
Tanpa ragu dan rasa takut Raya berjalan mendekat ke tempat di mana Cila kini sedang duduk bersandar menikmati indahnya pemandangan alam di sana, tak terlihat tanda-tanda kalau dirinya tengah mengalami tekanan mental atau depresi berat, dia terlihat sangat sehat dan baik-baik saja.
"Selamat siang, Cila!" sapa Raya menegur dengan ramah sahabatnya yang lama tak di jumpainya itu, sedikit ragu-ragu karena takut tiba-tiba Cila berontak dan mengamuk padanya seperti biasanya.
Cila menoleh perlahan ke arah di mana Raya berdiri, tepatnya berdiri di samping kanannya.
Matanya tiba-tiba berbinar lantas bibirnya menyunggingkan senyum.
"Raya?!" gumamnya.
Sungguh Raya tak menyangka jika sahabatnya itu masih mengenal dirinya dengan baik bahkan menyebut namanya dengan benar.
Hanya saja biasanya Cila yang selalu memandangnya sebagai musuh itu tak menunjukkan rasa benci atau marah seperti biasanya dia saat bertemu dengannya setelah dia tau kalau dirinya ada hubungan dengan Toni tanpa sepengetahuannya.
"Ya, aku Raya, bagaimana keadaan mu, kamu masih ingat aku?" Tanya Raya antusias dengan sambutan baik ya g di tunjukan oleh Cila padanya.
"Kau bercanda, tentu saja aku masih mengenal mu, sahabat ku saat sekolah, tapi kita harus terpisah karena kau kuliah di luar negeri, kapan kamu pulang dari sana? Apa kau sudah lulus? Sudah kerja? Ah, aku lupa kau anak pengusaha ternama, kau tak perlu kerja sudah mendapat segalanya dari ayah mu!" Oceh Cila membuat Raya mengerutkan keningnya dan melirik ke arah dua perawat yang menemani mereka di sana, seolah ingin bertanya 'apa yang terjadi pada Cila?'
Tentu saja perawat itu mengerti dengan tatapan penuh tanya yang di tunjukan oleh Raya, dengan sigap salah seorang perawat itu membisikan sesuatu pada Raya.
Ternyata depresi yang di alaminya itu mengakibatkan ingatan Cila terjebak di masa lalu, begitu kata salah seorang perawat yang menerangkan apa yang terjadi pada diri Cila saat ini.
Entah Raya harus bahagia karena saat ini di ingtan Cila dirinya bukan wanita yang mungkin paling di bencinya itu atau malah Raya harus sedih karena jujur saja kondisi Cila saat ini terlihat begitu berbeda dari yang biasa dia lihat sebelumnya, meski kondisinya terlihat sehat dan baik-baik saja, namun tubuh yang terlihat begitu kurus, wajah kusam tak terawat, begitu kontras dari penampilan Cila yang biasanya terlihat selalu mentereng dengan baju-baju mahal dan bermerek nya, make up yang tak pernah lupa dia aplikasikan di wajahnya, namun kini benar-benar kalau ada kata yang mungkin bisa mewakilkan dari apa yang ada di pikiran Raya saat ini adalah, Miris!
"Raya, siapa dia?" tunjuk Cila pada Dila yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Raya dan Cila dengan seksama, dia juga tetap waspada meski dalam ketakutan yang tengah di rasakannya saat ini, namun tak menghilangkan kewaspadaan yang harus tetap terjaga karena bisa saja Cila mengamuk atau bahkan menyerang sahabatnya itu.
"Oh, dia sahabat masa kecil kecil ku, namanya Dila." terang Raya memperkenalkan Dila.
Cila terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, dan tak ada pertanyaan atau protes tentang itu.
"Raya, aku ingin curhat pada mu, lama sekali kita tidak berbagi cerita, di sini aku kesepian, tak punya teman untuk bercerita, semuanya asing. Aku juga tak tau kenapa ayah ku memasukan ku ke asrama ini, padahal aku sudah malas sekolah, setiap hari pelajarannya membosankan, ayah ku ingin aku menjadi dokter, jadi aku di sekolahkan di asrama yang penuh dengan dokter dan perawat ini,"
__ADS_1
Cila terus saja meracau tak jelas, dalam pikirannya dia sedang berada di asrama dimana Rolan menyekolahkannya di kedokteran, terdengar lucu memang, tapi benar apa yang di rasakan Raya, 'miris', melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Raya terus saja mendengarkan racauan tak jelas Cila, seolah olah dia mengerti dan paham dengan apa yang sedang di ceritakan oleh sahabat nya itu.
