
Cila keluar dari ruang kerja ayahnya dengan wajahnya yang kusut, nampak jelas kalau wanita itu sedang merasa sangat kesal pada Rolan, namun tak bisa berbuat apa apa selain patuh pada ayahnya.
Setelah Rolan menerangkan apa yang terjadi, dan Rolan juga mengecam perbuatan putrinya yang bisa saja ulah bodoh nya itu bukan hanya berbalik mencelakai dirinya sendiri, namun juga bisa mengancam bisnis besar yang tengah di jalani Rolan dan Cobra, dengan berat hati Cila hanya bisa pasrah, sungguh semua di luar ekspektasinya, semua serangan yang di arahkan pada Raya seolah berbalik menyerang dirinya sendiri, dan itu yang sebenarnya membuat dirinya kesal dan tentu saja semakin memupuk kebencian dan kemarahan nya pada Raya.
Cila berpikir semua yang di alaminya kini karena kesalahan Raya, dan dia tak akan begitu saja melepaskan Raya dengan mudahnya, hanya saja dia akan berpura pura tiarap dan mengikiti anjuran ayahnya untuk tak mengganggu Raya maupun Sabrina kalau tak ingin celaka, bahkan ayahnya juga mengancam akan membatalkan pernikahannya dengan Toni jika Cila masih tetap berulah.
Sungguh Rolan memang seorang ayah yang sangat memahami karakter putrinya, dia tau, hanya dengan ancaman itu anaknya pasti akan menurut dan tak akan berani membantahnya.
Bagaimana pun Rolan tau kalau Toni sangat mencintai Raya, akan sangat merepotkan dan merugikan baginya jika sampai Toni murka karena merasa orang yang di cintainya di usik, oleh karena itu sebisa mungkin Rolan menjaga emosi Toni agar tetap stabil, dan memastikan kalau dirinya menjamin Cila tak akan mengusik Raya lagi.
Untuk selanjutnya, jika semua sudah berjalan sesuai rencana, bisnisnya berjalan lancar, Toni sudah mau memegang bisnisnya, dan Cila sudah menjadi istrinya, biar Rolan sendiri yang mengurus masalah Raya dengan tangannya sendiri, untyk saat ini biarlah Raya menjadi 'vitamin' tersendiri untuk Toni, sebagai penyemangat Toni dalam melaksanakan semua tugasnya.
***
Di perusahaan Lubis Corp.
Raya berhasil meyakinkan kalau sebagai pemegang saham, dirinya berhak untuk mendapatkan jabatan di perusahaan itu, akhirnya dengan perdebatan yang cukup alot, Sabrina akhirnya menyetujui kalau Raya di ijinkan bekerja menjadi kepala bagian produksi dengan Dila yang menjadi sekretarisnya.
Raya juga tak merasa keberatan dengan jabatan yang saat ini di dapatnya, meski dirinya sebenarnya bisa dan berhak mendapatkan jabatan lebih tinggi dari itu, namun Raya tak ingin memperpanjang masalah dengan Sabrina yang kini menduduki tahta tertinggi di perusahaan yang masih memakai nama belakangnya itu, yaitu Lubis corp.
Bagi Raya, bukan jabatan atau uang yang saat ini sedang Raya jadikan fokus utamanya, namun kebenaran cerita di balik hilangnya Arsan dan penjualan perusahaan yang sangat janggal dan tak dapat dia terima dengan akal sehatnya, Raya yakin semua ini tak sesederhana jual beli pada umumnya, namun ada kisah rumit di balik semuanya itu, bukankah ayahnya itu sedang sakit saat menghilang, bagaimana caranya dia melakukan jual beli, lalu kemana larinya uang yang seharusnya jumlahnya tak sedikit itu ?
Beruntung Raya masih mendapatkan ruang kerja yang lumayan nyaman untuk di tempatinya di perusahaan itu sehingga sepertinya Raya akan betah dalam menjalankan tugasnya itu, tak masalah dengan jabatan apa yang di terimanya, baginya,,, sudah bisa kembali ke perusahaan yang selalu menjadi kebanggaan ayahnya saja, Raya sudah sangat bersyukur.
