
Toni berdiri di ambang pintu kamar Raya yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam,pria itu menyingkirkan egonya dan menggadaikan harga dirinya demi untuk membujuk Raya agar mau berbicara baik baik dengannya.
Namun sayangnya, Raya sepertinya benar benar kesal dan marah sehingga tak mau membuka pintu kamarnya dan menemui Toni barang sebentar saja.
"Ada apa ?" Tanya Dila yang ternyata baru saja datang dan melihat wajah murung Toni yang bersandar di pintu kamar Raya, dengan kening yang menempel pada pintu kayu itu, persis seperti suami yang sedang membujuk istrinya agar keluar kamar.
"Aku ingin berbicara dengan Raya, tapi sepertinya dia marah pada ku," adu Toni lirih, seakan kehilangan semangatnya, sehingga dengan mudahnya dia mengadu pada Dila.
"Serahkan pada ku !" ucap Dila, dia tau kalau Raya dan Toni sebenarnya saling menyimpan perasaan suka, namun entah mengapa mereka seakan tak berani jujur dengan apa yang mereka rasakan, untuk itu dia mengalah tak ingin lagi menyimpan harapan pada Toni yang juga disukainya itu.
"Raya,,, ini aku Dila, aku akan pergi ke pasar malam, apa kamu mau ikut ?" teriak Dila di depan pintu yang masih tertup rapat itu.
Semenit, dua menit, sampai menit ke tiga tetap hening, tak ada jawaban dari dalam kamar,
"Ya sudah kalau begitu, aku minta di temani kang Toni saja, kalau kamu tak mau menemani ku !" teriak Dila lagi.
Berhasil,,, tak sampai menunggu satu menit, pintu kamar itu langsung terbuka dari dalam, Raya keluar dengan mata sembabnya, sepertinya gadis manja itu menangis tanpa henti di dalam kamarnya.
"Aku ikut !" serunya, sambil mengucek dan mengelap mata sembabnya dengan telapak tangannya.
Dila menahan tawanya, dalam keadaan marah seperti itu pun, Raya sepertinya tak ingin memberi kesempatan bodyguard kesayangannya itu pergi bersama perempuan lain, bahkan meski itu sahabatnya sekali pun.
"Ya sudah kalau kamu ikut, berarti aku yang tak ikut, kalian pergi berdua saja !" cengir Dila sambil mengedipkan sebelah matanya pada Toni, memberi pria itu kode agar segera membawa Raya pergi.
"Kenapa jadi hanya kami berdua yang pergi ?" protes Raya merasa dirinya sudah di tipu oleh sahabatnya itu.
"Bukankah ada temannya kang Toni di depan,? biar aku menemani nya, kasihan jika kita tinggal," ucap Dila beralasan.
"Ayolah, apa kau tak ingin pergi dengan ku ? Malam ini aku harus kembali ke Jakarta," ajak Toni.
Raya akhirnya mengalah, lagi pula banyak hal yang ingin dia tanyakan pada pria itu, dia tak ingin terlalu lama bermain main dengan pikiran nya sendiri, dan di tinggal Toni pergi sebelum dia mendapatkan jawaban langsung dari pria itu.
"Bro, gue dateng terus kalian, pergi ? Setidaknya persilahkan gue masuk atau kasih gue minum atau apa, gue nyetir sendirian, dan itu jauh !" protes Panca saat Toni mengapit tangan Raya dan melewatinya begitu saja yang masih duduk di teras.
"Silahkan masuk kang,,, biarkan mereka berbicara berdua, Nama saya Dila !" ucap Dila menyapanya dengan ramah dan memperkenalkan dirinya, dia juga seakan mengatakan untuk tak mengganggu Toni dan Raya, dan memberikan mereka waktu untuk berdua.
__ADS_1
Mata Panca yang memang seorang playboy itu langsung berbinar ketika menyadari ternyata ada perempuan lain di sana selain Raya yang mungkin bisa menemaninya saat dia menunaikan tugas dari Toni yaitu menjaga Raya setidaknya sampai Toni berhasil menyelamatkan Arsan.
