
"Ayah, sejak kapan kau se bijaksana itu?" Sabrina bahkan memicingkan matanya ke arah ayahnya itu.
"Kau harus mulai berdamai dengan Raya, seperti hanya kau menerima Yama meski di tubuh adik mu itu menglir darah iblis, tapi sama seperti halnya Yama, gadis itu juga tak bersalah apa-apa pada mu, cobalah untuk berdamai dengannya, apalagi ayahnya akan kau habisi!" seloroh Cobra yang di akhiri dengan tawa renyahnya.
"Apa aku tak salah dengar, ayah? aku di minta untuk berdamai dengan Raya? anak dari iblis itu?" Sabrina terbelalak tak percaya.
"Lantas apa bedanya dengan Yama?"
"Beda lah, di tubuh Yama mengalir darah ibu," kilah Sabrina.
"Ingat pesan ayah ini, berdamai lah dengan gadis itu, karena dia juga saudara mu," Cobra mengakhiri pembicaraannya dengan sang putri karena Rolan menghampiri mereka.
"Semua sudah siap, apa kalian mau bergabung bersama ku?" ajak Rolan.
"Sepertinya aku akan bersama putri ku memimpin pasukan kami," jawab Cobra, dia tak ingin kehilangan momen saat detik-detik dirinya atau sang putri menghabisi nyawa iblis yang sudah memporak porandakan kehidpan tenangnya menjadi kehidupan bak di neraka yang di selimuti kabut dendam, benci, dan kesakitan yang tak berujung.
"Baiklah, pastikan Arsan mati malam ini juga!" ucap Rolan dengan wajah garang dan menahan marahnya.
"Tentu saja, aku bahkan sudah mencium bau kematian dari sini!" Cobra menyeringai.
Tepat pukul 2 dini hari, dimana kebanyakan orang sedang terlelap dan berada di alam mimpi, Rolan, Cobra dan Sabrian berserta semua pasukan yang bawanya mulai berangkat satu persatu menggunakan mobil anti peluru hasil modifikasi Panca, bahkan di setiap mobil tersedia tepat khusus untuk menyimpan senjata dan pelurunya.
"Ayah, sepertinya ayah terlihat banyak melamun, ada apa?" tanya Sabrina.
"Ayah hanya tak sabar ingin mengirim Arsan ke neraka, ayah juga teringat terus pada ibu mu akhir-akhir ini." Keluh Cobra.
__ADS_1
"Ibu sudah bahagia di surga, ayah tak usah hawatir!" Sabrina mengusap bahu ayahnya yang terlihat seperti sedang merasa kesedihan yang mendalam.
"Ayah juga menyesal karena jarang bertemu dengan Yama, dia anak baik, kasihan dia, tak sepantasnya dia ayah abaikan seperti itu, namun sayangnya ayah terlalu egois," sesal Cobra tiba-tiba, jarang sekali Cobra membahas masalah Yama.
"Tenang saja ayah, Yama itu anak baik, dia tak pernah menaruh benci sedikit pun pada ayah, meski ayah jarang menemuinya,Yama sering bilang kalau dia sangat menyayangi ayah." Ucap Sabrina.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti beberapa meter sebelum rumah Arsan, karena mobil Rolan yang memimpin di depan tampak berhenti.
Para sniper sudah menempati posisinya masing masing, tampak mereka juga sudah mulai melumpuhkan satu persatu penjaga rumah Rolan yang berada di sekitar luar gerbang dan sekeliling rumah besar nan mewah itu.
Arsan benar-benar sudah mempersiapkan semuanya, dia sangat tahu kalau dirinya akan di serang, persiapan Arsan memang tak main-main, untuk penjagaan diluar rumahnya saja dia menempatkan puluhan penjaga, bisa di tebak kalau di dalam penjagaannya pasti akan lebih ketat lagi.
Setelah pasukan Rolan merangsek masuk ke dalam, karena para penjaga di luar rumah sudah di lumpuhkan, kini giliran Sabrina dan sang ayah yang dapat giliran masuk, sesuai rencana awal yang sudah di sepakati, Cobra dan Sabrina berpisah dengan masing-masing membawa sepuluh orang anak buah sebagai pasukannya dimana Sabrina dan Cobra sebagaai pemimpin pasukannya.
"Semoga beruntung Brina, hati-hati!" pekik Cobra.
"Ayah juga,!" jawab Sabrina.
Kini mereka mulai fokus dengan tugas mereka masing-masing, jika Rolan bertugas mencari keberadaan sang putri yang di culik Arsan, maka lain halnya dengan Sabrina dan Cobra, pasangan ayah dan anak itu bertugas mencari dan menghabisi Arsan.
