Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Tiga Enam


__ADS_3

Lewat jam sepuluh malam Toni memutuskan untuk kembali ke rumah kediaman Raya, setelah seharian dia berdiskusi di bengkel Panca, hanya pria oriental itu yang saat ini bisa Toni jadikan tempat bertukar pikiran, karena hanya Panca yang tau tentang masalah yang kini sedang dia hadapi.


Seperti biasanya Maman membukakan pintu saat Toni baru saja turun dari mobil Panca yang mengantarkannya pulang karena Toni tak membawa kendaraan.


Namun saat dirinya melirik di halaman luas itu tak terlihat mobil Raya terparkir,


"Apa Raya sudah pulang ?" tanya Toni sebelum dia melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam halaman rumah mewah itu.


"Nona Raya maksud mu ? Tidak bisakah kau memanggil majikan mu dengan panggilan yang lebih sopan ?" ujar Maman yang merasa Toni terlalu lancang memanggil nona nya itu.


"Tidak bisa kah kau jawab saja pertanyaan ku tanpa banyak bantahan ?" nada bicara Toni agak mninggi, sehingga Panca yang baru saja akan pergi meninggalkannya mengurungkan niatnya dan memperhatikan Toni yang sedang beradu argumen dengan Maman, sepertinya ada yang tidak beres, begitu pikir Panca.


"Jangan belagu, kita sama sama pegawai di sini, derajat kita sama, aku bahkan lebih dulu kerja di sini, tunjukkan rasa hormat mu pada senior, lagi pula aku yakin, usia ku lebih tua dari mu, apa kau tak pernah di ajari sopan santun oleh orang tua mu ?" hardik Maman, dia tak pernah menyangka kalau ucapannya it justru membangunkan singa yang tertidur.


Hanya dengan sebelah tangannya, tubuh Maman yang tak terlalu besar itu di angkat ke udara, tangan kanan Toni yang mencengkram kerah depan baju yang di pakai Maman berhasil membuat kaki pria berumur awal empat puluhan itu tak lagi menyentuh tanah dan mengapung di udara.


"Jangan bawa bawa orangtua ku, bangsat ! Aku hanya bertanya Raya udah pulang apa belum, kenapa kau berbicara nglantur ke mana mana ? jangan seolah olah kau paling loyal kerja di rumah ini, kau hanya penghianat kecil yang di bayar Karina untuk memata matai Raya, kau pikir aku tak tau itu ?" geram Toni dengan kilatan mata yang seolah menyala nyala.


Maman tentu saja kaget buka kepalang, bagaimana bisa Toni tahu kebenaran tentang dirinya yang selama ini di pekerjakan Karina untuk


menjadi pengganti matanya agar tak ketinggalan informasi saat dirinya tak berada di rumah.


"Be- belum, nona belum pulang !" gugup Maman, saat Toni tak bisa bersabar dan hapir melayangkan tinju kirinya.


"Ada masalah, Bro ?" teriak Panca dari dalam mobilnya penasaran.


"Cecunguk kecil ini mulai berulah," ucap Toni seraya mendorong tubuh Maman yang tadi di angkatnya itu sampai jatuh tersungkur ke tanah.

__ADS_1


"Perlu bantuan ?" Panca sengaja memamerkan senjata api miliknya yang selalu dia bawa keman pun, sengaja dia mengacungkan senjata itu untuk menekan psikologis Maman.


Benar saja, wajah Maman terlihat pucat pasi, ketakutan, bahkan tangannya juga terlihat agak gemetar.


"Tenang saja, pukulan ku sama mematikannya seperti beceng mu !" teriak Toni seraya mengatakan kalau semua masih bisa dia atasi sendiri, Panca pun berlalu pergi setelah mendengar itu dari Toni.


"Sekali lag kau berulah, peluru dari senjata teman ku akan menembus kepala mu !" Toni menoyor kepala Maman yang masih bersimpuh di tanah, sepertinya kakinya lemas dan tak bisa menopang badannya sendiri.


Toni bergegas masuk ke halaman rumah itu dan menyalakan motornya, hatinya tiba tiba merasa tak tenang memikirkan Raya yang belum juga pulang, apalagi Raya pergi bersama Martin, tidak menutup kemungkinan Martin bisa saja mencelakai Raya, membayangkan itu semua membuat pikiran Toni semakin kacau.


Di tengah perjalanannya mencari Raya yang entah kemana dan tanpa tujuan yang pasti, ponsel Toni bergetar, di lihatnya layar ponsel, bertuliskan nama Cila sebagai penelpon.


