
Semua orang yang akan pergi ke tempat persembunyian Arsan sudah bersiap, kali ini mereka sudah merencanakannya dengan sangat matang, mereka juga tak banyak membawa pasukan, hanya mereka ber empat saja yang berangkat, Toni, Panca, Sabrina dan Martin.
Toni sengaja tak ingin mengajak serta siapapun selain mereka, untuk meminimalisir kebocoran rencana ke telinga Arsan, semua ini sangat di rahasiakan.
berkaca dari penyerangan sebelumnya, Toni yang didaulat sebagai pemimpin pasukan di antara mereka sangat yakin kalau kaburnya Arsan saat penyerangan dikarenakan ada mata-mata di antara sekian banyak anak buah yang terlibat, entah itu dari pihak Rolan ataupun dari pihak Cobra sendiri, namun daripada harus bersusah payah berusaha mencari siapa penghianat di antara banyaknya anak buah mereka, Toni lebih memilih untuk tidak melibatkan mereka sama sekali sehingga kemungkinan rencana bocor ke pihak lawan dapat di minimalisir.
Jika pun rencana mereka kali ini sampai bocor juga ke telinga Arsan akan sangat gampang menunjuk siapa penghianat di antara mereka ber 4, karena hanya mereka yang tau tentang penyerangan itu.
Mereka berangkat dengan satu mobil van secara bersama-sama dengan Martin yang mengemudi, tak lupa puluhan senjata juga mereka bawa dalam van itu sebagai persiapan.
Pagi sekali mereka sudah berangkat, Raya sudah Toni titipkan di rumah Yama, dan sudah di wanti-wanti kalau dia tak boleh meninggalkan rumah yang penjagaannya di buat 3 kali lebih ketat selama mereka pergi, belum bisa di pastikan berapa hari mereka akan pergi, pokoknya mereka tak akan pulang sebelum Arsan di temukan.
***
Sampailah mereka di sebuah desa yang di sinyalir menjadi tempat persembuyian Arsan, delapan jam perjalanan darat tak membuat mereka ber malas malasan karena lelah, Panca sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dia sudah menyewa sebuah rumah di daerah itu ,memang tak terlalu dekat dengan lokasi rumah yang di curigai merupakan rumah kediaman Bagas yang juga kini di tempati oleh Arsan juga, namun dari rumah yang Panca sewa itu tetap dapat mengamati pergerakan yang terjadi di sana melalui teropong yang juga sudah dia persiapkan.
Rumah yang berada di tengah perkebunan karet itu mirip sebuah vila itu memang sangat cocok menjadi tempat persembunyian mereka, selain jauh dari pemukiman penduduk, mungkin mereka mengira kalau musuh-musuhna tak akan bisa menemukan keberadaannya.
Namun sayangnya itu tak berlaku bagi Toni Cs. Di manapun iblis itu bersembunyi, bahkan di lubang semut sekali pun mereka pasti akan tetap mencari dan menemukannya.
"Tak ada pergerakan dari rumah itu," ujar Panca yang kini sedang mengamati rumah incaran mereka melalui teropong dari lantai 2 rumah sewaan mereka yang juga berada di sekitaran kebun karet itu.
__ADS_1
"Kalian beristirahatlah dulu, biar malam ini aku yang berjaga memantau rumah itu," kata Toni, dia tau semua orang lelah saat ini, dia berpikiran kalau ada baiknya mereka beristirahat dulu untuk mengembalikan stamina tubuh agar kembali fit, karena bagaimana pun apa yang akan mereka jalani di hari selanjutnya tentu saja akan sangat menguras tenaga dan pikiran mereka semua, mereka juga belum bisa memprediksi apa saja yang akan mereka hadapi setelah ini, yang jelas persiapan sudah di siapkan semampu mereka, hanya tinggal stamina tubuh mereka yang harus mereka siapkan agar energi tetap selalu terjaga dan terisi penuh.
"Aku sudah tak sabar ingin memuntahkan peluru ini di kepala si bangsat itu," cicit Sabrina wanita satu-satunya di sana sambil mengacungkan senjata milik ayahnya yang kini menjadi barang paling berharga untuknya dan selalu di jaganya.
"Jangan terburu-buru, kita jauh jauh datang ke sini untuk memburu dan membunuhnya, bukan untuk bunuh diri!" Balas Toni yang tak suka dengan seikap terburu-buru dan tak sabaran Sabrina.
Sungguh Toni mengerti dengan apa yang Sabrina rasakan, tentang kemarahannya, kesedihanya, namun Toni juga punya prinsip dan cara sendiri, sebagai pemimpin di sana, dia juga harus memastikan keselamatan para anggotanya yang sudah dia anggap saudaranya sendiri, jadi dia tak boleh gegabah dalam bertindak, semua harus penuh perhitungan yang tepat.
Sabrina tak berani berkata-kata lagi, dia tau kalau memang apa yang di katakan Toni itu benar adanya, tak seharusnya dia bersikap terburu-buru seperti itu, karena sikapnya yang sering terbawa emosi itu bisa saja malah mencelakakan mereka semua.
