
Secepat kilat Arsan mengarahkan senjatanya ke arah Bagas dengan Raya yang berada di dekapannya dan terdengar lah suara letusan senjata api yang sangat di takuti oleh Toni Cs, karena hal itu bisa saja mengenai tubuh Raya yang jelas-jelas berada tepat di depan dada Bagas.
Untung saja Toni begitu awas dengan apa yang di lakukan oleh Arsan, sebelum pria tua itu meletuskan senjatanya yang mengarah pada Bagas dan Raya, terlebih dahulu Toni melemparkan kunai yang dia sembunyikan di balik lengan jaketnya sehingga saat pemeriksaan senjata yang di lakukan oleh anak buah Arsan tadi tak terdeteksi sama sekali.
Kunai itu menancap tepat sasaran di punggung tangan kanan Arsan yang menggenggam senjata rampasan dari Rolan tadi, sehingga tembakannya meleset dan hanya mengenai angin.
Jerit kesakitan Arsan memekakan telinga siapa pun yang ada di sana, tubuhnya membungkuk dengan tangan kiri yang menahan pergelaran tangan kanannya yang terkena kunai dan terasa sangat sakit luar biasa.
Wajahnya pun langsung memucat menahan timpaan kesakitan yang bertubi-tubi pada tubuhnya lam waktu yang relatif dekat ini, mulai dari tinjuan di rahang oleh Sabrina, getokan senjata di pelipis oleh Rolan, dan kini yang terakhir lemparan kunai oleh Toni yang tepat mengenai punggung tangannya.
**Kunai adalah semacam senjata tajam berukuran kecil yang wajib di miliki oleh para ninja, dengan bentuk seperti pisau pendek dan mempunyai gagang yang juga pendek, mempunyai fungsi untuk di gunakan saat melakukan pertarungan jarak dekat maupun bisa di gunakan dengan cara di lempar dengan metode tertentu saat ingin melumpuhkan musuh dalam jarak jauh.
Tak menunggu berapa lama tubuh Arsan melemah dan terkulai lemas di tanah, pria tua itu tak sadarkan diri karena tidak kuat menahan rasa sakit yang sangat menyiksa dan melampaui batas toleran di tubuhnya. Sementra di satu sisi, menggunakan kesempatan yang memang sedang kacau, Bagas berniat kabur sambil menyeret Raya untuk pergi dari tempat itu sebelumnya, segera saja dia urungkan niatnya saat menyadari kalau Toni ternyata sedang melopat dn berlari ke arahnya untuk menyelamatkan sang istri, dan di susul oleh ke tiga rekan lainnya membuat Bagas akhirnya melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Raya dan dia memilih lari kocar kacir membawa badannya sendiri, dengan begitu akselerasi nya dalam upaya melarikan diri dari tempat itu akan terasa lebih mudah karena tak ada beban yang harus dia bawa bersamanya.
"Raya, sayang!" Toni menangkap tubuh Raya yang hampir saja oleng dan terjerembab akibat Bagas yang melepaskan tangannya secara kasar.
Raya juga langsung membelitkan tangannya di pinggang sang suami seolah meminta aliran energi untuk menguatkan dirinya.
Ke tiga orang lainnya yang mengejar Bagas ternyata harus kehilangan jejak di gelapnya malam, apalagi mengingat Bagas penduduk asli sana, dia tentu saja akan sangat hafal dengan seluk beluk hutan itu meski dalam keadaan gelap seperti ini sekali pun, dan dia juga di pastikan bisa melewati para anak buah Rolan yang berjaga di perbatasan hutan dengan sangat mudahnya.
"Kami tak dapat menemukan kacung bajingan itu, sepertinya dia bersembunyi atau bahkan berlari ke arah atau rute yang tidak kita tau tadi," lapor Sabrina pada Toni yang masih menenangkan istrinya itu.