Toni memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya, dia tak ingin di ganggu oleh gadis yang selalu mengejar ngejarnya itu.


Beberapa kali di baikan, Cila terus menghubungi nya, hingga akhirnya Toni membuka sebuah pesan yang membuat jantungnya terasa meompat dari tempatnya,


Saat ponselnya bergetar sekali lagi, Toni langsung mengangkatnya,


"Abang,,, tolong,,, Cila sama Raya di rampok, sekarang, Cila ada di hutan gak tau dimana, kita di turunkan di tempat asing, mobil kita di ambil, huuu huuuu" suara Cila berlomba dengan suara tangisnya sendiri sehingga membuat Toni sedikit kesal karena dia tak dapat menyimak perkataan gadis itu dengan jelas.


"Berikan ponsel mu pada Raya !" Titah Toni berharap Raya masih bisa di ajak komunikasi dengan benar.


"Tidak bisa, Raya menangis terus menerus dari tadi, tangannya terluka karena melawan para perampok tadi," sontak saja ucapan Cila semakin membuat hati Toni bergolak.


"Kirim lokasi mu, aku akan segera ke sana !" titahnya tak ingin membuang waktu lagi.


Tak lupa, sebelum dia pergi, mengrimkan pesan pada Rolan kalau Cila di rampok dan mengirim juga lokasi yang Cila kirim padanya.

__ADS_1


Tentu saja Ton harus memberi tahu Rolan, selain nanti dia akan kesusahan membawa dua wanita sekaligus, padahal dia hanya membawa sepeda motor, di samping itu, dia juga sengaja memberi tahu Rolan, karena dia yakin Rolan tak akan tinggal diam dan akan mencari tahu siapa yang berani merampok putri kesayangannya, dengan begitu, Toni tak perlu cape cape mencari tahu pelakunya sendiri, cukup efektif bukan ?


Menembus dinginnya malam, Toni memacu kendaraannya dengan kecepatan di atas rata rata, suara mesin motor RX-KING kesayangannya meraung raung memecah kesunyian malam menuju kebun karet yang letaknya berada di daerah pinggiran kota.


Butuh waktu sekitar hampir dua jam untuk sampai di hutan tempat Cila dan Raya berada kini, Toni sampai di hutan itu setelah berkendara sekitar 90 menit.


Motornya dia parkirkan di salah satu rumah warga yang terlihat ramai orang berkerumun dan letaknya berada tak jauh dari hutan itu.


Rupanya itu rumah penjaga hutan dan menemukan Cila dan Raya yang sedang menangis di sana, lalu penjaga hutan itu membawa kedua gadis itu ke rumahnya.


"Permisi, ada apa ?" tanya Toni.


"Ada dua gadis korban perampokan di buang di hutan," terang salah satu warga yang di tanyai oleh Toni.


Toni menembus kerumunan warga yang tak terlalu banyak itu, karena di hutan itu hanya ada beberapa rumah saja.


"Permisi, apa saya boleh bertemu dengan korban perampokan itu ?" ijin Toni saat akan memasuki rumah yang sepertinya tempat Cila dan Raya berada.


"Anda--- ?" tanya seorng pria tua yang berdiri di pintu.


"Saya pacarnya !" entah kenapa bayangan wajah Raya yang sedang menangis kesakitan mengacaukan pikirannya, sehingga membuatnya mengatakan kalau dia adalah pacarnya.


"Abang,, Cila takut !" Cila yang mendengar suara Toni dari dalam ruangan langsung berhambur lari dan memeluk Toni yang baru saja melewati pintu masuk rumah itu.


Wajah Toni menegang menerima pelukan Cila, sementara matanya menyapu seisi ruangan yang tak terlalu luas itu, mencari sosok Raya yang sejak tadi di khawatirkannya.


Raya yag sedang duduk di sofa dengan tangan di balut perban hanya bisa menatap Toni yang kini sedang di dekap erat oleh Cila, kalau tadi hanya tangannya saja yang terasa sangat perih, kini hatinya terasa lebih perih lagi melihat pemandangan itu.

__ADS_1


Untuk beberapa detik mata Toni dan Raya saling bertatapan,sampai akhirnya Cila mengurai pelukannya dan menariknya untuk ikut duduk bersamanya di sofa, tepatnya Toni duduk di tengah di antara Cila dan Raya.


__ADS_2