
Sudah cukup rasanya bagi Toni selama hampir tiga hari ini bersembunyi, sesekali merasakan menjadi pengecut yang lari dari masalah sepertinya tak apa ya,,, terkadang saat otak sudah benar benar buntu tak dapat berpikir, kita hanya perlu istirahat dan berdiam diri dahulu, cooling down dari semua masalah, setelah itu niscaya otaknya menjadi kembali fresh, seperti yang dia rasakan sekarang ini, biasanya keputusan jika di ambil dalam suasana hati dan pikiran tenang akan menghasilkan sesuatu yang positif.
Rasa rasanya semangat Toni kembali membara setelah dia bertukar cerita dengan mang Dasep yang selain memberinya banyak fakta yang dia tak tahu tentang Arsan sebelumnya, mang Dasep juga banyak memberi masukan dan semangat untuknya dalam menghadapi semua masalah rumit ini, begitu besar harapan mang Dasep yang dia titipkan di bahu Toni, salah satunya untuk tetap menjaga Raya apapun yang terjadi, beruntungnya itu tak pernah menjadi sebuah beban bagi Toni, karena menjaga Raya adalah tujuan hidupnya kini, dari hidup sebelumnya yang tak pernah punya tujuan.
Toni menyalakan ponselnya, ada ratusan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan masuk tertera di sana, belum sampai tiga hari dirinya menarik diri, ternyata dirinya cukup di rindukan dan di cari banyak orang juga, pikirnya dengan dengan senyum kecut sambil mengotak atik benda kotak pipih itu.
Ada nama Raya tentu saja yang paling banyak melakukan panggilan dan mengiriminya pesan, lalu ada Panca, kemudian Cila dan juga Sabrina.
Tapi tunggu tunggu,,, ada sebuah pesan yang menarik perhatiannya, sebuah pesan dari Rolan yang di kirimkan untuknya,
'Aku tau keberadaan Karina' begitu pesan yang dia tuliskan oleh Rolan, di sertai foto Karina yang terikat dengan wajah penuh lebam,
'Oke, permainan apa lagi yang ingin kau berikan pada ku, sialan!' umpat Toni dalam hatinya, dengan menyunggingkan senyum sinisnya, sudah dia bulatkan tekat, dia akan mengikuti permainan Rolan dan Arsan, berpura pura bodoh dan tak mengetahui yang sebenarnya mungkin akan menjadi permainan yang menyenangkan, sembari mengumpulkan lebih banyak lagi informasi dan fakta tentang kejahatan Rolan dan Arsan.
Baru saja Toni hendak menaiki motornya, ponselnya berdering kembali, kali ini dari Sabrina, 'Ah,,, ada apa wanita ini menelpon ku sampai puluhan kali dari kemarin?!' batinnya, Toni pun mengalah, dia menerima panggilan telepon itu lalu berbincang beberapa menit dengan partner kerjanya di proyek pembangunan bar dan kasino itu.
Setelah mengakhiri pembicaraannya dan berpamitan pada mang Dasep, Toni segera melajukan motornya untuk kembali ke Ibukota, kembali ke dunia nyata, kembali menghadapi semua masalah dengan jantan, dia sudah bertekad untuk menuntaskan semuanya sampai benar benar tuntas, meskipun orang orang akan berpikiran atau mengatakan dirinya lambat dalam menyelesaikan semua masalahnya, tapi setidaknya dia berjanji tak akan pernah mundur apapun yang terjadi.
Sebelum menemui Rolan, dia sempatkan untuk bertemu Raya terlebih dahulu di Lubis Corp, gadis itu pasti sangat khawatir padanya karena menghilang tiba tiba tanpa kabar dan berita.
Langkah kaki Toni terasa ringan pagi itu, saat berjalan menuju ruang kerja Raya, tepat pukul delapan tiga puluh pagi, Toni sudah sampai di kantor megah itu, setelah semalaman dia berkendara menembus dingin dan gelapnya jalanan malam.
Begitu Toni membuka pintu ruangan yang menjadi tempat kerja Raya di perusahaan besar yang tadinya milik keluarga nya itu, terlihat Raya sedang asik memeriksa dokumen di meja kerjanya.
Kepala Raya kemudian mendongak, melihat siapa yang datang ke ruangan nya tanpa permisi itu, saat menyadari kalau yang datang adalah Toni, pria yang selama tiga hari ini di rindukan nya, Raya langsung terlonjak dari kursi kerjanya dan berhambur memeluk pria itu sambil menangis tersedu.
"Aku pikir kamu, tak mau menemui ku lagi, aku pikir aku sudah benar benar kehilangan kamu, aku takut kamu kenapa kenapa,!" adunya bercampur isak tangis.
__ADS_1
"Aku hanya sedang sedikit sibuk mengerjakan pekerjaan ku, maaf kalau aku membuat mu hawatir, aku baik baik saja, seperti yang kamu lihat!" Toni mengusap punggung Raya agar gadis itu merasa tenang.
"Tapi kamu tidak bisa di hubungi, mas Panca juga tidak bisa menghubungi mu, aku pikir kamu----" ucapan Raya kembali terhenti karena dia menangis lagi dan lagi.
"Aku minta maaf, aku janji gak ninggalin kamu lagi!" ucap Toni seraya menciumi pucuk kepala Raya yang seolah tak bisa menghentikan tangisnya sejak tadi.
