Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Hati yang Porak Poranda !


__ADS_3

"Raya,,, tolong jangan seperti ini, kau membuatku kebingungan !" Toni mengangkat wajah yang di sembunyikan Raya dari pandangan mata Toni yang sebetulnya kalau boleh jujur, pandangan mata pria itu masih sangat di rindukannya.


Raya mengangkat kepalanya perlahan, namun matanya masih menunduk, menatap ujung kakinya sendiri, gadis itu tak kuasa harus beradu pandang dengan pemilik mata yang selalu terkesan galak namun sealu dapat menenangkan hatinya itu.


"Apa yang terjadi ?" pria kuat yang tiba tiba menjadi lemah itu menguatkan hatinya mencoba menyiapkan hatinya jika terpaksa harus menerima hal buruk lagi di hari ini.


Raya semakin tertunduk, tak kuasa menjawab pertanyaan Toni yang kini berdiri agak membungkuk di samping kanannya yang masih duduk di balik kemudi.


Kesabaran Toni sepertinya sudah habis, di putarnya bahu Raya agar menghadap dirinya, lalu di angkat pula dagu wanita yang tertunduk semakin dalam itu, Toni penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis itu.


"Katakan padaku, apa yang terjadi, apa kau baik baik saja ? Jawab !" suara Toni agak meninggi, di periksanya sekujur tubuh gadis itu dengan sapuan pandangan matanya, tak ada luka yang terlihat sama sekali di sana, sukurlah hatinya bisa sedikit bernafas lega.


"Pergi,,, biarkan aku sendiri,,, pergi sana sama tunangan mu !" Raya mulai bersuara, namun tentu saja ucapan yang kini keluar dari mulutnya itu bukan jawaban yang sesuai harapan Toni.


"Apa maksud mu, mana mungkin aku meninggalkan mu di sini sendirian, bagaimana pun, kau masih tanggung awab ku, aku bertugas menjaga mu dalam keadaan apapun,!" jawab Toni mengingatkan dan menyadarkan kembali Raya bahwa pria itu saat ini hanya sedang menjalankan tugasnya sebagai bodyguardnya saja,


"Dari sekian juta orang di dunia ini, kenapa harus kau yang menemukan ku di sini, kenapa harus kau yang peduli pada ku ?" suara Raya mulai terdengar bergetar seiring dengan rasa sakit yang terasa di hidungnya dan rasa panas di matanya, ya,,, gadis itu mulai menangis saat ini.


"Aku bertanya, sekali lagi pada mu, apa yang terjadi ?" tatapan mata Toni seolah menghipnotis Raya, di tengah isak tangisnya, gadis itu akhirnya mau mengatakan apa yang terjadi padanya beberapa saat sebelum Toni datang tadi,


"Aku kehabisan bahan bakar, sementara aku lupa tak membawa dompet ku, aku juga tak bisa menghubungi siapapun karena ponsel ku kehabisan daya, dan aku tak membawa charger," semburnya menungkapkan semua kekesalannya.


"Ckkk,,,!" hanya suara decakan kesal yang terdengar dari mulut Toni menyembunyikan perasaannya yang kini benar benar lega karena ternyata benar benar tak terjadi apapun pada diri Raya selain dia sedang kehabisan bahan bakar dan tak bisa berbuat apa apa.


"Turun lah,,, ikut aku !" titah Toni dengan wajah datarnya.


Namun Raya si kepala batu itu masih tak mendengarkan perintah Toni dan bersikeras bertahan duduk di dalam kabin mobilnya sambil menyeka airmata yang berjatuhan di pipinya.


"Kau akan tetap di sini sampai pagi,? buang jauh jauh angan mu jika berharap akan ada orang lain yang akan menolong mu, tak akan ada yang berani melewati kuburan angker di depan sana, apalagi ini malam jumat !" ucap Toni sedikit menakut nakuti meski apa yang di katakannya memang benar adanya.


Raya menoleh ke kanan dan ke kiri, depan belakang, pantas saja sejak tadi rasanya tak ada yang melintas di sepanjang jalan ini, apa yang di katakan pengawal pribadinya itu benar, atau hanya ingin menakuti nya saja ? Tapi tiba tiba tubuh Raya seakan merinding, entah tersugesti ucapan Toni, atau memang karena dirinya yang kelewat penakut, Raya sontak saja loncat dari dalam mobil, dan berpegangan ke tubuh Toni dengan erat, apalagi saat samar samar terlihat beberapa deretan nisan yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri, untung saja tadi saat dirinya di dalam mobil sendirian dia tak menyadari adanya pemakaman itu, kalau iya, Raya yang penakut itu bisa mengompol di celana sejak tadi.


