
"Lalu, bagaimana dengan hati Cila? Karena hati Cila masih merasakan perasaan yang sama seperti dulu?" Cila menunjuk dadanya sendiri.
"Tolong, jangan membuat semuanya menjadi rumit, kita sudah sepakat dan hubungan kita juga baik-baik saja, jangan buat hubungan baik ini menjadi rumit, tolong hargai istri ku, tolong hargai pilihan dan keputusan ku!" sekuat tenaga Toni berusaha menahan diri saat berbicara, sebisa mungkin dia tak memakai emosinya, karena dia takut jika ucapannya akan memercik kembali kemarahan dan kebencian Cila pada Raya yang mengakibatkan terancamnya keselamatan istri dan calon anaknya.
Namun hal yang tak Toni ketahu adalah, kebencian dan kemarahan Cila terhadap Raya itu tak pernah padam, bahkan semakin menyala-nyala dan berkobar sampai saat ini.
"Baik, Cila minta maaf jika pertanyaan Cila kali ini mengganggu pikiran abang, su gguh bukaan maksud Cila mengungkit apa yang telah terjadi di antara kita sebelumnya, Cila hanya penasaran dan ingin tau apa yang terjadi." Cila sok bijak.
"Tapai setelah abang menjelaskan semuanya pada Cila, Cila menjadi lebih tenang sekarang, Cila juga percaya dengan semua yang abang katakan pada Cila barusan," Akhirnya perkataan wanita itu berhasil membuat Toni bernafas lega, setelah sebelumnya dia merasa tercekik dan sesak karena verada dalam situasi yang menyulitkannya.
Tadinya Toni pikir akan sangat sulit untuk menjelaskan pada Cila tentang apa yang terjadi pada mereka si waktu sebelumnya, seharusnya itu tak menjadi susah jika track record Cila tidak pernah mengalami depresi dan tidak pernah menyimpan kebenciaan ya g begitu bearnya pada Raya.
__ADS_1
Semua menjadi rumit dan sulit karena Toni tak mau istri dan anaknya berada dalam masalah besar karena dirinya yang salah bicara saat membicarakan pertunangan itu dengan cila.
Bagaimana pun juga, terjadinya pertunangan itu adalah hasil kebodohan dan kecerobohan nya di masa lalu yang dengan begitu mudahnya di perdaya oleh almarhum Rolan semasa hidupnya demi membahagiakan sang putri, namuna ternyata Tonivtak mengira kalau haal itu akan berimbas juga di masa sekarang ini, dimana semua sudah lama berlalu, dan di saat dirinya seharusnya berbahagia dengan pernikahannya dengan Raya dan kebahagiaannya dalam menyambut buah hatinya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi akan lahir ke dunia.
***
Cila tersenyum bahagia dia merebahkaan tubuhnya di kasur empuknya saat baru saja dirinya sampai di rumahnya.
Kini saatnya dia memikirkan lagi kejahatan dan kelicikan apa yang harus dia lakukan demi bisa mengambil kembali Toni yang merupakan sumber kebahagiaanya.
Terkadang memang cinta membutakan logika, membuat kuta kehilangan akal sehat seperti halnya yang sedang di alami oleh Cila, cintanya yang begitu besar kepada Toni justru tak membuatnya bahagia, tapi malah membawa kesedihan dan kepahitan bukan hanya untuk dirinya saja tapi untuk orang-orang di sekitarnya juga.
__ADS_1
Bagaimana tidak, karena sampai akhir hayatnya pun Rolan mengorbankan dirinya demi membuat pesan terakhir untuk Toni yang begitu dramatis setelah sehari sebelumnya dia menemui sang putri di rmah sakit jiwa.
"Hanya menyuruh nya datang je sini saja ayah tak mampu, terlalu banyak alasan, jangan-jangan ayah memang tak sayang Cila dan tak bersungguh-sungguh dalam meminta bang Lion untuk datang dan menemui Cila di sini?" teriak Cila saat Rolan mengatakan padanya kalau dia belum bisa berhasil membujuk To i untuk datang menemui putrinya di tempat itu.
" Mengapa ayah tak mati saja untuk mendapatkan simpati dari bang Lion,!" ucap Cila dengan marah dan kesalnya.
Namun ternyata ucapannya itu sangat menyakiti Rolan, dan benar-benar membuat hati ayah yang selalu mencintai putrinya itu benar-benar sakit di buatnya saat mendengar ucapan putrinya itu.
Makanya saat Toni dan Panca menghubunginya untuk meminjam kunci kontainer tempat di mana senjata itu di simpan untuk menjebak Arsan dan Bagas, justru moment itu malah di jadikannya untuk mengakhiri hidupnya, mengakhiri petualangan jahay Arsan dan Bagas, juga mengakhiri penantian putrinya terhadap Toni, karena Rolan yakin, Toninpasti akan menemui putrinya jika meski dia harus mengirbankan nyawanya terlebih dahulu.
Seperti janjinya, yang pernah di ucap kannya, Rolan pernah berkata, bahwa dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan sang putri, meskipun itu harus di tukar dengan nyawanya, dia akan sangat rela kehilangan nyawanya demi kebahagiaan Cila, putri semata wayangnya yang sangat dia sayangi, meski cara Rolan mencintai dan menyayangi putrinya itu dengan cara yang salah.
__ADS_1