Bodyguard Penjaga Hati

Bodyguard Penjaga Hati
Perang segera dimulai!


__ADS_3

Sebetulnya dia agak penasaran dengan informasi apa yang akan di sampaikan Cila tentang informasi istrinya.


"Apanya yang tergantung, dan apa maksud dari kata tergantung itu?" selidik Cila.


"Ya,,, tergantung informasi yang kamu berikan, kalo menarik hayu kita belanja bahkan nonton, tapi kalau tidak menarik,,, ya maaf!" cuek Toni.


"Ish, kamu ini, bang." cebik Cila.


"Aku informasi bagus buat ku, tapi kalau buat abang kayaknya bisa bikin abang patah hati, deh! Abang yang kuat ya, aku dapat info dari salah satu anak buah kepercayaan ayah kalau Raya di culik sama preman pelabuhan, lantas dia di perkosa dan----"Raya menjeda ucapannya, di melirik ke arah wajah Toni yang masih terlihat datar tak ada perubahan ekspresi di wajahnya.


"Dan?" ujar Toni, dia merasa penasaran, berita bohong apa yang akan tunangannya itu sampaikan pada dirinya.


"Dan katanya Raya tewas karena bunuh diri dengan melompat ke jurang, bahkan sampai sekarang mayatnya belum di ketemukan!" cerita Cila sangat antusias dan berapi api menceritakan informasi yang entah dari siapa dia dapatkan, yang jelas informasi ngawur yang mungkin hanya untuk membuat dirinya sendiri bahagia.


"Sepertinya kau sangat bahagia, mendapat info itu!" sarkas Toni, betapa dirinya sangat kesal melihat mata berbinar dan wajah berseri Cila saat menceritakan tentang kemalangan yang di alami istrinya meskipun sebagian besar yang di ceritakan Cila adalah kebohongan, namun sungguh itu sangat melukai batin Toni saat ini.


"Tentu saja aku sangat bahagia, satu persatu pengganggu hubungan ku dengan mu tumbang dengan sendirinya, sekarang tinggal menyingkirkan si anak ular keket gatal Sabrina, setelah itu kita menikah dan bahagia bagai cerita putri dan pangeran di negeri dongeng!" ceroscos Cila terus mengoceh.


"Pergilah, aku sedang tak ingin di ganggu!" usir Toni, sungguh kepalanya tiba tiba menjadi sangat pusing mendengar ocehan wanita tak jelas itu.

__ADS_1


"Gak bisa gitu dong, aku sudah memberikan informasi penting pada mu malah aku di usir, abang janji mau nemenin belanja terus nonton," kesal Cila tak terima dengan perlakuan Toni padanya yang di anggapnya tidak adil.


"Informasi yang kau berikan tidak menarik sama sekali, aku tak berminat menemani mu," ketus Toni.


"Abang menyebalkan, semoga mayat si Raya tak di ketemukan dan membusuk di jurang sana, itulah azab perebut tunangan teman sendiri, mati dengan cara tragis dan mengenaskan !" umpat Cila yang merasa kalau perubahan mood Toni itu karena tunangannya sedang merasa sedih atas info yang dia berikan barusan padanya.


Namun tanpa di duga duga, secepat kilat tangan Toni langsung terulur dan menyambar leher Cila lalu mencekiknya, Toni sungguh menahan amarahnya sedari tadi, namun saat umpatan kasar yang Cila tujukan untuk istrinya itu dengan jelas, Toni tak dapat menahannya lagi, kata kata Cila sungguh di rasa keterlaluan dan di luar batas kemampuannya menahan kesabaran dalam menghadapi betina bermulut sampah itu.


"Hati hati dengan ucapan mu, karena bisa saja apa yang kau katakan barusan malah berbalik dan terjadi pada diri mu sendiri, dan kau tau,,, jangan sampai aku berpesta pora saat aku tau hal buruk yang kau ucapkan itu terjadi pada mu!" Geram Toni tanpa melepaskan cengkeraan tangannya di leher Cila, sungguh saat ini dia sangat ingin mematahkan leher gadis itu.


Jujur saja ini pertama kali dalam sejarah hidupnya berbuat kasar pada seorang wanita, sampai sejauh itu, bahkan pada Sabrina saja dia tak sampai se kasar itu.


Cila menepuk nepuk tangan Toni yang menncekik lehernya, wajahnya semakin memerah karena kehabisan pasokan oksigen, semakin dia meronta, semakin habis terkuras tenaganya.


Namun beberapa saat kemudan setelah Toni kembali sadar, dia langsung melepaskan cengkeraman tangannya di leher Cila.