Sungguh di luar dugaan, jika penjagaan di depan tadi terkesan sangat ketat, di dalam bangunan justru hanya di jaga oleh beberapa penjaga saja, yang tentu saja dapat dengan mudah di lumpuhkan oleh tiga pasukan yang di bawa Rolan yang jika di jumlahkan kesemuanya bisa sampai kurang lebih dua ratus orangan itu.
Penjagaan di dalam rumah yang terkesan asal-asalan dan di sengaja ini membuat mereka merasa janggal patut lebih berhati hati, karena di khawatirkan semua ini adalah merupakan jebakan yang memang di rencanakan oleh Arsan, meski mereka semua belum tau apa yang di siapkan Arsan untuk pesta penyambutan para tamunya itu.
Rolan, Cobra dan Sabrina saling berpandangan ketika mendapati semua ruangan di lantai bawah nihil, tak ada penjaga lagi, tak ada Cila apalagi Arsan yang mereka cari-cari.
__ADS_1
Tinggal menuju ke lantai 2, saat akan meniki tangga. mereka bertiga saling berpandangan kembali, sekan ragu ragu, namun saat samar-samar suara jeritan perempuan terdengar, Rolan langsung berlari tanpa aba-aba lagi ke lantai atas, dia bahkan sampai melompati dua sampai tiga anak tangga sekali gus saat pria tua yang staminanya masih terjaga itu berlari seperti kesetanan ke lantai atas, di susul semua anak buahnya mengekor di belakang.
Namun tiba tiba terdengar suara jeritan dari lantai atas berbarengan dengan suara seperti letusan senjata.
"Aaaaaah!" Raungan kesakitan dari lantai atas itu dapat di pastikan berasal dari suara Rolan yang sepertinya terluka atau bahkan tertembak.
Para anak buah Rolan yang berlari mengejar tuannya ke lantai atas, dan ternyata merek pun sudah di sambut oleh para penembak handalyang langsung memberondong mereka dengan tembakan tanpa ampun, sehingga puluhan pasukan Rolan pun menggelepar terkena peluru yang memang sengaja di arahnya pada mereka, bahkan sepertinya sebagian dari mereka sudah banyak yang tewas dan terluka, bahkan darah pun berceceran di mana-mana.
Keadaan menjadi kacau seketika, para sniper yang tadi berjaga di luar di panggil masuk untuk membantu pasukan mereka yang tersisa kurang dari setengahnya saat tadi mereka berangkat.
Sabrina dan Cobra mengeluarkan senjata mereka dari balik jaketnya, mereka belum memutuskan untuk naik dan memastikan apa yang terjadi di lantai atas, hanya tangga itu satu satunya akses untuk naik ke lantai atas, sementara mereka berdua tak tau apa yang akan mereka hadapi di sana, belum lagi pasukan yang tinggal sedikit.
Namun untuk menaik mundur pasukan pun sepertinya sudah tak mungkin lagi, pantang bagi mereka lari di tengah pertempuran, jika pun harus mati, mereka lebih memilih mati di sana dari pada selamat tapi sebagai pecundang.
Para sniper yang di beri tugas untuk kelantai atas dan membersihkan area, selang sepuluh menit salah seorang dari mereka memberi kode kalau di lantai atas sudah aman dan Sabrina, Cobra juga pasukan lainnya yang masih selamat bergegas ke atas.
Meski masih sangat waspada dengan keadaan sekitar, lagi lagi mereka harus menggigit jari karena ternyata para penembak yang ada di lantai atas yang berhasil para sniper lumpuklan itu pun jumlahnya tak lebih dari lima belas orang saja.
Keadaan di atas sudah sangat kacau, bu anyir darah tercium di mana-mana, setelah di pastikan dilantai atas pun tak ada Cila aupun Arsan, para anak buah yang tersisa bertugas membawa teman-teman mereka yang terluka dan tewas untuk di masukan ke dalam mobil dan di obati, banhkan terlihat di antara para korban itu Rolan sedang dipapah oleh dua orang anak buahya karena kakinya yang terkena peluru, dia memang mengenkan rompi anti peluru, tapi untuk kakinya tetap saja terluka saat terkena tembakan.
Rolan memanggil Cobra dan Sabrina untuk mendekat.
"Tolong, aku mohon temukan putri ku, apapun yang kalian minta akan ku berikan bahkan jika kalian meminta nyawa ku sekali pun!" pinta Rolan, dengan kedua tangannya terlipat di depan dadanya.
"Tenaglah, jangan terlalu banyak pikiran, sembuhkan dulu saja luka mu, aku akan mencari dan menyelamatkan putri mu, kita sama-sama seorang ayah, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini." Cobra berusaha menenangkan Rolan yang sepertinya terus kepikiran sang putri yang juga belum di ketemukan, padahal info valid dari sumber yang sangat dapat di percaya mengatakan kalau Cila di sekap di rumah itu, dan pemberi info tak mungkin menipunya.
__ADS_1