
Arsan mondar mandir di rumahnya, sungguh dia merasa sangat marah. Rolan yang sedang berbicara dengannya tiba-tiba pergi tanpa pamit dan tanpa menjelaskan apapun pada nya, sementara dirinya kini sendirian di temani rasa kesal, marah, dan frustrasi yang menyelimutinya.
Bagaimana tidak, semua uang Arsan habis tak tersisa tercurah hanya untuk mega proyek itu, bahkan kini menyisakan utang yang sangat banyak yang harus di tanggungnya.
"Tuan Rolan tidak bisa di hubungi, menurut info yang saya dapatkan, dia sedang menunggui putrinya yang di rawat di rumah sakit." Ujar salah satu anak buahnya yang di perintahkan nya untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Rolan dan kemana pria itu pergi.
"Sialan, masih saja egois, mengurus putri tak berguna nya itu, jelas jelas aku di sini sangat di rugikan oleh pekerjaannya yang sama sekli tak beres." gumamnya dengan kesal.
"Kau cari orang ini, dekati dia dan gali informasi tentang proyek itu, kenapa dia sampai meninggalkan pekerjaan di proyek itu," ucap Arsan sambil menyodorkan selembar foto pada anak buahnya itu.
"Tuan, ini kan, Lion?" gugup anak buahnya Arsan yang pernah sekali babak belur di ring akibat dia pernah menantang berduel dalam pertarungan bebas dulu, bahkan panggilan ompong yang di sandangnya kini pun akibat dia kehilangan dua gigi depannya saat bertarung dengan Toni, pantas saja dia seperti masih agak sedikit trauma saat di perlihatkan foto Toni, terlebih dia harus berurusan lagi dengan pria yang pernah menghajarnya habis habisan itu.
Masih lekat dalam ingatannya dimana Toni membuatnya babak belur sekaligus menanggung rasa malu yang teramat sangat saat itu, karena dengan pongahnya dia menantang Toni untuk berduel malawannya, bahkan dia sesumbar akan menghajar Toni sampai KO di atas ring sampai tak bisa bangun dan bertarung lagi, namun kenyataannya justru dirinya lah yang tergeletak di atas ring bahkan saat mereka baru beberapa menit saja melakukan pertarungan.
Masihvterasa sakit dan ngilunya saat kedua giginya harus tanggal akibat hook yang di layangkan tangan kanan Toni yang tepat mengenai wajahnya, lebih tepatnya di daerah mulut depannya, yang meskipun memakai pelundung gigi, ternyata giginya sampai copot, arau mungkin kesalahan dirinya yang tidak benar dalam menggunakan pelindung gigi itu.
"Iya, Lion, kenapa, apa kau ada masalah dengan nya?" Arsan menaikan sebelah alisnya.
"Emh,, apa yang harus saya lakukan? Jujur saja, kalau tuan berkehendak saya untuk menangkap atau menghajarnya, saya menyatakan tidak sanggup dari sekarang, dari pada saya mengecewakan tuan, nantinya, " ucapnya dengan jujur, sungguh dirinya tak sanggup jika harus berduel lagi dengan singa jantan itu.
"Apa kau tuli, apa otak mu tak bisa kau gunakan? Aku bilang tugas kau hanya mendekati dia dan gali informasi, kalau kau ajak kelahi, mana bisa kau gali informasi darinya, bego!" umpat Arsan yang hanya tersulut sedikit percikan saja langsung emosinya membuncah.
__ADS_1
"Ba- baik tuan, akan saya coba dan saya lakukan!" ucap pria kepercayaannya setelah Bagas, yang sering di panggil si ompong itu mengangguk patuh.
***
"Ada apa kau mengajak ku bertemu di sini?" Tanya Toni.
Tadi pagi Rolan menghubunginya, meminta dirinya untuk bertemu di sasana, sebenarnya Toni sangat malas bertemu dengan pria yang hanya mendengar namanya saja sudah membuatnya muak itu, kebenciannya terhadap Rolan memang begitu mendarah daging membuatnya muak meski hanya melihat wajahnya saja.
Toni menebak nebak alasan Rolan memintanya bertemu dengannya secara mendadak, sempat terpikir dalam benaknya kalau Rolan sudah tau tentang keterlibatan dirinya dalam penghancuran proyek besar itu yang di lakukannya bersama Sabrina.
Memang akan sangat membahayakan baginya jika apa yang di pikirkan nya itu benar, bukan mustahil jika hari ini adalah hari terakhir nya menghirup udara di dunia ini, mengingat kini dirinya sudah di kelilingi oleh beberapa anak buah Rolan yang sudah bersiaga seakan ingin memangsanya, bahkan Burhan yang biasanya sangat dekat dengan nya dan selalu menghabiskan waktu bersama dengannya itu kini terlihat berada di belakang Rolan dan sudah di pastikan dia akan ikut menghajar bahkan menghabisinya jika sekali saja Rolan menjentikkan jarinya memerintahkan mereka semua untuk membunuh dirinya.
