Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Hilangnya Arsan


__ADS_3

Perasaan Toni terasa sangat tak enak siang ini, kata hatinya dia harus segera pergi ke tempat penyekapan Arsan saat itu juga, dan tak bisa menunggu sampai malam tiba, itu terlalu lama, bisa saja saat ini nyawa Arsan benar benar sedang terancam dan butuh bantuannya, dan dia harus segera memastikan keadaan Arsan baik baik saja dengan mata kepalanya sendiri agar hatinya sedikit tenang.


Setelah memantapkan hatinya, Toni segera bersiap siap, tak lupa dia menyelipkan tiga pucuk senjata, di balik punggungnya, dan di kedua saku jaketnya. Senjata yang dia dapat dari Rolan tadi, memang sangat di butuhkannya, mengingat dirinya akan pergi seorang diri, dan hanya senjata itu yang akan menjadi teman yang akan membantunya selain kemampuan dirinya sendiri tentu saja.


Toni mengendarai motornya dengan hati yang sungguh benar benar tak tenang, firasatnya mengatakan kalau sesuatu telah terjadi pada diri Arsan, meski dia sendiri tak tau itu apa, dia hanya berharap itu bukan sesuatu hal yang buruk, dia tak akan pernah tega melihat Raya semakin menderita.


Benar saja, saat Toni sudah berada di tempat penyekapan yang Rolan berikan alamatnya, tempat itu terlihat sepi, tak ada penjagaan ketat seperti yang Rolan sebutkan dan perlihatkan foto fotonya pada Toni tempo hari, dimana anak buah Cobra berjaga di setiap sudut tempat itu.


Mengendap endap Toni menaiki tembok pembatas halaman belakang rumah, yang hanya setinggi satu setengah meter itu, perlahan dan dengan hati hati Toni berjalan penuh waspada di halaman belakang rumah yang terasa sepi itu, hati Toni makin tak karuan saat melihat pintu belakang rumah itu yang di biarkan terbuka tanpa penjagaan.


Apakah mereka teledor tidak menjaganya, ataukah ini sengaja jebakan untuknya dan mereka tau akan kedatangannya, Toni meraih salah satu senjata yang dia simpan di saku jaket sebelah kirinya, dia berjalan dengan sejata di tangan kanannya yang telah siap memuntahkan timah panasnya.


Ini terlalu janggal, tak mungkin Cobra se teledor itu tak menjaga 'hasil buruannya' dengan baik, ini bukan ciri khas Cobra, kecuali kalau Rolan memberinya alamat yang salah.


Toni mulai menyelinap masuk lewat pintu belakang yang terbuka itu, dia sudah pasrah, jika memang itu jebakan untuknya, tidak ada jalan lain selain hadapi, sudah sejauh ini dan dia tak ingin mundur sejengkal pun.


Toni kini berada di area dapur rumah yang tak begitu luas itu, terlihat alat alat masak yang sepertinya bekas di pakai dan belum sempat di cuci, bahkan ada beberapa piring yang masih menyisakan sisa nasi dan makanan di sana.


Sepertinya belum terlalu lama di tinggal, mengingat belum tercium bau busuk maupun jamur di bekas makanan sisa itu.


Rumah yang tampak sepi itu tak membuat Toni lalai, dia justru makin meningkatkan kewaspadaannya saat dirinya melangkah semakin ke dalam rumah itu, rumah dengan dua kamar tidur itu benar benar tak berpenghuni lagi, tak ada penjagaan ketat lagi seperti yang Rolan certitakan padanya.


Hanya tinggal kamar depan yang belum Toni periksa dari semua ruangan yang ada di rumah itu, untuk menghabiskan rasa kepenasarannya, Toni membuka pintu kamar yang tadinya bekas di tempati Arsan itu, dan lagi lagi tak ada satu orang pun terlihat fi trmpat itu.


Mata Toni menangkap selembar kertas yang tergeletak di atas ranjang kosong itu, Toni merasa tertarik untuk meraih dan melihatnya,


"Arrrggghhh,,, shiiittttt ! Bajingan kau Cobra !" teriak Toni marah sambil meremas kertas yang ternyata berisi tulisan pesan yang di tujukan untuknya.