Tak ada pillihan lain bagi mereka selain patuh dan menuruti apa yang di perintahkan Toni pada mereka tanpa berkeinginan membantah sedikit pun, karena selain memang apa yang di katakan Toni memang benar, tubuh mereka juga benar-benar merasa lelah, lagi pula mana berani juga mereka melawan sang singa yang kini menjadi komandan mereka dalam penyerangan itu.
Toni berjaga sendirian dengan teropongnya mengamati sesekali rumah di tengah hutan itu sambil menikmati asap tembakau yang tak pernah lepas dari dirinya itu, pikirannya melayang jauh memikirkan sang istri, hanya saja semenjak mereka sampai di tempat itu, Toni tak bisa menghubing sang istri karena di sana terkendala sinyal yang sangat buruk, sehingga tak bisa sekedar mengabari Raya kalau dirinya sudah sampai dengan selamat di tempat itu.
Toni juga sangat berharap kalau penyerangan kali ini akan berhasil dengan hasil yang sangat memuaskan dan membawa pulang kemenangan, dimana setelah semua ini selesai, dia ingin menjalani hidup dengan tentram dan damai bersama sang istri.
Toni terkesiap ketika dia melihat seseorang keluar dari rumah itu lewat teropongnya yang dia tempelkan di depan kedua matanya.
Toni terus mengikuti kemana langkah kaki sosok yang belum bisa dia ketahui siapa gerangankah itu karena dia menutupi wajahnya dengan topi dan hoodie yang dia gunakan untuk menutupi kepalanya dengan rapat, sungguh sangat mencurigakan dan membuat Toni fi liputi rasa penasaran yang cukup besar.
Sosok pria itu sepertinya berjalan menuju ke arah keluar hutan, membuat Toni menjadi merasa semakin penasaran, namun sayangnya dia juga tak bisa mengikuti pergerakan lebih jauh lagi kemana pria itu pergi karena terkendala jarak pandang yang terbatas, selain kurangnya pencahayaan, dahan pohon yang lumayan rapat juga menghalangi pandangannya.
__ADS_1
Toni bergegas turun dari lantai 2 rumah itu berniat mengikuti kemana perginya pria yang sejak tadi di intainya itu.
"Lion, mau kemana?" Martin terbangun dari tidurnya di sofa ruang tengah saat mendengar derap langkah Toni yang melewati tubuhnya.
"Ada gerakan mencurigakan dari rumah itu, aku akan menyelidikinya." Jawab Toni tanpa menoleh sedikit pun ke arah Martin yang mengajaknya berbicara.
"Aku ikut!" Martin bangkit dari sofa tempatnya berbaring dan berusaha bersiap-siap.
"Tidak, sebaiknya kau berjaga di sini, menjaga yang lain, aku sendiri saja," tolak Toni yang langsung bergegas keluar meninggalkan Martin yang belum sempat mengangguk atau bahkan tetap bersikukuh ingin ikut bersamanya.
Dengan langkah yang cepat Toni menyusuri hutan, menyusuri jalan setapak yang gelap dan sunyi, hanya suara binatang malam yang terdengar di sana,namun tentu saja itu tak akan membuat nyaliToni menciut sedikit pun, sang singa jantan sudah terbiasa sendirian dalam kegelapan, dan hutan belantara adalah rumahnya, jadi tak pernah ada kaa takut dalam kamusnya kalu hanya menghadapi situasi semacam ini.
Sudah lama rasanya Toni berjalan, namun sepertinya sosok tadi tak dia temkan juga kemana perginya, bahkan dia rasanya hanya seolah berputar-putar di tempat yang sama.
Pemandangan pohon-pohon besar di kegelapan seakan membuatnya linglung dan tak tau arah, bahkan rasa-rasana kini dia malah semakin mendekati rumah yang sedari tadi di intainya itu, rumah yang menjadi tempat persembunyian Arsan.
Toni menghentikan langkahnya, dia tak berniat sama sekali untuk mendekat ke rumah itu, hati kecilnya mengatakan bukan saatnya mendekat ke sana, namun entah mengapa kakinya seolah membawanya ke sana tanpa sadar.
Hatinya semakin terasa tak enak, kali ini dia memilih untuk segera menghentikan langkahnya, lalu menyembunyikan tubuhnya di balik pohon karet yang diameternya setangkupan orang dewasa.
Toni semakin merapatkan punggungnya ke pohon itu saat bayangan seseorang sepertinya melintas begitu saja,
__ADS_1
"Sial, bahkan aku lupa tak membawa senjata ku!" Gumamnya.
Bukannya Toni takut atau tak percaya diri dengan kemampuan bertarungnya dan hanya mengandalkan senjata saja, namun dia tak tau berapa banyak dan orang seperti apa yang akan dia hadapi, dia harus pulang dengan selamat, karena sedang Raya menunggunya pulang.