
Siang hari Raya baru terbangun dari tidurnya yang sangat tidak nyenyak sama sekali, menjelang subuh dia baru bisa terpejam, lagi pula ini hari sabtu, dia bisa bermalas malasan dan bangun siang karena tak harus berangkat ke kantor.
Namun betapa terkejutnya Raya, saat dirinya menoleh ke arah balkon kamarnya yang terletak di lantai dua rumah Panca, karena pintu itu terbuka, bahkan seorang pria terlihat sedang duduk di balkon kamarnya sambil menikmati kepulan asap tembakau yang membumbung ke udara.
Hal pertama yang Raya lihat adalah dirinya sendiri, bajunya masih lengkap, dan beruntungnya dia memakai piama tidur celana pajang, dan tangan panjang, bagaimana ceritanya kalau semalam dia mengenakan baju tidur kurang bahan, bisa bisa tubuh mulusnya menjadi santapan gratis pria itu, pikirnya.
"Kau sudah bangun ?" suara yang sangat di rindukannya selama beberapa hari ini langsung menjadi penyejuk hatinya yang semalaman terasa panas dan sangat kacau.
'Ishhh, apa punggungnya mempunyai mata ? Bagaimana bisa dia tau kalau aku sudah terbangun, padahal dia tak membalikan badan bahkan tak meliri sama sekali ke arah ku ?' batin Raya hean.
"Sedang apa kamu di sini,?" tanya Raya mengabaikan rasa bahagia di hatinya karena rindunya kini seakan terobati, namun foto yang di kirim Cila padanya semalam membuat suasana hatinya seakan seketika berkabut.
"Aku sedang menikmati kopi sambil ngerokok lah !" jawab Toni dengan entengnya.
"Maksud ku, kenapa kamu bisa berada di sini, Tidak sopan, masuk masuk ke kamar orang !" cebik Raya dengan wajah cemberutnya.
"Siapa suruh pintu kamar mu tak di kunci, atau jangan jangan kau sengaja tak mengunci pintu kamar mu setiap malam agar ada orang lain masuk ke sini ?" tuduh Toni malah balik menghakimi.
Raya memutar memori di kepalanya, dia teringat, sepertinya memang iya, dirinya lupa mengunci pintu kamarnya tadi malam karena saking pusingnya dengan masalah yang terjadi.
"Hanya kamu yang berani masuk ke kamar ku, yang lain mana berani !" timpal Raya.
"Duduklah sini dekat ku !" titah Toni sambil menepuk sofa di sampingnya yang kosong.
__ADS_1
Agak ragu ragu Raya mendekati, sebenernya tengsin juga rasanya, namun,,, tak ada kursi lain di sana selain sofa panjang yang kini di duduki Toni di balkon itu.
"Kapan kamu pulang,?" tanya Raya yang akhirnya melunak, buat apa dirinya keukeuh cemburu dengan apa yang terjadi pada Toni dan Cila, jelas jelas mereka pasangan yang sudah bertunangan, suatu hal yang lumrah jika mereka melakukan hal hal yang mesra, lantas apakah dirinya harus terus menyiksa diri dengan merasa cemburu setiap melihat kemesraan mereka berdua ? Tentu saja dia harus segera merubah mindset nya sendiri, untuk tak lagi merasa cemburu dengan kemesraan mereka, bukankah itu akan membuat Cila merasa senang, karena merasa berhasil membuatnya merasa cemburu dan sakit hati, bagaimana pun Cila akan selalu terus berusaha membuatnya merasa tertekan dengan cara apapun.
Bukankah memikirkan masalah lain yang lebih penting akan lebih berguna, seperti menyelesaikan masalah tentang ayahnya yang di rasa semakin rumit permasalahannya salah satunya, atau mencari info keberadaan Bagas yang di curigai Raya masih mendampingi ayahnya sampai kini dan belum bisa di temukannya.
"Apa kau tak bisa tidur semalaman karena memikirkan masalah ayah mu?" tanya Toni sambil memandangi wajah gadis yang di rindukannya itu dari jarak yang lumayan dekat, sehingga membuat wajah Raya terasa panas karena malu.
"Apa kamu sedang pamer karena tidur mu sangat nyenyak semalam,? Tentu saja berada di bawah satu selimut yang sama dengan tunangan mu pasti membuat mu nyaman dan tidur mu sangat nyenyak, bukan ?" sindir Raya, gambar yang Cila kirim semalam lagi lagi menari di kepalanya dan membuat hatinya memanas. (Padahal belum ada lima menit dia berkata dalam hati kalau sudah tak mau cemburu lagi,,,!)
Kening Toni berkerut, dia tidak mengerti dengan apa yang saat ini Raya ucapkan padanya.
"Ada apa ? kenapa kau berkata seperti itu?" tanya nya.
"Pikir saja sendiri !" ketus Raya membuaang jauh jauh pandangannya dari wajah Toni yang haanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.
Raya berdiri dan mengambil ponselnya lalu di sodorkannya benda pipih yang menampakan foto Toni yang sedang tertidur bersama Cila dengan tubuh yang di tutupi selimut.