Sampai tiba-tiba,
"Raya, aku belum cerita pada mu ya, kalau aku sebenarnya naksir seorang pria, dia sering latihan di sasana milik ayah ku, dia keren, dia seorang petarung yang sangat gagah dan selalu juara, aku benar-benar mencintainya, terobsesi padanya, aku sampai bertekad dan berjanji pada diri ku sendiri kalau aku tak akan pernah menikah dengan siapapun jika sampai aku tak mendapatkannya. Suatu hari nanti akan ku kenalkan kau padanya, tapi kau jangan naksir ya," kata Cila sambil cekikikan khas orang depresi, membuat jantung Raya berdesir kencang mendengar apa yang di ceritakan Cila padanya barusan, ternyata begitu dalam rasa cinta Cila pada pria itu.
"Oke, kapan-kapan kau boleh mengenalkannya pada ku, siapa namanya?" Tanya Raya pura-pura tak tahu, padahal tentu saja dia sudah bisa menebak siapa pria yang di maksud oleh Cila itu.
"Lion, namanya Lion, dia bagai singa, penampilannya cuek, wajahnya tampan, tubuhnya kekar, sikapnya dingin, tapi dia sangat aku suka, semua itu yang membuatku jatuh cinta setengah mati padanya." Mata Cila berkilatan saat mendeskripsi kan sosok Toni, sepertinya dia sambil membayangkan sosok pria pujaannya itu dalam benaknya, sehingga sesekali bibirnya tersenyum saat matanya memandang awan yang biru siang itu, mungkin dalam bayangannya wajah Toni tergambar di sana.
"A-apa dia juga mencintai mu?" Tanya Raya sedikit gugup saat menanyakan hal itu pada Raya, dia tak tau jawaban apa yang akan di berikan Cila atas pertanyaan nya itu.
Raya tau ucapan Cila kebanyakan melantur dan hanya mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saja, namun Raya merasa tergelitik untuk menanyakan hal itu padanya.
"Aku tak tau, hanya saja aku rasa dia hanya menganggap ku sebagai adiknya, tapi aku tak akan patah semangat ataupun putus asa, aku akan tetap mengejarnya sampai dia benar-benar menjadi milik ku seutuhnya, selamanya. Sayangnya dia tak pernah datang ke sini dan menengok ku, atau mungkin dia tak taukalau aku kini sedang bersekolah di sini, aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku ingin berjumpa dengannya, AKU INGIN BERTEMU LION KU !" tiba-tiba Cila berteriak dan menangis histeris, membuat Dila dengan sigap menarik tangan Raya dan menjauhkan nya dari Cila yang kini mulai mengamuk dan tak bisa mengontrol emosinya.
Cila menunjuk-nunjuk wajah perawat yang dalam halusinasinya itu petugas asrama yang melarang Toni untuk bertemu dengannya.
Namun tak terlihat sedikit pun wajah panik yang di tunjukkan ke dua perawat itu, karena mereka sudah terbiasa menangani pasien-pasien seperti Cila, bahkan banyak yang mengamuk lebih ektrim lagi dari itu.
Cila terlunglai lemah di tempat duduknya saat salah seorang perawat menyuntikan obat penenang padanya, lalu mendorongnya menggunakan kursi roda untuk kembali ke kamar perawatan agar wanita menyedihkan itu dapat beristirahat.
Tak ada lagi yang dapat Raya dan Dila lakukan di tempat itu karena perawat juga mengatakan kalau Cila tak bisa lagi di temui untuk saat ini, akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan pulang, sebelum Toni dan Panca terlebih dahulu pulang ke rumah dan mengetahui kepergian diam-diam mereka berdua, karena kalau sampai merek tau, ini akan menjadi perang dunia di antara Raya dan Toni.
