
Menahan segala rasa kesal dan marah yang memuncak sampai ke ubun ubun, Karina melangkahkan kakinya menuju ruangbkerja suaminya yang kini menjadi ruangan Raya, panas rasanya di dada Karina saat membayangkan seharusnya itu semua menjadi miliknya, dan harusnya dia yang duduk di kursi kebesaran yang sedang Raya tempati kini.
"Eh, bunda,,! Maaf, sampai tak menyadari kalau bunda ada di sini," sapa Raya yang sebetulnya sudah melihat kedatangan Karina saat ujung matanya menangkap soaosk ibu sambungnya itu memasuki ruangan, namun dia sengaja membiarkannya, hanya ingin tau, sejauh mana Karina akan berulah.
"Bunda lihat pintu ruangan ini terbuka, bunda hanya ingin melihat ruangan ayah mu, apa kamu yakin akan menjalankan ini ? Pekrrjaan ini berat, bukan main main.Ada banyak karyawan menggantungkan hidupnya pada kinerja mu," Karina coba menggoyahkan pendirian Raya.
"Ayolah bunda,,, selama ini aku hanya menghamburkan uang ayah untuk bersenang senang, ini saatnya aku menunjukkan bakti ku pada kalian, biar aku yang bekerja, bunda fokus saja mengurus kesembuhan ayah," ucap Raya seolah perhatian pada ibu tirinya itu.
"Bunda gak begitu telaten mengurus orang sakit, sebenarnya bunda lebih tenang kalau kamu yang mengurus ayah, biar bunda yang menjalankan beban berat perusahaan ini, bunda tak tega dengan mu," Karina masih terus berusaha mencari celah.
"Tenang saja bunda, aku bisa kok dan untuk masalah ayah, tenang saja,,, pihak rumah sakit juga tidak mengininkan siapa pun menemuinya, hanya perawat dan dokter saja yang mengurusnya, karena ayah masih kritis, bunda mendoakan ayah saja, itu sudah lebih dari pada cukup," kata Raya lagi.
'iya, aku pasti mendoakan agar ayah mu si tua bangka itu cepat mati ! Berani beraninya memberi jabatan penting ini pada si gadis bodoh ini, awas saja, aku akan membunuh si tua itu dengan tangan ku sendiri !' umpat Karina dalam hati.
Beberapa saat kemudian,
"Sayang,,, Kamu sekarang menjadi pemimpin tertinggi di Lubis corp, aku sangat bangga pada mu !" Tiba tiba saja Martin muncul dari balik pintu ruang kerjanya.
Senyum iblis pun tersungging dari bibir merah Raya,
'Baiklah, ayo kita mulai bermain, mungkin aku akan melakukan pemanasan terlebih dahulu bersama kalian, hanya sedikit bersenang senang !' ucap Raya dalam batinnya.
"Ah, sayang ! Ternyata cepat sekali kabar menyebar, padahal aku belum sempat memberi tahu mu tentang kabar baik ini pada mu, teima kasih sayang, aku tak akan sampai di sini tanpa doa dan dukungn mu," ucap Raya bangkit dari kursi nyamannya dan berhambur memeluk lalu mencium pipi tunangannya itu.
Jangan di tanya reaksi Karina saat ini, matanya membelalak, dia sangat tak suka dan cemburu melihat pasangan itu bermesraan di depan matanya, begitu pun dengan Martin yang merasa sedikit kaget dengan perubahan sikap Raya yang terkesan lebih agresif dari biasanya, sangat jarang terjadi Raya bersikap mesra begitu.
Apa mungkin itu efek dari kemarin dia melamarnya ? batin Martin menebak nebak.
__ADS_1
"Ah, itu tadi ibu mu yang memberi tahu ku tentang kabar baik ini," jawab Martin sedikit tergugup.
"Bagamana kalau kita merayakan semua ini dengan makan siang romantis ?" suara Raya di buat se manja mungkin merayu Martin, dia sengaja ingin membuat Karina cemburu dan kepanasan melihat selingkuhannya bermesraan dengan wanita lain di hadapannya.
"Tentu saja, dengan senang hati, aku juga sangat merindukan saat saat kebersamaan kita !" jawab Martin yang membuat wajah Karina memerah karena menahan marah.
Karina bahkan sampai melotot ke arah Martin,
"Bunda mau ikut ?" tanya Raya mengagetkan Karina yang sedang menatap tajam Martin seakan penuh ancaman pada pria selingkuhannya itu.
"Ah, tidak,,, bunda ada pertemuan dengan teman teman arisan bunda siang ini," tolak Karina, dia tak ingin lebih menyiksa batinnya karena harus menonton kemesraan dua orang itu, meskipun membiarkan mereka bersama tanpa dirinya pun akan semakin menyiksanya karena harus menebak nebak apa yang mereka lakukan berdua di belakangnya.
"Oke kalau begitu, kami pergi dulu, bunda !" pamit Raya.
"Hmm, eh,, Martin, ada sedikit hal yang ingin aku sampaikan pada mu !" panggil Karina pada selingkuhannya itu.