'Sepertinya kau harus mencari Arsan di tempat lain, Lion !'

__ADS_1


Cukup singkat memang, pesan yang tertulis di kertas itu, hanya saja efeknya cukup berpengaruh pada perasaan Toni yang kini merasa dipermainkan oleh Cobra, pertanyaannya dari mana Cobra tau kalau dirinya akan ke tempat itu, sementara Rolan saja taunya Toni baru akan ke tempat itu nanti malam, Cobra memang tak bisa di anggap sepele.


***


Sementara Panca tak dapat menahan kepergian Raya ke perusahaan ayahnya dan brrsikeras menolak untuk di temaninya meski Panca memaksanya mulai dari cara halus sampai dengan ancaman sekali pun, Raya sepertinya berubah menjadi sangat keras kepala setelah tak lagi bersama Toni, sepertinya saat bersama Toni gadis itu sangat patuh dan gampang untuk di atur, tapi sekarang rasanya gadis itu berubah menjadi sangat bengal, apakah itu semua efek dari rasa kecewa dan marahnya pada Toni, atau sikapnya saat ini merupakan luapan aksi protesnya pada sang bodyguard yang membuatnya terlanjur membenci ? Entah lah, hanya Raya yang tau.


Raya benar benar pergi sendirian, bahkan saat Dila menawarkan diri untuk menemaninya, dengan tegas Raya menolaknya, dia hanya ingin pergi sendiri, karena perginya ini bukan hanya sekedar pergi, melainkan dia ingin menikmati waktunya sendirian, menikmati kesedihannya, menikmati kemarahannya, dan menikmati kekecewaan yang masih sangat bergemuruh kencang di dadanya.


Raya butuh waktu, waktu untuk sendiri, waktu untuk mencerna dan menerima semuanya dengan lapang dada, meski itu jelas pasti tak akan mudah.


Mobilnya terparkir di basement, Raya merasa harus mendatangi ruang kerjanya, karena cctv yang terhubung dengan ponselnya tiba tiba kehilangan koneksi dua hari terakhir ini, sehingga dia tak bisa memantau apa yang terjadi di perusahan milik ayahnya itu.


Langkahnya terasa berat, terlalu banyak beban yang bersarang di pundak ringkihnya itu, beberapa staf yang dia lewati menatapnya dengan tatapan aneh,


'Kenapa ? apa ada yang salah dengan dadanan ku ? bahakan rasanya aku telah menyamarkan mata sembab ku dengan sempurna,' tanya Raya dalam hatinya, karena merasa di perhatikan dengan cara berbeda.


Padahal, biasanya para staf memberinya hormat dengan anggukan kepala atau sekedar memberinya senyuman, bukankah ayahnya masih pemilik perusahaan ini, dan bukankah dia juga masih sebagai pemegang jabatan tertinggi di perusahaan itu ?


Langkah Raya tertahan saat seorang wanita yang duduk di meja sekretaris yang tadinya di tempati oleh sekretarisnya menghentikan langkah Raya.


"Maaf, anda mau bertemu siapa ?" tanya wanita dengan name tag Diah itu sopan.


"Maksud mu ? Aku ingin masuk ke ruangan ku, siapa kamu berani beraninya menghalangi ku ?" kesal Raya kemudian dengan wajah di pasang se jutek mungkin, bagaimana bisa wanita asing ini menghalanginya masuk ke ruangannya sendiri, di perusahaan milik ayahnya sendiri, pula.


"Tapi--- bos sedang tidak bisa di ganggu !" wanita bernama Diah itu menjegal langkah Raya dengan berdiri tepat di depan pintu masuk ke ruang kerjanya.


"Minggir, apa kau tak tau siapa aku ?" bentak Raya.


Tanpa rasa takut, wanita itu menggeleng dengan polosnya.

__ADS_1


"Sejak kapan kau bekerja di sini ?" tanya Raya dengan tatapan tajamnya.


