Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Sama Sama Cemburu


__ADS_3

"Aku pulang, ada urusan penting yang harus ku selesaikan !" pamit Toni yang langsung bergegas setengah berlari keluar dari rumah mewah milik Cobra meninggalkan Sabrina yang hanya bisa menatap kesal Toni dengan hati yang sangat kesal karena dirinya yang di tinggalkan begitu saja di saat hasrat yang sudah naik ke ubun ubun nya.


"Cila berengsek !" umpat Sabrina kesal pada orang yang salah, karena mengira kalau yang menelpon Toni barusan itu benar benar Cila seperti yang di dengarnya tadi.


"LIhat saja, aku pasti akan merebut Lion dari tangan mu sampai kau tak bisa mengganggu lagi saat saat kebersamaan ku dengan tunangan mu, Aaaaarrrggghhhh,,, Lion,,, susah sekali rasanya hanya ingin mencicipi tubuh kekar mu !" teriak Sabrina seperti orang gila.


***


Tak jauh beda dari kekacauan yang saat ini Sabrina rasakan, Toni juga sedang merasakan kekacauan dalam hati da pikirannya, bagaimana tidak, karena kelakuan bodohnya yang tah melihat dulu siapa penelpon yang menghubunginya, sehingga berakhir kebingungan yang di alami pria itu, sepanjang jalan bahkan Toni mengutuk dirinya sendiri.


Ya, di sini lah Toni sekarang, di perusahaan Lubis Corp, dia bergegas menuju kantor tempat Raya bekerja, dia bahkan harus menghubungi Dila untuk bertanya letak ruangan baru Raya, karena gadis itu tak mau menerima panggilan telpon darinya.


"Ah sial, sial, siaaaal,,,! Kenapa aku bodoh sekali !" rutuknya sambil menjambak rambutnya sendiri, entahlah saat Toni seperti merasa sangat ketakutan luar biasa, padahal dia sendiri tak tau apa yang sebenarnya dia takutkan, dan dia juga tak tau kenapa dia harus seheboh atau setakut ini hanya karena Raya memutus sambungan teleponnya.


Brakkkk,,,


Dengan nafas yang memburu dan tersenggal sengal karena Toni berlarian seperti di kejar setan menuju ruang kerja Raya, pria itu membuka pintu ruang kerja Raaya dengan kasar.


Namun kejutan tak sampai di situ saja, karena kali ini Toni kembali harus menahan penyataan maafnya pada Raya, semua itu di karenakan Martin sang mantan tunangan Raya kini berada di ruang kerja gadis itu, dengan pintu yang tertutup pula, jadilah perasaan Toni berubah menjadi nano nao ramai rasanya, jika tadi hanya ada perasaan takut, kesal, sekarang di tambah marah dan kecewa.


"Kau, kenapa kau masuk ruangan orang tanpa permisi seperti itu, tak sopan !" Martin yang kaget karena kedatangan toni yang sangat tiba tiba itu membuat pria itu seketika mengomel seperti emak emak.


"Mana Dila ?" entah bagaimana ceritanya, kata kata yang keluar dari mulut Toni malah menanyakan keberadaan Dila,


Ah,,, ternyata benar,sepintar dan sekuat apapun, orang terkadang berubah menjadi terlihat bodoh ketika dia sedang grogi, dan saat ini Toni sedang megalaminya, pria itu tetiba terlihat sangat bodoh di hadapan Martin dan Raya, otaknya bahkan terasa seperti membeku seketika dan tak bisa di pakai untuk berpikir.


"Kamu mendobrak ruangan orang hanya untuk mencari Dila yang jelas jelas ruangannya bukan di sini, apa kamu mabuk ?" Raya memicingkan matanya dari tempatnya duduk.


"Emh,, anu aku sebenarnya mencari mu !" Toni sudah tak peduli lagi di sana ada Martin, dia hanya ingin berbicara dengan Raya, menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi tadi di telpon.


"Mencari ku ?" Raya menaikan sebelah alisnya.


"Hemh,, boleh kita berbicara berdua,?" pinta Ton.


"Kenapa harus berdua, kamu bisa bicara di sini," ucap Raya santai.


"Kau tadi menelpon ku dan--- tadi aku---"Toni sungguh tak bisa mengeluarkan kata kata yang seakan sudah berada di tenggorokannya itu, semuanya seakan tercekat dan tak bisa dia sampaikan.


"Ada hal juga yang harus aku sampaikan padamu, tapi sepertinya tak bisa kita bicarakan di sini, kita bisa mencari tempat yang lebih private mungkin ?" ajak Raya.