"Jangan sampai gagal, cepat selesaikan ini, aku sudah muak melihat kalian bermesraan di depan muka ku !" Berang Karina dengan nada marah dan mata yang memerah hampir menangis.
"Ayolah Karin, kitasudah sepakat tentang hal ini, jangan memperumit keadaan, kau pikir aku tak ingin semua ini cepat menjadi milik kita ? Jangan terlalu banyak berpikir, fokuspada tujuan kita, singkirkan cemburu mu untuk sebentar saja," bujuk Martin seraya mengecup bibir Karina sekilas dan terburu buru karena takut seseorang akan melihatnya.
Sementara Raya yang sedang menunggu di basement sambil menatap layar ponselnya hanya menyunggingkan senyum getir, tampak adegan Martin yang sedang bebicara serius dengan Karina di ruangannya dan di akhiri dengan kecupan tunangannya itu di bibir ibu tirinya.
Ya, Raya sedang melihat rekaman cctv yang terhubung dengan ponselnya, semalam Raya meminta Bagas untuk memasan itu untuknya, dia tau kalau di rangan it banyak berkas penting, dan Karina sering keluar masuk ruangan itu dengan bebasnya, tapi malah dia mendapat bonus adegan romantis siang ini.
Tak setetes air mata pun dari mata Raya menetes dari awal dia mengetahui penghianatan Martin dan Karina di belakangnya, entah kekuatan dari mana yang membuatnya setegar itu, atau mungkin tanpa dia sadari perasaan cintanya pada Martin perlahan luntur seiring tumbuhnya perasaan baru untuk Toni yang juga tak dia sadari atau bahkan dia sangkal.
***
__ADS_1
Seminggu berlalu, tiga pertandingan Toni sudah berakhir dari beberapa hari yang lalu, namun Raya tak pernah datang untuk menanyakan kembali tentang kesanggupannya untuk menjadi bodyguard yang dia janjikan jawabannya setelah menyelesaikan tiga pertandingannya, namun Raya seakan hilang begitu saja, dia tak pernah lagi menemuinya di sasana atau pun di tempat kostnya.
Malam ini seperti biasa Ton berada di klub malam milik Rolan, kembali menghabiskan malam di temani alkohol, kepulan asap rokok, dan hngar bingar suara musik kencang memekakan telinga.
Terkadang ada rasa rindu pada gadis manja yang selalu tiba tiba datang menemuinya tanpa di duga duga.
"Ah,,,,! sepertinya aku sudah gila, mengapa aku seperti merindukannya, bahkan wajahnya tak pernah pergi dari mata ku, siaal !" umpatnya kesal dengan perasaannya sendiri yang dia rasa konyol.
"Abang !" sapa Cila yang langsung duduk di sebelah Toni tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, tak ada wanita yang berani menggoda atau mendekati sang singa jantan itu, selain mereka takut dengan Cila anak sang pemilik klub yang selalu mendeklarasikan kalau Toni adalah kelasihnya, Toni juga sosok yang dingin dan tak bisa di dekati siapa pun.
"Dengan siapa kamu ke sini ?" pertanyaan konyol dan aneh itu meluncur begitu saja dari mulut Toni, yang berharap Cila datang bersama Raya.
"Sendiri, kenapa ?" tanya Cila bingung, bukannya memang biasanya dia datang ke sana sendirian, kecuali bila janjian dengan teman temannya, itu pun sangat jarang, hanya sesekali saja.
"Teman mu siapa itu namanya, Raya apa tak pernah menemui mu ?" jebol sudah pertahanan Toni, tak kuat dia menahan ingin tau kabar tentang gadis manja yang sudah lancang mengganggu piirannya setiap hari.
"Raya ? Kenapa abang bertanya tentang Raya ?" tanya Cila penuh curiga, jangan sampai pria idamannya itu naksir Raya.
"Ah, itu dia seminggu lalu menabrak anak kost tempat ku, si Beben," kilahnya mencari alasan.
"Kenapa Abang bisa tau ?" mata Cila memicing tambah curiga.
"Aku kebetulan lewat saat baru saja membeli makan di warteg, dan melihat kejadiannya," terang Toni tanpa menceritakan kalau dia sempat membawa Raya ke kamar kostnya yang tak pernah di singgahi perempuan manapun termasuk Cila.
"Raya sibuk, dia sekarang sudah menjadi presdir di perusahaan ayahnya, dia juga sibuk mempersiapkan pernikahan dengan tunangannya yang akan di laksanakan dalam waktu dekat ini," urai Cila, tentu saja masalah Raya yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Martin adalah karangan ceritanya saja, karena Cila merasa curiga kalau Toni menaruh hati pada Raya, dan itu tak boleh terjadi.
"Me-ni-kah ?" sampai tersedak Toni, saat mendengarnya dan langsung terbatuk batuk karena minuman yang sedang di seruputnya tiba tiba masuk ke hidung, dan itu rasanya tak nyaman dan perih seperti apa yang di rasakan hatinya saat ini.
__ADS_1