"A- Apa di tempat ini benar benar banyak setannya ?" tanya Raya, ketakutan, wajahnya bahkan kini sudah dia sembunyikan di balik punggung Toni, tangannya pun sedikit gemetaran memegangi lengan kekar pria yang kini sedang mengulum senyum tertahan karena merasa lucu melihat tingkah polah Raya yang sedang ketakutan saat ini.


"Hemh, banyak,,, apalagi setannya juga paling suka mengganggu manusia keras kepala seperti mu, yang tak bisa di bilangin, di suruh diam di rumah malah kelayapan kesana kemari ! untung cuma bensin mu yang di bikin habis oleh para hantu itu, bagaimana kalau mereka tiba tiba muncul di hadapan mu ?" Toni malah semakin menakut nakuti Raya.

__ADS_1


"Lion,,, kau menakut nakuti ku !" pekik Raya.


"Sekali lagi kau memanggil ku dengan nama itu, ku pastikan kau akan ku tinggalkan di sini sendirian !" ancam Toni yang telinganya tak dapat menerima jika Raya memangilnya dengan sebutan Lion, seperti yang lainnya.


"Apa masalahnya, toh, semua orang bahkan tunangan mu pun memanggil dengan nama itu !" protes Raya.


"Kau bukan orang orang itu dan kau juga bukan Cila !" ucap Toni yang terdengar seperti tak ingin mengakui kalau Cila itu tunangannya.


Entah apa maksud Toni, membedakannya seperti itu, namun Raya sedikit merasa berbangga hati, karena seingatnya, pria itu pernah mengatakan, selain almarhum ibunya, hanya dirinya lah yang memanggilnya dengan nama Toni.


'Ah,,, jangan bodoh Raya,,, dia sudah bertunangan, jangan geer dengan pikiran dan asumsi mu sendiri,,,!' Raya mencoba membuat otaknya kembali berpikir waras, agar tak berharap pada perasaan bodohnya lagi.


Toni membawa Raya kebali ke tempat kostnya, sementara mobil Raya di tinggal di jalan angker itu, dia sudah menghubungi Panca untuk mengambilnya nanti.


"Kenapa ke sini ?" tanya Raya heran karena dirinya di bawa Toni ke tempat kostnya.


"Apa kau ingin menunggu di area pemakaman angker itu ?" Toni balik bertanya.


"Panca nanti akan mengambil mobil mu dan sekalian menjemput mu di sini, kecuali kalau kau lebih suka menunggu jemputan di sana, aku akan dengan senang hati mengantar mu ke area pemakaman itu lagi," ucap Toni dengan senyum culasnya.


"Panca sedang ada urusan pekerjaan, dan itu agak jauh tempatnya, sementara pacarnya juga ikut bersamanya, jadi di rumanya tak ada orang !" jelas Toni, yang tadi baru saja mendapat kabar dari Panca kalau dia bersama Dila sedang mengambil beberapa spare part mobil selundupan di pelabuhan, dan biasanya memang pengambilannya tidak bisa di wakilkan pada orang lain karena itu sangat rahasia dan berbahaya.


"Pacarnya ?" beo Raya.


"Iya, katanya orang bengkel, dia berpacaran dengan sahabat mu itu, siapa namanya, Dila ?!" jelas Toni, Raya mengangguk anggukan kepalanya, tanda mengerti.


"Tidurlah, mungkin besok pagi mereka baru akan menjemput mu ke sini !" lanjut Toni.


"Besok pagi ?" beo Raya lagi, itu berarti semalaman dia harus bersama Toni, bagaimana ini, Raya merasa sangat canggung.


"Hem,,," angguk Toni sambil ngeloyor hendak pergi dari kamar itu.


"Kamu mau kemana ?!" Raya terkesiap saat menyadari Toni hendak meninggalkannya sendirian di kamar sempit itu.


"Aku akan tidur dan berjaga di luar," ucap Toni menunjuk sofa butut yang berada di luar kamarnya.

__ADS_1


"Kamu di sini saja, aku tak mau di tinggalkan sendiri, aku takut !" ucap Raya, bayangan jejeran nisan di area pemakaman angker tadi plus cerita seram Toni seakan terus menghatui pikirannya.


