Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Tiga Satu


__ADS_3

Meneruskan tujuan utama nya tadi, Toni kembali melajukan kendaraan nya menuju sasana, mencari info barangkali ada secercah titik terang mengenai masalah yang tengah di hadapinya kini.


Tak terbayangkan sebelumnya kalau kini dirinya harus berurusan dengan kelompok mafia cobra, dari dulu dia memang selalu menghindari terlibat masalah dengan para mafia, baik itu Rolan maupun Cobra, bukannya takut atau apa, namun lebih ke menghindari konflik saja, hidupnya sudah terlalu banyak konflik, terlalu konyol bila harus bersinggungan dengan para mafia yang jelas jelas sarangnya segala masalah.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Lion? Kenapa Cobra mencari mu sampai sedemikian gencarnya, apa yang akhir akhir ini kau lakukan diluaran sana, kau bahkan tak pernah terlihat di sasana ini untuk berlatih, au juga melewatkan satu pertandingan dengan hadiah uang yang cukup besar, apa kau sudah siap bercerita dengan ku ?" tanya Rolan yang menyambutnya di sasana. Tak terlihat orang lain di sana, bahkan orang orang biasanya memenuhi ruang latihan pun kosong tak seperti biasanya.


Semenjak anak buah Cobra mengacak acak sasana milik Rolan karena mencari keberadaan Toni, Rolan menjadi lebih sering berdiam di sana,


tempat itu pun di tutup sementara untuk perbaikan dan penjagaan ketat mengantisipasi ada serangan susulan dari kelompok Cobra.


"Aku tak merasa mempunyai masalah dengan mereka, hanya saja mereka memang sengaja ingin mencari masalh dengan ku." jawab Toni santai sambil mengepulkan asap ke udara.


"Apa aku boleh tau apa penyebabnya ?" Rolan terus berusaha mencari tahu, entah mengapa, hanya terhadap Toni, ketua mafia yang di hormati dan ditakuti itu selalu saja tak bisa marah, selalu ada tempat spesial di hati nya yang dia sisakan untuk Toni, dan dia selalu berkeyakinan kalau suatu hari nanti, Toni akan menjadi penerusnya, entah sebagai menantu atau sebagai orang kepercaaannya.


"Dia mengusik pekerjaan ku, tanpa aku tau apa sebabnya, ku pikir dengan datang kemari aku akan dapat sedikit titik terang, tapi malah di wawancara seperti ini," jawab Toni dengan cueknya, tak ada ketakutan atau rasa sungkansedikitpun, meski lawan bicaranya kini adalah sorang ketua mafia kejam yang di takuti semua orang.


"Apa benar ini semua hanya karena masalah perempuan ?" pancing Rolan yang sebenarnya sedikit banyak tahu masalah yang terjadi antara Ton dan Cobra, karena dia langsung mencari tahu lewat anak buahnya, hanya saja dia ingin memastikan dan mendengar langsung dari mulut Toni.


"Apa kah seorang Rolan sudah kehilangan kemampunnya untuk sekedar mencari tahu tentang hal sekecil ini ?" pertanyaan Rolan justru di jawab dengan sarkas sang raja hutan yang tak kenal takut itu.


"Ah, berengsek kau,,! tentu saja aku tau,hanya saja aku ingin memastikan dari mulut busuk mu itu !" ucap Rolan yang sudah terbiasa menggunakan kata kata kasar saat berbincang dengan Toni yang juga tak pernah tersinggung dengan ucapan kasarnya itu.


"Anggaplah apa yang kau dengar itu benar, tak usah menginterogasi ku terus menerus, aku sudah cukup pusing denngan ulah Cobra, jangan kau tambah lagi dengan kebawelan mu !" ucap Toni.


"Bocah edan, kurang ajar, berani beraninya kau mengatai ku bawel !" sungut Rolan kesal.


"Abang,,, apa benar yang ayah katakan barusan, kalau abang rebutan wanita dengan Cobra ?" Cila yang ternyata sejak tadi menguping pembicaraan ayahnya dengan pria pujaannyayang selalu dia akui sebagai kekasihnya itu ikut berkomentar.