Mungkin ini pengalaman pertama baik bagi Toni maupun bagi Raya, mereka kini berada di pasar malam yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya, suasananya sangat ramai, berbagai wahana permainan dan penjual aneka jajanan memenuhi tempat yang berada di lapangan yang ternyata tak jauh dari perkebunan itu, hanya sekitar sepuluh menit mengendarai motor merek sudah sampai di sana.
"aku ingin naik itu !" tunjuk Raya pada sebuah wahana bianglala raksasa.
Toni mengangguk tanda setuju, "Apa kau bahagia ?" tanya Toni sambil terus memperhatikan raut wajah ceria Raya saat mereka berada di atas kincir raksasa itu,memandangi kelap kelip lampu pedesaan yang mereka lihat dari ketinggian.
"Hemh,,, aku sangat bahagia !" seru Raya seolah dengan cepatnya melupakan kesedihannya yang di akibatkan rasa marahnya pada Toni tadi, dia jugamelupakan niat awalnya yang ingin mempertanyakan banyak hal yang mengganggu pikirannya pada pria itu, dia terlalu bahagia malam ini.
Sayangnya ungkapan kebahagian Raya sepertinya terasa seperti sayatan di dada Toni, bukannya dia tak merasa ikut bahagia dengan apa yang di rasakan Raya, hanya saja mengingat dia tak mungkin merasakan kebahagiaan seperti ini lagi bersama Raya membuat hatinya jusru terasa perih.
"Aku senang melihat mu bahagia !" cicit Toni dengan senyum termanisnya yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Kamu tau ? Kamu terlihat sejuta kali lebih tampan saat tersenyum, apa boleh kalau aku minta senyuman mu buat ku saja ?" celoteh Raya.
"Sepertinya memang ini hanya untuk mu !" kata Toni sengaja dia ucapkan lirih, karena dia dalam hatinya dia yakin, setelah ini sepertinya dia akan lupa caranya tersenyum, karena dia harus menghabiskan seumur hidupnya dengan hal yang sama sekali bertentangan dengan yang di harapkannya.
"Apa ? Kamu bilang apa ?" tanya Raya yang tidak begitu jelas mendengar apa yang di katakan Toni karena suara musik pasar malam yang kencang dan riuh para pengunjung yang berjubel, maklumlah, di desa pasar malam itu merupakan hiburan satu satunya bagi mereka dan tak setiap waktu ada, jadi sudah pasti warga akan berbondong bondong datang ke tempat itu.
"Kau menginginkan yang lain lagi ?" tanya Toni setelah membelikannya dua bungkus permen kapas yang di tunjuk Raya itu.
"Aku ingin ikut kamu ke Jakarta !" Wajah Raya tiba tiba kembali murung saat dirinya teringat kembali kalau malam ini Toni harus kembali ke ibu kota.
"Tolonglah, ini semua untuk kebaikan mu, Cobra bukan orang sembarangan, kamu masih ingat tentang kecelakaan yang terjadi padamu itu, kan ? Aku akan sangat merasa bersalah jika terjadi sesuatu lagi pada mu, tolong mengerti lah !" Hati Raya seakan luluh seketika mendengar ucapan manis Toni padanya.
"Tapi,,, kamu harus janji untuk cepat kembali dan menjemput ku ya !" pinta Raya.
Namun permintaan Raya tak mendapat respon dari Toni, dia sungguh tak bisa berjanji seperti itu pada gadis itu, karena dia yakin kalau dia tak akan mungkin bisa menepati janjinya.
"Ayo pulang, ini sudah larut, dan aku harus bersiap untuk berangkat !" ajak Toni.
Rasanya hanya sekedipan mata saja kebersamaan hangat yang di rasakan Raya malam ini, dia masih ingin lebih lama lagi bersama dengan Toni, namun apa daya, pria itu memang harus segera pergi, terlebih kepergian Toni memang untuk membantunya menguak tentang semua masalah yang terjadi pada keluarganya dan juga pada perusahaannya, dia juga sangat khawatir dengan ayahnya jika terlalu lama tak di ketemukan.
