
Mereka bertiga kembali saling diam, berdialog dengan hatinya masing-masing menyiapkan diri dan mental untuk menghadapi situasi selanjutnya yang pastinya akan lebih rumit dan mungkin saja tak akan ada kesempatan lagi untuk menghindar dari maut seperti kesempatan yang tadi mereka dapatkan, karena kesempatan biasanya tak pernah datang untuk ke dua kallinya.
Pagi sudah mulai menyapa, sinar matahari yang tampak malu-malu menampakan dirinya itu sinarnya mulai terasa menembus di antara dahan dan rindangnya dedaunan di hutan itu.
"Kita harus tetap berhati-hati, mereka pasti sedang mencari kita ke berbagai penjuru hutan." Toni memulai pembicaraan setekkah sekian lama hening dan hanya terdengar suara kicauan burung yang mulai bernyanyi menyambut pagi hari dan suara binatang hutan lainnya yang mulai ramai.
"Ayo kesana!" Ajak Panca seraya menujuk ke sebuah sungai kecil yang baru nampak setelah sinar matahari sedikit menerangi hutan itu.
Mereka bertiga bergegas kesana dan meminum air sungai yang terlihat jernih itu dengan rakusnya, rasa dahaga yang mereka tahan semalaan akhirnya lenyap sudah, setelah membasuh wajah mereka dengan air ang terasa dingin namun menyegarkan itu, kepala mereka seakan kembali 'fresh' dan sejernih air di sungai itu.
"Ayo kita atur strategi, kita sudah terlanjur melangkah sejauh ini, kita harus tetap melanjutkan misi kita," Sabrina juga mulai menimpali orolan merekaa dengan kondisi yang sudah semakin segar.
Memang untuk saat ini situasi sudah mulai agak sulit, dimana Arsan sudah mengetahui keberadan mereka, sementara mereka juga kini terjebak di tengah hutan, sudah pasti anak buah Arsan kini sedang memburu mereka.
Tak ada makanan dan persediaan senjata selain senjata yang saat ini mereka pegang. Namun misi tetap harus berjalan dengan peralatan seadanya, mereka sepertinya harus kembali ke rumah sewaan untuk mengambil beberapa senjata cadangan, namun semua itu pasti tak akan mudah karena bisa saja rumah sewan mereka kini sudah tercium keberadaannya oleh Arsan dan antek-anteknya.
"Cari sesuatu yang bisa kita makan, buah-buahan atau apapun, kita tak mungkin bertarung dengan perut yang kosong dan kelaparan." ucap Toni yang lalu di amini kedua temannya itu karena memang mereka juga merasakan kelaparan saat ini,semalam sebelum pergi mereka bahkan tak sempat mengisi perut mereka akibat terlalu panik dan juga bersemangat karena yakin akan dapat dengan mudah menumbangkan Arsan, namun ternyata kenyataan tak semuadah yang di bayangkan, mereka kini berakhir terdampar di hutan dengan perut yang kelaparan, sementara Arsa mungkin sedang tertawa terbahak-bahak menertawakan kepencundangan ketiga orang itu dan merayakan kemenangannya.
Namun bukan Lion jika mereka tak punya jalan keluar untuk masalahya kini mereka hadapi saat ini, se sulit apapun, dia tetap mempunyai cara dengan meminimalisasi pergerakan dan resiko.
"aku rasa saat ini yang perlu kita lakukan hanya diam di tempat ini menunggu mereka datang menemukan keberadaan kita, aku yakin sebentar lagi mereka akan sampai di sini, dan itu saatnya kita beraksi, habisi mereka di sini." Usul Toni.
Untuk saat ini memang posisi mereka sementara hanya bisa melakukan perlawanan, bukan penyerangan, selain meminimalkan resiko, juga untuk sekalian merampas senjata mereka, sehingga bisa di gunakan nantinya.
Benar saja, belum sempat Toni menutup mulutnya setelah menyelesaikan kalimatnya, 5 orang pria berbadan tegap terlihat samar-samar mendekat ke arah mereka, sepertinya mereka memang anak buah Arsan yang di utus untuk mencari menreka ber 3 ke dalam hutan.
__ADS_1
Oh, betapa Arsan sungguh sangat menyepelekan kemampuhan bertarung tiga serangkai Toni Cs, bagaimana bisa dia hanya mengutus lima orang saja untuk menangkap mereka bertiga, dengan kemampuan bertarung Toni dan Sabrina yang di atas rata-rata itu.
Sabrina maju paling duluan saat ke 5 pria tegap itu menghampiri mereka yang masih duduk bersantai di pinggir sungai.
Dengan kemampuan bertandingnya yang cukup bail meski masih di bawah kemampuan Toni, Sabrina penuh percaya diri memulai pertarungan dengan mereka seorang diri, karena Toni dan Panca masih duduk masis di tepi sungai.
Sebenarnya Paca sudah hampir mau berdiri membantu Sabrina,namun tangannya di cekal Toni, "Biarkan dia melepaskan emosinya, aku yakin dia mampu mengatasi mereka semua," cegah Toni.
Toni tau ada emosi tertahan di dada Sabrina yang dia tahan dan pendam dari semalam, untuk itu Toni memberi Sabrina kesempata untuk mengekspresikan semua yang ada di dalam dirinya agar dada wanita itu terasa sedikit lebih ringan.
