Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Emosi


__ADS_3

Kini ketiga orang itu benar-benar berada dalam situasi yang sangat menyulitkan bagi mereka bertiga, sungguh situasi mereka saat ini sangat terjepit, istilahnya maju kena mundur kena, jika mereka nekat terus menyerang, bisa di pastikan itu akan sia-sia dan mereka bertiga akan mati konyol, sementara untuk mundur pun mereka sepertinya tak ada celah lagi untuk mereka kabur dari tempat itu.


Sungguh dalam tekanan yang mengintimidasi, terkadang otak memang biasanya susah untuk di ajak kompromi dan berpikir untuk mencari jalan keluar dari rumah itu, sehingga dalam beberapa saat mereka bertiga hanya bisa mematung dengan hanya tatapan mata mereka yang saling berkomunikasi.


"Bagaimana, apa kalian ada pesan terakhir untuk orang-orang yan akan kalian tinggalkan? Atau kalian punya permintaan khusus ingi dengan cara apa kalian ku abisi, dengan cara di tembak di dada, atau di kepala? Atau dengan cara di gantung, di racun, atau mungkin di ledakkan seperti ayah mu?" Arsan menunjukkan senjatanya ke arah Sabrina dengan tawa tertahan seakan menertawakan Sabrina yang kini di liputi amarah yang membuncah.


"Cuih, dasar iblis! Aku pastikan kau akan mati di tangan ku dengan kematian yang sangat mengerikan dan menyakitkan!" ancam Sabrina, yang bahkan saat itu dia langsung menarik pelatuk senjatanya siap untuk di bidikan ke arah dada Arsan, namun Toni mencegahnya, tangan kiri Toni meremas lengan Sabrina mengisyaratkan wanita itu untuk lebih bisa menahan diri terlebih dahulu dan tak termakan oleh pancingan emosi yang memang sengaja di ciptakan Arsan untuk membuyarkan fokus lawan.


Toni sangat sadar kalau jumlah mereka tak seimbang kali ini, perlawanan apapun yang akan mereka lakukan hanya akan sia-sia dan tak akan mampu membunuh Arsan dengan mudahnya.


"Hahaha, harusnya kau merasa bahagia, karena aku akan segera mengirim mu pada ayah dan ibu mu, dan jangan lupa sampaikan pada ibu mu kalau kau berjumpa dengannya, katakan kalau aku sangat merindukannya, bau tubuhnya bahkan masih dapat aku rasakan di hidungku ini," Arsan memang juaranya memainkan perasaan, bahakan saat ini dia berhasil memprovokasi perasaan Sabrina yang langsung menjerit histeris sabil menembakan senjatanya ke arah Arsan.


"Mati kau iblis!" Jerit Sabrina menggema memenuhi ruangan berlomba dengan suara letusan senjata api di tangannya.


Dorrr!


Satu tembakan lepas dari pistol yang di genggam Sabrina sambil berteriak histeris, namun Arsan tak sebodoh itu, sadar provokasinya sangat dalam dan bisa membuat Sabrina menggila, selain memakai rompi anti peluru seperti yang di pakai Toni Cs, dia juga menarik salah satu anak buahnya yang terdekat untuk menjadi tameng hidupnya, sehingga anak buah yang di tariknya ke depan tubuhnya itu langsung luruh ke lantai karena muntahan timah panas yang di luncurkan dari pistol milik Sabrina itu tepat mengenai kepala sang penjaga membuat anak buah Arsan yang malang itu tewas seketika di tempat.


Karena tembakan dari pistol Sabrina itu, membuat keadaan menjadi sangat kacau di dalam rumah yang ternyata cukup luas itu.

__ADS_1


Para anak buah Arsan yang menjaga bosnya dengan super ketat dan super protektif itu langsung merapatkan barisan menyembunyikan tubuh Arsan di balik tubuh mereka yang rela mati demi keselamatan dan demi hidup bosnya itu.


Sementara Panca sudah pasrah dengan memejamkan matanya saat Bagas dan anak buah yang lainnya sudah menarik pelatuk senjatanya siap menghancurkan kepala Toni Cs dalam sekali tembakan saja.


Kekacauan yang terjadi di sana justru menjadi peluang emas yang dapat Toni manfaatkan, di saat perhatian semua anak buah Arsan tertuju pada kselamatan bos nya, dengan lirikan matanya Toni memberi kode pada Sabrina untuk menghajar orang-orang yang berdiri di belakang mereka.


Dalam hitungan ketiga di hati masing-masing Toni dan Sabrina merunduk sambil melayangkan tendangan memutar menggunakan kaki kanannya mendorong sekitar 6 orang yang menodong mereka dengan senjata, tak lupa Toni juga menarik tangan Panca agar tersadar dari sikap pasrahnya.


Seakan di tarik kembali dari ambang kematian, Panca membuka kembali matanya yang sedari tadi terpejam, lalu segera menyesuaikan gerakan dan serangan dengan kedua rekannya itu.


Serangan mereka bertiga sebenarnya hanya untuk membuka jalan agar mereka bisa mendapatkan akses untuk keluar dari tempat itu saja, tak ada gunanya melawan mereka pada situasai seperti sekarang ini, karena dapat di pastikan kalau mereka hanya akan membuang waktu dan tenaga saja jika melawan saat ini, karena dapat di pastikan mereka akan kalah, selain kalah jumlah, mereka juga di pastikan kalah dalam hal senjata yang mereka bawa, karena ternyata senjata yang di pakai oleh para anak buah Arsan termasuk lebih canggih dari senjata yang mereka bawa.