"Hmmhhh,,,, aku baru tahu kalau di sini bahkan dinding pun punya telinga, kabar begitu cepat menyebar !" Toni enggan menanggapi pertanyaan Cila dan memilih pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Abang, katakan sama Cila, siapa wanita itu ? Ayah,,, lakukan sesuatu, bang Lion harus menikah dengan Cila, gak boleh ada wanita lain yang memiliki bang Lion !" rengek Cila pada ayahnya setelah rengekannya pada Toni tak di gubris pria dingin itu.


Namun Rolan hanya menghela nafas berat, dia sangat tahu kalau putri satu satunya itu mencintai Toni, namun dia juga tau kalau Toni tak pernah mencintai Cila, sementara untuk memaksa Toni agar mencintai putrinya itu merupakan pr yang agak sulit, andai pria yang di inginkan putrinya itu bukan Toni, dengan kedipan mata saja dia bi membuat pria itu langsng menikahi Cila detik itu juga, tapi sayangnya yang di inginkan Cila sang raja hutan yang susah untuk di taklukan bahkan oleh Rolan, bukan karena jago berkelahi atau apa, karena jika Rolan ma dia bisa saja melumpuhkan Toni, hanya saja hatinya seperti punya firasat lain untuk Toni.


***


Semingu berlalu,


Anehnya itu seperti minggu tenang, tak ada gangguan berarti dari Martin, Karina atau bahkan dari Combat dan para anak buahnya, tak mungkin kalau tiba tiba mereka memutuskan untuk berhenti berulah atau berhenti berperang di pertengahan, justru diamnya mereka malah membuat Toni menambah kewaspadaan, karena menurut pikirannya, mereka sepertinya sedang menyusun siasat untuk kembali mencelakai Raya.


Pukul sebelas malam, ponsel Toni berdering, padahal baru saja dia akan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setelah seharian mengikuti kegiatan Raya.


Di liriknya layar pipih yang kini dalam genggamannya itu, nama Panca tertera di sana,


Tak lebih dari tiga menit mereka berbicara di telepon, lalu Toni langsung bersiap siap hendak pergi.


"Sial, lihat saja, bila benar mereka bekerja sama dalam semua yang terjadi, akan ku bunuh mereka semua !" gerutu Toni yang baru saja mendapat info dari Panca kalau Martin terlihat sedang bersama Cobra disebuah klub malam ternama.


Sepasang mata seorang perempuan memperhatikan gerak gerik Toni yang mengendap endap keluar dari kamarnya dan turun dari tangga setelah di rasa seisi rumah itu semua sudah tertidur dan tak ada yang melihatnya keluar, kecuali security rumah tentu saja.


Toni pergi dengan mengendarai motor kesayangannya menuju klub malam dimana tadi Panca melihat Martin dan Cobra berada.


"Tahan, bro ! Gue udah tanya temen gue yang kebetulan orang dekat Cobra, katanya pria bernama Martin itu baru pernah bertemu dengan Cobra malam ini, tujuan utama pertemuan mereka adalah Cobra menawari kerja sama penjualan narkoba, Martin malah akan di beri wilayah sama Cobra, sepertinya Cobra punya rencana untuk orang itu, tapi bisa di pastikan mereka tidak saling mengenal sebelumnya, jadi kemungkinan tidak ada kerja sama antara Cobra dan pria bernama Martin itu dalam keterlibatan kecelakaan pacar mu," urai Panca menahan langkah Toni yang baru saja tiba di klub dan hendak melabrak Cobra dan Martin, namun langkahnya terhenti saat mendengar penjelasan dari Panca yang untungnya menyelidikinya terlebih dahulu sebelum dirinya sampai di sana dan tentu saja sebelum dirinya terlanjur melabrak dua orang itu.


"Ah,,, kenapa jadi terasa memusingkan begini, kalau bukan dengan Martin, berarti dengan siapa Cobra bekerja sama ? Dan kenapa pula dia menarik Martin ke wilayah bisnisnya, bukankah si Martin itu sedang menjalin bisnis dengan Rolan ? Berengsek,,,krnapa semuanya seakan menjadi penuh misteri dan teka teki begini !" umpat Toni yang merasa putus asa dan mengalami kebuntuan dalam berpikir.


