
Raya memandang hamparan kebun teh yang di selimuti kabut di senja itu, ya,,, dia kini sudah berada di rumah kebun teh peninggalan bundanya.
Toni, Panca dan Dila ikut bersamanya di tempat itu, hanya saja saat ini Toni sedang mempersiapkan makan malam spesial yang di masaknya sendiri, di bantu oleh Panca dan Dila yang mempersiapkan semuanya agar Raya merasa senang dan terhibur, sehingga dia tak merasa bersedih atau merasa depresi lagi.
Jadilah kini Raya sendirian di teras rumh, karena Toni tak mengijinkan Raya untuk ikut membantu memasak bersamanya, Toni tak mau Raya merasa kelelahan dan sakit lagi.
Mata Raya menerawang jauh entah kemana, mengingat kejadian menyeramkan, menyakitkan, plus menyedihkan yang menimpa pada nya tempo hari itu yang akhirnya membuat dirinya kini benar benar merasa sendiri, Raya merasa kehilangan arah seketika, dunianya runtuh bahkan hancur saat itu, saat dia harus menerima sebuah kenyataan pahit yang mematahkan semua harapan dan kebahagiaannya.
Flash back
Raya bersiap menemui kliennya sore itu, dia sudah berpesan pada Dila untuk tak menungguinya, karena dia akan langsung pulang setelah pertemuannya di restoran sebuah hotel yang berada dekat Lubis Corp itu selesai di laksanakannya, lagi pula ini masih jam 3 sore, menurut pemikirannya, tak sampai magrib pertemuan itu akan selesai, karena tak banyak yang akan mereka bahas di pertemuan itu.
Raya masuk ke dalam lift yang lalu di susul oleh dua orang pria bertopi dan bermasker rapat, tak ada kecurigaan sedikit pun dalam hatinya saat dua pria itu ikut masuk ke benda kotak yang akan membawanya turun ke basement bersamanya, toh itu kan lift yang biass di pakai oleh umum, siapapun boleh menggunakannya.
Namun tanpa di duga, salah satu dari dua pria itu merapat ke arahnya berdiri.
"Apa anda nona Raya?" Tanya pria itu.
Raya yang sedikit ketakutan tak langsung menjawabnya, dia berusaha melihat ke arah wajah si penanya yang di rasanya asing di matanya, lalu dia bergeser agak sedikit menjauh dari kedua pria asing itu.
"Tak usah takut nona, kami di utus tuan Arsan, untuk menjemput anda," ucapnya sambil membuka ponselnya dan memperlihatkan gambar Arsan yang sedang duduk di suatu ruangan yang sangat dia kenali, rumah lamanya, ya itu di teras rumah lamanya.
"Jangan mencoba menipu ku, rumah lama ku sudah di sita dan kini sudah di tempati oleh orang lain," ketus Raya tak ingin terkecoh dengan tipu daya mereka yang mungkin saja ingin mencelakaannya.
Saat pintu lift terbuka, Raya segera berjalan cepat berniat meninggalkaan dua pria yang mencurigakan itu, namun langkahnya terhenti saat terdengar suara tawa Arsan yang khas dan sangat di kenalnya dari ponsel salah seorang pria itu.
"Lihatlah, ayah anda sepertinya benar benar merindukan putri nya," ucap pria itu sambil memperlihatkan dirinya yang terlihat seperti sedang video call dengan Arsan.
Logikanya menolak, tapi jerit hati seorang anak yang sangat merindukan ayahnya mengalahkan logikanya, Raya mundur dan berbalik ke arah dua pria asing tadi.
__ADS_1
"Bawa aku menemui ayah ku!" pintanya yakin.
Raya lantas meng cancel janji temu dengan rekan bisnisnya, lewat pesan yang di kirimnya. Raya berjalan ke mobilnya dengan di apit ke dua pria yang sejak tadi terus mengikutinya.
"Biar saya yang membawa mobil anda,nona." ucap pria itu sambil menengadahkan tangannya meminta kunci mobil pada Raya yang seperti tersihir memberikan begitu saja kunci mobilnya.
Bayangan akan dirinya yang akan segera bertemu dengan sang ayah yang selama beberapa bulan ini di rindukannya membuat Rayatak bisa berpikir secara benar, kepalanya hanya berisi bayangan tentang Arsan, bagaimana keadaannya sekarang, mengapa tak menemui dan mengabarinya selama ini, banyak sekali pertanyaan yang ingin Raya pertanyakan pada ayahnya itu.
"Kenapa kita lewat sini?" protes Raya yang baru menyadari kalau jalan yang mereka lalui ini bukan lah jalan yang seharusnya menuju ke rumah lamanya.