__ADS_1
"Raya, apa kamu yakin bisa melewati semua ini ? Beban mu sungguh sangat berat, aku dulu sempat berpikir sangat beruntung nya menjadi dirimu, di karuniai wajah cantik, otak pintar, orang tua yang sangat menyayangi mu, dan harta yang sangat berlimpah, namun ternyata di balik itu semua, masalah yang harus kamu hadapi juga lebih berat dariku," oceh Dila yang untuk pertama kalinya kini dirinya merasa nasibnya lebih beruntung dari pada nasib yang Raya miliki.
"Mungkin aku selalu mengingkari nikmat Tuhan yang di berikan padaku, selama ini aku selalu merasa kalau aku adalah orang yang paling menderita dan paling tersiksa dengan semua masalah yang aku hadapi, namun setelah melihat apa yang kamu hadapi sekarang ini, aku merasa masalahku tak ada apa apanya di bandingkan apa yang harus kamu hadapi saat ini, aku janji akan selalu membantu mu dan akan selalu berada di sisi mu," sambung Dila yang mendadak menjadi melankolis pagi itu.
"Aih,,,aiiiihhh,,, sahabat kecil ku ini kenapa tiba tiba menjadi sangat melow seperti ini, optimis dong, aku pasti bisa menghadapi semua masalah ku, apalagi di dampingi sahabat terbaik seperti mu dan juga kokoh Panca mu itu !" ledek Raya menirukan perubahan panggilan Dila pada Panca akhir akhir ini yang tak lagi memanggil panca dengan sebutan 'kang', sampai wajah Dila memerah karena malu di buatnya.
"Tentu saja, dan jangan lupakan juga satu orang lagi yang paling berjasa dan paling mati matian membantu mu, bodyguard kesayangan mu itu !" Dila tak mau kalah meledek Raya yang mulai hari ini sah menjadi atasannya di kantor itu.
"Apa karena kau merasa sebagai pemegang saham di perusahaan ini, lantas kau jadi bisa seenaknya ketawa ketiwi di kantor ? Atau pekerjaan di divisi mu ini kurang, sehingga kau punya banyak waktu luang untuk bergosip ?" semprot Sabrina yang merasa tak suka dengan kebahagiaan yang di rasakan Raya saat ini, dia harus memastikan di setiap hari nya Raya harus di penuhi sedih dan air mata, seperti apa yang di rasakan dirinya dan keluarganya selama ini.(memangnya ada apa ya ?)
"Maaf bu,,, !" singkat Raya menganggukkan kepalanya, tada saat ini dia mengakui kalau telah melakukan kesalahan karena bercanda ria dengan Dila, namun bukankah semua itu sah sah saja, selama tak mengganggu pekerjaan, dan selama apa yang menadi tugasnya itu dapat di selesaikan dengan baik dan tepat waktu, dan juga ini hari pertama bagi Raya berkantor kembali di Lubis Corp, jadi menurutnya apa yang sedang di lakukannya itu merupakan sesuatu yang wajar, toh mereka juga tak mengganggu kosentrasi dan pekerjaan para karyawa lain, namun bagi Sabrina bercanda di jam kerja tetaplah salah, entahvitu memang benar karena peraturan, atau karena di dasari rasa ke tidak sukaan Sabrina yang sudah mendarah daging pada Raya.
"Datang lah ke ruagan ku, ada hal yang harus aku sampaikan pada mu," titah Sabrina, yang lalu di angguki Raya.
Entah apa rencana Sabrina yang tiba tiba berusaha mendekatkan kembali Raya dengan Martin, yang jelas tak ada salahnya jika Raya berusaha waspada dengan usaha Sabrina mendekatkannya kembali dengan Martin, kata hatinya mengatakan kalau ini sepertinya ada bau bau rencana busuk yang mungkin dapat merugikan atau bahkan mencelakakan dirinya.
Tanpa ingin membantah atau meladeni ucapan Sabrina yang merupakan bosnya saat ini, cukup mengiyani saja, dan itu akan membuatnya terbebas dari perdebatan yang pasti akan menguras tenaga dan emosinya itu, Raya pun memilih untuk meninggalkan ruangan yang dulu sempat menjadi ruang kerjanya itu.
"Sayang, mau kemana dua minggu ini, kenapa kamu bilang akan menyerahkan pekerjaan mu di sini pada ku ?" tanya Martin yang tak tahu menahu tentang rencana kekasihnya itu.
"Apa kamu keberatan menerima tugas ini dari ku? Ingat, aku mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk perusahaan mu, jadi ku harap kamu bisa berterima kasih dengan benar pada ku !" ucap Sabrina tegas.
