Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Biar Takdir yang Berbicara


__ADS_3

Maman bergegas meninggalkan Karina yang masih bersimpuh di bawah kakinya memohon belas kasih darinya agar dirinya sudi membantunya menyelamatkan nyawa perempuan itu.


Demi Tuhan, bukannya dia tak ingin membantu wanita yang sebelumnya sudah banyak membantunya itu,, bukan juga dia ingin menjadi manusia yang tak tau balas budi, hanya saja sampai saat ini dia belum menemukan bagaimana cara menyelamatkan wanita itu.


Bagaimana bisa dirinya yang hanya sendiri melawan Arsan dan Rolan dengan jumlah anak buah yang tersebar di mana mana, bisa bisa, belum sempat menyelamatkan Karina malah nyawanya sendiri yang tak dapat terselamatkan.


***


Ponsel Toni berdering berkali kali, si pemilik ponsel memang sengaja mengabaikan deringan ponselnya, tak peduli siapapun yang menelponnya kini, dia hanya ingin menikmati minggu pagi dengan gadis tercintanya. Jelas Raya lah, siapa lagi!


"Suara ponsel mu sangat mengganggu, kenapa tak kamu angkat?" kesal Raya, dirinya merasa curiga sejak tadi penelpon dengan nama dan menampakan foto Sabrina terus menghubungi Toni, tapi pria itu seakan enggan sekali menerima panggiln darinya, "Apa karena ada aku, jadi kamu merasa tak leluasa berbicara dengan nya?" tuduh Raya, mulai dengan kecemburuan nya.


Dari pada masalah semakin melebar dan kecurigaan Raya merembet kemana mana, akhirnya Toni mengalah, dia meraih ponsel yang tergeletak di meja living room tempat mereka berdua duduk besantai pagi ini setelah mereka sarapan bersama, hanya saja, Panca dan Dila harus pergi ke suatu tempat entah kemana, mungkin mereka ingin menghabiskan waktu berdua atau juga mungkin mereka ingin memberi waktu Toni dan Raya untuk berduaan.


"Aku sedang cuti kerja, sekarang aku sedang bersama pacar ku, jangan ganggu aku lagi !" pungkas Toni mengakhiri pembicaraannya di telepon bersama Sabrina yang pasti sedang uring uringan dan kebingungan dengan pekerjaannya yang dari dua hari yang lalu hanya dia sendiri yang mengerjakan, karena Toni sedang mogok kerja akibat Rolan belum memberi info apa apa baik itu tentang Arsan mqupun tentang Karina.


"Haishhh,,,, kenapa kamu berbicara seperti itu sama Sabrina,?" protes Raya mendengar ucapan Toni yang mengatakan kalau dirinya tak ingin di ganggu karena sedang bersama pacarnya, ish,,, pria ini bisa saja bikin hati Raya berbunga bunga plus kegeeran tingkat dewa.

__ADS_1


"Ya, memang aku lagi pacaran, kan? Dan sedang tak ingin di ganggu juga!" terang Toni santai, dia tak tau saja jika perkataannya itu telah membuat hidung Raya kembang kempis di buatnya.


"Tak ku sangka, jauh jauh sekolah di luar negeri, malah berakhir jadi pelakor ya, aku ini!?" ujar Raya dengan tawa getirnya, menertawakan kisah cintanya yang harus menjadi kekasih gelap tuanangan orang.


"Apa sih, kamu tau apa alasan ku bertunangan dengan Cila, gak usah di bahas terus, yang penting kan, di sini cuma ada kamu!" ucapnya sambil menunjuk dadanya sendiri.


Di sela obrolan ringan mereka, Raya menceritakan kejadian tempo hari saat dia bersama Dila iseng lewat ke rumah lamanya, dan bertemu Maman di sana.


Toni terlihat seperti sedikit termenung, dia sepertinya baru teringat, bukankah Maman adalah salah satu orang kepercayaan Karina saat mereka masih menempati tempat itu, sepertinya tak ada salahnya jika besok atau lusa dia akan menemui Maman untuk bertanya tanya tentang Karina, meskipun mungkin akan sulit menggali informasi darinya, secara pria itu berada di pihak Karina, Tapi,,,, bukankah tak ada salahnya di coba? Kita tak pernah tau dari jalan mana Tuhan memberikan kemudahan, maka tetaplah berusaha!


Namun rasa ingin bertemu dengan Mman sepertinya tarasa sangat mengusik dirnya, Toni memutuskan untuk segera menemui pria penjaga rumah itu, kalu bisa hari ini, dia tak ingin membuang waktu dan menyia nyiakan kesmpatan.


"Tidak,, aku hanya berpikir tentang Maman, sepertinya sore ini aku akan menemuinya"


"Tapi untuk apa ?" Raya terkaget.


"Entahlah kata hati ku mengatakan kalau Maman seperti nya mempunyai informasi penting tentang Karina," jawab Toni jujur.

