
"Untuk keberhasilan kita!" Cila mengangkat gelasnya yang berisi wine ke udara dengan senyum yang merekah seakan mendapatkan kembali angin segar dalam upayanya meraih obsesinya yang sudah mengubun-ubun.
Selang dua hari selanjutnya setelah kedatangan Cila di rumah Toni dan Raya, mereka kini mendapat undangan makan malam sekalian merayakaan pertunangan Cila dengan kekasih barunya.
"What, wanita gila itu punya kekasih baru? Mau bertunangan pula? Haha,,,lelucon macam apa ini!" Cibir Sabrina saat membaca pesan yang di kirim Cila pada dirinya.
"Kau di undang juga? Ku pikir dia tak akan mengundang mu karena mulut mu selalu yang paling pedas jika mengomentari kelakuannya." celetuk Panca sambil cengengesan.
"Jadi, kita semua di undang? Seru juga kalau kita berangkat bareng ke sana nanti malam, aku jadi penasaran pria gila mana yang mau maunya bertunangan dengan wanita tak waras seperti Cila." oceh Sabrina masih dengan ciri khas ceplas-ceplosnya.
"Syukurlah, berarti dia sudah insyaf dan berusaha move on dari mu, bro!" Panca meninju pelan lengan Toni.
Mereka kini memang sedang berkumpul di rumah Sabrina, selain mereka sedang membicarakan masalah rencana pembangunan bisnis yang akan di bangun bersama, Raya si ibu hamil itu terus merengek pada Toni untuk di antar ke rumah Sabrina karena dia rindu ingin bertemu Yama.
Remaja malang itu sampai kini tak mengetahui kalau Raya juga adalah kakak sedarahnya, dia hanya tau kalau Sabrina lah satu-satunya saudara kandung yang dia punya, namun biar saja dia hanya mengetahui sebatas itu, sungguh Raya tak ingin egois mengatakan kalau dia kakak yang juga punya ikatan dasrah yang sama dengannya, sementara dengan menceritakan semua kenyataan pahit hidup mereka tentu saja itu akan menjadi sebuah pukulan mental tersendiri untuk Yama.
Sehingga semuanya sepakat untuk tak mengatakan apapun tentang Arsan pada Yama. Biarlahdalam memorinya Cobra menjadi satu-satu nya ayah yang Yama punya, tak perlu menorehkan memori buruk pada remaja itu yang tentunya hanya akan menyisakan luka di hatinya di sepanjang hidupnya, sudah cukup penderitaan penyakit yang dia alami selama ini, Raya dan Sabrinasepakat hanya ingin membuat adik mereka bahagia di sepanjang hidupnya.
Biarlah Raya hanya di anggap kakak angkat oleh adiknya sendiri, toh itu semua tak akan mengurangi rasa sayangnya dia terhadap adiknya itu.
Malam tiba, saatnya mereka, Toni cs memenuhi undangan yang di berikan oleh Cila. Seperti yang sudah di bicarakan sebelumnya, mereka ber 6 benar-benar berangkat dengan satu mobil van mewah milik Panca, entah apa yang melatar belakangi pemikiran Sabrina sehingga dia ber ide untuk berangkat bersama-sama dalam 1 mobil.
__ADS_1
Setelah sepanjang perjalanan mereka haniskan dengan tawa dan canda, senyum mereka terutama Toni, Raya, Panca dan Dila hilang seketika saat melihat pria yang kini bersanding di samping Cila.
"Bara!" Pekik mereka ber 4 hampir bersamaan.
Sementara Sabrina dan Martin yang tak tau dan tak mengenal siapa itu Bara, hanya bisa melongo melihat ke 4 sahabatnya seperti melihat setan saat melihat pasangan Cila yang mereka panggil dengan nama Bara itu.
"Guys,,, apa ada cerita yang aku lewati? Sebenarnya siapa itu Bara?" Bisik Sabrina tak bisa menahan ke kepoannya.