"Lebih baik kita pulang ke ibu kota saja, Arsan juga sudah berada di tangan kita, untuk masalah asisten nya itu, biar nanti anak buah ku aku tingal di sini beberapa untuk melokalisir hutan ini," timpal Rolan.
__ADS_1
"Kita pulang, tak ada gunanya lagi kita di sini,lagi pula, aku yakin kalau si Bagas itu tak akan berani untuk kembali ke kawasan hutan ini untuk jangka waktu yang cukup lama," putus Toni yang akhirnya menyetujui ide yang di usulkan oleh Rolan itu.
Malam itu juga mereka akhirnya kembali ke Ibu kota membawa tubuh Arsan yang tak berdaya namun masih bernyawa, meski entah mau di buat apa.
Raya berubah menjadi sangat pendiam saat perjalanan pulang, banyak hal yang membuatnya tak bisa berkata-kata, banyak hal yang membuatnya terasa menjadi ambigu.
Betapa dirinya sangat membenci dan jijik dengan kelakuan bejat Arsa yang notabene adalah ayah kandungnya itu, hanya saja entah mengapa saat melihat Arsan meringis dan berteriak kesakitan tadi, hatinya justru terasa ikut sakit, sungguh demi Tuhan itu bukan keinginannya, semua itu terjadi begitu saja, bahkan dirinya sendiri pun merasa kesal dengan apa yang di rasakannya itu.
"Apa yang terjadi, apa kamu terluka? Katkan, apa pria bajingan itu sempat membuat mu terluka saat menyeret mu tadi?" Toni begitu paham dengan perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi pendiam itu.
Namun jawaban yang di dapat Toni dari istrinya itu hanyalah sebuah gelengan kepala saja, tanpa ada ucapan apapun, membuat Toni malah justru semakin khawatir dan yakin kalau pasti telah terjadi sesuatu dengan istrinya itu, namun Toni juga tak mau memaksakan pada istrinya untuk bercerita, mungkin Raya butuh waktu, dan Toni pasti akan menunggu kapan pun Raya seiap bercerita.
"Baiklah kaalau kamu belum mu bercerita, hanya saja jika kamu sudah siap untuk bercerita, tolong ceritakan semunya padaku jangan ada yang di tutup-tutupi, karena aku akan selalu berada dipihak mu dan selalu medukung mu." Kta Toni memberi pengertian pada istrinya itu kalau apapun yang terjadi dia adalah supporter pertama dan setia untuk nya.
Toni hanya mendekap istrinya, merapatkan kepala wanita itu ke dada bidangnya seolah tau istrinya itu tak mngkin menceritakan apa yang di rasakannya, makanya dia tak bertanya apapun pada istrinya itu.
Sungguh Raya tak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat ini, emosinya menjadi campur aduk tak karuan, ini benar-benar di luar kuasanya, logikanya sangat ingin benci dan tak peduli dengan apapun yang terjadi pada ayahnya itu, namun sayangnya hati kecilnya selalu menjerit da merasa ibadenga apa yang terjadi pada Arsa.
Perdebatan batin itu sungguh menyiksa dirinya, Raya seakan tak bisa menentukan sikap dan tak bisa berpikiran jernih lagi, bahkan pernah suatu ketika dia merasa kesal, marah dan tak terima atas perlakuan Rolan, Sabrina bahkan dengan suaminya sendiri yang sudah memperlakukan Arsan sebegitu kejamnya, ingin sekali dirinya protes dengan apa yang di lakukan mereka, namun kebali lagi saat mengingat perlakuan Arsan pada dirinya, pada Sabrina, pada Yama, logikanya kembali bekerja dengan seharusnya membuat emosinya menjadi naik turun dan menghasilkan mood yang sangat tidak baik.
"Sayang, apa aku boleh bertemu dengan ayah ku? Aku ingin berbicara dengannya," ucap Raya sore itu sat mereka berdua sedang bersantai di taman belakang rumah menghilangkan penat dan lelah karena tengah malam tadi mereka bru sampai di rumahnya.
