenti berdetak saat itu.
"Selamat atas pertunangan kalian,,,!" Suara Raya tercekat, seperti tertahan di tenggorokannya yang terasa sakit bahkan hanya untuk sekedar bernafas.
Cila yang tiba tiba ada di samping Toni langsung menggandenga tunangannya itu, seakan takut Raya akan mengambilnya.
"Panca !" mata Toni mengarah tajam pada Panca yang saat itu menemani Raya datang ke sana,
"Ikut aku !" dengan kasarnya Toni mencengkram kerah jas Panca dan menyeret paksa sahabatnya itu menjauh dari ruangan itu, tanpa memperdulikan dirinya yang kini menjadi tontonan para tamu undangan.
"Bro,,, Lion,,, denger penjelasan gue dulu !" cicit Panca ketakutan, dia tak dapat membayangkan jika dirinya kini akan menjadi sasaran kemarahan sang singa jantan.
"Berengsek kau, bajingan bukan kah aku sudah bilang jangan katakan apapun, kenapa kalian malah sengaja datang ke sini, huh ?!" teriak Toni, satu tinju pun mendarat sempurna di wajah Panca sampai hidung pria berkulit putih itu mengeluarkan darah segar.
Toni kehilangan kendali dan akal sehatnya, dia sungguh tak menyangka jika sahabatnya akan tega menghianati nya seperti itu, kepalan tangannya kembali berayun hendak menghajar pria di hadapannya yang tengah meringis kesakitan, sepertinya Toni tak peduli jika harus membunuh Panca sekali pun, baginya kesalahan Panca kali ini terlalu fatal dan tak dapat dia maafkan.
"Hentikan !" Raya merentangkan lebar kedua tangannya dan berdiri di depan tubuh Panca, dia menjadi tameng hidup untuk pria naas itu.
"Minggir, ini urusan ku, kau tak perlu ikut campur. aku akan menghajarnya sampai mati !" geram Toni, menghindari berpandangan mata dengan Raya yang menatapnya galak.
"Ini akan menjadi urusan ku, karena aku yang memintanya menemani ku ke sini, kau harus melangkahi mayat ku dulu sebelum menghajarnya sampai mati !" tegas Raya dengan pandangan menantang.
"Aaaah,,,,,Shiiiiitttt !" teriak Toni putus asa.
__ADS_1
***
Flah back,
Beberapa jam setelah kepergian Toni, Raya tak dapat tertidur, dia terus teringat sikap Toni yang tiba tiba berubah sanat manis padanya, dia juga teringat momen momen indah yang mereka lalui seharian ini, semua itu membuatnya senyum senyum sendiri, dia bahkan nekat berencana akan menyatakan perasaan sukanya pada Toni, tak peduli pria dingin itu akan menerimanya atau bahkan menolaknya, meskipun dirinya sangat yakin seribu persen kalau Toni pun sebenarnya menyimpan perasaan yang sama pada dirinya.
'Tak ada buruknya wanita menyatakan cinta terlebih dahulu, bukan ?' pikirnya.
Suara pesan masuk di ponselnya membuyarkan lamunan manisnya, apalagi saat dirinya membuka pesan yang ternyata datang dari Cila sang sahabat, yang mengundang dirinya ke pesta pertunangannya yang akan di laksanakan besok jam 10 pagi, Raya bahkan harus men zoom dan membaca pesan itu berulang ulang saat menbaca calon tunangan Cila itu tertulis Lion.
"Ah,,, bukan,,, bukan Toni,,, mungkin Lion yang lain, lagi pula kalau memang itu dia, harusnya di sana tertulis Toni, bukan Lion," Raya terus menyangkal dari pikiran pikiran yang bergerak bak bola liar di kepalanya.
Namun semenit kemudian, satu pesan dari Cila datang lagi, 'Kamu datang kan, di acara pertunangan ku sama bang Lion ?' begitu kira kira isi pesannya.
Mendadak wajah Ra layu seketika, air matanya jatuh berderai tanpa aba aba, tergopoh gopoh Raya turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya,
Panca, dia yakin kalau pria itu pasti tau tentang masalah pertunangan ini, dia harus menanyakan hal ini pada Panca sekarang juga.
"Mas Panca,,,,mas Panca,,,!" panggil Raya sambil mengetuk ngetuk pintu kamar yang tadinya di tempati Toni dan sekarang di tempati Panca itu.
Tubuh Raya seolah kehilangan tenaga bahkan untuk memanggil sahabat Toni itu.
"Ada apa ?" Panca yang sepertinya baru saa mau tidur sangat kaget mendapati Raya yang kini terduduk bersimpuh di lantai berurai air mata dengan ponsel yang dia dekap di dada samil memanggi nama Toni lirih.
"Ada apa dengan Lion ? apa yang terjadi, tenanglah katakan apa yang terjadi, Dila,,, Dila,,,,!" Panca langsung merasa panik dan memanggil manggil Dila untuk datang membantunya.
Pikiran buruknya saat ini adalah Raya mendapat berita kecelakaan Toni yang sedang dalam perjalanan ke Jakarta.
Raya menyodorkan ponselnya dan memperihatkan isi pesan yang di kirimkan Cila padanya perihal pertunangan mereka.
"Hufhfhhhh,,," Panca membuang nafasnya lega, ternyata bukan tentang kecelakaan Toni, tapi ternyata masalah ini juga tak kalah seriusnya, dia bingung harus menjawab atau menjelaskan apa pada Raya perihal ini.
"Jelaskan pada ku, kenapa kalian menyembunyikan ini semua dari ku ?" tanya Raya menyidang Panca, seolah dia baru saja mendapat kabar jika kekasihnya berselingkuh, padahal, di antara Toni dan dirinya tak ada hubungan apapun, tapi mengapa rasanya sakit sekali mengetahui pria dingin yang pernah menciumnya itu akan bertunangan dengan orang lain ?
__ADS_1