Martin memang selalu tak bisa berkutik jika berhadapan dengan Sabrina, selain dia memang telah mendapat bantuan dana untuk pengembangan bisnisnya, tentu saja embel embel Cobra yang membuatnya tak bisa menentang keinginan Sabrina, katakanlah kalau sebelumnya saat Martin masih menjadi tunangan Raya dia berlagak bak ayam jago, kini saat berpacaran dengan Sabrina dirinya berubah menjadi ayam sayur yang lembek.
__ADS_1
"Aku ingin selama dua minggu ini kamu memanfaatkan waktu mu untuk mendekati kembali mantan tunangan mu itu, bagaimana pun caranya," kata Sabrina tersenyum licik.
"Sayang,,, apa maksud mu, kenapa kamu meminta ku mendekati Raya ?" tanya Martin menautkan kedua alisnya hingga seperti menyambung.
"Ya, tunjukan kemampuan mu dalam mendekatinya, dan tunjukkan keseriusan mu, sedalam apa kau mencintai ku, tunjukan dengan melakukan apa yang aku perintahkan !" ucap Sabrina dengan lugas.
"Tapi kenapa justru malah dengan cara harus mendekati orang lain ?" Martin merasa aneh dengan sikap Sabrina, dia yakin kali ini kekasihnya itu merencanakan niat buruk pada Raya, padahal sebelumnya Matin sudah meminta maaf pada Raya dan berjanji akan membantu nya, nanmun apa jadinya jika ternyata dirinya harus bersekongkol dengan Sabrina untuk menyakitinya lagi dan lagi.
"Dia bukan orang lain, dia mantan orang terdekat mu, bukankah tugas ku ini akan terasa lebih mudah, karena kamu hanya harus memakai cara cara lama mu untuk mendekatinya lagi, kamu pasti sudah tau bagaimana cara meluluhkan hatinya, sudah lah lakukan saja tugas mu !" tegas Sabrina.
"Tapi sayang, apa yang kamu rencanakan, kenapa harus dengan cara aku mendekatinya ?" Martin mendekat ke kursi tempat dimana Sabrina kini duduk, pria itu mulai menggoda kekasihnya dengan mendaratkan ciuman ciumaan kecil di pipi dan daun telinga Sabrina.
Sabrina yang mempunyai hasrat gairah yang tinggi itu tentu saja terbuay dengan perlakuan Martin yang sudah mulai sangat mengenal kelemahan kekasihnya itu, Sabrina paling tak bisa menahan hasratnya yang selalu lebih tinggi dari hasrat wanita pada umumnya, ya,,, Sabrina itu wanita hyper.
"Katakan sayang, apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Martin lagi, kali ini tangan nakalnya sudah menyelinap di balik dua kancing baju depan yang berhasil dia buka dengan cekatan, dan menggerayangi kulit halus di balik blouse putih yang saat ini di kenakan Sabrina.
"Hemhhh,,, aku ingin memiliki saham yang dia punya, aku ingin merampas semua yang dia miliki," racau Sabrina yang seperti sedang berada di bawah pengaruh obat terlarang, akibat terbuay dengan sentuhan sentuhan yang di berikan Martin padanya.
"Kamu melemparkan ku sebagai umpan dan alat untuk mendapatkan keinginan mu, sebenarnya apa masalah mu dengan Raya hingga kamu se benci itu pada nya ?" Martin semakin 'menyiksa' Sabrina dengan menyentuh bagian bagian tubuh nya yang menjadi kelemahan kekasihnya itu.
"Dia, anak dari penghancur keluarga ku, jadi aku juga harus menghancurkan nya, memastikan setiap tetes airmata yang yang pernah tumpah harus di balas dengan kesakitan yang sama bahkan lebih !" ucap Sabrina yang kini telah balik menyerang Martin dengan melucuti pakaian pria nya itu.
Mendapatkan serangan balik dari kekasihnya, tentu saja Martin tak dapat melanjutkan sesi wawancaranya pada Sabrina, karena kini dia harus meladeni napsu kekasihnya yang sepertinya sudaha membara akibat ulahnya yang menggoda dan memercik hasrat Sabrina.
__ADS_1
Tapi Martin berjanji, suatu saat nanti dia pasti akan bisa membongkar apa yang sebetulnya terjadi di antara Sabrina dan Raya, karena sejauh yang Raya katakan padanya, dia tak merasa mengenal Sabrina apalagi mempunyai masalah dengannya.