"Mantan suami Dila," bisik Raya memberi tahu.
"Pantes muka si Pancul langsung berubah jadi jelek banget, ketemu saingan, rupanya!" Cengir Sabrina menggoda Panca.
"Tenang, aku di pihak mu, bro!" Timpal Martin.
Sementara Dila dan Toni tak banyak berkomentar, mereka lebih memikirkan darimana dan bagaimana Bara dan Cila bisa saling mengenal, apakah tak ada niat lain yang terselubung dalam pertunangan ini?
"Kenapa diem aja, cemburu ya liat mantan udah move on?" sindir Panca pada kekasihnya.
"Apa sih, orang aku gak ngapa-ngapain juga, masih aja kena." Jutek Dila kesal.
Dia sudah menceritakan tentang kehidupannya yang pernah gagal menikah jauh sebelum mereka saling mengenal, seperti ini, dan setelah mendapatkan semua cerita yang membuat rasa kepenasaran Panca terpenuhi, akhirnya Panca mau memaafkan dan menerima Dila apa adanya.
__ADS_1
"Sstttss, jangan bertengkar karena mereka akan senang jika melihat kau bertengkar dengan kekasih mu, aku yakin mereka punya rencana busuk, dan salah satunya adalah membuat kalian berdua bertengkar." lirih Toni mengingatkan Panca.
"Aku pun merasa seperti itu mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu," kata Dila yang harus menghentikan pembicaraannya karena Cila dan Bara datang menghampiri untuk menyambut mereka.
"Ah,,, aku senang kalian semua akhirnya datang, tak banyak yang aku undang di acara ini, hanya keluarga saja, dan kalian sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri." Cila berbasa-basi.
"Oh iya, perkenalkan semuanya, ini Bara tunangan ku." Cila memperkenalkan Bara dengan percaya diri.
Bara tersenyum dan hendak menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Dilla yang sejak tadi tak lepas dari pandangannya, namun dengan cepat Panca menyerobot lalu menerima jabatan tangan Bara yang terlihat kesal dengan sikap pria yang sempat berduel dengannya di hari pernikahan Toni dan Raya karena mengira kalau hari itu adalah hari pernikahan Dila dan Panca, beruntung Toni datang tepat waktu dan melerai perkelahian mereka, kalau tidak, bisa di pastikan mereka akan saling membunuh saat itu.
"Lama tak berjumpa dengan mu, kalian masih saja berpacaran belum naik level bertunangan seperti ku, atau jangan-jangan kekasih mu itu belum hisa move on dari mantan suaminya." Bara menyeringai sambil seolah mengejek Panca.
"Kami tak terburu-buru dalam mengikat hubungan kami tapi percayalah, level hubungan kami sudah berada di level puncak paling maksimal!" Jawab Panca ambigu, membuat rahang Bara mengeras seketika saat mendengan ocehan Panca yang seakan meledeknya balik.
Sungguh Bara akan melakukan segala cara demi mendapatkan mantan istrinya itu kembali, meski dengan.menggadaikan harga diri dan nyawanya sendiri pada Cila si wanita iblis yang penuh dengan tipu daya dalam melakukan kejahatannya.
"Berengsek, kau ****** murahan yang rela menjajakan diri demi uang, demi pria yang lebih kaya dari ku, pantas saja kau memaksa i gin pisah dengan ku, ternyata ini jawabannya!"ceracau Bara di hadapan mantan istrinya itu.
"Sayang, masa lalu biarlah berlalu, bukankah masih ada aku yang tak akan silau karena dunia, dan mencintai karena uang !" Cila dengan sengaja membelitkan tangannya di lengan Bara menempel erat dengan mesranya.
"Terimakasih sayang karena sudah hadir di waktu yang tepat, dimana aku benar benar membutuhkan seseorang yang setia dan tak silau karena harta." Bara tetap saja menyindir dengan sinis sambil matanya sesekali mencuri pandang ke arah Dila.
__ADS_1