"Baru empat hari ini," jawabnya masih belum mau menyingkir dari ambang pintu, menghalangi langkah Raya.


"Minggir, aku bilang !" teriak Raya, kesabarannya habis, dia mendorong kasar wanita itu dari hadapannya dan menerobos masuk ke dalam ruangan yang pintunya ternyata tak terkunci itu.


"Ada apa Diah,,? Bukankah aku sudah bilang kalau aku tak ingin di ganggu !" bentak seorang pria yang bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah di mana sekarang Raya berdiri dan menatap sepasang manusia yang sedang bercumbu di meja kerjanya, cih,,,menijikan ! Decihnya dalam hati.


Pria itu asik mencium dan menggerayangi tubuh perempuan di hadapannya, denganposisi si pria membelakangi pintu masuk, sehingga dia tak tau kalau tenyata yang masuk ke ruangannya itu bukan lah Diah sang sekretarisnya seperti yang dia duga.


"Menjauh dari meja kerja ku, bajingan !" teriak Raya sambil melempar tempat sampah yang ada di dekatnya berdiri ke arah dua orang tak tau malu itu dengan sekuat tenaga, mengerahkan sisa sisa tenaga yang dia miliki saat ini.


Pria itu terjingkat kaget ketika sebuah tempat sampah almunium melayang dan tepat menimpa belakang kepalanya, belum lagi ketika dia menyadari kalau suara yang baru saja meneriakinya bukanlah suara Diah sang sekretaris, namun suara seseorang yang sangat di kenalnya, dan tak dia kira akan datan ke ruangan tempatnya bercumbu.


"Ra- Raya,,, sayang !" kata kata itu lolos begitu saja dari bibir Martin tanpa di sadarinya.


Sementara wanita yang menjadi pasangan mesum nya terbelalak sempurna saat mendengar Martin memanggil kata 'sayang' pada Raya, membuat Martin seolah ketakutan dengan pelototan wanita itu, karena Martin terlihat langsung tertunduk dan tak berani berkutik di hadapan wanita itu.


"Apa kau tak punya sopan santun memasuki ruang kerja ku seperti itu ?!" ucap wanita itu, wanita yang sama yang Raya temui saat Raya mencari Martin di apartemennya, ya,,, wanita itu yang membukakan pintu saat Raya berusaha mencari Karina di apartemen Martin.


"Apa,,, ruang kerja mu ?! Hey nona, bangun dari tidur mu, berhenti bermimpi ! sejak kapan perusahan milik ayah ku ini dipimpin oleh orang asing tak jelas seperti mu, atau kau sedang mabuk ? ucapan mu ngelantur, ngaco !" ucap Raya penuh emosi, dia bertanya tanya dalam hati, kenapa seolah semua orang menjadi gila hari ini.


"Tentu saja aku dalam keadaan sadar saat ini, tak tertidur ataupun sedag mabuk, sebaliknya,,, kau sepertinya yang sedang berhalusinasi masih merasa kalau kau ceo di tempat ini, haloooo,,,,! Aku ceo nya saat ini !" Si wanita itu tak kalah emosi melawan semua ucapan Raya yang di tujukan padanya.


"Apa maksud semua ini, jangan main main, mana Bagas ?!" tanya Raya, kepalanya seakan tak bisa berpikir jernih lagi, mungkin Bagas bisa menjelaskan padanya tentang semua kekacauan ini.


"Aku telah memecatnya !" ucap wanita itu lagi.


"Apa hak mu memecatnya ?" geram Raya,

__ADS_1


"Tentu saja aku berhak, karena aku ceo dan berkuasa di sini !" wanita itu tersenyum miring, seolah sangat puas melihat wajah kebingungan Raya saat ini.


"Siapa kau sebenarnya ?" tanya Raya, tak ingin berlama lama beradu argumen dengan wanita asing itu, ini terlalu konyol buatnya, kenapa tiba tiba ada perempuan asing yang mengaku ngaku sebagai ceo di perusahaan milik ayahnya itu.


__ADS_2