***
Berhasil menenangkan Raya, dan bertemu Sabrina sebentar, yang juga sedang berada di kantor yang sama dengan Raya, kini Toni sudah berada di sebuah area pemakaman yang berada di pinggiran kota Jakarta, entahlah, apa yang menjadi alasan Rolan mengajaknya bertemu di tempat itu, Toni pun tak ingin banyak bertanya pada pria itu.
"Akhirnya kau datang juga,kau menghilang begitu saja, kemana saja dua hari ini, kau takdapat ku hubungi?" cicit Rolan menyambut kedatangan Toni yang wajahnya tampak santai tanpa marah atau kesal padanya.
"Aku hanya berlibur menikmati waktu cuti kerja ku," ucap Toni tenang.
"Aku punya kabar baik dan kabar buruk untuk mu," ucap Rolan, menggiring Toni pada sebuah kuburan yang nampak seperti masih baru dengan tanah merah yang masih menggunduk dan papan nisan yang bertuliskan nama Karina,
"Karina ?" gumam Toni nampak sedikit mengerutkan keningnya saat membaca tulisan di nisan yang masih menggunakan papan khas kuburan baru.
"Maaf, aku terlambat. Karina ternyata selama ini menjadi tawanan Cobra, aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, sebenarnya itu yang akan aku sampaikan pada mu namun belum sempat aku sampaikan pada mu, Cobra dan anak buahnya sepertinya sudah menghabisi Karina, dan di sini lah dia kini berakhir!" ungkapnya seraya menunjuk kuburan itu.
Toni terlihat menghela nafas panjangnya, terlepas dari benar atau tidaknya yang di ungkapkan Rolan padanya, Toni sudah benar kehilangan kepercayaan dan kehilangan respect pada pria itu.
"Baiklah, apa mau di kata, kalau memang sudah tiada, tak mungkin bisa di hidupkan lagi, bukan?" ucap Toni, yang justru membuat Rolan sedikit kaget dengan respon Toni yang dia kira akan mendebatnya atau bahkan tak percaya dengan apa yang di ucapkannya, namun sebaliknya, dia malah terlihat seperti santai saja menanggapinya.
"Kau yakin?" tanya Rolan memastikan.
"Mau bagaimana lagi?" Toni hanya mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan proyek kita?" Rolan mulai menanyakan nasib proyek yang kemungkinan akan sedikit tersendat dan terhambat jika Toni tak lagi mengurusnya.
"Proyek kita? Proyek mu, maksudnya?" ralat Toni dengan gaya sarkasnya.
"Oh ayolah, apa yang ku punya akan menjadi milik menatuku kelak, dan bukankah itu berarti kau, orangnya!" Rolan meninju pelan bahu Toni.
"Oke,,,terkadang aku memang lupa kalau aku akan menjadi menantu mu, karena kau sudah memenuhi janji mu memberi informasi tentang Karina, maka aku pun akan melanjutkan pengerjaan proyek itu," ucap Toni yang latas di sambut senyuman Rolan.
"Tragis sekali nasib wanita itu, padahal beberapa hari yang lalu aku baru mendapat info tentang orang kepercayaan Karina yang bekerja di rumah lama Arsan, tapi sayang, ternyata info itu palsu," cicit Toni seakan sedang bergumam sendiri.
"Orang kepercayaan Karina?" beo Rolan, hatinya agak menegang, takut kalau kalau Toni ternyata mengetahui sesuatu.
"Ya, tapi infonya palsu, aku sempat mengecek langsung ke rumah itu, hanya saja ternyata tak ada orang bernama itu di sana, sudahlah tak perlu di pikir, terkadang banyak orang yang memanfaatkan situasi dalam keadaan seperti ini," ucapnya setengah meyindir.
Rolan hanya terdiam seraya tersenyum dalam hatinya dan seketika ketegangan di hatinya itu sirna seiring penuturan Toni yang menurutnya telah berhasil termakan tipu daya yang di ciptakannya bersama Arsan, sehingga tampak tak ada kecurigaan sama sekali di diri Toni dan menganggap kalau itu semu memang benar adanya.
"Sepertinya aku harus pulang, sampaikan pada putri mu, nanti aku akan menjemputnya untuk makan malam," kata Toni.
"Makan malam?" lagi lagi sikap Toni membuat mata Rolan terbelalak, tidakkah ada yang salah dengan Toni setelah menghilang beberapa hari?
"Apa kau tak mengijinkan putri mu untuk makan malam berdua dengan ku?" Toni menyipitkan matanya.
"Tidak,,,tidak,,, bukan begitu, hanya saja----" gugup Rolan.
"Aku ingin mencoba mengenal lebih dekat lagi calon istri ku, ada yang salah ?" ucap Toni.
"Aku akan menyampaikannya pada Cila, dia pasti akan sangat senang mendegar ini," kata Rolan dengan wajah yang berseri seri.
__ADS_1
Toni meninggalkan Rolan dengan kebahagiaannya.
'Berbahagialah kalian, aku akan memberikan banyak sekali kesenangan pada kalian semua, persiapkan diri kalian untuk sangat berbahagia sampai kalian tak menyadari kalau aku sedang membunuh kalian dengan perlahan!' gumam Toni dalam hatinya.