"Uhukkk,,,uhukkk,,,ab-abang jahat!" Kata Cila susah payah meraup udara sebanyak banyaknya sampai terbatuk batuk merasakan panas yang sangat hebat di lehernya dan juga pusing di kepalanya.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk pergi dan jangan mengganggu ku, tapi kau ngeyel!" ketus Toni.

__ADS_1


Meski sikapnya ini bertentangan dengan prinsip hidupnya selama ini yang tak akan pernah berbuat kasar dengan wanita, namun kali ini mungkin akan menjadi pengecualian, provokasi Cila di anggapnya sangat keterlaluan, dia merasa harus membela harga diri istrinya yang sedang di rendahkan sedemiakian rupa oleh Cila.


Sementara Raya saja tak pernah memaki seperti itu pada Cila seburuk apapun perlakuan wanita itu padanya, bahkan saat Toni melamarnya dan mengajak dirinya menikah pun Raya masih sempat memikirkan Cila dengan mempertanyakan bagaimana nasib Cila jika mereka memutuskan untuk menikah. namun Cila dengan seenak hatinya menghina dan merendahkan Raya dengan kejinya.


"Kenapa bang, kenapa kamu bahkan masih membelanya, abang tega berbuat se kasar ini demi membela wanita yang sudah mati itu, semoga dia membusuk di neraka!" teriak Cila.


Sungguh Cila tak bercermin dari kejadian yang sebelumnya, dimana dia hampir mati di cekik Toni, namun wanita itu malah sengaja menantang dan menguji lagi dan lagi batas kesabaran tunangannya.


Toni menghirup udara sangat dalam, sampai dadanya naik karena semua rongganya di penuhi udara yang di hirupnya, lalu membuangnya secara kasar, saat ini pria itu sedang mencoba mengendalikan emosinya sendiri.


"Jangan menguji kesabaran ku, kau sudah membuktikannya barusan kalau aku bukan orang yang cukup sabar jika terus di provokasi seperti itu," Toni mengultimatum dengan keras, sangat keras, seolah dia mengatakan kalau dia bisa saja berbuat yang lebih dari yang tadi dia lakukan jika Cila terus memprovokasinya.


"Kenapa? Abang tak terima? Aku ini tunangan mu, dan dia bukan siapa siapa mu, lalu mengapa abang membela dia sampai sebegitunya bahkan sampai tega menyakiti ku sejauh itu, kamu hampir membunuh ku, lho bang!?" Cila terus saja mengoceh seakan belum puas berargumen dengan tunangannya yang di anggap selingkuh dan tega mengasari dirinya demi selingkuhannya itu.


"Tentu saja aku akan sangat tega dan mampu melakukan apapun, apalagi demi dia, apa ayah mu pernah memberi tahu mu mengapa aku mau bertunangan dengan mu? Itu semua demi Raya, kalau aku mampu mengorbankan diri ku demi untuk membuatnya bahagia, maka aku pun mampu melenyapkan nyawa manusia manusia yang sudah membuatnya menderita!" ungkap Toni, baginya peperangan sudah di mulai, pantang baginya untuk mundur, jika harus hancur maka hancurlah semua, bahkan jika dirinya harus ikut hancur sekali pun, dia tak akan mundur.


"Apa maksud abang?" wajah Cila mulai pias, dia memang tak pernah bertanya pada ayahnya, tentang alasan mengapa tiba tiba Toni berdedia bertunangan dengannya, saat itu dia hanya merasa sangat bahagia dan mengesampingkan semua pertanyaan yang harusnya dia pertanyakan sedari awal ayahnya mengatakan kalau acara pertunangan dirinya dengan Toni akan segera terlaksana,seharusnya dirinya jangan terlalu senang dulu, tapi semua sudah terjadi, dan dia juga tak mungkin mengulang waktu.


"Kenapa tak kau tanyakan saja pada ayah mu yang sudah mejerat dan menipu ku, seolah bersedia membantu menyelesaikan urusan ku dalam upaya membahagiakan Raya, dengan syarat aku harus mau bertunangan dan lebih jauhnya menikah dengan mu yang sama sekali tidak aku cintai dan sangat tidak aku inginkan sampai kapan pun!" ucap Toni penuh penekanan dalam setiap kata katanya sehingga setiap ucapannya seolah pedang yang sangat tajam bagi Cila dan menusuk nusuk hatinya tanpa ampun.

__ADS_1


"Cukup, hentikan,!" Cila menutup kedua telinganya tak kuasa mendengar semua perkataan Toni yang terasa sangat menyiksa hatinya itu.


__ADS_2