Tak ingin berpikiran ke mana mana dan tak ingin memperpanjang perdebatan dengan Raya, akhirnya Toni mengalah dan mengurungkan niatnya keluar kamar.


"Kau cepatlah tidur di atas kasur, biar aku tidur di karpet," Toni menunjuk kasur busa sempitnya yang tanpa ranjang itu untuk menjadi tempat tidur Raya malam ini, sementara dirinya akan tidur di karpet yang letaknya masih bersebelahan dengan kasur itu, ruangan itu memang sempit, jadi untuk tidur berjauh jauhan pun tak ada space lagi di sana.


Raya mengangguk, meski harus merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya akibat harus tidur berdekatan dengan bodyguardnya itu, memang ini bukan pertama kalinya mereka tidur dalam satu kamar, namun sebelumnya mereka tidur satu kamar di kamar Raya yang sangat luas, dan Toni pun tidur di sofa yang letaknya agak berjauhan dengan ranjang Raya, sementara kali ini---?


Ah, sudahlah, yang penting dia ada temannya di ruangan itu, tidak sendirian dan tak harus di teror rasa ketakutannya.


Bermenit menit kamar itu terasa hening, Raya tak bisa benar benar tertidur, sementara Toni yang tidur dengan posisi memunggunginya, Raya rasa juga belum terlelap sama seperti dirinya saat ini.


"Lion,,, apa kamu sudah tidur ?" Raya memberanikan diri memanggil pria yang posisinya hanya kurang dari satu meter dari tempat tidurnya kini.


Namun tak ada jawaban dari Toni, dia terlalu malas untuk menjawabnya, meski Toni tau Raya sedang memandangi punggungnya sejak tadi.


"Toni,,, apa kamu sudah tidur ?" kali ini Raya memanggilnya dengan panggilan biasanya,


"Sudah,!" jawab Toni, tanpa di duga ternyata kali ini dia mau menjawab pertanyaannya.


"Ish,,, mana ada orang tidur bisa jawab !" cebik Raya.


"Toni,,,, aku kangen !" entah ketempelan setan kuburan angker atau keberanian dari mana, kata kata itu meluncur begitu saja dari bibir Raya, melupakan rasa marahnya pada pria itu sebelumnya karena sudah bertunangan dengan Cila secara diam diam.


"Aku tau,,, saking kangennya, kamu bahkan sampai ketiduran menunggu ku di depan kost sampai malam, kan ?" jawab Toni, masih dengan posisi memungguninya, bahkan sekarang dia memejamkan matanya secara paksa berharap dirinya tiba tiba bisa terlelap.


"Ishh,,, nyebelin, kamu pasti gak kangen aku ya,,,? eh, iyalah,, dua hari ini pasti kamu gak bakal inget aku, secara bareng sama tunangan mu terus,,!" cicit Raya, melemparkan pertanyaan, yang lalu di jawabnya sendiri.


Toni terus terpejam dengan mempertahankan posisinya yang masih memunggungi gadis yang seolah tak berhenti berceloteh itu, Toni sangat menghindari dan tak ingin bersitatap dengan mata Raya saat ini, bisa bisa fokusnya untuk menjalankan misi yang sudah setengah jalan ini akan terbagi.


"Toni,,, apa aku boleh jujur ? Meski ini mungkin terlambat karena kamu sudah menjadi milik orang lain saat ini, tapi aku ingin tetap mengatakannya pada mu, tanpa harus kamu jawab atau balas perasaan ku," Raya masih terus mengoceh bak burung ocehan yang baru makan kroto.


"Toni,,,!" tangan Raya terulur dan menepuk lembut bahu pria yang masih setia memunggunginya itu.


"Aku sebenernya suka kamu !" sambung Raya, sepertinya gadis itu benar benar kehilangan akal sehatnya, bisa bisanya dia menyatakan cinta pada pria yang baru saja bertunangan dengan wanita lain.

__ADS_1


Meski Raya tadi mengatakan hanya ingin jujur dan tak meminta Toni untuk membalas perasaannya, tetap saja perkataan Raya itu membuat tubuh Toni terasa panas dingin di buatnya, apalagi di tambah sentuhan lembut tangan Raya di bahunya, halah,,, kenapa hati Toni terasa makin porak poranda saat ini ?


__ADS_2