Toni juga tak ingin mati konyol, dia sudah prepare dengan membawa dua pucuk senjata yang dia sembunyikan di balik punggung dan saku jaketnya, berjaga jaga jika hal yang tak di inginkan terjadi, setidaknya sebelum dirinya mati di hajar, dia harus bisa menembak mati Rolan dengan tangannya sendiri, dia tak akan pernah rela jika harus mati sia-sia tanpa berhasil membunuh Rolan dan orang-orang yang menjahatinya terlebih dahulu.
Rolan sadar dan sangat tau kalau saat ini sepertinya Toni sudah mengetahui sesuatu sehingga dia sengaja mengibarkan bendera perang lewat sang putri.
"Hahaha,,, berapa puluh tahun aku mengenal mu, apa aku sudah tak mengenali mu pak tua? Apa cara berbicara baik baik dengan ku sekarang seperti ini?" Toni tertawa sumir.
Rolan terlihat seperti agak sedikit malu saat di sindir seperti itu oleh Toni, Dia sangat menyadai kalau dia terlalu kentara kalau saat ini berbicara denagn Toni seperti sedang menghadapi musuh besar, dia mengerahkan banyak anak buah untuk melindunginya dan berjaga jaga.
"Itu karena kau duluan tak bersikap baik pada putri ku, kau tau seberapa besar aku menyayangi Cila, siapapun yang menyakiti nya berarti akan berhadapan dengan ku, tak peduli siapapun itu." kelit Rolan mencari pembenaran akan apa yang di lakukannya saat ini.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan padanya? Menyakiti macam apa yang kau maksud? Aku hanya mengatakan kebenaran, kebenaran tentang kau yang telah dengan sengaja menjadikannya alat tukar agar aku mau bergabung di dunia hitam mu," ujar Toni santai.
"Bajingan, kau tau kalau aku paling tak suka jika ada yang mengusik putri ku, namun kau seolah sengaja menantang ku," emosi Rolan mulai terpancing.
"Jadi kau takut menghadapiku sendirian sampaimengerahkan banyak sekali anak buah mu yang seolah siap memakan ku." Toni tersenyum kecut setengah meledek apa yang Rolan lakukan.
Karena merasa agak tersinggung dan merasa di lecehkan dengan perkataanToni, Rolan akhirnya memberikode pada para anak buahnya untuk sedikit menjauh dari mereka berdua namun tetap waspada, bagaimana pun seorang Toni tak bisa di anggap remeh, pikirnya.
"Apa yang kau inginkan? Aku tak punya banyak waktu untuk berbicara dengan mu,"
"Jangan bersikap kurang ajar, aku masih bosmu, dan calon mertua mu!" bentak Rolan.
"Aku tak pernah menjadi bawahan mu dan tak pernah menjadi pekerja mu, semua itu aku lukan karena kesepakatan kita yang katanya kau akan membantu ku mencari Arsan, namun ternyata kau hanya omong kosong, kau pembual!Dan karena kebohongan mu itu, secara otomatis pertunangan antara aku dan anak mu di batalkan, kau sangat tau itu seharusnya,"urai Toni.
"Lion, aku tak pernah mmbohongi mu, selama ini aku juga terus mencari informasi tentang keberadaan Arsan dan terus mencarinya, hanya saja memang belum ada titik terang!" Bohong Rolan, yang tentu saja membuat Toni mual mendengar semua kebohongannya itu.
"Cila sekarang sedang di rawat di rumah sakit, dia sangat ingin bertemu dengan mu, jujur saja aku tak setuju jika dia harus bertemu dengan mu yang mungkin saja akan menyakitinya lagi, batinnya benar benar sedang sangat terluka saat ini, dan aku tak kuasa menolak permintaannya," lanjut Rolan dengan wajah yang memelas.
"Lalu?" tanya Toni singkat.
"Lion, aku mohon, temui dia, sekali saja. dia sedang kacau dan hanya kau satu satunya yang dapat berbicara dengan nya, kau bisa menjadi pengendalinya, aku akan lebih berusaha lagi untuk mencari Arsan, asalkan kau tak meninggalkan Cila, dia sangat mencintai mu," bujuk Rolan yang dia pikir akan dapat mempengaruhi pikiran Toni lagi jika dia mengiming imingi informasi tentang Asan, bahkan dia sudah bertekad akan membocorkan keberadaan Arsan pada Toni jika sampai pria itu tetap bersikukuh ingin berpisah dengan putrinya.
__ADS_1
Dia tak akan pernah peduli jika pun dirinya harus berhianat pada Arsan, yang paling penting baginya adalah kebahagiaan sang putri, lagi pula dia pun merasa sudah sangat muak dengan Arsan yang selalu menekan dirinya tentang tanggng jawab proyek itu.
Menurutnya akan lebih baik jika dia memberi tahu keberadaan Arsan pada Toni dan membiarkan Toni menghabisi Arsan, sehingga dirinya bisa terbebas dari tekanan Arsan dan kepercayaan Toni juga kembali pulih untuknya, lebih jauh lagi putrinya akan bahagia karena bisa tetap bersama pria yang di cintainya.