Namun baru saja mereka berdua keluar dari bangunan rumah sakit jiwa itu dan menuju ke pelataran parkir yang berada di depan rumah sakit itu, mereka berdua harus di kejutkan dengan kehadiran mobil Raya yang sudah berjejeran persis di samping mobil milik Panca yang tadi di pakai dua wanita itu untuk pergi ke sana, karena mobilnya di pakai Toni dan Panca untuk menemui Sabrina di rumah sakit tempat Arsan di rawat.
Raya dan Dila saling melempar pandangan, kaki mereka berdua tiba tiba terasa berat untuk melangkah menuju parkiran, dimana Toni dan Panca kini sedang berdiri dan menyandarkan tubuh mereka di kap mobil belakang mereka masing-masing dengan pandangan mata terarah tajam pada pasangan mereka masing-masing.
Raya dan Dila benar-benar merasa ketakutan saat ini, kalau bisa rasanya mereka ingin menghilang saja dari sana, agar bisa menghindari tatapan marah dua pria yang seperti hendak memakan mereka saat itu juga.
__ADS_1
Sungguh Raya dan Dila tau kalau apa yang mereka lakukan itu salah, dalam hati mereka bertanya-tanya dari mana kedua pria itu mengetahui keberadannnya.
Tapi sepertinya dua wanita itu lupa kalau mobil yang mereka pakai untuk pergi ke sana adalah mobil milik panca dengan segala kecanggihannya.
Begitu GPS mobil Panca menunjukan kalau mulai melaju, langsung ada notifikasi ke ponsel si pemilik, dan Panca begitu kaget ketika GPS mobilnya ternyata menunjukan tertuju ke sebuah tumah sakit jiwa.
Panca yang saat itu baru saja selesai berembug tentang masalah penjagaan Arsan bersama Toni dan Sabrina langsung melaporkannya kepada Toni.
Tadinya Panca takut kalau-kalau terjadi apa-apa dengan Raya, mengingat istri dari sahabatnya itu juga pernah mengalami depresi sebelumnya.
Namun reaksi lain ternyata di tunjukan oleh wajah Toni, raut wajah pria itu tak menampakan wajah cemas atau khawatir, namun raut wajah yang marah.
Toni langsung mengajak Panca untuk langsung menyusuk mereka ke sana, dan tak mengijinkan Panca untuk menghubungi mereka, Toni ingin benar-benar memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Raya memang berada di tempat itu secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, tempat yang jelas-jelas sangat di larangnya untuk di kunjungi dan sudah dia katakan dengan tegas kemarin.
"Pantas saja dia tak mau di ajak ke rumah sakit untuk melihat kondisi ayahnya," cicit Panca saat Toni akhirnya menceritakan siapa yang ada di rumah sakit itu dan untuk apa Raya datang ke sana.
Panca memang tak mengetahui tentang Cila yang masuk rumah sakit jiwa karena depresi akibat penculikan yang di lakukan Arsan itu.
Raya langsung menghampiri Toni yang memasang wajah sangat tak bersahabat padanya, begitu pun Dila, dia langsung menghampiri Panca.
Mereka memasuki mobil dengan pasangan mereka masing-masing dan terpisah karena harus pulang ke rumah masing-masing untuk menyelesaikan masalah yang di timbulkan akibat perbuatan 'ngeyel' Raya yang tetap memaksa untuk menemui Cila meski Toni sudah melarangnya dengan keras.
Nyaris tak ada sepatah kata pun obrolan keluar dari mulut Raya maupun Toni.
Raya dengan ketakutan dan rasa bersalahnya membuat dia tak berani memulai pembicaraan sama sekali dengan suaminya itu.
Sementara Toni yang merasakan kemarahan dan emosi yang bergemuruh di dadanya juga tak bernafsu untuk memulai pembicaraan, pertanyaan atau pun protes atas perbuatan istrinya yang di rasa telah berani berbohong dan berani menipunya itu.
Toni takut jika kata-kata yang keluar dari mulutnya tak bisa dia kendalikan dan berujung menyakiti hati istrinya, sementara dirinya sedang di landa marah yang mungkin saja bila terpercik sedikit saja bisa menjadi sebuah bom besar yang siap meledakan apapun di sekitarnya.
Jadi Toni memilih untuk diam dalam sementara waktu sambil dia berusaha meredakan amarahnya sendiri.
__ADS_1