__ADS_1


"Oh, oke ! Aku menumpang kendaraan mu, aku tak membawa motor," pinta Toni yang lalu di angguki Raya.


Tibalah kini Tono dan Raya di sebuah restoran jepang, mereka memilih tempat yang private agar tak ada yang melihat dan mendengar pembicaraan yang akan mereka bahas nantinya.


Namun baru beberapa menit mereka berdua duduk di meja lesehan, bahkan belum sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua, karena di sepanjang perjalanan ke tempat itu baik Toni maupun Raya memilih untuk melakukan aksi gerakan tutup mulut, munculah sosok Martin dari balik pintu geser ruangan vip restotan itu.


Tentu saja itu membuat Toni melirik tajam ke arah Raya yang kini duduk di hadapannya, seakan meminta jawaban dari pertanyaan 'Kenapa dia ada di sini?'


Seolah tak ingin memperdulikan lirikan mata Ton yang penuh tanya, alih alih menjawab rasa peasaran Toni, Raya justru malah mempersilahkan mantan tunangannya itu untuk duduk dan bergabung bersama mereka.


Tak ingin memberi peluang bagi Martin untuk berdekatan dengan Raya, Toni beringsut dan berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Raya, pria itu tak peduli jika Martin akan berpikiran macam macam padanya atas kelakuannya ini, yang jelas dia tak akan rela jika Martin harus duduk berdekatan dengan dengan gadis incarannya itu, ya,,, mungkin lebih tepat di sebut seperti itu, gadis incarannya, karena memang antara Toni dan Raya tak ada keterikatan hubungan apapun, apalagi mengingat Toni yang merupakan tunangannya Cila saat ini, terlalu rumit memang hubungan antara Raya dan Toni itu.


Oke, Martin mengalah, dia duduk di bekas Toni tadi, sekarang mereka berhadapan, mirip sekumpulan agen rahasia yang sedang membahas sebuah misi penting.


"Jadi kita langsung ke intinya, aku memanggil mu karena ada yang harus kita bicarakan," Raya membuka pembicaraannya sambil melirik sekilas ke arah Toni yang beberapa hari ini tak di jumpainya.


"Tapi,,, kenapa harus ada dia ?" tunjuk Toni ke arah pria yang duduk di hadapannya da tersenyum miring, melihat tingkah polah Toni yang jelas jelas sedang merasa cemburu pada dirinya.


'Tapi bukankah dia sudah bertunangan dengan Cila?' pikir Martin.


"Kak Martin di pihak kita," terang Raya.


"Toni ayolah ! Jangan memperumit keadaan, dia berniat baik ingin membantu kita," kesal raya.


"Membantu mu, bukan membantu kita !" nada bicara Toni masih sinis seperti sebelumnya.


"Oke, membantu ku, puas ?! Sekarang dengarkan aku, ini mungkin akan sedikit membantu dan memperingan kerja mu !" ketus Raya.


Raya menceritakan tentang Martin yang membocorkan rencana Sabrina yang menyuruhnya untuk kembali mendekati Raya dan merayunya agar mau menjual saham yang kini di milikinya, dan Raya juga meyakinkan Toni kalau Martin bis di percaya.


"Setelah penghianatannya dengan Karina, dan kau bilang dia bisa di percaya? Kau terlalu naif !" sarkas Toni memprotes ucapan Raya yang langsung mengatakan kalau dia percaya begitu saja dengan apa yang di utarakan Martin yang bahkan itu belum tentu jelas kebenarannya.


Rasa rasanya saat ini Toni ingin sekali membalikan meja yang berada di depannya ini karena saking kesalnya.


Namun mau bagaimana lagi, toh Raya memang sudah mempercayai Martin dengan mudahnya, Toni bahkan merasa kalau Raya masih menyimpan perasaan suka pada mantan tunangannya itu, sehingga Raya dengan mudahnya terhasut Martin.


Sepertinya Martin sangat mengerti, atau bisa di katakan pengertian, kalau Toni dan Raya yang sebenarnya saling menyukaiitu sedang butuh waktu berdua tanpa ada dirinya di tengah tengah mereka, maka Martin pun segera berpamitan,


"Bro, aku kasih sedikit bocoran agar Sabrina berkata jujur, coba kau rayu dia, saat sedang di puncak gairah, dia pasti akan berkata jujur, kau boleh lakukan saran ku !" ucap Martin sebelum dia meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Sebelumnya Martin memang berniat ingin serius dengan Sabrina, tapi mengingat sikap jahat Sabrina yang sepertinya tak akan mungkin dapat dia kendalikan, dia kini hanya ingin balik memanfaatkan nya saja demi keuntungannya, mencintai uang akan lebih menyenangkan bagi Martrin dari pada mencintai perempuan yang menurutnya sangat merepotkan itu.