Toni mencermati kata-kata sang istri yang terdengar sedikit janggal di telinganya, Raya kembali menyebut Arsan dengan kata 'Ayah ku' setelah sekiaan lama istrinya itu tak pernh ingin mengakui bahkan hanya menyebut dengan kata-katanya sekali pun yang menyatakan kalau Arsan adalah ayahnya.
__ADS_1
Namun ini dengan jelas dan tanpa keraguan Raya menyebut Arsan dengan kata 'ayah ku'.
Naun lagi-lagi Toni tak ingin mempersoalkan tentang panggilan Raya terhadap Arsan yang mungkin saja hanya sebuah insiden dalam perkataannya atau ketidak sengajaan saja.
"Tentu saja, besok pagi kita ke rumah Sabrina sekalian menjenguk Yama yang kini ktanya sudh pindah juga ke umah utama Sabrina," jawab Toni, dia ingin istrinya itu beristirahat dahulu setelah melalui banyak hal yang tidak mengenakan dan menguras emosi, belum lagi perjalanan panjang yang menguras tenaga juga.
Ya, saat ini Yama dan Karina sekarang sudah pindah ke rumah utama yang dulu hanya di tempati oleh Karina dan Cobra saja, namun kali ini Sabrina sudah tak mau lagi berpisah atau berjauhan dengan adiknya itu sehingga mereka di boyong ke rumah utama.
"Aku mau sekarang!" Rajuk Raya tiba-tiba.
"Besok ya, hari ini biar kita semua istirahat dulu, besok pagi kitake sana," bujuk Toni memberi penjelasan.
"Kalau kamu lelah dan gak bsa nganter aku ke sana,aku juga bisa pergi ke sana sendiri, bilang aja, gak usah beralasan, kamu gak mau nganter aku, kan? Iya tau, kalian pasti membenci ku karena aku adalah anak penjahat, karena aku anak Arsan!" Ucapan Raya semkin ngawur, ngaco dan malah mengatakan hal-hal yang tidak masuk di akal.
"Sayang, kamu kenapa? Demi Tuhan aku mau mengantar mu, tapi aku mau kamu beristirahat dulu hari ini, kamu pasti lelah, pikiran mu kcau sampai kamu berbicara ngaco, ngelantur seperti itu," Toni menangkup kedua pipi Raya dan memberikan tatapan teduhnya,tak sedikit pun pria itu terpancing emosinya meski posisi diapun saat ini jujur dalam keadan lelah segalanya, lelah fisiknya, lelah pikirannya, di tambah kini harus di buat lelah juga hatinya karena kelakuan absurd istrinya itu.
Namun sungguh di luar dugaannya, Raya menepis kedua tangan Toni di pipinya dan menangis sejadinya, dalam tangisnya dia meracau kalau suaminya itu tega pada dirinya karena tak mau memenuhi keinginannya.
"Sayang, aku hanya minta di anter ketemu ayah ku saja, namun kamu tak mau memenuhinya, tapi aku juga tak di ijinkan untuk pergi sendiri ke sana, sebenarnya apa maumu?" teriak Raya mengeluarkan semu kekesalan yang terpendam sejak kemarin.
Kekesalan yang sebenarnya salah alamat jika itu di tujukan pada suaminya, karena kekesalan dan kemarahan yang Raya rasakan saat ini lebih tepat di tujukan untuk dirinya sendiri, karena perdebatan batin yang tak bisa dia kendalikan sehingga berakhir dengan sikap tak jelasnya.
Toni menghela nafasnya panjang sekali, entah apa yang terjadi pada istrinya itu, semenjak pulang dari penyergapan itu emosinya seakan tak terkendali.
__ADS_1
"Oke, kita ke sana sekarang!" Toni mengalah, karena tak ingin istri tercintanya itu semakin drama dan semakin murka padanya.