"Tenanglah nona, anda pasti bertemu ayah anda, kami jamin!" ucapnya dengan senyuman yang menurut Raya sulit di artikan sebagai senyuman apa.
Tibalah mereka di sebuah rumah di pinggiran kota, rumah yang sama sekali asing bagi Raya,
"Rumah siapa ini, dan di mana ayah ku?" tanya Raya mulai tak enak hati.
Raya masuk ke dalam rumah itu, namun ternyata bukan Arsan yang dia temui di dalam rumah itu, melainkan Rolanyang menyambut kedatangannya.
"Selamat datang Raya!" sambut Rolan dengan seringai yang terlihat sangat menjijikan.
"Ke- kenapa anda yang berada di sini, mana ayah ku?" Raya memundurkan langkahnya hendak kembali ke luar rumah karena dia merasa kalau ini memang tak benar, ada yang salah dengan semua ini.
Namun baru dua langkah kakinya mundur, tubuhnya sudah menabrak tubuh salah satu pria yang sejak tadi menjaganya dari belakang, dia juga menghalangi pintu agar tak dapat di lewati oleh Raya.
"Biarkan aku pulang, tolong, aku masih menghormati anda sebagai ayah dari teman ku!" Tegas Raya dengan sedikit galak.
"Kau masih berani mengatakan kalau anak ku itu sebagai teman mu? Teman seperti apa yang menjalin hubungan secara diam diam dengan tunangan temannya sendiri? Kau pikir aku bodoh, kau pikir aku tak tau kalau kalian masih sering bertemu secara sembunyi sembunyi di belakang anak ku?" ujar Rolan.
"Apa mu anda, apa semua ini hanya karena masalah calon menantu anda yang nyatanya lebih mencintai ku dari pada anak anda itu?" ejek Raya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, bukankah kau ingin bertemu dengan ayah berengsek mu?" tanya Rolan.
"Jangan mempermain kan ku, tolong ijinkan aku untuk pulang." pinta Raya.
Jujur saja saat ini dirinya sudah agak merasa ketakutan, dia sering mendengar gosip gosip yang beredar saat sekolah dulu, kalau ayahnya Cila adalah seorang pimpinan mafia kejam, dan itu lumayan membuat Raya ketakutan dan menerka nerka akan di apakan dia oleh Rolan.
"Kenapa terburu buru, bukankah kau ingin bertemu ayahmu? Arsan sedang dalam perjalanan menuju ke sini, mungkin beberapa menit lagi akan sampai, sambil menunggunya kau boleh beristirahat dulu di dalam," Ucap Rolan.
"Tidak, aku tidak mau, aku mau pulang!" Raya memberontak.
"Ikat dia, jangan biarkan dia membuat kegaduhan!" teriak Rolan pada dua anak buahnya yang baru saja dia rekrut dari preman pelabuhan.
Rolan memang sengaja merekrut preman yang mungkin tak Toni kenali, karena bukan tak mungkin Toni akan mencari kekasihnya saat di sadari kalau Raya menghilang, jika dia memakai anak buahnya untuk menculik Raya, Toni pasti akan langsung mengenalinya, dan pasti akan langsung tau kalau itu adalah ulahnya.
"Lepaskan, lepaskan aku, mmmhhh," suara teriakan Raya hilang seiring dengan mulutnya yang di tutup dengan lakban agar tak berteriak teriak, tangan nya juga diikat, sehingga gadis malang itu tak lagi bisa memberontak.
Selang berapa lama, Arsan yang memang sengaja sudah di hubungi Arsan sebelumnya datang juga di rumah itu, senyuman pun tergambar jelas di wajah Rolan.
"Akhirnya kau datang juga, Arsan!" sambut Rolan saat Arsan baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu.
"Ada urusan apa sebenarnya sampai kita harus bertemu di tempat jauh begini, bukankah kita bisa bertemu di rumah ku?" protes Arsan yag merasa aneh karena tak biasanya Rolan mengajaknya bertemu di tempt yang bukan biasanyamereka bertemu.
Deg,,,
Jantung Raya seakan berhenti berdetak saat mendengar suara berat ayahnya yang sudah lama tidak dia dengar, sungguh saat ini dia merasa bahagia dan percaya kalau ayahnya pasti akan menyelamatkannya lalu membawanya pergi dari tempat itu.
Saat ini Raya berada tak jauh dari tempat Arsan dan Rolan bertemu dan berbincang, tentu saja dia dapat mendengar secara jelas perbincangan dua orang pria yang tak muda lagi itu.
"Ayah,,,!" jeritnya dalam hati, betapa rasa rindunya tak dapat lagi dia tahan, Raya ingin sekali berlari dan memeluk ayahnya.
__ADS_1