Sabrina terlihat sangat lincah, pukulan, tinjuan bahkan berbagai gaya tendangan dia pamerkan bak sedang memperagakan tarian di hadapan Toni dan Panca yang kini sedang menonton pertunjukannya, karena meski merekaterkesan hanya sebagai penonton, mereka berdua juga tetapwspada jika tiba-tiba Sabrina membutuhkan bantuan mereka, walau ternyata sampai akhir pertarungan dengan 5 lawannya yang berakhir KO itu Toni dan Panca tetap berperan sebagai penonton yang harus bertepuk tangan di akhir pertunjukan.
"Sialan, dasar kalian kakak-kakak tak berguna, buknnya membantu adiknya yang bertarung malah duduk manis dan menonton lalu bertepuk tangan seolah sedang menonton pertunjukan!" Protes Sabrina sambil memunguti senjata para lawannya yang belum sempat mereka gunakan tapi sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan hati mu, apa sudah lebih baik?" Cengir Panca.
"Tadi aku sebenarnya sudah berniat membantu mu, tapi Lion mencegah ku, katanya untuk biarkan dan memberi mu kesempatan untuk mengekpresikan kemarahan mu biar lebih plong!" seloroh Panca dengan di akhiri dengan tawanya.
Sabrina menghela nafasnya dengan sangat panjang, menghirup lalu menghembuskannya berulang kali, sampai dirinya benar-benar merasa lega, benar apa yang di katakan Toni, ada beberapa beban yang seakan hilang dari dadanya seketka setela dirinya berhasil menghajar 5 pria yang merupakan utusan Arsan itu.
Setiap pukulan atau tendangannya mewakili setip amarah di hatinya yang hampir saja membatu jika sampi tak di salurkan.
"Terimakasih, aku merasa jauh lebih baik sekarang," ucap Sabrina.
"Syukurlah, beristirahatlah, setelah ini, jika mash ada lagi anak buah Arsan yang datang, biar aku dan Panca yang menanganinya," kata Toni.
__ADS_1
"Enak saja, kau pikir aku selemah itu, aku masih kuat membantu kalian, bahkan masih kuat melawan sendirian tanpa kalian jika masih ada lagi yang berani datang kemari," sewot Sabrina.
Sudah hampir tengah hari, namun tak ada tanda-tanda anak buah Arsan yang mengejar mereka lagi.
"Sepertinya kita aman, dari tadi tak ada satupun cecunguk yang mengejar kita lagi," ujar Sabrina.
"Ya bukan berarti kita harus santai, kita tetap harus waspada," timpal Toni.
Beruntung masih banyak pohon buah-buahan yang bisa mereka makan di hutan itu, sehingga mereka tak perlu merasakan kelaparan, alam sudah menyediakan semuanya.
menjelang sore hari mereka masih berkutat di dalam hutan, namun tiba-tiba saja segerombolan orang menghadang jalan mereka, sekelompok pria yang jumlahnya mungkin sekitar lima belas orang itu tanpa basa basi langsung berloncatan menghalangi jalan yang akan Toni Cs lalui.
Tak sedikitpun terlihat raut wajah gentar di ketiganya, mereka tetap santai menghadapi pria-pria yang sebagian besar membawa parang dan belati di tangannya, beruntung tak satu pun di antara mereka yang membawa senjata api.
Ayunan parang yang sepertinya sengaja mengarah pada Tubuh Toni itu terlihat semakin mengkilap karena cahaya senja itu sungguh menyilaukan mata, terbayang bagaimana tajamnya parang itu jika mengenai bagian tubuh, sudah di pastikan akan menyebabkan luka yang sangat serius atau bahkan kematian.
Namun jangan harap mereka berbahagia karena berhasil melumpuhkan Toni dengan mudahnya, karena tendangan Toni yang mengarah ke tangan si pembawa parang itu sepuluh kali lebih cepat daripada sabetan parang nya, sehingga benda tajam itu terlepas dari genggaman tangannya, lalu sejurus kemudian kini parang itu sudah berpindah tangan berada di tangan Toni.
Tarian parang di tangan Toni membuat 6 orang dari mereka tersungkur dan berlumuran darah, sementara sisanya menjadi bahan latihan sore Sabrina dan Panca yang juga berhasil membuat mereka menggelepar di tanah.
Prok,,,prok,,,prokk,,,,,,!
"Pertunjukan yang sangat bagus!" Suara tepuk tangan dan tawa Bagas terdengar di antara rimbunnya hutan yang kini mulai menggelap lagi karena matahari sudah hampir menyelesaikan tugasnya dan pulang.
"Hey bangsat, maju sini jangan jadi pengecut yang hanya bersembunyi di ketiak para anak buah mu yang tak berguna itu!" Teriak Sabrina, wajahnya kini memerah karena menahan marah.
__ADS_1
"Ouwh,,, kau memang pemberani nona, emh,, kalian juga pemberani dan hebat!" Tunjuk Bagas pada Toni dan Panca.
"Tapi aku ingin melihat, apa kalian masih sehebat dan se pemberani ini jika aku perlihatkan sesuatu pada kalian?" ujarnya seraya memperlihatkan layar ponselnya.