"Kau lihat lagi dengan cermat, jangan lihat memakai emosi, bukankah ini kursi pesawat? semalam aku memang duduk bersebelahan dengan nya, tapi aku tak merasa berbuat apapun padanya selain hanya tidur, bahkan aku saja tak tau saat dia mengambil foto seperti ini, aku benar benar lelah dan tertidur selama di pesawat." terang Toni, tenang, meski hatinya lumayan sedikit kesal karena lagi lagi Cila mengirimkan pesan yang sengaja dengan tujuan untuk memanas manasi Raya.
Raya melihat dan memeriksa kembali foto yang dikirimkan Cila itu, benar saja, jika di perhatikan lagi dengan cermat, foto itu memang di ambil atas kursi pesawat yang di rebahkan, hanya saja Cila mengedit dengan sedemikian rupa, jadi seolah mereka tidur di atas sebuah ranjang dan habis melakukan sesuatu, ah,,, kalau perkiraan yang terakhir itu sebenarnya hanya pikiran Raya saja yang berpikiran sampai sejauh itu.
Oh betapa Raya merasa sangat malu dan merasa bodoh karena dengan gampangnya terprovokasi oleh tipua Cila yang yang memang menghendaki dirinya merasa sedih dan cemburu.
__ADS_1
"Ta- tapi, kenapa Cila bisa bersama mu, bukankah kamu bilang hanya pergi bersama Sabrina ?"
"Cila menyusul kami ke sana kemarin, aku juga tak tau, mungkin dia marah karena aku tak memberi tahunya kalau aku pergi ke Kalimantan," ucap Toni cuek.
"Kamu tak memberi tau kepergian mu?" beo Raya yang mengira Toni memberi tahu Cila setelah berpamitan padanya beberapa hari yang lalu, namun seperti biasa, jawaban Ton hanya mengangkat bahunya tak peduli.
"Lantas kenapa kamu malah mengajaknya pulang saat dia baru sampai di sana menyusul mu ?" Raya merasa penasaran dengan ceritanya.
"Dia memaksa untuk tidur sekamar dengan ku, tak mau di kamar lain, ya sudah,,, lebih baik aku pulang, lagi pula aku juga sudah sangat merindukan mu." jawabnya yang tentu saja membuat wajah Raya merona karena malu.
Sungguh Raya ingin menyangkal akan perasaannya yang semakin hari semakin tumbuh dan berkembang pada pria yang sudah bertunangan dengan orang lain ini, namun pesona seorang Toni memang tidak bisa di tolak, apalagi sikapnya juga kini semakin manis dan hangat padanya, membuatnya semakin merasa bingung, apa sebenarnya maksud Toni memperlakukan dirinya bak kekasih hatinya, sementara dirinya terikat ikatan pertunangan dengan wanita lain.
"Apa kau tak merindukan ku juga ?" sambung Toni yang merasa tak mendapatkan respon apapun dari Raya setelah dirinya mengatakan kalau dia sangat merindukan gadis yang kini sedang menatap lekat dirinya itu.
"Toni, apa aku akan kecewa jika aku mencintai mu ?" tanya Raya lirih.
"Masalah ku sudah sangat banyak, apa aku mampu menanggung satu masalah baru lagi, yaitu kecewa karena tak dapat memiliki pria yang aku cintai ?"
Tak ada jawaban dari Toni, hanya sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Raya yang kini memejamkan matanya dan reflek membuka sedikit mulutnya menyambut ciuman Toni yang selalu membuatnya mabuk dan lupa diri itu.
Ciuman ungkapan rasa rindu dai dua orang manusia yang tak terikat hubungan apapun namun mempunyai perasaan cinta yang sama.
"Aku akan selalu menjadi milik mu, dan kamu adalah tuan rumah disini, tak akan ada orang lain yang bisa menggeser mu dari sini, bagaimana pun kisah kita nanti !" ucap Toni sambil menepelkan telapak tangan Raya di dadanya.
__ADS_1
Toni memang tak bisa menjanjikan apapun untuk Raya, karena jika saatnya tiba mungkin dia juga harus memenuhi janjinya pada Rolan untuk menikahi Cila, namun hanua satu hal yang bisa Toni janjikan pada Raya, bahwa dirinya akan selalu menjadi miliknya, dan di hatinya akan hanya selalu ada Raya saja, seperti yang di ucapkannya tadi, terlepas apapun kisah yang akan tertulis untuk mereka nanti, bahkan kalau pun Toni ternyata harus menikah dengan Cila pada suatu hari nanti, dia berjanji akan tetap menjadikan Raya sebagai tuan rumah di hatinya dan memastikan Cila mungkin bisa memiliki raganya tapi tidak dengan hatinya.
Biarlah dia di katakan egois, atau di katakan kejam sekali pun karena menyakiti perasaan Cila, tapi bukankah seharusnya Cila sudah tahu, kalau hatinya tak pernah menoleh padanya sedetik pun.