Memang terkadang kalau kita dalam keadaan emosi atau kurang tenang, otak kita seakan tak bisa di ajak kerja sama dalam berpikir apalagi memecahkan suatu masalah.


"Bro,,, gue tau lo marah, tapi kalo boleh gue saran, lo harusnya tenang seperti biasanya, gue lihat lo terlalu emosi, ingat dalam pertarungan pun di perlukan ketenangan untuk mencapai kemenangan, karena dengan ketenangan kita bisa melihat gerak dan strategi musuh dengan mudah, come on,,, dimana Lion yang biasa gue kenal !" ucap Panca mengingatkan lagi agar Toni lebih bisa menguasai dan meredam emosinya.

__ADS_1


Toni terdiam sejenak sambil menikmati segelas bir, dirinya mulai menyadari bahwa kini dia mulai terburu buru dan terkesan ceroboh dalam menghadapi masalah, tapi bila itu menyangkut tentang Raya, terkadang dirinya memang tak bisa mengendalikan emosinya, rasa ingin melindungi gadis itu terlalu besar dan berkobar di diri sang Singa, sehingga dia tak terima jika siapa pun berusaha mengusik Raya.


"Di sini kamu rupanya !" suara seorang wanita mengusik lamunannya, tangannya memeluk erat tubuhnya dari belakang dan mulai menggerayangi bagian dadanya.


"Shiiiitttt,,, apa yang kau lakukan ?!" sentak Toni, mengurai kasar pelukan wanita yang ternyata adalah Karina itu, dia membuntuti Toni saat pergi dari rumah secara diam diam.


"Ayolah sayang,,, aku tau kamu menginginkan ku, aku bisa memberi mu apa saja yang kamu inginkan, jadilah kekasih ku !" des sahnya manja,


"Kau, kenapa kau mengikuti ku ?" tanya Toni curiga.


"Karena aku menginginkan mu, aku jatuh cinta pada mu sejak pertama kali melihat mu," ucap wanita gatal itu.


Namun tak berapa lama, Karina terdiam setibu bahasa, bahkan sikapnya pun menjadi terlihat kaku dan serba salah, semua itu tak lain dan tak bukan di sebabkan karena Martin yang tiba tiba muncul di meja mereka,


"Oh,,, begini rupanya kelakuan kalian tanpa sepengetahuan ku dan Raya,!" sinis Martin memandangi Toni dan Karina secara bergantian.


"Kau, pengawal tak tahu diri, bukankah tuan Arsan menugaskan mu menjaga putrinya,, bukan mengencani istrinya ?" sinis Martin seakan belum puas mengeluarkan isi hatinya.


Lama di pendam perasaan tak suka pada Toni, akhirnya dia punya alasan untuk memojokan pengawal yang dia rasa menjadi saingannya itu.


"Aku akan mengadukan kelakuan hina mu ini pada Raya, agar dia memecat mu !" lanjut Martin mengancam.


Tak ada gurat ketakutan sama sekali di wajah Toni atas makian dan ancaman Martin yang di tujukan padanya, yang di lakukannya justru menatap balik tatapan murka Martin dengan tatapan menantang pria itu.


"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, jangan pikir aku akan takut pada mu !" kata Toni tegas.


Hampir saja Martin melayangkan sebuah botol kaca yang dia ambil dari atas meja yang berada tepat di depannya, namun seorang asisten Panca yang berada di dekat Martin berhasil menangkap tangan Martin yang gerakannya mudah terbaca itu.


Karina lalu menggeret paksa Martin agar menjauh dari meja Toni dan Panca.

__ADS_1


"Sudahlah, tak ada hubungan apa apa antara aku dan pengawal Raya, kami hanya kebetulan bertemu di sini, lagi pula kalau dia menaksir ku, bukan kah itu hal yang wajar, secara aku masih cantik begini,,!" ucapnya dengan penuh percaya diri.


__ADS_2