"Bro,,, apa lo yakin ? Lo masih bisa mundur, masih ada waktu, bukankah di sini tempat untuk Raya, bukan Cila ?!" Panca menujuk dada bidang Toni, mengingatkan kembali bahwa keputusan yang di ambil sahabatnya itu bukan main main, dan itu akan berpengaruh di sepanjang hidupnya jika dia memilih orang yang tidak tepat untuk enjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
"Tolong jangan bahas ini lagi, semua sudah fix, jaga dia, dan ingat,,, jangan sampai kau membongkar tentang kerja sama ku dengan Rolan, apapun yang terjadi, kau cuma harus tetap diam !" ucap Toni sambil berjalan menuju motornya bersiap pergi.
"Toni,,, !" panggil Raya saat Toni sudah duduk di atas motornya.
"Aku ingin kamu memakai ini," Raya menarik tangan kiri Toni dan memakaikan gelang rantai perak di pergelangan tangan pria itu.
"Tapi aku----" Toni menarik tangannya mencoba menolak pemberian Raya itu.
"Tolonglah, gelang ini pemberian almarhum ibu ku, kamu harus menjaganya dan selalu memakainya, angap saja ini jimat keberuntungan mu !" cengir Raya yang tetap memakaikan gelang itu di tangan kiri Toni.
"Ini terlalu berlebihan, bukankah ini sangat berharga bagi mu, sebaiknya kau simpan saja !" tolak Toni yang berusaha akan melepas gelang itu.
"Tapi kamu juga sangat berharga buat ku, kamu pantas menyimpannya, aku akan marah jika kamu menolaknya," ancam Raya.
Toni mengusap wajahnya kasar, hatinya terasa tak karuan saat ini, terharu, bahagia, marah, sedih, kecewa semua tercampur menjadi satu menadi sebuah luapan emosi yang tak dapat dia artikan seperti apa.
Hal di luar kendalinya akhrnya terjadi, pria dingin itu memeluk erat tubuh Raya yang kini mematung, sungguh Raya tak menyangka Toni akan memeluknya sehangat ini, tanpa dia tahu kalau ini adalah pelukan perpisahan dari Toni yang besok akan menjadi milik wanita lain.
"To- Toni,,," pekik Raya,
"Biarkan seperti ini sebentar saja, sebelum aku benar benar pergi !" bisik Toni tepat di telinganya.
Lama mereka saling berpelukan tanpa saling berbicara sepetah kata pun, hanya jantung mereka saja yang seolah berteriak, saling meneriakkan detakan kencangnya.
"Aku pergi, jaga diri mu baik baik !" ucap Toni setelah dia mengurai pelukan hangatnya.
"Hem,,, cepat kembali !" angguk Raya.
Namun Toni tak mampu menjawab ucapan Raya itu, dia memilih untuk bergegas pergi dari tempat itu setelah memberikan satu senyuman terhangatnya yang hanya dapat dilihat oleh Raya, saat gads itu melambaikan tangannya mengiringi kepergiannya.
"Kang Panca kok nangis ? Apa kang Panca hatinya sangat sensitif,? Kang Toni kan hanya pergi sebentar, nanti juga balik ke sini lagi !" Dila merasa bingung melihat Panca yang berurai air mata, hanya karena melihat perpisahan Raya dan Toni yang menurut Dila biasa saja.
"Ah, kamu tak akan pernah mengerti,!" kelit Panca yang sibuk menyeka airmatanya yang terus menetes dipipinya, menangisi nasib tragis percintaan sahabatnya.
"Lagian udah berulang kali aku bilang, jangan panggil aku kang, geli dengernya, panggil mas, kak, atau koko kan bisa !" protes Panca mengalihkan perasaan sedihnya.
__ADS_1
Dila hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Panca yang menurutnya aneh dan sedikit konyol itu.