Tentu saja akan menjadi sangat konyol jika tetap memaksakan untuk menjalankan misi awal mereka, semangat itu masih ada, ambisi itu masih sangat besar dan berkobar di dada mereka, namun mereka harus tetap realistis.


Tangan mereka saling tergenggam dan bertautan satu sama lain seakan tak ingin satu pun dari mereka yang tertinggal di tempat terkutuk itu, tiga orang yang keterikatannya bisa di katakan lebih dari sekedar bersahabat itu berlari menjauh dari tempat yang nyaris saja merenggut nyawa mereka, meninggalkan orang-orang yang pasti akan sangat bersedih jika sampai mereka harus kembali ke pelukan mereka dengan raga tanpa nyawa.


Tentu saja Raya, Yama dan Dila akan sangat hancur jika sampai itu terjadi, dan mungkin akan banyak lagi raga bernyawa yang menangisi kepergian mereka, jika sampai di antara mereka atau bahkan mereka bertiga harus mati sia-sia di tempat itu.


"Sial, kenapa kita malah seperti pecundang yang lari terbirit-birit karena ancaman iblis itu," racau Sabrina di tengah pelarian mereka yang semakin masuk ke tengah hutan.

__ADS_1


"Kau, kau yang selalu mengatakan kalau kau tidak takut mati namun kau malah terlihat yang paling paling ketakutan di sini, pengecut!" Sabina berhenti dari larinya, dadanya turun naik dengan nafas yang terengah-engah karena rasa lelah yang menderanya akibat berlari begitu jauhnya, sambil terus mengumpat Toni yang menurutnya pengecut karena telah mengajaknya berlari menjauh dari tempat itu, padahal tadi dirinya hampir saja berhasil membunuh Arsan.


"Lantas apa yang kau inginkan?" Jawab Toni yang juga kini terengah sambil menyenderkan punggungnya ke sebuah batang pohon karet yang berdiameter cukup besar.


"Harusnya kau biarkan aku membunuh si Arsan iblis itu," sewot Sabrina masih tak dapat menerima keputusan yang di ambil Toni yaitu lati menjauh.


"Hey, apa kau buta? Apa mata mu itu tak bisa melihat berapa banyak jumlah anak buah Arsan yang ada di sana, huh? Jika Lion tetap membiarkan kita di sana, bukan Arsan yang mati, tapi kita bertiga yang akan jadi mayat, apa kau rela, jika kau mati sebelum bisa membunuh Arsan terlebih dahulu? Pakai otak mu jangan pake amarah mu!" Bentak Panca seraya menunjuk pelipis Sabrina dengan telunjuknya yang langsung di tepis dan di singkirkan oleh wanita itu dengan kasarnya.


"Aku tidak sedang berbicara dengan mu, pengecut!" teriak Sabrina pada Panca, dia tetap tak bisa menerimanya.


"Kalau kau ingin kembali ke sana silakan kembali, aku tak akan melarangnya, tenang saja jika nanti kau mati di sana, aku dan istri ku yang akan mengurus Yama," kata Toni dengan gaya santai dan cueknya.


Namun ternyata perkataan santai dan cuek Toni yang malah membuat Sabrina tersadar, seketika bayangan wajah adik kesayangannya yang terbaring di ranjang pasien memenuhi memorinya.


Sungguh Sabrina tak dapat membayangkan jika sampai dirinya tewas dalam baku tembak tadi, bagaimana nasib adiknya yang tak berdaya itu, karena kini hanya dia satu-satunya yang dia miliki di dunia ini.


Sabrina terdiam sesaat, matanya menahan bulir-bulir bening yang memaksa untuk turun dan melintas di pipinya, menembus bendungan yang Sabrina bangun sekuat tenaga, namun vukan saatnya untuk cengeng saat ini, dia bisa dan kuat untuk menahan semuanya itu, dia terbiasa menahan kesakitan semenjak dahulu Arsan mengobrak abrik kebahagiaan keluarganya, dan kini dia juga bisa dan pasti sanggup menahannya.


"Apa rencana mu setelah ini?" nada bicara Sabrina terdengar lebih melemah dari sebelumnya, tak lagi terdengar ledakan amarah di dalamnya.

__ADS_1


"Kelola emosi mu, buat suasana hati mu menjadi stabil kembali, setelah itu kita akan bicara langkah selanjutnya." Titah Toni yang sangat tau kalau suasana hati Sabrina kini tengah sangat kacau, dia tak mau berdiskusi dengan orang-orang yang masih di selimuti emosi dihatinya.


Mereka bertiga kembai saling diam, berdialog dengan hatinya masing-masing menyiapkan diri dan mental untuk menghadapi situasi selanjutnya yang pastinya akan lebih rumit dan mungkin saja tak akan ada kesempatan lagi untuk menghindar dari maut seperti kesempatan yang tadi mereka dapatkan, karena kesempatan biasanya tak pernah datang untuk ke dua kalinya, namun kesempatan itu pasti akan selalu ada bagi mereka yang senantiasa berusaha.


__ADS_2