__ADS_1


"Ah,,, kamu ini, masih saja mempercyai kata hati mu, terakhir kali kata hati mu berkata kamu harus mnerima tawaran untuk bertunangan dengn Cila juga ternyata menjerumuskan!" ledek Raya yang sepertinya tak ada puasnya mngugnkit masalah pertunangan Toni dan Cilayang selalu membuatnya seakan naik darah di buatnya setiap mengingat hal itu.(Yaaa gimana lagi, disabar sabarin aja Ton, cewek mah kadang emang suka gitu, kalo belum puas bahas, ya di ungkit terus sampe akhir zaman,)


"Kalau keputusan yang itu bukan dari kata hati ku, tapi dari kebodohan ku!" cengir Toni mengakui kebodohannya sendiri karena dengan mudah dan tanpa pikir panjang langsung menyetujui permintaan Rolan yang sepertinya sangat tau kalau dirinya itu sedang dalam posisi mudah di perdaya.


"Baiklah, aku hanya minta kamu berhati hati, dan jangan terburu buru dalam mengambil keputusan fatal atau penting, dan kamu harus ingat janji mu, selalu libatkan aku, meski aku tidak bisa banyak membantu, setidaknya aku bisa di jadikan tempat mu berkeluh kesah, dan aku juga bisa memberi sedikit masukan yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan mu,"kata Raya panjang lebar, dia sungguh tak ingin oi salah langkah lagi, sudah cukup kesalahannya bertunangan degan Cila membuat kacau semuanya, mulai sekarang ke depan, dia tak ingin merasa kecolongan lagi.


"Hemh,,, andai aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin meng skip kejadian di mana aku menyetujui permintaan Rolan untuk menjdi tuanangan putriya, tak ada jalan lain untuk kembali ke masa lalu," gumam Toni, sanngat merasa bersalah dalam hal ini. Selain diriny a merasa bersalah pada Raya tentunya, diajuga mersa besalah pada Cila yang tanpa di sadari dirinya telah memanfaatkan perasaan cinta Cila yang begitu besar hanya untuk dia jadikan alat agar Rolan mau membantunya. Bukankah itu sangat jahat? Lalu apa bedanya dirinya dengan Rolan yang hanya bisa memanfaatkan kelemahan dan ketidak berrdayan orang lain demi tercappainya keinginan dirinya sendiri.


"Tak ada yang mampu mengubah masa lalu, dan tak ada juga yang bisa memutar waktu agar masa lalu itu tak terjadi, selama kita masih bisa menyadari apa kesalahan kita dan berusaha memperbaiki semuanya di masa datang, maka masa lalu akan menjadi sebuah pelajaran yang sanat berharga di kehidupan kita selanjutnya sebagai pengingat agar untuk tetap berhati hati." urai Raya dengan lembut, bagaimana pun itu semua sudah menjadi takdir yang berikan oleh sang kuasa, di mana baik dirinya maupun Toni di minta agar lebih berhati hati dalam melangkah, karena dalam beberapa kasus, manusia tak akan pernah bersikap waspada jika dirinya belum pernah merasakan tersandung.


"Terimakasih, aku akan mendiskusikan segala sesuatunya pada mu di kedepannya, maaf jika aku membuat semuanya menjadi begitu rumit untuk kita." Toni meraih kedua tangan Raya untuk di genggamnya, tersirat jelas wajah penuh penyesalan itu benar benar tak ingin lagi mengecewakan Raya untuk ke sekian kalinya.


"Sudahlah, maafkan aku juga yang telah membuat mu terlibat dan terjerumus dalam masalah ku yang rumit ini, sungguh aku tak menyangka jika gara gara masalah keluarga ku ini kamu sampai menggadaikan hidupmu pada keluarga Cila,"


"Tidak, tidak,,, semua itu bukan salah mu, itu murni karena kebodohan ku sendiri, aku yang melemparkan diriku sendiri dalam usaran masalah keluarga mu, jadi jangan menyalahkan diri mu lagi." Toni memeluk erat tubuh Raya seakan tak akan ada lagi hari esok bagi mereka.


Mereka juga berjanji untuk saling jujur dan saling membantu dalam hal apapun di kedepannya, tak perduli itu hal yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan, sekalipun.

__ADS_1


Tentang pertunangan Toni dan Cila, ataupun janji Toni pada Rolan tentang pernikahan, mereka hanya akan menjalani semua takdir Tuhan yang tertulis untuk merka ber tiga, jika memang yang terbaik menurut Tuhan Toni harus menikah dengan Cila, Raya juga sudah siap dengan semua itu, dia yakin rencana Tuhan adalah skenario terbaik untuk kehidupan umatnya, tak perlu melawan arus, cukup jalani saja dengan ikhlas.


Toni berpamitan pulang siang itu, entah mengapa kata hatinya benar benar menuntun dan memaksanya untuk segera menemui Maman di rumah lama milik Arsan itu, bisa saja ini memang petunjuk Tuhan untuknya, bukan?


__ADS_2