"Rayu tuh Sabrina, tiduri sekalian !" Raya sewot sendiri saat mendengar ucapan Martin tadi, kepergian mantan tunangannya itu mallah meningalkan kerusuhan di antara Toni dan Raya.


"Gak perlu !" ucap Toni datar dan cuek.


"Bukannya seneng, dapet info terus dapet enak juga, munafik !" sinis Raya.


"Gak perlu aku rayu, dia dateng sendiri, sudah pasrah bahkan maksa buat di tidurin !" jawab Toni yang langsung mendapat pelototan tajam dari Raya.


"Issshhh,,, dasar mesuuum, buaya, playboy, menyebalkan menjijikan,!" segala sumpah serapah keluar dari mulut merah Raya yang seolah melambai lambai minta di cium Toni.


"Aku belum selesai bicara, hampir terjadi, untungnya gak jadi, karena tadi kamu menelpon ku, jadi aku bisa melarikan diri dan terhindar dari perbuatan yang di harapkan," Katanya, namun tiba tiba kotak tisyu melayang ke arah kepalanya.


"Aduh,,,! Maksudnya perbuatan yang tidak di harapkan !" Toni meralat ucapannya yang berimbas pada murkanya Raya dan melayangnya kotak tisyu tepat di kepalanya.


Cengiran Toni sambil mengusap usap keplanya yang kena timpuk tadi tidak membuat amarah Raya mereda, justru mala semakin menjadi.


"Jadi kamu menyesal dan merasa terganggu, saat tadi akumenelpon mu ppantas saja kamu memutus pembicaraan begitu saja !" Raya bersungut sungut, sampai dia lupa kalau yang memutus pembicaraan dengan menutup telpon tiba tiba adalah dirinya sendiri, sampai Toni kalang kabut menyusulnya ke kantor Lubis Corp.


Akhirnya Toni menceritakan secara detail kejadian tadi siang di rumah Sabrina tanpa ada yang terlewatkan.


"Apa kamu benar benar mengira kalau yang menelpon mu itu Cila, makanya kamu memangginya dengan sebutan sayang ?" cebik Raya, rasanya sesak di dadanya saat mendengar Toni memanggil Cila dengan sebutan sayang.


'Halooo,,, dia tunangannya kali,, ya pantas dan sah sah saja kalau Toni memanggilnya dengan sebutan sayang, ayang, atau beb atau apapun, kenapa mesti tak terima, siapa anda ?!' lagi lagi dia harus di tampar oleh suara akal sehat nya yang menyadarkannya kalau Toni memang milik Cila.


"Bahkan kalau Panca sekali pun yang tadi menelpon ku aku akan mengatakan hal yang sama, demi bisa terbebas dari wanita mes sum itu." elak Toni, tak ingin terus di sudutkan dan tak ingin Raya terus terusan marah padanya.


"Kamu benar benar tak ingat dimana pernah lihat wajah yang mirip dengan foto ibunya Sabrina itu ?" Raya mengingatkan kembali Toni dengan wajah wanita yang sampai sekarang belum bisa di ingatnya, tapi dia yakin kalau wajah itu tak asing di matanya, dia benar benar pernah melihat wajah yang mirip dengan foto yang berada di dinding rumah kediaman Cobra itu.


Toni menggeleng, dia sudah sangat berusaha sekuat tenaga untuk mengingatnya, namun memori otaknya tetap tak bisa sampai ke sana.


"Toni,,, apa kamu akan melakukan apapun demi membantu ku ?" tanya Raya lirih.


"Hemh,," Toni hanya menjawabnya dengan dehaman.


"Bahkan kalau terpaksa harus tidur dengan Sabrina ?" tanya Raya lagi, namun kali ini Toni tak bereaksi apa apa, dia hanya diam saja.


"Bagaimana kalau ternyata yang menurut mu jalan terbaik untuk membantu ku itu malah membuatku merasa bersedih, rasa rasanya aku tak rela kamu berdekatan dengan Sabrina meski aku tau itu hanya pura pura, jujur,,, aku merasa terbebani dan sangat--- cemburu !" urai Raya mengeluarkan segala isi hatinya.

__ADS_1


Toni menahan nafasnya, tiba tiba dadanya terasa begitu sesak, bagaimana jadinya kalau sampai Raya tau kalau pertunangan nya dengan Cila pun terjadi karena dia yang ingin membantu Raya dalam menyelesaikan semua masalahnya.


__ADS_2